Senin, 18 Januari 2016

Wisata Syariah (1): Serambi Mekkah & Bumi Gora, Pintu Wisata Halal Indonesia

Suatu siang di Desa Sade. Saya duduk dpondokan kayu beratap rumbiaTiba-tiba sekelompok wanita berhijab, turis dari negeri Jiran mendekat. Berebutan, mereka duduk sedapatnya di sekitaran saya. “Beli yang ini. Bagus,” kata seorang diantara mereka, sambil memperlihatkan sebuah tas tenun. Yang diajak bicara, tertarik. Dia lalu beranjak, menuju salah satu toko dan mulai melihat-lihat. Selain tas, ada suvenir lainnya. Khas suku Sade. Tenunan Sade memang indah. Ada yang dikerjakan secara tradisional dengan tangan. Selembar kain dengan kualitas benang terbaik, harganya bisa jutaan rupiah, dan butuh pengerjaan berbulan-bulan.


    Rumah Khas suku Sasak di Desa Sade

Dusun Sade terletak di Nusa Tenggara Barat. Tak jauh dari Pantai Kuta, Lombok dan lokasinya cukup strategis. Berada di pinggiran jalan. Ini adalah perkampungan suku Sasak asli. Penduduk yang tinggal di situ jumlahnya sekitar 200 kepala keluarga, masih mempertahankan adat istiadat dan budaya asli Sasak. Tinggal di Bale Tani, rumah kayu dengan atap dari alang-alang kering dan rumbia, berdinding bambu. Lantainya terbuat dari campuran tanah, getah pohon dan olesan kotoran kerbau.



    
    Foto 1. Wisatawan menikmati air terjun    Benang Kelambu di Lombok Tengah.


Saat berkunjung akhir tahun lalu, spot ini ramai dikunjungi turis. “Kami sekarang belajar bahasa Malaysia, karena turis dari sana mulai banyak,” kata salah seorang guide local di Dusun Sade. Bus-bus rombongan turis terlihat berjejeran. Parkir di lahan terbatas.


 

   Foto 2. Seorang wanita sedang menenun kain khas Sasak.


 Foto 3. Kain-kain tenun khas Sasak. Harganya bisa jutaan jika Benang yang ditenun kualitasnya bagus.


Selain Malaysia, tren turis dari negara-negara muslim, juga makin banyak ke Lombok. Ini salah satu dampak bagus, setelah Lombok ditetapkan sebagai The World’s Best Halal dan The World’s Best Halal Honeymoon Destination di ajang World Halal Travel Award di Dubai, tahun lalu.


Di Lombok, selain Gili yang amat populer, masih ada sekitar 100 spot yang belum jadi perhatiankhusus. Air terjun Benang Kelambu, misalnya, amat menakjubkan. Saya pernah ke sini. Infrastruktur jalannya belum mulus. Bergerinjul batu-batu. Pos informasi seadanya, dengan pemandu yang tidak cukup terlatih. Padahal, air terjunnya bisa jadi magnet luar biasa untuk turis. Tumpahan air jatuh dari balik rimbun pepohonan, membentuk tirai bening yang panjang


Itu baru satu contohBudaya Lombok juga banyak yang unikMisalnya, ritual bau nyale. Berburu cacing laut warna-warni didahului upacara dan ritual tradisional yang menarik. Sudah jadi agenda budayatapi butuh perhatian khusus agar turisnya makin banyak.

Tak kalah dengan Bali, pantai-pantai di Lombok pun cantik. Bahkan pasirnya, bukan hanya putih, ada yang pink, pasir butir lada, pasir hitam dan sebagainya. Belum kulinernya. Ayam taliwang dan plecing kangkung, nasi balap pucung khas Sasak, beberok dan masih banyak lagi.

 


Gold Island Di Ujung Barat



Nyiur Melambai. Foto Pantai Sumur 3 di Sabang, Pulau Weh, Aceh.

Sehari setelah peringatan 11 tahun Tsunami, Pantai Lampuuk Aceh ramai pengunjung. Wanita-wanita berhijab berlarian di pinggiran pantai. Mereka terlihat gembira. Baju gamisnya dibiarkan menyapu pasir pantai, dan sengaja basah oleh percikan ombak. Padahal, panas siang itu terasa menusuk kulit. Wanita bercelana panjang malah banyak yang langsung byuur, nyebur. Lalu berenang dengan pakaian tertutup. Teman-temannya bersorak.

Saya ada di situ“Mungkin bagus ya, kalau di sini ada pusat watersport syariah. Permainan air yang seru tapi tetap syar’i dengan penyewaan pakaian renang muslim,” kata temanku, yang juga muslim. Dia sekarang birokrat di sebuah Kementerian.


Saya empat hari berada di Aceh. Kota ini sudah banyak berubah. Sudut-sudutnya bersih. Masjid Baiturrahman sedang diperindah dengan payung-payung otomatis di terasnya. Nanti bakalan seperti di Mesjid Nabawi. Yang rindu Madinah, mungkin bakal sedikit terobati kalau ke sini.


Aceh juga memiliki banyak spot yang berpotensi mendunia. Menurut Gubernur Aceh Zaini Abdullah, total destinasi wisata di wilayahnya sekitar 800 spot. Sabang di Pulau Weh, bahkan sudah cocok masuk katagori produk premium. Pantai-pantainya mempesona. Berkelok cantik dan air birunya bening bergradasi. Pada 2008, Great Britain Publishing memberi gelar Sabang sebagai The Gold Island dan memasukkan pulau ini di 501 destinasi yang harus dikunjungi di dunia.

Di Aceh, wisata juga akan terasa sebagai ziarah dan perenungan jiwa, karena ada lokasi untuk mengenang bencana Tsunami. Spot yang menarik dikunjungi, misalnya kapal nelayan di Gampung Lampulo yang tersangkut di atas rumah penduduk, Mesjid Rahmatullah di Lampuuk, kuburan massal 100 ribu korban tsunami di Meuraxa, dan Museum Tsunami.


Syaiful, salah seorang warga yang selamat, sempat memberi testimoni, saat saya ke Lampulo. “Saya nyaris tak sanggup melihat pemandangan di sekitaran air. Ada tangan putus, kaki mengapung. Atau anak kecil meninggal timbul tenggelam,” katanya. Ketika air surut, kapal kayu seberat 65 ton yang dia naiki, ternyata tersangkut di atas rumah. Jaraknya 1,5 kilometer dari Sungai Krueng Aceh.


Kapal Di Atas Rumah. Ini kondisi kapal nelayan di Gampong Lampulo. Terseret Tsunami dari Sungai Krueng Aceh.


Ada lagi yang kejadiannya mirip. Kapal PLTD Apung pengangkut pembangkit 10,5 megawatt. Panjangnya 63 meter dan mengapung di atas laut Desa Punge, Blancut. Dibawa ombak Tsunami, kapal ini terseret 5 kilometer. PLTD seberat 2.600 ton terbawa hampir ke tengah kota, dan terhempas di tengah pemukiman.


PLTD Apung di tengah Pemukiman. Ini jadi monumen pengingat Tsunami dan obyek wisata menarik di Aceh.



Kuburan massal di Meuraxa juga patut dikunjungi. Penataan makam ini dibantu oleh UNDP, sebuah lembaga PBB. Ada hamparan rumput, bebatuan serta rimbunan pepohonan, dibatasi dinding terbuka dengan lukisan asmaul husna di sekelilingnya. “Areal ini arsiteknya khusus lho. Seorang ahli di bidang desain pemakaman,” kata Arie Parikesit, yang pernah jadi personil UNDP saat recovery Aceh pasca Tsunami. Arie kini dikenal sebagai Pakar Kuliner Indonesia.

Mesjid Rahmatullah terletak sekitar 500 meter dari Pantai Lampuuk Aceh. Dan menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri saat diterjang Tsunami. Padahal, di sekitarnya, semua rumah luluh lantak dan 6000 ribu jiwa hilang. Saat ini, mesjid Rahmatullah telah diperbaiki dan sekelilingnya sudah hijau kembali. 


Sedangkan Museum Tsunami, terasa amat menusuk kalbu. Begitu masuk ke dalam, langkah pertama sudah terasa menghanyutkan. Di lorong yang gelap, suasana dibuat seperti detik-detik Tsunami datang. Ada rintikan air hujan jatuh dilengkapi suara gemercik. Di ujungnya, cerobong besar dengan dinding bertuliskan nama-nama korban Tsunami. Lamat-lamat terdengar doa, dan kita pun langsung merasakan suasana berkabung amat dalam. Mendongkak ke atas, ada ujung cerobong dengan cahaya bertuliskan lafaz Allah. Hati pun rasanya bergetar.

Senin, 04 Januari 2016

Aceh Sudah Move On (3): Angkutan Umum Sangat Terbatas, Infrastruktur Perlu Dibenahi


             Angkutan umum yang menarik perhatian saya selama di Aceh adalah bentor atau becak motor.             

Kabarnya, ada labi-labi, semacam angkot dengan jendela dan pintu terbuka. Tapi, empat hari di sana, saya hanya sekali melihatnya di sekitaran pasar. Mereka menawarkan jasa labi-labi ke tujuan tertentu. Juga bisa dicarter beberapa jam. 
            Bis umum atau kereta api, tidak ada di Aceh. Bis yang seliweran di jalan, kebanyakan carteran dan mengangkut rombongan turis. Sejenis Damri, kabarnya, dulu pernah ada. Entah sekarang. 
            Bentor di Aceh, tempat duduk penumpangnya, berada di sisi kiri pemotornya. Ini seperti becak yang dikaitkan ke motor. Butuh kepiawaian khusus untuk mengemudikan ini. Kalau tidak mampu meliuk-liuk dan menakar ukuran lebar jalan, bisa-bisa becaknya keserempet kanan-kiri. Jarak sekitar 5 kilometer, ongkosnya 20-an ribu. Saya mencoba menjajal bentor saat mencari minimarket untuk membeli keperluan pribadi. Pengemudinya, Pak Sumarno, perantau dari Tulung Agung Jawa Timur. Sudah 20 tahun tinggal di sana dan istrinya asli orang Aceh. Bahasa jawanya masih kental. Sambil mengemudikan bentor, Pak Marno bercerita kisah tragis keluarga istrinya, yang hilang akibat Tsunami di Lhoknga. Jumlahnya? 67 orang. Betapa menyedihkan.
            Dulu, labi-labi termasuk angkutan favorit di Aceh. Tapi makin lama orang-orang beralih ke sepeda motor. Mungkin dianggap lebih cepat dan bebas macet. Populasi motor di Banda Aceh memang amat banyak. Mendominasi jalanan, dan lahan-lahan parkir.

Foto 2. Labi-labi di Aceh. Pengemudinya sedang menawari saya untuk carter kendaraannya keliling Banda Aceh

            Sistem transportasi publik di Aceh kelihatannya belum dibangun serius. Pemerintah setempat, masih melakukan penataan. Sebulan terakhir ini, mereka menjaring survei dan pengumpulan data untuk mengetahui riwayat perjalanan harian masyarakat. Pemerintah setempat membutuhkan banyak data mengenai traffic system dan jenis angkutannya. Semoga ini lekas selesai. Di manapun, transportasi massal adalah salah satu tulang punggung pengembangan wilayah. 
            Selain transportasi dan infrastruktur, yang tak kalah penting adalah meng-upgrade sikap masyarakat Aceh saat menghadapi para turis. Tuan rumah yang ramah tentu akan membuat turis-turis makin betah. ***

Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
edisi Selasa, 5 Januari 2015


Aceh Sudah Move On (2): Cocok Jadi Tujuan Wisata Syariah Kulinernya Enak, Namanya Unik


Aceh sudah cocok dijadikan destinasi wisata syariah. Keindahan alamnya luar biasa. Pantai-pantainya indah. Aceh memiliki banyak spot yang berpotensi mendunia. Klop dengan suasana religius dan label serambi Mekkah yang sudah lama melekat. 


Foto 1. Wisatawan KelanaRasa menikmati kopi dan mie Aceh di Warkop Zakir

            Aceh juga punya banyak sekali jenis makanan yang enak dengan nama unik. Empat hari berada di kota ini, rasanya belum cukup untuk mencicip semua jenis makanan unggulannya. Yang populer, misalnya ayam tangkap. Ini sajian unik di piring. Ayam goreng ditutupi dedaunan. Gurih sekali. Herbanya khas, yaitu daun temurui, daun kari, daun salam koja dan pandan. Belum lagi kuah belangong. Ini kari kambing yang khusus ada di saat-saat pesta. Untuk membuatnya dalam porsi banyak, digunakan belangong, semacam kuali yang ukurannya besar sekali. Kuliner lain, semisal, Bu Si Itek Bireuen (gulai itik), sate matang (sate sapi dengan bumbu kacang), mie caluk (mienya mirip spageti dengan bumbu kacang). Minumnya juga unik-unik. Apalagi kopinya. Orang Aceh menyebutnya khupi. Selain sanger, ada kopi kop (kopi yang gelasnya dibalik) dan kopi saring. 

Foto 2. Begini caranya meracik kopi Aceh. Ditarik, diulur. Hasilnya kopi kental dan sedap
  

        
Foto 3. Ayam tangkap atau Ayam Temurui. Ayam kampung goreng dengan herba daun salam, koja, daun kari, daun pandan dll.

    Kami datang dari Jakarta berombongan 22 orang. Semuanya penyuka kuliner. Hampir tiap dua jam, kita mencicipi masakan berbeda. Tak ada sambal di Aceh. Tapi, penyuka sambal tak perlu kecewa. Sebab masakan Aceh rasa rempahnya cukup pedas menggigit. Yang paling terasa, misalnya, di nasi kuning Pak Rasyid. Restorannya amat sederhana, tapi kelas nasi kuningnya, kata pakar kuliner Indonesia yang juga leader perjalanan, Arie Parikesit, termasuk papan atas nusantara. 
            Arie pernah bertugas di Aceh selama dua tahun, pasca bencana tsunami. Di sela tugasnya membantu sejumlah program recovery, Arie juga menjelajah kuliner di sana. Dia hafal semua jenis masakan Aceh. Bahkan, tahu detail bahan dan bumbu-bumbunya. Beberapa tempat kuliner yang kita datangi, seolah membuka kembali memori dia, beberapa tahun silam.  
            Di tempat-tempat tertentu, kadang dia bergumam. “Dulu, di sini masih terasa bau-bau jenazah. Dan bertumpukan sisa-sisa gunungan sampah dari hempasan gelombang Tsunami,” katanya. 

Orang Aceh rupanya suka ngobrol berlama-lama sambil nyeruput secangkir kopi atau bandrek dengan penganan martabak atau gorengan. Martabaknya memang istimewa. Biasanya telur dimasukan dalam adonan kulit, tapi di Aceh sebaliknya. Telur di luar, kulit martabaknya di dalam.


Foto 4. Martabak Aceh. Kulitnya di dalam, telurnya di luar

Selama berada di Aceh, saya diajak ke Bandrex Pak Sen, Warkop Zakir dan Warkop Chu Yukee. Semuanya ramai. Bahkan ada pusat kuliner yang buka 24 jam. Nongkrong saat siang pun, asik juga. Sempat lewat di lapangan depan kantor Kodam. Di bawah rindangnya pepohonan, puluhan kursi plastik penuh diduduki pemuda pemudi. “Saat Tsunami, tempat ini disapu bersih, orang-orang berlarian. Mereka mengira banjir biasa,” kata Awi, leader tur lokal. 
Tempat lain untuk nongkrong ada di kawasan Khairil Anwar, seputaran Hotel Sultan dan Peunayong. Pasar dan sekaligus tempat berburu souvenir. Makin malam, makin ramai. Padahal, dulunya banyak jenazah terseret air dan masuk ke kawasan itu. “Tapi, sekarang sudah tidak terasa mencekam atau takut,” tambahnya.

Sejak kapan orang-orang Aceh suka nongkrong dan ngobrol sambil ngopi?
Di masa lalu, kebiasaan ini tidak memungkinkan. Zaman operasi militer, dibatasi oleh jam malam dan penjagaan aparat yang ketat. Setelah bencana Tsunami dan perdamaian Helsinki, Aceh menjadi lebih terbuka. Suasana kehidupan masyarakat pun banyak berubah.  Pengusaha warung kopi tumbuh dimana-mana. Kuliner pendatang juga bermunculan. Di Simpang Surabaya, misalnya, terlihat banyak tenda-tenda makanan yang menjual hidangan khas dari Jawa. Semacam pecel lele, soto dan sejenisnya. 

Yang bikin penasaran, soal ganja. Apa benar ganja dimasukkan ke dalam bumbu masakan tradisional di Aceh? Masakan yang manakah itu? Linda Adimidjaja, culinary expert yang ada di rombongan, termasuk paling antusias menanyakan ini. Orang-orang setempat tak berani memberikan petunjuk jelas. Jawaban paling lucu begini. “Gampang, Bu. Perhatikan saja tanda setelah makan. Kalau terlihat ada yang ketawa-ketawa sendiri, kemungkinan dia habis makan makanan yang bumbunya mengandung ganja,” kata mereka, sambil ngakak. Pastilah itu bercanda.

            Belakangan ini, tren wisata khusus kuliner tumbuh menjamur. Mereka yang ikut traveling jenis ini umumnya kelompok di usia mapan, yang meluangkan waktu untuk jalan-jalan dan menikmati hobi mencicipi kuliner Indonesia di daerah asalnya. Aceh termasuk salah satu destinasi favorit karena jenis makanannya banyak dan unik. 


Foto 5. Nasi kuning Pak Rasyid. Nasi kuning papan atas Nusantara


Foto 6. Busi Itiek. Gulai itik dengan bumbu yang mlekoh kental


Foto 7. Nasi gurih. Seperti nasi uduk dengan sayur tauco


Foto 8. Mie Kepiting. Varian dari Mie Aceh.


Foto 9. Lontong kari


Foto 10. Ini yang disebut Kuah Belangong. Gede banget kan, kualinya.


Foto 11. Dan inilah kari kuah belangong. Kari kambing yang gurih 


Semua foto adalah dokumentasi penulis dan peserta KelanaRasaAcehSabang (24 sd 27 Desember 2015).

Artikel ini juga dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Selasa, 5 Januari 2016


Aceh Sudah Move On (1): 11 Tahun Setelah Diterjang Tsunami, Kini Ada Wisata Mengenang Bencana


Di hari peringatan 11 tahun musibah Tsunami, wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, berada di Banda Aceh. Berikut ini catatan ringannya. 

Foto 1. 
Sejumlah turis datang ke Pantai Lampuuk Aceh. Foto diambil sehari sebelum peringatan musibah Tsunami. Sebelas tahun lalu, pantai ini hancur luluh lantak disapu gelombang yang dahsyat.

            Saat itu, malam Minggu, 26 Desember 2016, jelang pukul 9 malam. Beberapa wanita duduk melingkar di meja. Mereka bercanda dan cerita sampai tergelak-gelak. Tawanya lepas-lepas. Kuperhatikan, di mejanya ada beberapa hidangan dipesan. Mie Aceh yang nyaris tandas, martabak dan beberapa gelas kopi sanger yang tinggal separuh. Sanger, khas Aceh, kopi dengan tambahan sedikit susu, sehingga manisnya hanya diujung-ujung lidah. Keriaan juga ada di meja lain. Sekitar 50-an kursi penuh diduduki pengunjung di sebuah warung kopi yang cukup dikenal di Banda Aceh. Ada kelompok wanita saja. Ada juga yang hanya para pria. Tapi semeja lelaki dan wanita juga ada. 
            Di hari yang sama. Pagi beberapa jam sebelumnya, Gubernur dan ribuan masyarakat di Aceh memperingati 11 tahun tragedi Tsunami. Orang-orang hanyut dalam keharuan. Ada air mata tumpah di Meuraksa, lokasi kuburan massal korban Tsunami.
            Empat hari berada di Aceh, perasaan campur aduk. Niatnya wisata, tapi suasana jiwa terbawa ke kenangan bencana. Yang melegakan, Aceh kini banyak berubah. Kata anak gaul, Aceh sudah “move on” jadi lebih bagus, lebih terbuka, dan siap menerima siapa saja.  
Sudut-sudut kotanya bersih. 

Pembangunan infrastruktur cukup masif. Masjid Baiturrahman bakal diperindah dengan payung-payung otomatis di terasnya, seperti di Mesjid Nabawi. Mereka yang rindu Madinah, mungkin bakal sedikit terobati kalau ke sini.
Jalan-jalan protokol di Aceh bagus. Beberapa tahun terakhir ini, seliweran kendaraan di jalanan mulai ramai dengan bus-bus turis. Mereka datang ke tempat-tempat yang dulunya parah terkena terjangan Tsunami. Ada sejumlah spot wisata yang menarik dikunjungi. Catatan saya setidaknya ada lima lokasi yang sayang dilewatkan.

Pertama, kapal nelayan di Gampung Lampulo yang tersangkut di atas rumah penduduk. Syaiful, salah seorang warga yang selamat, kebetulan sedang memberi testimoni, saat saya ada di situ. “Apakah ini kiamat? Darah saat itu berceceran di jalanan. Anak-anak menjerit karena jatuh, terinjak dan ditabrak mobil yang dikendarai tak tentu arah. Semuanya berpikir menyelamatkan diri sendiri,” kata dia sembari mengenang. Ketika air menerjang, Syaiful berpegangan di ranting kayu hingga akhirnya tersangkut di gunungan sampah. Tak lama, ada kapal nelayan lewat, dia pun naik dan selamat. “Saya nyaris tak sanggup melihat pemandangan di sekitaran air. Ada tangan putus, kaki mengapung. Atau anak kecil meninggal timbul tenggelam,” kata Syaiful. Dia masih terisak mengenang itu. Saat air surut, kapal kayu seberat 65 ton yang dia naiki, ternyata tersangkut di tengah pemukiman penduduk di wilayah Lampulo, 1,5 kilometer dari Sungai Krueng Aceh. 


Foto 2. Kapal nelayan yang tersangkut di areal pemukiman penduduk di Gampung Lampulo, Aceh. Saat Tsunami, kapal seberat 65 ton ini terseret sejauh 4 kilometer dari Sungai Krueng Aceh.


Kedua, monumen PLTD Apung. Dulunya, ini adalah sumber tenaga listrik bagi wilayah Ulee Lheue sebesar 10,5 megawatt. Kapal berisi pembangkit sepanjang 63 meter ini ditambatkan dan mengapung di atas laut Desa Punge, Blancut. Namun, terseret sejauh 5 kilometer saat diterjang Tsunami. PLTD seberat 2.600 ton ini pun terbawa hampir ke tengah kota, dan terhempas di tengah pemukiman. Sejumlah rumah hancur ditimpa kapal PLTD ini, ketika airnya surut. 


Foto 3 & 4. Monumen PLTD Apung dikunjungi wisatawan.

Tak jauh dari sini, ada lokasi ketiga, yaitu kuburan massal di Meuraksa. Sekilas, areal ini tak seperti pemakaman. Penataannya amat rapih dan hijau. Ada hamparan rumput, dan bebatuan serta rimbunan pepohonan, dibatasi dinding terbuka dengan lukisan asmaul husna di sekelilingnya. “Areal ini arsiteknya khusus lho. Seorang ahli di bidang desain pemakaman,” kata Arie Parikesit, yang pernah jadi personil UNDP saat recovery Aceh pasca Tsunami. Arie kini dikenal sebagai Pakar Kuliner Indonesia.


Foto 5. Kuburan massal korban Tsunami di Meuraksa, Banda Aceh.

Keempat, Mesjid Rahmatullah, di Pantai Lampuuk Aceh. Rumah ibadah ini berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai. Tapi, menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri saat diterjang Tsunami. Di sekelilingnya, semua rumah luluh lantak dan 6000 ribu jiwa hilang dalam sekejap. Saat ini, mesjid Rahmatullah telah diperbaiki. Pun sekelilingnya sudah hijau ditanami pepohonan.  


Foto 6. Dokumentasi yang dikirimkan Arie Parikesit, menunjukkan kondisi Masjid Rahmatullah, saat diterjang Tsunami (atas) dan setelah recovery (bawah)

Dan kelima, Museum Tsunami. Pas masuk ke sini, kebetulan bertemu dengan Ridwan Kamil, arsiteknya. “Selamat menikmati suasana di dalam,” sapa Walikota Bandung itu. Tangannya sibuk menerima salaman dan sebentar-sebentar diajak selfie oleh ratusan pengunjung museum.

Masuk ke dalam, langkah pertama sudah merinding. Di lorong yang gelap itu, suasana terasa seperti saat detik-detik Tsunami datang. Ada rintikan air hujan jatuh dilengkapi suara gemercik. Lorong itu berakhir di cerobong besar yang di dindingnya tertulis nama-nama korban Tsunami. Lamat-lamat terdengar doa, dan kita pun langsung merasakan suasana berkabung amat dalam. Mendongkak ke atas, ada ujung cerobong dengan cahaya bertuliskan lafaz Allah. Hati pun rasanya bergetar. 
Di semua spot wisata ini, turis-turis berdatangan. 


Foto 7 & 8. Founder KelanaRasa Arie Parikesit berfoto dengan Ridwan Kamil. Walikota Bandung ini adalah arsitek Museum Tsunami. Beliau hadir saat peringatan 11 tahun Tsunami di Banda Aceh.

Data dari dinas pariwisata, selama 2015, ada 2 juta wisatawan datang ke Aceh. Dan hampir 20 ribu diantaranya turis asing. Terbanyak dari Malaysia.
Bencana Tsunami adalah musibah tak terperi, sekaligus menyadarkan kita akan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Apalah artinya kita ini. Saat Tsunami menerjang, manusia ibarat remahan rengginang,” kata Arie Parikesit. Perumpamaan yang agak nyeleneh, tapi mengena. **

(Semua foto adalah dokumen pribadi penulis)

Tulisan ini sudah dimuat 
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Selasa, 5 Januari 2016



Sent from my iPhone

Minggu, 13 Desember 2015

Amanda Putri Witdarmono, Founder We The Teacher: Mengubah Mindset Guru Adalah Tantangan Besar


Belajar dengan guru seperti Amanda Witdarmono, anak-anak pasti betah. Airmukanya segar, cantik dan pintar serta amat sabar menghadapi anak-anak. “Energi saya hidup saat bersama anak-anak,” katanya, saat wawancara eksklusif oleh Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Fotografer Derry dari Rakyat Merdeka, di Jakarta, belum lama ini.
Amanda, di usianya yang ke-27 adalah founder We The Teacher, sebuah lembaga riset dengan slogan “reimagine teaching” untuk mendorong pengembangan guru-guru Indonesia. Setelah lulus dari Boston University, jurusan pendidikan sekolah dasar (Teaching License for Elementary School 1-6), Amanda meraih Master di bidang pengembangan pendidikan internasional di Columbia University, Amerika Serikat. Tahun 2014, meninggalkan zona nyaman dan kembali ke Tanah Air. Dia pun mengabdikan diri dan berbagi ilmunya dengan para guru demi masa depan pendidikan Indonesia.
 
Siapa saja anggota atau yang terlibat aktif di We The Teacher?
Keanggotaan We The Teacher bukan sistem membership. Lembaga ini sebuah riset setelah saya melihat sistem pendidikan calon guru-guru di Indonesia. Saya ngobrol dengan kepala sekolah, guru-guru senior dan mahasiswa. Kami berkumpul dan diskusi bersama. Memang sebagai pendidik, tak ada yang sempurna. Tapi, kami punya semangat untuk sharing, belajar satu sama lain.
Mereka menceritakan atmosfir profesi guru. Ternyata suasananya letih, lelah. Misalnya, banyak yang mengeluhkan kurikulum, karena dianggap kurang mendukung kreatifitas. Lalu, saat guru mencoba memasukkan program atau project, prakteknya sulit diterapkan, karena di kelas-kelas tertentu, mereka hard-willing menyiapkan Ujian Nasional. Belum lagi, di sekolah negeri, guru-gurunya punya keinginan besar jadi PNS. Sehingga semua daya upaya ini mengambil waktu kegiatan belajar untuk murid.
 
Jadi, aktivitas reguler di We The Teacher itu apa saja? Kami mengadakan sejumlah project base dan sosial activity, yang insiprasinya dari lingkungan sekitar sekolah. Awalnya, ada pihak manajemen atau yayasan sekolah yang kurang memahami dan tidak mengerti, atau dianggap project ini tak sejalan dengan misi visinya. Namun, setelah dikomunikasikan, dan mempertemukan shorten goal-nya, akhirnya bisa jalan. Bentuk kegiatan kami antara lain teacher empowerment, survei terhadap orang tua murid, observasi anak dan sebagainya. Ada juga riset, misal, bagaimana murid deal dengan guru yang paruh waktu dibanding fulltime. Atau, hasil pengajaran di sekolah berteknologi tinggi dibandingkan sekolah yang penuh problematika. Ini memang kompleks, tapi akhirnya kita jadi makin mengenal situasi dan wajah pendidikan Indonesia.
 
Mengapa Anda memilih terjun di bidang ini, dan dari mana pembiayaan? Pendanaan kegiatan kami bisa dari sekolah atau CSR money. Saya menjalankan ini pure karena minat dan personal story. Setelah melihat keadaan di sejumlah sekolah di Indonesia, rasanya kok tidak nyaman ya, jika saya dealing dengan comfortable things, sementara kondisi pendidikan kita masih banyak harus dibantu. Apalagi, belum banyak yang bergerak di dunia pendidikan, khususnya bidang guru. Memang ada yang sudah terjun membantu dunia pendidikan, tapi kebanyakan konsentrasi ke anak-anak, sekolah dan infrastrukturnya. Saya berkegiatan di WTT semata-mata karena percaya pada ketulusan hati. Saat memulainya pun tidak dengan ambisi apapun, tapi simply dengan niat berbagi. Semoga dalam 5-10 tahun mendatang, kita akan terbiasa dengan integrasi teknologi di dunia pendidikan, bahasa active learning untuk anak-anak, dan seterusnya.
 
Menurut Anda, problem terbesar pendidikan di Indonesia apa ya?Problemnya kompleks ya. Misalnya, sekolah negeri saat ini dianggap tidak cukup kuotanya, sementara swasta dianggap sekolah untuk orang kaya. Tentang biaya pendidikan.  Low cost schooling, saat ini termasuk isu yang jadi perhatian penting dunia. Kondisinya di Indonesia, masih ada sekolah yang dibayar harian karena menyesuaikan kemampuan orang tuanya. Bahkan, biaya 30 USD per bulan untuk pendidikan dianggap mahal. Padahal, bandingkan dengan negara lain. Di Peru, orang tua mengeluarkan biaya pendidikan saat ini rata-rata 50 USD perbulan untuk anaknya. Dan Afrika, negara yang mungkin dulu kita anggap terbelakang, saat ini biaya pendidikannya rata-rata sudah 100 USD perbulan. Ini membuat saya jadi bertanya-tanya, tentang low cost dan low value. Dalam pendidikan, kita dealing with people bukan object.
 
Anda pernah bersekolah di Indonesia, Singapura dan Amerika. Bagaimana perbedaan ketiganya, dibandingkan sistem pendidikan di Indonesia. Apakah sistem di negara kita cukup kompetitif dan bagus untuk mencetak generasi hebat?(Amanda lahir di New York, sekolah di Indonesia hingga SMP dan melanjutkan SMA di Methodist Girl School Singapura, lalu kuliah di Amerika).
Memang ada perbedaan ya. Misal, saat SMP, dalam pelajaran sejarah, guru mencatat di papan tulis, dan muridnya diminta menyalin, plek harus sama. Bahkan sampai bagian yang digaris bawahi pun harus sama. Hahaha (tertawa). Di Singapura, terasa sekali ada pendalaman ilmu. Namun suasananya cukup ketat. Sehingga ada pandangan, hidup ditentukan sejak ujian kelas 6. Kenapa?Sebab, jika nilai ujian tidak bagus, maka lanjutannya, tidak bisa meneruskan ke sekolah yang bagus, dan ujungnya tidak bisa dapat pekerjaan bagus. Siswa jadi merasa dikotak-kotakan, tergantung levelnya. Ini “mind set” yang mungkin bisa menghancurkan. Sementara di Amerika, yang menonjol ada kebebasan dan bisa switch major atau nego jadwal kuliah ke dosen dengan mudah. Di Indonesia, anak-anak jurusan sosial mungkin pakemnya nggak bisa ke kedokteran atau teknik. Tapi di Amerika, peluang itu terbuka.
Di negara maju, guru-guru yang mengajar lebih fokus. Tapi di Indonesia, ibarat kita buka google-chrome, tabnya banyak banget. Sehingga harus multitask. Perform saat mengajar pun penting. Meski hari itu, misalnya, bad day for me, tapi ya tetap harus berdiri di depan kelas dengan full of energi dan mendeliver hal-hal baik. Analoginya, guru harus pakai teaching jacket, agar bad mood-nya tidak terbawa.
 
Di negara kita ada istilah, ganti menteri, ganti kurikulum. Bagaimana menurut Anda. Apakah kurikulum saat ini cukup ideal?
Kurikulum kita sudah berubah 11 kali sejak kemerdekaan. Kalau dibagi rata, artinya, rata-rata hanya 4 tahun untuk adjustment, implementasi sampai evaluasi. Itu kan sebenarnya nggak make sense ya. Kurikulum apapun, yang terpenting adalah eksekusinya dulu, dan rapihkan.
          Sebenarnya kurikulum 2013 sudah bagus, yang penting memberikan ruang kepada pengembangan diri para peserta didik. Namun tantangannya adalah kurikulum kita ini seragam dari Sabang sampai Merauke.
Contoh, murid di Jakarta, disodori gambar Kuda Nil, mungkin dia langsung tahu itu Kuda Nil. Tapi, murid di Papua, menyebut itu Babi Air. Itu budaya lokal, mereka tahunya seperti itu. Contoh lain soal asap. Apakah anak-anak diberi pengertian mengapa terjadi asap dan bagaimana supaya tidak kebakaran hutan? Yang terjadi sekarang, setelah dewasa, orang baru tahu ini kebakaran hutan dan bagaimana mencegahnya. Jadi kurikulum, mestinya involve dengan kearifan lokal, kebudayaan setempat dan natural resources, sepanjang sesuai dengan nilai Pancasila dan etika ketimuran. Jika ini dilakukan, mungkin semua propinsi di Indonesia bisa maju dan kuat sama-sama. Kekuatan Indonesia bukankah ada di kekayaan perbedaannya. Ini di luar kekurangan lain ya, misal infrastruktur pendidikan yang belum merata di tanah air.
 
Bukankah mata pelajaran sekolah untuk murid di Indonesia itu terlalu banyak, dibandingkan dengan sekolah di negara-negara maju? Jumlah mata pelajaran sebenarnya tergantung jenjang pendidikan. Idealnya, pendidikan dasar meng-cover kemampuan dasar seperti menghitung, logika dan motorik, sementara di jenjang SMA, anak mulai shopping ilmu untuk menentukan minatnya. Jumlah 17 mata pelajaran ya tidak apa-apa, sepanjang bobot assessment-nya atau ujian tiap mata pelajaran tergantung minat anak. Jika bobot assessment sama untuk semua mata pelajaran, maka anak-anak menjadi tidak punya waktu untuk eksplorasi minat. Baiknya, ada opsi-opsi atau pilihan pelajaran, dan assessment setiap mata pelajaran tergantung bobot yang diambil tiap anak.
 
Sekarang Anda masih mengajar?Saya rindu banget mengajar. Kadang ingin sekali. Tapi, kegiatan di WTT banyak dan sehari hanya 24 jam hahaha (tertawa). Sekarang saya tidak mengajar. Kalau masuk kelas lebih ke fungsi observasi. Salah satu pilar di WTT adalah observasi kelas. Hasilnya adalah student outcome, misalnya membuat topik active learning. Sering terjadi, kita ingin kelas aktif, tetapi tanpa disadari bahasa yang dikeluarkan guru-guru tidak memberi peluang active learning terjadi. Misalnya, guru mengatakan, kerjakan ini, kerjakan itu, dan seterusnya. Ini bahasa guru, seharusnya diubah.
(Di saat kuliah, Amanda aktif mengajar. Setiap mahasiswa jurusan ilmu pendidikan dasar harus memiliki pengalaman mengajar sekitar 180 jam di luar kegiatan kampus. Ketentuan ini jadi salah satu persyaratan mendapatkan license sebagai guru. Amanda mengajar satu sampai dua kali sepekan. Antara lain, di University of Wisconsin - Eau Claire Chidren's Center, di Alcott School, Concord MA, di Alexander Hamilton Elementary School, Brighton MA, Museum Fine of Arts Boston, MA dan pada waktu libur sekolah Amanda juga mengajar di sekolah lamanya, di SD Santa Ursula Jakarta)
 
Di memori, terekam guru-guru kita dulu itu ada yang galak dan instruktif. Padahal zaman sudah berubah. Bagaimana cara mengubah mindset guru-guru yang seperti ini.
          Kadang saya menemukan ada guru mengatakan dengan bangga, “wah ulangan saya susah banget sampai anak-anak ngga ada yang bisa menjawab.” Saya heran, mendengar ini. Bukankah, berhasil tidaknya anak-anak mengerjakan ujian, adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai guru ya. Mengubah mindset guru memang sangat challenging. Yang membuat style mengajar seorang guru, bukanlah pendidikan dia, bukan training atau kursus yang dia dapat, tetapi memori selama 12 tahun, saat dulu dia diajari di sekolahnya. “Waktu saya SD, saya diajari peta buta seperti ini, and then Im gonna do that to my kids...” begitu pikirannya.
          Padahal, situasi sekarang amat berbeda. Ada perubahan dan perkembangan generasi. Fokus pehatian anak-anak sangat pendek. Sangat sulit ada anak yang duduk manis selama 30 menit mendengarkan.
 
Teknologi makin maju. Anak-anak makin akrab dengan gaget, bagaimana sikap guru menghadapi ini? Saat ini, otoritas guru dan orang tua menjadi tertantang karena teknologi. Dulu, misalnya, saat ke lapangan dengan guru, lalu murid melihat tanaman, mereka bisa langsung bertanya ke guru, apa namanya. Sekarang belum tentu. Anak yang pemalu, mungkin memotret tanaman itu lalu bertanya ke google. Sehingga murid mungkin nggak selalu pergi ke guru atau orang tuanya untuk mendapatkan ilmu. Karenanya, guru sekarang harus punya added value, supaya tetap dihormati dan memiliki peran yang relevan dengan mindset sekarang.
 
 
Putri Indonesia Yang Kini
Berkiprah International
 
          Pas dengan namanya. Amanda Putri Witdarmono, memang Putri Indonesia. Di tahun 2008, Amanda terpilih sebagai Putri Indonesia bidang Pendidikan, dalam kontes yang diadakan Yayasan Putri Indonesia. Usia masih muda, tapi pengalaman putri pertama Witdarmono dan Henny R ini, luar biasa. Kiprahnya mulai go international, saat tahun 2015, terpilih menjadi pembicara termuda dalamWorld Economic Forum (WEF), di Davos Swiss. Dia sepanel dengan tokoh-tokoh lain yang menginspirasi dunia. Sejak 2012, Amanda terlibat di WEF melalui komunitas Global Shapers. Sebuah jejaring yang merupakan simpul-simpul anak-anak muda berpotensi, berprestasi dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.         
          Ketika jadi finalis Putri Indonesia, Amanda mengaku baru belajar dandan dan nge-blow rambut. “Dulu saya cuek. Tapi, rupanya physical appearence itu penting. Apalagi, kita berdiri di kelas dan bicara ke murid, tentu penampilan juga bisa mempengaruhi kualitas komunikasi. Anak-anak akan memperhatikan gurunya dari atas sampai bawah,” kata dia. Sekarang, Amanda terlihat sebagai profesional muda dengan penampilan fresh dan smart.
          Amanda mengaku passionnya di dunia anak-anak dan pendidikan. Tidak pernah ada orientasi masuk ke dunia modeling atau hiburan. Sehingga keterlibatannya di Putri Indonesia, dulu, sekedar untuk pengalaman dan exposure.
Makanan favorit Amanda sushi dan tempe. “Itu never go wrong, apalagi sekarang sedang nge-tred makanan sehat,” katanya. Lahir di New York 7 Oktober, 1988, tapi orang tuanya tetap mendidik Amanda dan adiknya etika dan adat ketimuran. ***
 
 
 
Pernah Magang Di Kantornya Jokowi-Ahok
 
          Amanda pernah magang selama tiga bulan dan ikut mensosialisasikan program Kartu Jakarta Pintar, saat Jokowi-Ahok memimpin DKI Jakarta.
          “Itu pengalaman menarik. Mengurusi pendidikan, tapi faktualnya yang saya kerjakan itu hanya 20 persen di kelas, sisanya di birokrasi. Saya mengetahui dinamika sosial antara orang tua dan problematika keseharian tentang KJP,” katanya. Dia turun ke jalan, sekolah dan bicara dengan guru, orang tua dan kepala sekolah. Hingga membuat infografis, untuk memudahkan prosedur pendaftaran di KJP.
          “Ini program yang amat membantu. Kalau biaya pendidikan sudah tercover, maka dana KJP juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan gizi dan nutrisi anak. Ini penting. Hasil pelajaran yang diterima anak dengan perut kenyang, tentu berbeda dengan anak yang perutnya lapar,” kata Amanda.
          Ditanya mengapa tertarik dengan dunia anak-anak dan pendidikan? Amanda menjawab, dari dulu senang dengan dunia itu. “Main dengan anak-anak, menggambar bersama, dan akhirnya menemukan minat, ingin berkaya bersama anak-anak.” Selama proses kuliah, dia menyadari bahwa dunia pendidikan rupanya amat luas. Ekonomi, politik, dunia, dan apapun semuanya terkait dengan pendidikan.
          Nyambung dengan dunianya, Amanda pun mendirikan Koran Berani, koran yang didedikasikan untuk anak-anak. Ayah Amanda, Witdarmono, adalah jurnalis di Harian Kompas. Di Koran Berani, Amanda adalah Pemimpin Redaksi. “Di koran ini saya bisa bebas membicarakan tentang hal-hal sensitif dalam kacamata anak-anak. Misalnya tentang kejadian di Paris, election dan sebagainya,” katanya. ***

Artikel ini dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Spesial 3 Desember 2015 
(60 halaman)