Senin, 28 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (5): Operasi Cangkok 400 Kali Setahun Di Lu Daopei Hospital

 China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.


          Di sini, kita masih jarang mendengar operasi transplantasi atau cangkok sumsum tulang belakang. Selain butuh teknologi yang amat modern dan biaya mahal, belum banyak dokter ahlinya. Di China, operasi ini tergolong biasa. Lu Daopei Hematology Oncology Center melakukan cangkok sumsum tulang belakang 40 kali sebulan. Itu baru satu rumah sakit. Belum yang lainnya. “Pasien antri sampai 3 bulan untuk melakukan ini,” kata Dr Chuenrong Tong, Director of General Hematology and Immunotherapy. Dia mengajak kita berkeliling melihat seluruh bagian rumah sakit. Mulai dari areal resepsionis sampai ke ruang-ruang perawatan, dan kamar khusus operasi yang amat steril atau laminar room. Suasananya amat tenang, dan sama sekali tak ada kesibukan layaknya rumah sakit di Indonesia. “Apakah ada pasien yang dirawat di sini?” tanya saya, penasaran. Sebab rumah sakit kelihatan sepi. “Tentu saja. Semua kamar perawatannya penuh,” jawab Dr Chuenrong.

Prof Lu Daopei (Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia) bersama putrinya, Dr Peihua Lu (foto by: ratnasusilo)

Pendiri Lu Daopei Hospital, yaitu Prof Lu Daopei, dikenal sebagai Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia. Masih hidup, dan kini berusia 85 tahun. Bahkan, Prof Lu terlihat segar saat menemui rombongan wartawan Indonesia.

Prof Lu melakukan transplantasi ini sudah ribuan kali, sejak 52 tahun yang lalu. Pasien pertamanya, wanita 22 tahun, menderita anemia aplastik, yaitu kondisi sumsum tulang belakang berhenti memproduksi darah baru. Tahun 1964 wanita itu menjalani cangkok dari sumsum tulang belakang saudara kembarnya. Sampai saat ini masih hidup, telah berusia 74 tahun, dan sehat.  Ini termasuk salah satu operasi cangkok sumsum tulang belakang paling sukses di dunia. Prof Lu bahkan menunjukkan fotonya bersama wanita itu, saat terakhir bertemu, dua tahun yang lalu. 

Menurut Dr Chuenrong Tong, Prof Lu sangat genius. Sifatnya selalu penasaran dan senang berpikir. Dia tak mudah mempercayai sesuatu, sebelum membuktikan sendiri. Di usia 40 tahun, Prof Lu dan putranya membedah kodok sawah, lalu diambil racunnya dan diteliti. Dia ingin tahu, apakah benar anggapan orang bahwa jika kodok mengenai mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan. 

Prof Lu juga ahli mengkombinasikan obat, antara resep modern dengan herbal, pengobatan tradisional khas China. Kakek dan buyut Prof Lu adalah ahli-ahli TCM (Tradisional China Medicine) yang sangat diakui di China. Kini, keluarga Lu dan lima generasinya, termasyur di China, sebagai ahli-ahli medis yang hebat.

Ada jenis kanker darah yang bisa diobati tanpa cangkok sumsum tulang belakang. Yaitu Acute Promyelocytic Leukemia (APL) dengan pengobatan sejenis arsenik. Menurut Prof Lu, sejak 2.000 tahun lalu, arsenik dalam jenis dan dosis tertentu telah digunakan oleh orang-orang China sebagai obat. Arsenik sulfida dikombinasikan dengan obat-obat tertentu, hasilnya sangat baik untuk kanker darah. Dia mengambil sendiri arsenik dari sebuah pertambangan di China, dan menelitinya. 

Di masa lalu, tidak mudah melakukan prosedur medis yang baru. “Political pressure dan beban tanggungjawab medis sangat tinggi, saat itu,” kata Prof Lu. Karenanya, sebelum diterapkan pada pasien, sebuah prosedur medis harus diteliti berulang-ulang. Selain itu, dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa meyakinkan pasien akan keberhasilannya.

Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti yang rusak karena kanker. Sumsum bisa diambil dari tulang pasien yang sehat, atau dari orang lain, yang masih ada hubungan kekerabatan. Tim yang dipimpin Prof Lu Daopei, saat ini menduduki peringkat ketiga di dunia, dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 persen.

          Putri Prof Lu, yaitu Dr Peihua Lu, saat ini menjabat sebagai Director and Specialist in Lymphoma and Myeloma, menjadi penerus jejaknya. Peihua atau disapa Peggy, adalah dokter ahli lulusan Stanford University, USA. Dia menyebut ada tiga pasien Indonesia yang ditangani rumah sakitnya baru-baru ini. Dua diantaranya sudah pulang, dan seorang lagi masih dalam perawatan. 

          Menurut Peggy, Lu Daopei adalah pelopor imunoterapi untuk kanker darah, dan tempat berkumpulnya banyak ahli dalam dan luar negeri dalam bidang hematologi. Setiap tahunnya, melakukan hampir 400 kasus transplantasi, dan 70 persennya dengan tingkat kesulitan tinggi. 

Resepsionis di RS Lu Daopei, Beijing (foto by: norgenhealth)

          Di Indonesia, untuk penderita leukemia atau kanker darah lainnya, dan membutuhkan pengobatan lebih serius di China, bisa dibantu melalui NorgenHealth. Ini adalah platform layanan pertama dan terbaik di China. Bisa diakses melalui websitenya di www.norgenhealth.com, dan menyediakan berbagai jenis layanan. Mulai dari jasa konsultasi, pemilihan rumah sakit, sampai penjemputan dan pendampingan selama pengobatan di China. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline. Silakan klik

http://dunia.rmol.co/read/2016/03/24/240690/Operasi-Cangkok-400-Kali-Setahun-Di-Lu-Daopei-Hospital-


Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Senin, 28 Maret 2016, Halaman 13




Sabtu, 26 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (4): Operasi Kanker Dengan Luka Selubang Jarum

China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya

          Kanker adalah pembunuh nomor satu di dunia. Data WHO menunjukkan, lebih 20 juta orang terkena kanker setiap tahun, dan 13 juta diantaranya berakhir kematian. Di Beijing, kami mengunjungi dua rumah sakit kelas high-end yang memberikan layanan international, spesialis pengobatan kanker. Mirip priority banking di urusan perbankan. Yaitu di Beijing Yuho Rehabilitation Hospital dan Henghe Hospital. Dua rumah sakit ini menggabungkan metoda pengobatan barat yang modern, dengan tradisional khas China. 

Presiden Yuho, Li Ning, lulusan kedokteran di Amerika menceritakan, di rumah sakitnya, bergabung banyak ahli senior pengobatan kanker dengan penghargaan tertinggi di China. Prof Qinjia Zhang, Prof Qiang Sun, Prof Hanyuan Huang dan Prof Xiang Wang. Mereka kerjasama dengan berbagai ahli kanker lain di Amerika, mengembangan pengobatan sebisa mungkin tanpa operasi. Atau luka yang kecil, minimal invasif.

Tahun lalu ada pasien kanker payudara. Telah dikemoterapi selama enam bulan di Amerika, sampai rambutnya rontok habis. Dan divonis usianya tidak lama. “Orang-orang yang mengelilinginya hanya bisa menghibur dia. Itu pun ada batasnya,” kata Li Ning. Lalu ditangani di Yuho dan diberi pengobatan gabungan barat-timur. Hasilnya, kini pasien itu menemukan kembali kehidupannya.  

Yuho juga pernah menangani kanker ovarium pada wanita 25 tahun, yang sangat ingin punya anak. Dengan pengobatan khusus, alat reproduksi pasien bisa diobati. “Ini amat sulit, tapi kami berkomitmen menjaga kehidupan generasi berikutnya untuk pasien tersebut,” katanya. 

Berkeliling di Yuho, tidak seperti masuk rumah sakit. Tamannya cukup luas dan hijau, dan kamar-kamar perawatan mirip hotel. Tak terasa kesibukan rumah sakit layaknya di Indonesia. Nyaman, asri dan tenang. 

Selain pusat pengobatan kanker, Yuho juga dikenal sebagai rumah sakit rehabilitasi. Ada areal khusus hydroterapy dengan kolam air yang ketinggiannya bisa distel, juga suhu dan efek bubble untuk terapi pasien dengan penanganan khusus.

Yuho juga punya sejumlah teknik terapi yang unik. Misalnya, terapi garam mineral Ukraina. Fungsinya untuk pengobatan asma dan penyakit saluran nafas. Sekali terapi, biayanya sekitar 400 Yuan atau Rp800 ribu. Ruangannya didesain khusus. Garam mineral itu menempel di seluruh dinding, plafon hingga lantainya. Warna hijau keunguan efek cahaya buatan. Menggantung dan tumbuh, seperti stalakmit stalaktit di gua-gua. 

Tiga wartawan Indonesia sempat diberi perawatan terapi selama hampir satu jam di Yuho. Taufiqurohman dari Tempo diberi terapi kerikan menggunakan batu tipis. Apa mirip dengan kerokan masuk angin di Indonesia? Kata Taufiq, hampir sama. Badan dibalur dengan minyak aroma terapi, lalu kerikan dimulai dari leher, punggung, sampai kepala. Kulit memang kemerahan. Tapi badan, kata Taufiq, terasa lebih enteng. 

Sedangkan Tejo Asmoro dari TVOne, dapat terapi bekam ala China. Dengan tusukan jarum dan mengeluarkan darahnya yang kotor di bagian punggung. “Sakit nggak?” Tejo bilang tidak. Selama ini, dia sudah biasa dibekam. Seorang lagi, Adi Murtoyo dari Koran Jakarta, mendapat pengobatan akupunktur di tangannya. 

Di Henghe Hospital, beda lagi. Ini adalah rumah sakit swasta terbesar di Beijing, tempat merawat pimpinan dan pejabat-pejabat tinggi di China. Henghe bekerjasama dengan dokter-dokter kelas dunia di Royal Free Hospital, Cancer Center of Oxford University dan Harvard Medical School. Semua dokter-dokter terbaik di negara itu, bisa dipanggil ke rumah sakit ini. Jam terbang dokternya ratusan ribu, atau rata-rata 10 ribu pasien diobati pertahun oleh tiap dokternya. 

          Ini rumah sakit dengan luas mencapai 70 ribu meter persegi. Spesialisasinya pengobatan kanker dengan imunoterapi, dan teknik stem cell (sel punca). Di Indonesia belum populer, tapi China kini dianggap sebagai negara yang pengembangan sel punca-nya paling maju di Asia Tenggara. 

          Di Henghe Hospital, kita berkeliling menyaksikan kecanggihan alat-alat kedokteran modern. Banyak kamar khusus disiapkan untuk pasien internasional. Menurut mereka, biaya pengobatan di situ, lebih murah dari biaya yang ditawarkan oleh negeri tetangga dekat Indonesia. 

          Dua rumah sakit ini masuk katagori 3A, level tertinggi kelas rumah sakit di China. Selain Yuho dan Henghe, masih ada puluhan rumah sakit lain yang direkomendasi oleh NorgenHealth, platform layanan medis yang ternama di China. NorgenHealth bisa diakses melalui websitenya di www.norgenhealth.com dan ada pilihan menggunakan bahasa Indonesia, agar lebih mudah dipahami oleh orang-orang Indonesia yang ingin berobat ke China. 

Prof Liu Chen, Kepala Interventional Imaging Center dari The international medical center of Beijing Cancer Hospital, tiap tahun melakukan ribuan operasi kanker. Diantaranya dengan biopsi jarum pada bagian sulit, di modul mikro paru-paru, kelenjar bening, organ dalam jauh di perut dan lainnya.  Metode ini sangat singkat, luka dan komplikasinya kecil, sehingga pemulihan cepat. Bahkan lukanya hanya selubang jarum saja. Teknik biopsi jarum juga digunakan untuk memastikan apakah itu kanker atau bukan. Lalu, penggunaan transplantasi partikel dan ablasi radiofrekuensi (microwave thermal ablation) yang minimal invasif, untuk pengobatan. Bukan lagi sekedar kemoterapi. Tapi, obat diinjeksikan langsung ke kanker, sehingga hasilnya lebih maksimal, dan organ lain terlindungi. (Bersambung)

a.     Petugas laboratorium di Henghe Hospital (Foto by Ratnasusilo)

b.     Yuho Hospital di Beijing (Foto by Norgenhealth.com)

c.      Henghe Hospital di Beijing (Foto by HengheHospital)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline  23 Maret 2016. Silakan klik: http://ekbis.rmol.co/read/2016/03/23/240532/Operasi-Kanker-Dengan-Luka-Selubang-Jarum-


Artikel ini juga sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Minggu, 27 Maret 2016




Jumat, 25 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (3): Naik KA Cepat China, Serasa Argo Kecepatan Ferrari

China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya

 

Suasana di Stasiun Kereta Cepat CRH (China Railway High-speed), di Beijing. Foto by RadianSukma/Detikcom


Dua hari di Guangzhou, rombongan beranjak ke Beijing. Kami menggunakan jalur darat dengan Kereta Cepat China yang disebut CRH (China Railway High-speed). Senang sekali bisa mencobanya, karena di Indonesia, orang sedang ramai membicarakan kereta ini.

Kami naik kereta cepat bersama tim dari NorgenHealth. NorgenHealth adalah platform layanan medis pertama dan terbesar di China. Lembaga ini banyak membantu orang-orang Indonesia yang ingin berobat ke China. NorgenHealth mengurus lengkap. Mulai dari konsultasi medis, mencari pengobatan, dokter dan rumah sakit yang cocok, sampai layanan pasca pengobatan. Juga mengurus visa dan mengatur akomodasi kerabat yang mendampingi. Bahkan hingga layanan wisata selama berada di China. Di Beijing, rencananya kami akan berkunjung ke sejumlah rumah sakit.

Kembali ke kereta cepat. Harga tiketnya 862 RMB atau Rp1,7 juta perorang. Itu untuk second class. Untuk first class 1200 RMB dan business class 2700 RMB. Mahal? Ngga juga sih. Jarak Guangzhou-Beijing itu jauh sekali. Sekitar 2.200 kilometer, atau tiga kalinya Jakarta-Surabaya (690-an kilometer). Waktu tempuh 8 jam. Berangkat dan kedatangannya, benar-benar tepat waktu. Tak lebih tak kurang, semenit pun. Kalau memilih kereta api biasa, jarak sejauh itu membutuhkan 24 jam. Tiket CRH bisa dipesan online sampai 60 hari sebelum keberangkatan. Hari itu, kita memilih jadwal pagi.

Stasiun kereta api dalamnya mirip airport ya. Cukup bersih dan rapi 
(Foto: ratnasusilo)

Suasana di stasiun cukup tertib, rapi dan bersih. Padahal antrian padat. Penumpang seliweran, ribuan jumlahnya. Papan penunjuk informasi ukurannya besar dan menyala dimana-mana. Serasa mirip suasana airport. Kami naik dari Stasiun Selatan, stasiun terbesar di Guangzhou. Pemeriksaan tiap penumpang sangat detail. Meskipun sudah masuk xray, semua koper dan tas dibuka lagi oleh petugas, lalu diperiksa teliti, hingga ke bagian dalamnya. “Ini baju dalamku di tas ikut diperiksa juga,” kata Amri Husniati, wartawati JawaPos yang gabung di rombongan ini, sambil ketawa. 

Pemeriksaan koper penumpang sebelum masuk boarding room. (Foto: ratnasusilo)

Perjalanan menyenangkan. Tiap kali melewati terowongan, rasanya seru. Rupanya pembuatan jalur kereta cepat ini melubangi banyak bukit dan gunung. Ada yang terowongannya terasa panjaaaang sekali. Lalu yang sangat sangat pendek juga banyak. Bahkan, ada yang dilalui tak sampai dua detik. Ya, itungannya detik, karena kecepatan kereta ini sampai 300-an km perjam. Seberapa cepat kereta lari, bisa terlihat dari angka-angka yang ditampilkan papan monitor, persis di atas pintu kaca, pembatas antar gerbong. Angkanya menyala merah. 

Membutuhkan sekitar 10-15 menit dari kecepatan awal saat start, lalu terus naik ke 200 km perjam, 250 km perjam, hingga akhirnya stabil di 300-an km per jam. Sesekali menyentuh 305 km perjam. Suara gesekan rel terdengar tapi tidak keras. Ini mungkin menyamai kecepatan mobil balap Ferrari di sirkuit. Kereta terasa melesat. Wuzzzz. Tapi, kita masih bisa menikmati pemandangan yang jelas, di balik jendela. 

Saat menyentuh kecepatan maksimalnya itu, posisi kereta sudah berada di pinggiran kota. Terlihat dari pemandangannya yang berubah. Mulanya, melihat gedung-gedung tinggi, cerobong industri, lalu jadi pegunungan, pepohonan hijau, perkebunan, pedesaan dan hutan. Pagi itu kabut terus menyelimuti jalur di sepanjang perjalanan. 

Komposisi duduk di kelas ini 3 kursi di lajur kanan, dan 2 kursi di lajur kiri. Jadi, sebaris ada lima kursi. Saya hitung, ada 15-an baris dalam satu gerbong. Dan jumlah gerbong hari itu, ada 9. Jadi, sekitar 1200-an orang bisa sekali angkut di kereta cepat ini. Kalau musim liburan, gerbong kereta bisa ditambah. Tergantung padatnya penumpang. Ujung gerbongnya berbentuk peluru. Mirip sih dengan penampakan Kereta Shinkansen Jepang, atau TGV di Paris. Di China disebutnya Gao Tie.

Sama seperti orang Indonesia, orang China juga rupanya gemar bawa banyak barang saat bepergian. Kardusan, koper dan makanan. Tempat koper di kabin pun penuh berjejalan. Juga memadati tempat koper di lemari extra yang disediakan di antara pintu pembatas antar-gerbong. Sebagian koper terpaksa ditaruh di lorong antar-kursi. 

Suasana di second class, serasa naik kereta Argo-nya milik PT KAI. Menurut Alfio Aprilio, guide perjalanan dari NorgenHealth, tempat duduk di first class lebih lega. Bahkan, di kelas bisnis, tempat duduk bisa diposisikan jadi tempat tidur.

Selama delapan jam perjalanan, penumpang disuguhi tontotan berita dari layar televisi yang jumlahnya dua buah dan ditanam di langit-langit kereta. Layarnya bisa dua muka, depan belakang. Banyak penumpang mengusir rasa bosan dengan menonton film dari laptopnya. Layanan makan, ada restorasi kereta atau pramugari yang mondar mandir menawari makanan. Beli mie atau nasi ayam sekitar 45-60-an RMB. Wartawati Antara, Desi Purnama menaburi abon cabe dari Indonesia. Lumayan, mie jadi berasa pedas gurihnya.

Makin ke pinggiran, jumlah terowongan makin banyak. Belum seperempat perjalanan, sudah lebih 50-an yang terhitung. Di terowongan ke 56, saya tertidur. Saat bangun, entah sudah berapa terowongan terlewati. Sampai Beijing, mungkin jumlah terowongannya ratusan.


Toilet bersih. Ukuran cukup lega

Toilet? Bagus dan cukup bersih. Ukurannya lebih besar sedikit dari toilet pesawat terbang. Pembuangan disedot dengan sedikit air. Wangi, dan ada tisu yang selalu terisi penuh. Petugas kebersihannya mengepel lorong-lorong kereta api nyaris tiap jam. Dan setiap saat, ada petugas lain yang bolak balik mengecek dan mengambili sampah yang berserakan. Petugasnya berani. Kalau kelihatan ada bungkus makanan di meja lipat langsung dibersihkan. Meskipun isinya belum habis, dia tak peduli. Pokoknya harus bersih. 

Dispenser untuk penumpang kereta.

Yang unik, kereta menyiapkan dispenser air minum. Gratis. Banyak penumpang yang membawa botol air kosong dan diisi di situ. Sampai di Beijing, pukul 18.00 on time. Keluar dari stasiun, suasananya amat sibuk. Aroma metropolitan pun terasa. Welcome to Beijing. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di Rakyat Merdeka Online, Selasa 22 Maret 2016 http://dunia.rmol.co/read/2016/03/22/240396/Naik-KA-Cepat-China,-Serasa-Argo-Kecepatan-Ferrari-

Artikel ini juga sudah dimut di Harian Rakyat Merdeka, Sabtu (26/3/2016)




Selasa, 22 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (2) : Ini Testimoni Relawan Jokowi Yang Lambungnya Dipotong

 China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.


Sihol Manullang dijenguk oleh Prof Wu Liang Ping, setelah dua hari menjalani operasi gastric bypass untuk menyembuhkan diabetes.
 (Foto by ratnasus)


Ada tiga pasien penderita diabetes dan obesitas dari Indonesia yang ditangani Prof Wu Liang Pingdi Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine. Saat dijenguk, kondisi ketiganya telah membaik. Bahkan salah satunya, Sihol Manullang, sudah bisa turun dari ranjang dan berjalan pelan-pelan. Sihol Manullang selama ini dikenal sebagai Ketua Barisan Relawan Jokowi Presiden-2014 atau disebut Bara JP. Saat itu, hari kedua pasca operasi, Sihol malah ikut menyaksikan “live” bedah lambung yang dilakukan Prof Wu, terhadap pasien lainnya. Sejumlah pasien yang pernah, dan akan menjalani operasi yang sama juga hadir. 

          Sihol sempat menunjukkan luka operasi, kepada 11 wartawan Indonesia, yang berkunjung ke kamarnya. Ada 4 titik berbalut perban di areal perut. Salah satunya, terlihat sebuah selang kateter keluar mengalirkan darah-darah sisa operasi dari tubuhnya. Di tangan kiri Sihol, ada jarum infus mengalirkan cairan dari tiga tabung obat. Warna putih susu, dua lainnya bening. 

          Sihol juga dijenguk oleh tim dari NorgenHealth, platform layanan medis taraf internasional yang pertama dan terbesar di China.Norgenhealth inilah yang membantu Sihol dan pasien lain dari Indonesia berobat di sana. Dari mulai konsultasi, memilihkan rumah sakit dan metoda pengobatan yang cocok, sampai pengurusan visa dan akomodasi untuk kerabat yang mendampinginya di Guangzhou.

          Sihol sudah lama mendengar kehebatan dokter-dokter di China. Tapi, awalnya dia tidak mengerti, bagaimana caranya berobat ke sana. “Saya mengetahui NorgenHealth melalui internet dan mencobanya,” papar Sihol. Ternyata, layanannya amat nyaman, bersahabat dan lancar di rumah sakit. “Bahkan perawatnya di sini, sangat ramah-ramah,” katanya. 

          Sihol menderita diabetes selama 14 tahun. Gula darahnya pernah mencapai 560 hingga badannya drop. Berbagai pengobatan dilakukan. Sampai ke negeri tetangga, tapi merasa kurang cocok dan diabetesnya tak kunjung membaik. Akhirnya, Sihol memutuskan operasi, karena lelah minum obat dan kuatir dengan efek buruk diabetes. 

          Prof Wu menceritakan, lambung Sihol Manullang dipotong, dari volume normal 400 ml, tinggal 50 ml. Dalam keadaan normal, lambung amat elastis dan bisa melar hingga 1000 ml. Sedangkan lambung yang telah dipotong, dalam enam bulan bisa mencapai kapasitas 100 ml. Kemarin, Rakyat Merdeka sempat mengontak Sihol Manullang, yang sudah berada di Jakarta. “Saya sekarang sudah kembali aktivitas seperti biasa,” katanya.



Hendra Gunawan, penderita obesitas, bersiap pulang ke Indonesia, seusai menjalani operasi sleeve gastrectomy. (Foto by NorgenHealth)

          Pasien lainnya Hendra Gunawan dari Katapang (Kalimantan Barat), pengusaha swasta berusia 36 tahun. Tubuhnya gemuk, 142 kilogram dan Body Mass Index mencapai 46. “Saya suka sekali makan. Semua makanan enak,” katanya sambil tertawa. Hendra memutuskan operasi karena dietnya sering gagal. Segala jenis pengobatan sudah pernah dicoba. Tapi berat badannya susah turun. Saat dikunjungi, Hendra sudah empat hari keluar dari ruang operasi. Kondisinya terlihat segar. Dia berharap, tak lama lagi, tubuhnya jadi lebih sehat dan langsing. “Sekarang badan terasa mulai ringan,” kata dia. Hari itu, Hendra mengonsumsi makanan cair. Dua hari sebelumnya, asupan makanan hanya dari cairan infus. 

Sedangkan Tapian Manullang berasal dari Jakarta. BMI-nya sekitar 26. Postur tidak terlalu gemuk, usia 40 tahun dan tujuh tahun menderita diabetes. Matanya sering rabun, dan kondisi badan sering lemas. 

Menurut Prof Wu, setelah operasi, gula darah akan berangsur-angsur turun, dan tubuh jadi lebih fit. Hari itu, kondisi ketiganya cukup bagus dan dibutuhkan sekitar sepekan pemulihan di rumah sakit. Pasien akan pulih total setelah tiga-empat bulan. Dampak dari operasi gastric bypass (pemotongan lambung) atau sleeve gastrectomy (pengecilan lambung) bukan hanya menyembuhkan diabetes dan obesitas. Namun lebih dari itu, juga mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.

Saat di Beijing, saya sempat bertemu dengan pasien yang baru delapan hari operasi gastric bypass di Asia Pro Bariatric & Metabolic International Surgery Centre. Pria ini mukanya kelihatan segar, meskipun badannya gemuk. Tapi, dia mengaku sangat sehat. Di meja buffet makanan, saya sengaja berdiri di sampingnya. Ingin melihat cara dia makan. Rupanya dia tahu sedang diperhatikan. “Saat ini saya masih makan sup sampai 45 hari setelah operasi,” katanya. Tapi, dia tak merasa lapar.

“Saya tak bisa membayangkan, bagaimana caranya mengelak dari makanan enak,” respon saya, sambil tertawa. Dia menjawab ngakak. “Wah, dulu saya juga sulit mengelak makanan enak. Lapar mata. Tapi, sekarang saya sudah bisa menahan diri.”

Tahu kami ngobrol, Dr Vijayray D Gohil, yang mengoperasi pasien itu, ikut gabung. Dia bilang, setelah 45 hari, sudah boleh makan bubur dan yang halus-halus. Lalu, 4-5 bulan kemudian, pasien boleh makan apa saja. Porsinya otomatis sedikit, karena kapasitas lambung sudah mengecil, sehingga terasa cepat kenyang.

Saya juga sempat tanya Prof Wu soal ini. “Setelah menjalani operasi, aktivitas makan harus dianggap sebagai pekerjaan yang serius,” katanya. Itu berarti, menguyah makanan harus pelan-pelan. Menikmati dengan detail, sampai ke gigitan terakhirnya. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline, Senin 21 Maret 2016. Silakan klik link ini:

http://dunia.rmol.co/read/2016/03/21/240220/Ini-Testimoni-Relawan-Jokowi-Yang-Lambungnya-Dipotong

Artikel ini juga sudah dimuat di HarianRakyatMerdeka, edisi Rabu 23 Maret 2016

 


Minggu, 20 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (1): Menyaksikan “Live” Bedah Lambung Secanggih Amerika

China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.

Foto 1.  Prof Wu Liang Ping, memberikan keterangan setelah melakukan operasi gastric bypass di Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine (Foto by ratnasusilo)        

  Ini pertama kalinya saya menyaksikan operasi pembedahan di perut secara live. Di China, prosedur gastric bypass (bypass lambung) untuk pasien diabetes type 2, dan sleeve gastrectomy (pengecilan lambung) untuk pasien obesitas, makin sering dilakukan. Sepuluh tahun lalu, teknik seperti ini berkembang di Amerika. Kini, China tak kalah hebat. Sudah banyak dokter di sana melakukan operasi ini. Salah satu dokter senior yang amat dihormati, Prof Wu Liang Ping dari Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine, melakukan operasi ini pertama kali tahun 2008. Dan kini, total pasien yang telah dioperasi olehnya mencapai 500-an orang. Prof Wu berkarir di kedokteran selama 20 tahun. Telah melakukan lebih dari 3000 jenis operasi laparoskopi, dan pelopor bedah metabolik. Telah menerbitkan lebih dari 40 jurnal kedokteran.

          Dari layar lebar yang dipasang di ruangan tertutup, saya dan sejumlah wartawan dari Indonesia, menyaksikan dengan jelas, proses operasi secara laparoskopi. Jenis bedah minimal invasif. Luka di luar sangat sedikit, sehingga sembuhnya lebih cepat. Ada empat titik di perut pasien dilubangi kecil, untuk memasukkan alat seperti selang kaku. Ujung selang itu berkamera, sehingga dokter bisa melihat jelas seluruh bagian dalam perut pasien melalui layar monitor. Lalu, tiga titik lainnya, untuk selang dan kateter yang memasok berbagai macam alat medis. Mulai dari pemisah lemak, alat pemotong, hingga alat jahit. 

          Prosesnya sekitar 40 menit sampai satu jam. Prof Wu terlihat amat terampil mengerjakan seluruh rangkaian operasi itu. Alatnya canggih. Begitu lambung terbelah dua, otomatis pinggirannya rapi dan rapat. Seperti memasang retsleting di baju. Dibantu 2 asisten dokter dan 8 perawat, tangan Prof Wu, lincah menggerakan jarum berbentuk huruf C, saat menjahit bagian lambung. “Ini mungkin karena kami terbiasa menggunakan sumpit, sehingga mengerjakan hal-hal detail seperti ini pun tidak sulit,” kata rekan Prof Wu, yang ikut mendampingi kami menyaksikan operasi ini. 

          Pasien saat itu adalah lelaki, usia 35 tahun dan menderita kegemukan. Berat badannya sekitar 120 kilogram, diabetes dan darah tinggi. Setelah operasi selesai, luka jahitan di perut ada 4 titik, dengan panjang sekitar 0,5-1 cm. Bandingkan dengan metoda pembedahan konvensional. Lukanya bisa menganga sekitar 20-an cm.

          Keluar dari ruang operasi, Prof Wu bergabung dengan kami. Dia tampak lega dan gembira. Begitu membuka masker mukanya, tampaklah senyum yang ramah. Usia Prof Wu terlihat masih muda. “Saya kelahiran tahun 1970,” katanya.

  Foto 2. Wartawan dan sejumlah dokter ahli serta pasien dan keluarga pasien bersiap menyaksikan siaran “live” operasi bedah lambung. Sihol Manullang (dengan selang infus) ikut hadir. (Foto doc norgenhealth)

Operasi hari itu sukses dan kondisi pasien bagus. Dia yakin, besok pasien sudah bisa turun dari ranjang, dan 3-4 hari kemudian pulang ke rumahnya. Satu-dua tahun setelah operasi, Profesor yakin berat badan pasien turun 30-40 kilogram. 

          Lima tahun terakhir, operasi ini banyak dilakukan di China karena penderita obesitas dan diabetes terdeteksi makin banyak. China termasuk negara dengan penduduk terbanyak di dunia yang menderita diabetes (data 2015, jumlahnya mencapai 90-an juta orang). Menyusul, India (61,3 juta), Amerika (23,7 juta) dan Indonesia ada di urutan ke-10 dunia (7,3 juta). Lima belas tahun mendatang, diprediksi jumlah penderita diabetes dunia akan naik rata-rata hampir dua kali lipatnya. 

Data lain menyebut, pasien obesitas yang tertinggi di dunia adalah di Amerika (65 persen dari populasi orang dewasanya menderita kegemukan). Tak heran, di sana sekitar 200 ribu operasi dilakukan pertahunnya. Disusul Australia (59 persen), dan China ada diurutan ke delapan (30 persen), setelah Rusia, UK, Arab, India dan Brazil. 

Bagi penderita diabetes, operasi gastric bypass bertujuan mengubah aliran makanan. Lambung yang kecil membuat cepat kenyang, dan efeknya menurunkan penyerapan kalori. Dalam jangka panjang, kerja pankreas tidak berat, produksi insulin perlahan naik. 

          Berapa biaya untuk operasi ini? CEO NorgenHealth Lin Junxiong menyebut sekitar 100 ribu RMB, atau Rp200-an juta. “Apakah itu mahal?” tanyanya. Ini termasuk biaya penanganan post operasi. NorgenHealth adalah sebuah platform layanan medis taraf internasional yang pertama dan terbesar di China. Norgenhealth kini telah membuka kantornya di Jakarta, untuk memfasilitasi pasien Indonesia yang makin banyak berobat ke China. Prosedur amat mudah, karena bisa diakses melalui www.norgenhealth.com di website resminya.

Bagi pasien diabetes, yang sudah menahun, biaya sebesar ini, cukup murah. Jika tak dioperasi, penderita harus mengonsumsi obat-obatan dan suntikan insulin secara teratur seumur hidupnya. Kualitas hidup pun secara perlahan menurun, karena sifat obat hanya mengendalikan, bukan menyembuhkan diabetes. Dalam jangka panjang, efek diabetes berpotensi besar merembet jadi berbagai penyakit serius, seperti tekanan darah tinggi, stroke, kebutaan, gagal ginjal, jantung dan sebagainya. 

Menurut Prof Wu, hasil berbagai penelitian di Amerika dan Eropa menyebutkan, operasi ini efektifitasnya 83-95 persen. Beberapa tahun setelah operasi, dampaknya akan bagus sekali. Tak ada lagi penggunaan obat dan bisa memperpanjang usia. Pasien obesitas yang  pernah ditangani, terberat sekitar 235 kilogram. Dan kini, setelah tiga tahun, berat badannya berkurang 80 kilogram.

Apa risiko terburuknya? Kata Profesor Wu, mungkin ada yang khawatir kekurangan gizi karena asupan makanan pasca operasi terbatas. Itu bisa diatasi dengan penambahan suplemen dan vitamin. Dan kekhawatiran tentang kebocoran lambung, bisa dikontrol sangat baik dengan teknik bedah yang modern. Sampai hari ini, ratusan pasien Prof Wu bisa aktivitas normal dan kondisinya sehat. 

“Pasien ini tak lama lagi membeli baju baru. Dan mungkin juga identitasnya akan baru,” canda Prof Wu, tentang pasien yang baru dioperasinya. Untuk mempercepat pemulihan, Profesor mengkombinasi dengan pengobatan tradisional China. Ini adalah metoda khas di hampir seluruh rumah sakit di sana. Kecanggihan teknologi medis dan alat-alat modern dari barat, digabung dengan teknik pengobatan tradisional.

Tiga pasien dari Indonesia, juga melakukan operasi di sana. Bagaimana testimoni mereka, tunggu di tulisan berikutnya. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline pada Sabtu, 19 Maret 2016, silakan klik:

http://dunia.rmol.co/read/2016/03/19/240026/Menyaksikan-Live-Bedah-Lambung-Secanggih-Amerika-

Artikel ini juga sudah dimuat di Harian Rakyat Merdeka, edisi Selasa, 22 Maret 2016


Senin, 22 Februari 2016

Eksklusif Dengan Direktur Utama PT Pelni Elfien Goentoro (2): RS Pelni Kini Sudah Kinclong & Untung Lho...


PT Pelni punya tiga anak perusahaan. Salah satunya adalah Rumah Sakit (RS). RS Pelni yang berlokasi di kawasan Petamburan, Jakarta Barat itu, kini kinerjanya semakin baik dan kinclong. 


Bagaimana kinerja RS Pelni saat ini?
RS Pelni sudah untung kok. Untung bersihnya sekitar Rp 18 miliar. Rencananya RS Pelni mau diperbesar lagi. Tapi equity-nya masih kecil. 
Untuk rumah sakit, kami menerapkan konsep green hospital, healing environmental. Semua kamar harus menghadap taman. RS Pelni saat ini melayani 70 persen pasien peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Seluruh Indonesia, belajar BPJS di RS Pelni lho... 

Penyelesaian administrasi di RS Pelni juga sangat cepat. Semua susternya pakai gadget tablet. Kalau ada dokter kasih kelebihan obat atau menyimpang, langsung dipanggil. 

Lama stay (rawat inap) pasien di RS tidak lebih 3,5 hari. Kalau kepanjangan, kami tanya, kenapa? RS Pelni juga punya fasilitas MRI, CT scan. Bahkan di ASEAN, RS Pelni tercatat sebagai rumah sakit yang memiliki tempat cuci darah terbanyak.***

Rajin Blusukan Dan Hobi Gowes Sepeda 

Elfien Goentoro adalah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Kimia. “Lucu ya, teknik kimia ngurusin kapal ha...ha...ha...,” kata Elfien sambil tertawa lebar.

Sebelum masuk PT Pelni, Elfien pernah memegang anak perusahaan di Pertamina sebagai Komisaris. Pria asal Jawa Timur itu, juga pernah menjadi konsultan. Elfien yang bergelar MBA dari salah satu perguruan tinggi di Inggris itu, saat ini merupakan kandidat doktor di Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.
 
Apakah Anda sering blusukan untuk mengecek kenyamanan, keamanan dan fasilitas di kapal-kapal Pelni? 

Dibanding direktur yang sudah kerja bertahun-tahun di sini, mungkin saya lebih sering naik kapal dibanding mereka. Saya sudah bolak balik. Berkali-kali. 
 
Elfien hobi menggowes sepeda. Dia pernah naik kapal menuju Labuan Bajo dan turun di sana untuk gowes. Juga mengunjungi beberapa daerah lain. 

"Saya juga suka jalan kaki, dan sesekali golf, kalau ada yang mengajak. Penting untuk jejaring dan lobi,” ujarnya. 

Elfien juga mengaku suka nonton film action dengan keluarga. Sedangkan makanan favoritnya adalah masakan Jepang dan makanan khas Jawa Timuran.

“Prinsip saya pemimpin harus punya integritas. Apapaun dan bagaimanapun kapabilitasnya, tanpa integritas, amat disayangkan. Kita hidup harus bermanfaat untuk orang lain, agar hidup punya legacy," tegasnya.***



Artikel ini telah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 22 Februari 2016





Eksklusif Dengan Direktur Utama PT Pelni Elfien Goentoro (1): "Untuk Ticketing, Kami Nggak Mau Kalah Sama PT KAI..."


PT Pelni kini berlayar menuju perubahan. Bertahun-tahun sebelumnya, kondisi perusahaan pelat merah ini ibarat hidup segan mati tak mau. Namun kini, rapor BUMN di sektor pelayaran itu sudah biru. 

Jumat petang (18/2), Tim Rakyat Merdeka yaitu Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Irma Yulia dan Fotgrafer Teddy Oktariawan Kroen, mewawancarai Direktur Utama PT Perusahaan Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Elfien Goentoro di kantornya, kawasan Gadjah Mada, Jakarta. Sambil menyeruput kopi Aceh yang nikmat ditemani aneka kue, Elfien menceritakan perombakan sistem kerja dan perubahan mindset di perusahaan yang dipimpinnya, sehingga performa Pelni bisa berubah total.


Bagaimana kondisi PT Pelni saat ini?
Alhamdulillah, PT Pelni kini terus membaik dan berkembang. Laba tahun 2015 delapan kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Perubahan masih terus dilakukan, dan belum selesai. Namun yang terpenting, respons dari luar baik. Pelni masih dipercaya. Trust atau kepercayaan ini tak bisa dibeli, tapi buah dari hasil kerja dan dilihat orang di luar. 
 
Dulu, angkutan penumpang semrawut. Ada penumpang nggak punya tiket, atau beli tiket di atas kapal. Kondisi sekarang bagaimana? 
Sekarang jauh lebih tertib. Saat peak season, yang tidak dapat tempat, maksimal sampai 30 persen. Alat keselamatan, seperti baju pelampung, rata-rata jumlahnya 4.000 di setiap kapal Pelni, sehingga kalau diisi penumpang sampai 2.500 sampai 3.000 orang masih bisa. Ada life guard-nya, ada life boy-nya. 

Selain itu, ada ketegasan dari Kementerian Perhubungan yang sangat mengutamakan keamanan dan keselamatan penumpang. Makanan di kapal pun, kita sekarang kerja sama dengan ACS, cateringnya pesawat Garuda. Jadi, frozen food atau makanan di Garuda persis, pindah ke kapal, untuk kelas ekonomi. Keren ya. 
 
Apakah ada wifi di Kapal Pelni? 
Masih terbatas hanya di anjungan, untuk keperluan navigasi saja. Kalau BRI nanti launching satelit, semua kapal Pelni sudah bisa pakai wifi. Sekarang sih baru bisa menelepon dan SMS.
 
Saat ini Kementerian Perhubungan merevitalisasi sekitar 100-an bandara perintis. Dan perbaikan sekitar 20-an bandara besar di wilayah timur. Sementara maskapai LCC (low cost carrier) juga makin banyak menarik minat masyarakat. Tentu ini berpengaruh kepada pendapatan PT Pelni, karena jumlah penumpang kapal laut makin berkurang...

Memang jumlah penumpang kapal laut berkurang banyak. Drop sekitar setengahnya. Tapi, di saat peak season, kapal masih amat penuh penumpang. Misalnya ketika Tahun Baru, Natal dan Lebaran. 
 
Jadi, kapal-kapal Pelni ini, masih lebih banyak mengangkut penumpang atau barang? 

Ya, sampai sekarang masih mengangkut penumpang. Karena, mengangkut barang baru setahun terakhir ini. 
 
Apa strategi Pelni supaya bisnis ini menguntungkan?

Ya, kalau mau BEP (break event point) kapal mesti terisi penuh 150 persen setiap hari ha...ha...ha... Karena harga kapal-kapal Pelni ini sekitar 1 triliunan rupiah. Ini kapalnya bagus sekali, semua buatan Jerman. Mereknya Mercy yang dibeli pake mata uang euro. Sementara tarif kapal ke Kalimantan hanya sekitar Rp 230.000-an per penumpang.

Jadi, supaya bisnis Pelni menguntungkan, ya kita mesti kreatif, ubah pola dan strategi kerja. Apalagi, ada roadmap dari Kementerian Perhubungan, tahun depan 121 bandara perintis diperbaiki, dan 20 di antaranya bandara besar di timur. Kita kebagian apa kalau diam saja? Makanya, kita harus siapkan perubahan. Kalau kami hanya menunggu PSO (Public Service Obligation) dan kapal penumpang saja, ya Pelni nggak ada beritanya.
 
Kenaikan laba Pelni tahun lalu cukup tinggi. Dari rugi Rp 600 miliar di tahun 2013, bisa untung lebih dari Rp 100 miliar di tahun 2015. Apa strategi bisnis yg diterapkan untuk mencapai hasil ini?

Kondisi PT Pelni masih survive. Saat ini, bisnisnya fokus sesuai sumber daya yang ada. Pembiayaan yang keluar, hanya yang sesuai dengan strategi terkait target. Bisnis kita ini pelayaran, itu intinya. Jadi, fokusnya di kapal penumpang dan muatan barang. Kalau melihat trend, memang jumlah penumpang saat ini turun terus, sehingga kalau tidak kreatif, kita nggak bisa bersaing. Sehingga perlu diambil sejumlah langkah. 

BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) misalnya, mengingatkan, kalau masih menerapkan segmen cabin di kapal penumpang, ada potensi rugi sebab load factor (tingkat isian penumpang)-nya tidak tercapai. Lalu Menteri Perhubungan Pak Ignasius Jonan juga saat ke lapangan, mempertanyakan, mengapa perlu ada layanan berbeda dengan kelas-kelas. Akhirnya, kita buat semuanya kelas sama. Ekonomi. 

Apa strategi lainnya agar kinerja Pelni makin kinclong?

Hal lain, kita juga ingin ada perubahan mindset (pola pikir), orang naik kapal, bukan sekadar untuk transportasi, tapi life style (gaya hidup). Ini peluang bisnis. Makanya, kita buat program, kapal-kapal digunakan untuk meeting on board, study on board, gathering on board dan wisata on board. Sejumlah tempat wisata di Indonesia kan berada di daerah terpencil, aksesnya sulit dan akomodasi terbatas. Padahal, kapal kita melalui daerah tersebut, dan bisa digunakan sebagai hotel terapung. Ternyata segmen ini memang ada pasarnya. Kapitalisasinya tahun lalu hampir Rp 5 miliar. 

Yang pernah menggunakan kapal Pelni, misalnya Kementerian BUMN saat gathering dengan sejumlah Dirut BUMN. Tahun ini, rencananya dengan Kementerian Pariwisata. Juga dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kemenko Maritim. Rombongan dari Kemenko Maritim jumlahnya 1.100. Mereka mau menyaksikan gerhana matahari. Selanjutnya minggu depan, PT Angkasa Pura I mau pake kapal kami ke Karimun Jawa. Kami kan punya jalur reguler ke Karimun Jawa.
 
Bagaimana peran Pelni dalam program tol laut yang jadi andalan Pemerintahan Jokowi. Juga program Kapal angkutan ternak?
 
Pelni sebagai operator, menjalankan rute yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Trayeknya harus jalan, ada atau tidak ada barang yang diangkut. Untuk program tol laut, barangnya kerja sama dengan Kementerian Perdagangan. Ini bagian dari program Kemendag untuk ketahanan pangan dan mengatur disparitas harga. Impact-nya cukup siginifikan. Saat ini, orang sudah melihat ada jadwal tetap dan kepastian. Sehingga harga barang-barang di daerah, misalnya di Serui dan NTT, bisa turun sekitar 20-30 persen. 
 
Untuk kapal program tol laut itu, barang yang diangkut apa saja ya? 

Barang pokok dan penting seperti sandang pangan. Dulu yang diangkut sangat terbatas. Sekarang lebih terbuka. Ada beras, terigu, gula pasir, cabe, baja, alat playwood, sampai semen, pupuk, hingga sayuran. 
 
Apakah ini cukup menguntungkan?
Memang tidak terlalu menguntungkan, tapi ya tetap harus untung. Bukankah BUMN itu ditugasi negara, dan harus ada untung meskipun tak lebih dari 10 persen. Pelni adalah perusahaan milik negara, merupakan agent of development, sehingga kepentingan rakyat yang utama. 
 
Dulu, ada cerita kapal mengangkut 120 peti kemas, tapi tidak terdaftar semua. Apa sekarang masih begitu?
Wah, sekarang nggak bisa. Kalau barang-barang kardusan yang kecil-kecil mungkin sulit dicek. Itu kan kapal besar sekali yang melalui banyak pelabuhan. Dan, di pelabuhan melibatkan multi instansi. Tapi, kalau yang peti kemas, itu tidak mungkin lolos. Kalau, ketika dicek ketahuan ada yang nakal, ya barangnya dan awaknya diturunkan. Saya pernah juga sampai turunkan ABK (Anak Buah Kapal)-nya, saat ke lapangan menemukan hal seperti itu. Kita ganti, karena nahkoda yang pegang tanggung jawab. 

Angkutan barang di tol laut, shipping instruction-nya dari Kementerian Perdagangan. Kami terima order, mereka membayar dengan tarif yang sudah diatur pemerintah. Ada closing date, ada closing time. Muatan harus ada manifest-nya. Kita kontrol ketat, sidak. Tahun ini targetnya pakai barcode. Dulu banyak barang naik, tapi jadi piutang. Sekarang, ada closing date, yaitu 3 hari sebelum muat barang, dokumen harus sudah jelas. Dan closing time, sehari sebelum naik ke kapal, harus sudah bayar dan barangnya ready. Kalau nggak bayar, ya nggak diangkut. 
 
Soal ticketing, apakah sistemnya sudah terigterasi dengan e-ticketing?
Sudah tahap finalisasi. Targetnya, Februari ini selesai. Untik e-ticketing system ini kami bekerja sama dengan BRI. Saat ini, ya dari 1.000-2.000 penumpang, mungkin saja masih ada yang keselip. Apalagi, program kita sekarang free rider dan free cargo. Makanya, untuk di kapal-kapal yang rawan, kita tempatkan aparat keamanan dari Marinir, selain pengamanan internal.

Ticketing sekarang sudah online, tapi uangnya dari mitra dan agen belum masuk ke satu rekening. Saya ingin mitra atau agen bisa otomatis top up, pembayaran langsung masuk ke rekening dan bisa close hari itu juga. Cash Management System-nya harus jalan bagus. Nanti bergulir. Transaksi angkutan barang juga harus seperti itu. Saya tak mau ada uang seliweran. Saya mau buat sistem yang bagus, supaya bisa nyalip PT KAI (Kereta Api Indonesia). Kita nggak mau kalah dengan KAI he...he...he...

Ke depan, salah satu alternatif bentuk boarding pass-nya mau kita pakai dalam bentuk gelang. Kalau mau ideal, semua pelabuhan ada garbarata. Di beberapa pelabuhan yang bagus, sudah ada garbarata. Misalnya di Belawan, Surabaya dan Makassar sudah bagus. Di Tanjung Priok, kita segera bangun garbarata. Kalau ada garbarata, tak mungkin penumpang yang tak punya tiket bisa masuk. Tapi sejumlah pelabuhan di timur, belum ada garbarata, dan masih terbuka. Di Irian, misalnya, semua penumpang berdiri di depan kapal ha...ha...ha...
 
Mengimbangi perubahan di Pelni, bagaimana strategi menyiapkan SDM-nya? Pasti itu jadi tantangan tersendiri juga...
 
Beberapa posisi manager saya rampingkan, potong, dikurangi agar in line dengan targetnya. Kita kontrol ketat biaya overhead. Tapi, ada posisi yang saya naikkan tingkatannya. Dulu, level Diklat dan Pengembangan SDM sekelas manager, sekarang jadi senior manager. Kita buat roadmap, perbaharui sistemnya. Ini harus dijalankan dengan konsisten. 

Kalau ada yang minta toleransi atau kebijakan khusus, saya bilang,“Ini kita mau balik lagi kayak dulu?” Kalau sebuah kebijakan khusus ditoleransi, nanti sistemnya nggak jalan. Saya sampai keluarkan 8 SK (Surat Keputusan) terkait SDM dan perencanaan monitoring. Setiap promosi harus jelas dasarnya, kriterianya. Sekarang jadi lebih tertib. Nggak ada lagi “ini maunya pimpinan” atau nitip-nitip yang tidak memenuhi syarat dan melanggar kualifikasi. 

Tahun ini, semua targetnya jelas. Makanya, kami kerja keras. Pulang ke rumah tiap hari jam 10-an malam ha...ha...ha... Seluruh SDM memang harus berubah mindset-nya. Ngurus SDM ini nggak boleh pakai hati, dan nggak bisa nggak enakan. Harus patuh pada kriteria dan aturannya. 
 
Bagaimana sinergi Pelni dengan Kementerian atau BUMN lainnya? Semisal membantu di bidang perikanan?

Kami beberapa kali rapat dengan Kementerian Kelautan, dipimpin langsung Ibu Menteri Susi Pudjiastuti. Ada 15 sentra ikan laut yang dibangun, dan 90 persen di antaranya dilewati Kapal Pelni. Jadi kami bisa kerja sama. Bu Susi mengharapkan kita bisa sampai ke Talaud, bahkan Darwin di Australia. Kita ditantang, ya, kita persiapkan. Saya bilang sanggup. Tapi, apakah BUMN Perikanannya, siap mengekspor ikan? Dan apa barang impor yang akan diangkut balik? Kan tidak mungkin kapalnya balik dalam keadaan kosong. Kalau oke, ayo...
 
PNM (Penanaman Modal Negara) yang diajukan Kementerian BUMN belum disetujui DPR. Apakah ini mengganggu rencana pengembangan bisnis Pelni? Kabarnya Pelni kan ingin membeli kapal Cruise...

Mengganggu secara langsung sih tidak. Tapi itu berpengaruh kepada dasar atau fondasi kita untuk melakukan ekspansi. Yang di-hold sekitar Rp 650-an miliar. Kami punya program meremajakan kapal barang, dan mengadakan kapal cruise. Kalau kapal penumpang mau dibikin komersial, nggak akan masuk hitungannya, karena tarif kita rendah. Ada sekitar 3-5 kali investor mau masuk. Saya buka perhitungannya, akhirnya mereka malah mundur karena menganggap bisnis ini ngak menarik. Nggak ada insentif dan tarifnya rendah. Per pax per mil, subsidinya sekitar Rp 490 ribu. Padahal yang normal, tarif minimal Rp 1 juta dan kalau mau untung, tarif penumpang ya, sekitar Rp 1,5 juta. Kalau ada cruise, mungkin Pelni bisa dapat untung. 

Kami nggak perlu cruise yang besar. Harga cruise bekas sekitar Rp 250 miliar. Cukup kapal untuk kapasitas 300-an penumpang. Kalau cruise belum bisa membeli, ya kita membuat kapal lama dikonversi menjadi cruise. Misalnya, kita punya Kelud, Umsini dan Kelimutu. Ini bisa dibuat jadi semacam itu (cruise-red). Kita kerja sama dengan Garuda, ada destinasi ke Labuan Bajo, Karimun Jawa, Pulau Derawan dan Bunda Naira.Tahun ini, kami punya 12 paket wisata. Misalnya, menuju Raja Ampat, lokasi wisata eksklusif, kami punya program 2 kali di tahun ini. 
 
Kebijakan pemerintah di sektor perkapalan, apakah menurut Pelni sudah baik? Harapan Anda?

Sekarang ini sikap pemerintah tidak lagi memunggungi laut. Mulai terasa bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dan membutuhkan connectivity dengan kapal. Baik itu sisi transportasi maupun logistik. Ada kepastian barang bisa sampai di daerah. Ada connectivity. Dengan membuka tol laut, juga menguntungkan bagi Pelni karena ada opportunity mengembangkan bisnis. Ke depan, ini akan makin besar. 
 
Tentang kapal ternak, bagaimana progress-nya? Benarkah kapal ternak yang seharusnya membawa sapi dari NTT pernah kosong?

Pelni ini hanya operator. Kita ditugasi mengangkut ternak dan ada schedule-nya. Pelni dibayar untuk menjalankan kapal milik Kementerian Perhubungan. Memang pernah saat kapal tiba di tempat, pihak Kementerian Pertanian-nya, tidak bisa deal dengan peternak. Tapi, masalah itu sekarang sudah clear. ***

Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
edisi Senin, 22 Februari 2016