Rabu, 27 April 2016

Eksklusif dengan Dirjen Pajak Ke Dwijugiasteadi (2)

Soal Perolehan Pajak: Kalau Semua Gotong-Royong, Insya Allah Target Tercapai

Dirjen Pajak dan Tim RakyatMerdeka di ruang kerjanya. (Foto by WahyuDwi)

 Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi memastikan target pajak tahun ini realisitis. Untuk mencapainya diperlukan kesadaran para wajib pajak. Dia menyampaikan hitung-hitungannya.

 Bapak optimis target pajak tercapai? Insya Allah mencapai target kalau kita semua bergotong royong. Saat ini jumlah kelas menengah ada ada 129 juta, sedangkan yang terdaftar memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) baru 27 juta orang.       

            Apa saja kesulitannya menambah jumlah wajib pajak? Kesulitan menarik pajak itu tergantung tingkat kepatuhan. Menarik pajak tergantung pada enam variable. Pertama, masyarakat percaya terhadap undang-undang pajak. Kedua, masyarakat percaya terhadap pegawai pajak. 

Ketiga, ada beberapa masyarakat mencoba tidak bayar pajak. Dalam pikiran mereka buat apa bayar pajak. Nanti saja (bayarnya) kalau sudah diperiksa. Keempat, norma sosial masyarakat belum malu jika tidak bayar pajak. Kalau di luar negeri masyarakat yang menunggak pajak merasa malu. Kalau disini emang gue pikirin hehe... Pemahaman seperti ini yang mesti diubah.

Kelima, kemudahan dalam membayar pajak dan terakhir adalah memberikan penjelasan kemana saja uang pajak digunakan. Misalnya untuk pembangunan jalan dan pembangunan sekolah, maka yang harus menjelaskan adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 Ken memberi contoh di Amerika Serikat. Menurut dia, para guru di sana memberikan sanksi kepada anak sekolah yang mencoret-coret tembok dan trotoar dengan cara meminta maaf kepada pembayar pajak melalui media Youtube. Pasalnya, pembangunan jalan dan trotoar itu dibangun menggunakan uang pajak. 

“Semakin besar pajak, semakin besar infrastruktur yang bisa dibangun,” katanya. 

 Apakah jumlah aparat pajak saat ini sudah cukup? Jumlah pemeriksa pajak hanya 4.700-an orang. Jumlah wajib pajak yang diperiksa baru 0,01 persen dari yang terdaftar, yaitu 27 juta wajib pajak. Jadi sekitar 270 ribu orang. Apakah cukup? Tentu kurang.

 Idealnya berapa jumlahnya...

Seharusnya saya bisa memeriksa 25 persen wajib pajak dari yang terdaftar. Bukan 0,01 persen. Jauh banget. Tapi Ditjen Pajak tidak bisa komplain karena kami eksekutor policy.

 Bagaimana dengan tunggakan pajak 2.000 perusahaan? Terkait dengan 2.000 Perusahaan Modal Asing (PMA) saya sudah bentuk tim untuk memeriksanya.

            Mengenai peristiwa pembunuhan pegawai pajak. Menurut Anda, mengapa hal itu bisa terjadi? Anak buah saya membawa surat paksa membayar pajak karena Wajib Pajaknya ada tunggakan. Kenapa ada tunggakan? Karena ada pemeriksaan. Saat banding dia kalah, maka kita kasih surat paksa pajak. Ini bukan paksa badan dan disita. Dengan kejadian ini, kita langsung melakukan penagihan, semua kita sita termasuk rumahnya. Rumahnya akan dilelang untuk membayar tagihan pajak.

 Untuk diketahui, dua petugas Ditjen Pajak tewas ditusuk oleh seorang wajib pajak di Kepulauan Nias, Agusman Lahagu (45). Mereka adalah adalah Juru Sita Penagihan Pajak Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sibolga Parado Toga Fransriano Siahaan dan Tenaga Honorer di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Gunungsitoli Sozanolo Lase. Keduanya ditusuk karena menagih tunggakan pajak Agusman yang mencapai Rp 14,7 Miliar. ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi 22 April 2016


Eksklusif Dengan Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi (1): "Kami Tidak Berburu Di Kebun Binatang..."

Dokumen Panama Papers dan rencana pemberian pengampunan pajak (Tax Amnesty) jadi buah bibir akhir-akhir ini. Banyak spekulasi muncul yang bikin orang penasaran. Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi buka-bukaan mengenai kedua hal tersebut dengan kepada tim Rakyat Merdeka: Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Sarif Hidayat, Aditya Nugroho dan fotografer Wahyu Dwi Nugroho di kantornya, Selasa malam  (19/4). 


Dirjen Pajak berpose di ruang kerjanya. (Foto by ratnasusilo)

 Ken menerima tim Rakyat Merdeka di ruang rapat lantai 5 Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, JakartaSelatan. 

Lelaki kelahiran Malang 8 November 1957 ini menjelaskan berbagai isu-isu aktual dengan slide power point di layar proyektornya. Sebagian informasi yang disampaikan sifatnya off the record.  Suasana wawancara sangat cair, gaya bicara Ken yang ceplas-ceplos mengundang tawa. Kami cukup terkejut, karena informasi yang dimiliki Ditjen Pajak tentang WNI yang diduga menyimpan uangnya di luar negeri, begitu lengkap.

 Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ingin sekali tax amnesty segera berjalan. Bisa diterangkan maksud dan tujuannya? Pertama, tujuan tax amnesty itu  untuk  meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kedua, untuk memasukan uang dari luar dan diinvestasikan di Indonesia. Sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Dan, bila lapangan kerja bertambah, tentu meningkatkan daya beli masyarakat. Saat daya beli meningkat, maka produksi tumbuh dan akhirnya masyarakat sejahtera. Ketiga, selain dapat uang tebusan, tax amnesty digunakan untuk menciptakan objek pajak baru. 

Dengan tax amnesty, maka otomatis terjadi ekstensifikasi pajak. Artinya, akan muncul perusahaan-perusahaan baru yang berinvestasi. Jadi, kalau ada orang bilang kita berburu di kebun binatang, itu sebenarnya nggak. Nggak ada itu. Ngapain kita berburu di kebun binatang. Ya mungkin jika sesekali.  Binatangnya, misalnya, sapi 50 kilo, ngakunya satu kilo, ya kita kejar.

 Sebenarnya bagaimana cara menghitung kewajiban wajib pajak….

Ini informasi penting yang perlu diketahui. Sistem pajak kita self assessmentartinya hitung sendiri, lapor sendiri dan bayar sendiri. Ini diatur dalam Udang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (KUP) pasal 12 yang isinya menyebutkan Ditjen Pajak tidak berkewajiban mengeluarkan surat ketetapan pajak. Itu sangat jelas. Jadi, jangan menganggap, seolah-olah orang pajak menghitung pajaknya orang. Nggak. Mereka (wajib pajak) ya menghitung sendiri. Kecuali, Ditjen Pajak mendapatkan bukti, dapat laporan, saya bisa melakukan koreksi. Bukan berarti saya kerja sendiri. Saya delegasikan ke pejabat yang berwenang. Kerja sendiri cape. Bisa gempor hehe...

          Jadi, bila selama lima tahun para wajib pajak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)-nya dengan benar, ya nggak usah diperiksa lagi. Dalam konteks ini, Saya nggak bisa paksa. Misal, eh kamu punya potensi sekian, laporin dong. Nggak bisa. Kecuali ada data. Data itu dari mana? Bisa dari semua pihak.

Dalam pasal 35 UU KUP setiap instansi pemerintah, lembaga dan asosiasi

wajib memberikan data dan informasi kepada Ditjen Pajak. Makanya asosiasi kartu kredit juga kita minta. Sudah ada Peraturan Pemerintah (PP)-nya. Bahkan data lalu lintas devisa juga harus diberikan.

Kapan tax amnesty bisa diterapkan? Saya berharap regulasi tax amnesty bisa selesai sebelum akhir bulan ini. Tax amnesty itu penting untuk perekonomian. Dari uang tebusan, pemerintah bisa menciptakan investasi baru, dapat wajib pajak baru, menyerap tenaga kerja, meningkatkan daya beli, hingga menjaga produksi terus berjalan dan meningkat.        

Berapa potensi pemasukan yang bisa didapatkan dari tax amnesty? Saya berharap ya potensi sebesar-besarnya.  Berapa targetnya tergantung tarif yang diberikan oleh Undang-Undang nanti.

 Bukankah pemerintah sudah menetapkan targetnya sebesar Rp 60 triliun? Saya tidak pernah bilang target. Saya masih menunggu (undang-undang). Saya punya catatan, tapi saya belum bisa sampaikan.

 Apakah Dirjen Pajak menetapkan target, berapa orang yang akan mengakses tax amnesty?Saya sih berharap sebanyak-banyak. Berapa angka pastinya? Saja jawab lagi, ya sebanyak-banyaknya, hahaha...

 Belum lama ini Ketua DPR Ade Komarudin bilang DJP sudah memiliki data lengkap orang-orang Indonesia di luar negeri yang berpotensi mengakses tax amnesty…. Oh, soal itu, data saya lengkap. Saya punya data, bukan (bersumber) dari pers, tapi dari tukar menukar informasi dengan beberapa lembaga internasional. Banyak orang bicara hanya tentang nama di Panama Papers. Padahal itu hanya salah satu dari 18 negara tax haven.

Dirjen Pajak memperlihatkan sejumlah slide tentang program institusinya. (Foto by WahyuDwiNugroho)

           Ken menunjukkan data lewat slide. Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang namanya tercantum di Panama Papers hanya sekitar 800-an orang. Sementara total orang Indonesia yang berinvestasi di negara tax haven mencapai 2.580 orang. Bahkan, Ditjen Pajak memiliki informasi lengkap. Mulai dari nama, alamat, email dan nomor paspornya. “Kalau nomor paspor tidak mungkin bisa dikibuli, karena orang keluar negeri pakai paspor,” kata Ken.

Apakah dokumen Panama Papers mendukung kebijakan tax amnesty? Itu mengkonfirmasi kalau data DJP benar. Dulu kalau kita ngomong tax amnesty, banyak orang bilang DJP bohong.

 Bagaimana cara memungut pajak dari potensi itu? Saya harus tahu subjek dan objeknya. Kalau nggak tahu bagaimana meyakinkan subjek untuk bayar pajak. Subjek itu orangnya. Misalnya di data itu, ada nama Ali. Kami harus tahu dulu, itu Ali siapa? Ali Topan atau Alibaba? Alamatnya di mana? Kemudian objeknya. Apakah  pajak penghasilan atau dividen atau yang lainnya. Kemudian pengenaan tarif? Apakah tarif tax amnesty atau tarif umum.

 Siapa yang menentukan tarif tax amnesty, pemerintah atau DPR? Bersama-sama. Pemerintah menyampaikan usulan, nanti ditanyakan DPR setuju atau nggak.

 Dalam dokumen Panama Papers disebutkan ada tiga pejabat negara masuk. Bagaimana tanggapan Anda?Saya belum menemukan. Pak Harry (Harry Azhar Azis, Ketua BPK) saya panggil klarifikasi karena di media sudah ribut. Dan, klarifikasi itu biasa-biasa saja. Bapak Harry saya panggil sebagai wajib pajak untuk memberikan klarifikasi.

 Apakah Menteri BUMN Rini Soemarno dan Wantimpres Rusdi Kirana juga akan dipanggil, sebab namanya juga disebut ada di list Panama Papers... Itu Rini yang mana? subjek harus jelas. Saya harus cek dahulu. Apakah sesuai dengan dengan data saya. Soal nama, kami sehari ngecek 200-an orang.

 WNI atau perusahaan yang disebutkan masuk dalam dokumen Panama Papers belum tentu bersalah… Betul. Anda lihat saja, Bank Mandiri masuk, apakah mereka salah? Hampir semua perusahan go public memiliki SVP (Special Purpose Vehicle). Itu boleh-boleh saja. Pertanyaannya apakah mereka menyembunyikan pajak? Ya harus dicek. Jangan WNI yang masuk dalam dokumen Panama Papers disebut koruptor. ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Jumat, 22 April 2016. 

 



Minggu, 24 April 2016

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan: Merangkai Indonesia, Butuh Ketabahan Hati....


          Salah satu menteri yang berusaha keras mewujudkan program Nawacita dan tol laut yang digagas Presiden Jokowi adalah Ignasius Jonan. Sepanjang 2015, Menteri Perhubungan itu telah membangun, memperbaiki banyak infrastruktur pelabuhan dan terminal penumpang hingga ke ujung-ujung pulau terpencil. 
          Kepada Rakyat Merdeka yaitu Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Sarif Hidayat, Aditya Nugroho dan Fotografer Wahyu Dwi Nugroho, Selasa malam (18/4) Menteri Ignasius Jonan menjawab banyak pertanyaan tentang hal-hal yang aktual sampai program kerjanya. Walaupun saat itu tengah malam, Jonan terlihat energik dan percakapan amat cair. Airmukanya sering kelihatan serius, padahal, sebenarnya dia menteri yang amat humoris.
 
Kementerian Perhubungan banyak sekali membangun bandara dan pelabuhan sampai di ujung-ujung pulau Indonesia. Bagaimana masa depan pengelolaannya? Ada 235 bandara di seluruh Indonesia. Siapa yang pernah melihat dua pertiganya saja? Hahaha (tertawa), pasti belum ada kan? Dari jumlah itu, Angkasa Pura 1 mengelola 13 bandara, Angkasa Pura 2 kelola 13 bandara. BP Batam mengelola satu bandara, dan 28 bandara dikelola Pemda. Sisanya? Sebanyak 180 bandara dikelola Kementerian Perhubungan. Bagaimana pengelolaan ke depan? Apakah akan dikomersialkan? Ya, tergantung. Kita melihat kondisi perekonomian suatu daerah. Sorong, misalnya, sekarang menjadi salah satu hub Indonesia di paling timur. Di tanah Papua. Meskipun bandaranya bagus, dan besar, tetapi kalau diserahkan jadi komersial, pasti akan ada yang teriak. Sebab dampaknya, charge naik. 
          Sekarang ini, pengelolaan bandara-bandara Kemenhub, sistemnya BLU (Badan Layanan Umum), dan pendapatannya PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Dengan sistem BLU, maka ada kelonggaran, karena pembiayaan tidak menggunakan standar yang sulit, tapi kualitas layanan tetap baik.  Coba, kalau bukan BLU, pegawai honorer misalnya dibayar Rp2 juta, ya mungkin nggak bisa mengharapkan kerjanya bagus sekali. Jadi masa depan pengelolaan bandara atau pelabuhan, kuncinya, daerah itu bisa komersial atau tidak. Thats the key.
          Di Papua, ada 54 bandara. Tapi yang dikelola Angkasa Pura 1 hanya di Biak. Itu pun pengelolaan komersil tapi nggak karu-karuan. Berantakan, belum terurus. Penumpang masih kurang, jumlah pesawat kurang. Padahal Bandara Biak itu, salah satu runway-nya terbaik di Indonesia. Jadi, kalau dikomersilkan, sementara pendapatannya sedikit ya, biayanya mepet-mepet.
 
Jadi, nasib Bandara Biak bagaimana? Apakah Angkasa Pura 1 mau mengembalikannya ke Kemenhub? Saya bilang sama Dirut AP1, kalau ngga bisa (urus Biak), ya kembalikan ke Kemenhub. Tapi, dia (Dirut AP1) menjawab, minta waktu. Lha, saya ledek saja. “Kamu itu sudah tua. Mau minta waktu berapa lama? Hahaha... (tertawa)” 
 
Dirut Angkasa Pura 1 Sulistyo Wimbo memang cukup senior. Saat ini berusia 60 tahun. Sempat lima tahun sebagai Direktur Komersil di PT KAI, saat Dirutnya dijabat Ignasius Jonan. Hubungan Jonan dan Wimbo memang amat akrab. Keduanya suka melucu. “Saya tandem full dan saling mengisi. Ibaratnya, saya dengan beliau (Jonan), ini satu mahzab,” kata Wimbo, saat wawancara dengan Rakyat Merdeka (Februari 2016).
 
Nasib pelabuhan bagaimana? Jumlah pelabuhan di Indonesia saat ini 1241. Yang dikelola oleh Pelindo ada 112 pelabuhan. Sisanya, 1129 ya diurus Kementerian Perhubungan. Yang baru saya datangi 300-an. Nah, segitu banyak kan.
 
Sepanjang 1,5 tahun bekerja, Menteri Ignasius Jonan telah membangun 
banyak pelabuhan dan bandara. Khusus mendukung program Nawacita dan Tol Laut, di tahun 2015, ada 35 lokasi pelabuhan selesai dibangun dan 6 peningkatan kapasitas pelabuhan. Juga menyelesaikan 86 trayek rute perintis, termasuk rute kapal ternak dan tol laut. Sepanjang 2015, Kemenhub memperbaiki 26 lokasi terminal penumpang, di wilayah timur, terpencil dan amat jauh. Bahkan, mungkin banyak diantara kita, yang baru mendengar nama lokasinya. Sebanyak 7 diantaranya rehab yaitu di Nabire, Baa, Papela, Laiwui, Babang, Tulehu dan Selayar). Dan 19 lainnya berupa perbaikan terminal yaitu di Jepara, Kolonedale, Siwa, Labuhan, Bajo, Tual, Luwuk/ Banggai, Wamengkoli, Tahuna, Petta, Ngalipaeng, Karatung, Miagas, Banabungi, Susoh, Reo, Bantaeng, Pulau Tello, Lawele, Atapupu.
 
Dari seribu lebih pelabuhan yang dikelola Kemenhub, sudah adakah yang untung? Bagaimana pengelolaannya? Lho, pengelolaannya profesional. Yang untung, kira-kira 50-an pelabuhan. Tahun ini, akan ada 20-an pelabuhan dibuat BLU. Menurut saya masih kurang. Saya maunya 50-100 pelabuhan. Nanti saya akan genjot lagi.
 
Program tahun 2016, Kemenhub melanjutkan pembangunan pelabuhan di 89 lokasi, dan peningkatan kapasitas pelabuhan sebanyak 6 lokasi. Juga menambah rute perintis 96 trayek dan tol laut 6 trayek. Serta mengadakan kapal ternak sebanyak 5 unit.
 
Bagaimana dengan angkutan darat, seperti bis dan terminal-terminal? Akhir tahun ini, sebanyak 140 terminal bis tipe A dan jembatan timbang, dikembalikan ke Kementerian Perhubungan. Ini sesuai perintah undang-undang. Sekaligus seluruh pegawainya juga menjadi di bawah Kemenhub.
 
Kemenhub akan tambah sibuk, dan tambah banyak pekerjaan dong ya? Apakah gajinya naik?Wah, itu tergantung Presiden.
 
Mengenai  pengelolaan terminal di provinsi kabarnya akan dikembalikan ke Pemerintah Pusat, bagaimana tanggapan daerah? Ya, ada yang senang, ada juga yang berusaha mempertahankan. Misalnya, ada yang sampai berkirim surat dan meminta agar pengelolaan terminal tetap di daerah. Saya sendiri menerima tugas ini, bukan soal senang atau tidak senang. Ini menjalankan undang-undang. Karena sesuai ketentuannya. Undang-undang yang mengatur pengelolaan terminal dan jembatan timbang ini, disahkan pada 2014 dan diberikan masa transisi sampai akhir 2016. 
Ada daerah yang tetap minta mengelola. Padahal menurut saya, terminal dan jembatan timbang itu lebih besar biaya mengurusnya, dibanding penerimaannya. Kalau diserahkan ke pusat, kan APBD daerah itu jadi lebih longgar. Sehingga bisa digunakan untuk kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat. Jadi, kalau daerah yang meminta terminal atau jembatan timbangnya dipertahankan, tak mau serahkan ke pusat, saya nggak ngerti. Itu ada apanya?
 
Tentang transportasi online yang sempat jadi perdebatan beberapa waktu lalu, bagaimana kelanjutannya? Saya memberi batas waktu hingga 31 Mei ini. Mereka sudah bersedia dan sepakat untuk mengurus perizinan. Apa yang saya lakukan adalah menegakan undang-undang. Sedangkan eksekusinya oleh Gubernur. 
 
Berapa jumlah armada online yang beroperasi di Jakarta? Apakah Kemenhub memiliki datanya? Jumlah armadanya belum tahu. Itu yang mengumumkan, Pemprov DKI. Eksekusi ada di setiap dinas perhubungan di daerah, bukan di Kementerian Perhubungan. Kalau angkutannya dalam kota, ya eksekusinya di bupati dan walikota. Kalau angkutan Antar Kota Dalam Provinsi, ya gubernur. Kalau Antar Kota Antar Provinsi, ya di Kementerian Perhubungan.
 
Bukankah jumlah angkutan umum dan tarif harus diatur supaya tidak memberatkan masyarakat dan terjadi kelebihan kendaraan? Ya benar. Dan yang mengatur adalah Pemprov DKI. Itu kewenangannya Pemprov. Jadi silakan menanyakan kepada Gubernur DKI. Saya menjelaskan peraturan yang berlaku, selanjutnya Pemda masing-masing yang melaksanakan. Misalnya di Solo, mereka reject transportasi online. Solo menolak, dan Presiden tidak apa-apa. Bandung juga nolak. Di luar negeri banyak case, ada yang menolak, ada yang tidak. Menurut saya, persyaratan bagi transportasi online memang berat. 
          Kendaraan umum adalah, kendaraan yang berbayar. Siapapun yang naik kendaraan dan membayar, maka itu kendaraan umum. Akibatnya, sopir harus didata, dan kendaraannya di-kir. Oke, anggaplah kir tidak masalah. Plat hitam juga boleh, karena kita, misalnya, biasa menyewa kendaraan rental, yang platnya hitam. Juga, tak perlu ada tulisan “taksi” karena mobil rental pun tak ada tulisannya. Lalu syarat pool, supaya tidak memenuhi badan jalan. Okelah tidak, karena masing-masing kendaraan memiliki garasi. Tapi soal SIM, sopirnya tetap harus pegang A-umum.
          Selain itu, kendaraan umum harus berbadan usaha. Tidak bisa milik pribadi jadi kendaraan umum. Perusahaan rental yang ada sekarang pun, bentuknya badan usaha. Dan badan usaha itu dicantumkan dalam STNK-nya.
Jadi, syarat-syarat itu memang cukup berat. Soal ini, sudah pernah saya ingatkan sejak setahun lalu. Mereka kita undang, lalu saya sampaikan, ikutlah peraturan. Tapi, mereka tak kunjung daftar. 
 
Soal transportasi online ini urusan teknisnya banyak di daerah, tapi kok yang ditembakin Kementerian Perhubungan ya? Ya, memang banyak permintaan agar Kementerian Perhubungan ikut menjelaskan. Mereka mungkin belum membaca undang-undangnya. Kalau nggak mau membaca ya susah juga. Apalagi, kalau apa-apa berdasarkan perasaan. Ya gimana.
 
Layanan transportasi online, secara umum lebih baik dari yang biasanya...
Saya akui, memang pada umumnya mereka lebih baik. Tapi, tetap harus didaftarkan resmi, karena undang-undangnya menyebut begitu, dan tujuannya demi keselamatan masyarakat. Bagi saya, jika aturan ini diikuti, akan muncul equilibrium baru dalam bisnis transportasi, sehingga akhirnya, taksimeter pun harus bebenah.
 
Apa kabar kereta cepat? Kita terus memantau. Saat ini sedang memulai. Karena proyek ini dibiayai oleh nonAPBN, dan BUMN-nya mencari uang sendiri, tentu sebagai regulator, saya senang, andai kereta cepat ini jadi. Artinya, ada alternatif, proyek yang dibiayai swasta. Saya mendukung
 
Apa kesulitan terbesar dalam mewujudkan proyek atau membangun pelabuhan dan bandara hingga ke ujung pulau? Pelabuhan dan bandara yang diujung-ujung pulau itu membangunnya setengah mati. Ada Pelabuhan Teor, Pelabuhan Baa, coba Anda tahu nggak itu dimana? Kesulitan terbesarnya, membutuhkan ketabahan hati. Kalau tidak, ini sungguh berat.
 
Jonan menceritakan, saat membangun Bandara di Wamena, misalnya, lokasinya sungguh ekstrim. Berada di ketinggian 6000 meter diatas permukaan laut, bahan material yang mahal dan mekanisme pengangkutan menggunakan hercules. “Harga semen di Jakarta 70-an ribu persak. Di sana mencapai Rp800-an ribu,” katanya. Lainnya, bandara dan pelabuhan ada yang dibangun di tengah hutan belantara, atau pinggiran laut yang amat terpencil. “Ini demi pemerataan pembangunan. Demi menghadirkan negara dan merangkai Indonesia. Banyak orang terharu saat kita datang hingga ke Pulau Rote, dan Kaimana. “Jangankan orang setempat, tentara yang jaga dan menyaksikan pembangunan itu, matanya bisa berkaca-kaca,” kata Jonan. ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka, edisi Jumat 22 April 2016.


Rabu, 30 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (7): Obat Tradisional Tapi Diracik Alat Canggih

 China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.

  Petugas apotik menunjukkan cara meracik obat tradisional. 
(Foto ratnasusilo)


          Semua rumah sakit yang dikunjungi di Guangzhou dan Beijing ada departemen pengobatan tradisionalnya. Henghe Hospital di Beijing menyediakan layanan konsultasi eksklusif. Ruangannya khusus dan diset bagus sekali. Bukan seperti ruangan dokter, tapi mirip layanan priority banking. Bagian pemeriksaan dan farmasinya terpisah dari pengobatan medis modern. 

          Saya dan beberapa jurnalis Indonesia masuk ke ruang pemeriksaan dokter pengobatan tradisional, sampai ke bagian farmasinya. Di Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine, misalnya, area ini amat menarik karena tercium aroma herba yang khas. Di bagian farmasi, ada lemari kayu yang besar sekali dengan ratusan laci. Di tiap laci, tertulis nama herbal tertentu. Selain itu, ada areal racikan resep dan pencampuran obat. Alat-alatnya sangat canggih. 

Pencampuran sudah komputerisasi. Penentuan dosis hingga pengepakan dilakukan otomatis. Meski pun ini pengobatan tradisional, namun pimpinan departemennya tetap seorang dokter, dan farmasinya dipimpin apoteker. Di sini, ahli medis harus punya kemampuannya ganda. Selain jago di bidang ilmu kedokteran modern, juga pintar di bidang pengobatan tradisional.

          Kepala farmasi obat tradisional di rumah sakit tersebut, Dr Luo Yuan Sheng mengatakan, obat yang sudah diolah disesuaikan takarannya dengan obat medis. Dia mengelola lebih dari 300-an jenis obat tradisional. Ada yang dikonsumsi dengan cara direbus, lalu diminum. Atau dalam bentuk bubukan. Ada juga yang dimasukkan melalui selang infus. Obat-obatan ini tak bisa dibeli sembarangan. “Tetap harus pakai resep dokter untuk menentukan dosisnya,” kata Dr Luo.

Ratusan laci berisi herbal dan bahan obat tradisional di Guangzhou Hospital
(Foto ratnasusilo)

Yuho Hospital dan Henghe Hospital di Beijing juga memisahkan bagian pengobatan modern dan tradisional. Suasananya hampir sama. Ada ruang-ruang konsultasi khusus. Dan di bagian farmasinya, terdapat lemari besar yang berisi ratusan laci untuk menyimpan ratusan jenis obat-obat alami. Bukan hanya herbal, tapi juga batu mineral sampai binatang tertentu. 

          Masuk ke ruangan ini, ada meja panjang ukuran sekitar 10 meter, tempat meletakan 40-an nampan berisi berbagai obat tradisional. Areanya juga cukup steril. Ahli obatnya mengenakan pakaian khusus dan penutup kepala. Di bagian peracikan obat, lebih bersih lagi. 

          Petugas di ruangan itu sempat menawari kami untuk cicip salah satu jenis herba. Yaitu daun teratai. Rasanya manis. “Ini biasanya digunakan untuk campuran penetralisir rasa pahit. Obat untuk anak-anak biasanya menggunakan ini,” katanya. Ada juga jenis obat dari bebatuan mineral yang bisa digunakan untuk penyakit batu ginjal. Dan kulit ular yang dikeringkan, untuk menyembuhkan masuk angin. 

Beragam jenis herba dan mineral untuk pengobatan tradisional China di Henghe Hospital, Beijing. (Foto ratnasusilo)

          Untuk meracik obat jadi bubuk, alatnya canggih terkomputerisasi. Begitu dokter menulis resep berisi berbagai bahan, datanya terintegrasi dan masuk ke bagian peracikan obat. Resep dokter dibaca komputer, lalu terhubung ke botol-botol bahan obat yang diminta. Botol itu memiliki chip. Saat di-request, lampunya menyala dan berbunyi. Di ruangan itu, terlihat ada ratusan botol putih berderet-deret. 

          Banyak botol menyala, untuk meracik satu resep. Di mesin khusus, botol itu akan berputar dan jadilah bubuk obat yang halus. Prosesnya sekitar 10 menit. Keluar dari ruang peracikan, obat sudah dipacking rapi. Berbentuk mangkuk-mangkuk kecil dan disegel, ada dosis dan labelnya.

Kita juga diajak melihat ruangan konsultasi. Suasananya nyaman. Terasa rileks dengan wangi aroma terapi. Banyak lukisan istimewa ditempel di dindingnya. Satu lukisan kuda atau pemandangan, misalnya, disusun dari ratusan jenis obat herba dan mineral. 

Bagaimana standarisasi obat-obatan tradisional di China? Apakah ada badan yang mengawasinya? Vice President Henghe Hospital Beijing, John Zhang menceritakan, Pemerintah China sangat mendukung pengembangan obat-obatan tradisional. Karena itu, pengobatan tradisional juga masuk dalam asuransi kesehatan. Pemerintah juga punya lembaga khusus, semacam BPOM di Indonesia, yang tugasnya mengawasi dan mengontrol penggunaan obat tradisional di semua klinik dan rumah sakit di China.

“Pengobatan tradisional amat banyak jenisnya. Penelitian ilmiah mengenai hal ini, terus dilakukan di semua universitas di China,” katanya. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline, edisi 26 Maret 2016. Silakan klik ini:

http://dunia.rmol.co/read/2016/03/26/240931/Obat-Tradisional-Tapi-Diracik-Alat-Canggih-

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Rabu, 30 Maret 2016.



 

Senin, 28 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (6): Berkenalan Dengan Dokter Militer & Dokter Xray

 China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.

 Rumah sakit baru terus bermunculan di Beijing dan kota-kota besar di China. Mereka menawarkan spesialiasi pengobatan dengan kelas beragam. Untuk pasien internasional, rumah-rumah sakit menyiapkan layanan khusus, sampai tingkatan sangat eksklusif. 

          Rumah sakit besar di dataran China jumlahnya mencapai ribuan. Ini diluar rumah sakit umum yang dibangun pemerintah. Di Guangzhou, orang menyebut, “ratusan” jumlahnya.  Dan di Beijing, diperkirakan 200-an rumah sakit telah dibangun.

          Jumat, 12 Maret 2016, rombongan jurnalis Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam pertemuan dengan sekitar 30 rumah sakit terbaik di China, sejumlah pakar dan akademisi kesehatan. Satu demi satu, pimpinan rumah sakit itu memperkenalkan diri dan menceritakan layanan unggulan, serta prestasi terbaik medisnya. Tema besar dari pertemuan itu adalah: Membawa Ilmu Medis China yang Maju kepada Dunia. Fasilitator pada konferensi tersebut adalah NorgenHealth. Sebuah platform layanan medis yang terbesar di China. NorgenHealth sudah puluhan tahun melayani pasien internasional, termasuk dari Indonesia. 

          Dua hal yang paling menarik adalah teknologi pengobatan dengan sel punca dari kedokteran militer China, dan pakar terapi melalui sentuhan tangan, yang dikenal sebagai Dokter X-ray.

Dr Xiaodong Wang (kanan), terlihat serius saat bicara dengan staf dari NorgenHealth.

Salah satu dokter militer yang hadir di konferensi itu adalah Dr Xiaodong Wang. Wanita berbadan tegap ini adalah komandan di General Hospital of Chinese People’s Armed Police Forces. Dr Wang ahli dalam pengobatan celebral palsy. Sepanjang dua tahun terakhir, RS Militer ini sudah mengobati sekitar 8 ribu pasien. Paling banyak menangani kelumpuhan otak, cedera otak dan kemunduran kerja otak. “Pasien lumpuh otak termuda berusia 18 hari,” katanya. 

Di depan audiens, Dr Wang memutarkan sejumlah video. Ada pasien anak kecil yang menjadi korban peluru nyasar. Lumpuh, tapi setelah ditangani, akhirnya bisa berjalan. Ada lagi, pasien pria 51 tahun mengalami sumbatan total di otak sehingga sebagian tubuh tak bisa respon. Setelah terapi stem cell, perlahan tangannya bisa membuka, berjalan, dan jongkok. “Setelah terapi stem cell, ada perbaikan di saraf perasanya. Pasien akhirnya bisa mengontrol gerakan duduk dan memegang tumpuan untuk berjalan,” kata Dr Wang. 

Rumah sakit militer di Beijing, kini terbuka untuk pasien internasional. Siapapun, boleh berobat di rumah sakit tersebut. “Soal biaya, dibanding rumah sakit swasta, di tempat kami lebih murah,” kata Dr Wang.

Dr He Shuhua (Dokter Xray) (berhadapan dengan jilbab biru) dikelilingi jurnalis Indonesia, saat observasi pemijatan tangan.


Figur lain yang menarik yakni, Dokter Xray. Namanya Dr He Shuhua, bisa mendiagnosis penyakit tanpa tes medis. Usianya hampir setengah abad, tapi penampilannya cantik dan segar. Dr He Shuhua hanya memijat telapak tangan, mengamati urat nadi dan menyentuh telinga, dan lima menit kemudian, dia tahu, pasiennya kemungkinan mengalami gangguan apa. Di tengah konferensi, Dr He Shuhua sempat mengobservasi beberapa jurnalis Indonesia. 

Telapak Adi Murtoyo dari Koran Jakarta dipijat-pijat di bagian jarinya. “Anda sering sakit leher dan mengalami gangguan perut,” kata Dr He Shuhua. Adi mengiyakan. Lalu, Amri Husniati, wartawan Jawapos. Beberapa menit dipijat tangan, Dr He Shuhua menebak, pernah sakit punggung. Amri pun heran. Setahun lalu, Amri memang pernah terjatuh, dan tulang punggungnya patah. Wartawan Kompas Atika Walujani penasaran. Dia pun ikutan. Telapaknya ditekan di titik-titik tertentu. Ada bagian yang terasa sakit saat ditekan, tapi ada juga yang tidak. Dr He bilang, kesehatan Atika bagus. “Tapi saya disarankan mengecek kandung kemih,” kata Atika, menirukan Dr He.  Sedangkan wartawan Tempo, Mohammad Taufiqurahman, dengan mudah didiagnosa oleh Dr He Shuhua pernah terkena stroke. “Itu memang benar. Beberapa tahu lalu, saya stroke, tapi sekarang sudah pulih,” ujar Taufiq.

Dr He Shuhua belajar dari keluarganya yang ahli terapi pengobatan khas China. Lalu, dia kombinasikan dengan ilmu kedokteran modern, sehingga keahliannya lengkap. Sehari-hari Dr He Shuhua praktek di Relife International Medical Centre, Beijing.

Bagaimana caranya mengetahui penyakit tanpa pemeriksaan medis? Menurutnya, ada beberapa katagori dasar observasi, yaitu melihat, mendengar, mencium, bertanya dan menyentuh. Pemijatan tangan untuk merasakan sumbatan darah dan nyeri. Sedangkan kesehatan organ dalam, bisa dilihat dari ketidakseimbangan fisik dan emosional pasiennya. 

Observasi juga berguna untuk menentukan jenis terapi tradisional yang akan diberikan. Apakah cocok akupuntur, bekam atau aijui (pengasapan). Juga untuk menentukan ramuan herbal yang tepat dan pengaturan pola makan. Dr He Shuhua juga dikenal sebagai ahli akupuntur, pengobatan infertilitas serta gangguan tulang.

Selain dua rumah sakit ini, masih banyak rumah sakit bagus lainnya. Misal, Beijing Puhua International Hospital and Clinic, pusat neurosurgery terbesar di Beijing. Stem cell dilakukan di rumah sakit tersebut untuk pengobatan masalah di lutut atau pinggul. 

Manajer International Department-nya, Susan Jiang menjelaskan, stem cell dilakukan dengan 'memanen' jaringan lemak dari area perut. Setelah diekstrak, lalu disuntikan ke area yang cidera. Sepanjang tahun 2015, pihaknya sudah menolong 1.200-an pasien yang menderita sakit ini. “Kami pernah menangani bintang Hollywood Chuck Norris, stem cell untuk gangguan di lututnya,” kata Susan.  (Bersambung)

Artikel Ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline. Silakan klik di


http://dunia.rmol.co/read/2016/03/25/240838/Berkenalan-Dengan-Dokter-Militer-&-Dokter-Xray-


Artikel ini juga sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka, edisi Selasa 29 Maret 2016.


Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (5): Operasi Cangkok 400 Kali Setahun Di Lu Daopei Hospital

 China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.


          Di sini, kita masih jarang mendengar operasi transplantasi atau cangkok sumsum tulang belakang. Selain butuh teknologi yang amat modern dan biaya mahal, belum banyak dokter ahlinya. Di China, operasi ini tergolong biasa. Lu Daopei Hematology Oncology Center melakukan cangkok sumsum tulang belakang 40 kali sebulan. Itu baru satu rumah sakit. Belum yang lainnya. “Pasien antri sampai 3 bulan untuk melakukan ini,” kata Dr Chuenrong Tong, Director of General Hematology and Immunotherapy. Dia mengajak kita berkeliling melihat seluruh bagian rumah sakit. Mulai dari areal resepsionis sampai ke ruang-ruang perawatan, dan kamar khusus operasi yang amat steril atau laminar room. Suasananya amat tenang, dan sama sekali tak ada kesibukan layaknya rumah sakit di Indonesia. “Apakah ada pasien yang dirawat di sini?” tanya saya, penasaran. Sebab rumah sakit kelihatan sepi. “Tentu saja. Semua kamar perawatannya penuh,” jawab Dr Chuenrong.

Prof Lu Daopei (Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia) bersama putrinya, Dr Peihua Lu (foto by: ratnasusilo)

Pendiri Lu Daopei Hospital, yaitu Prof Lu Daopei, dikenal sebagai Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia. Masih hidup, dan kini berusia 85 tahun. Bahkan, Prof Lu terlihat segar saat menemui rombongan wartawan Indonesia.

Prof Lu melakukan transplantasi ini sudah ribuan kali, sejak 52 tahun yang lalu. Pasien pertamanya, wanita 22 tahun, menderita anemia aplastik, yaitu kondisi sumsum tulang belakang berhenti memproduksi darah baru. Tahun 1964 wanita itu menjalani cangkok dari sumsum tulang belakang saudara kembarnya. Sampai saat ini masih hidup, telah berusia 74 tahun, dan sehat.  Ini termasuk salah satu operasi cangkok sumsum tulang belakang paling sukses di dunia. Prof Lu bahkan menunjukkan fotonya bersama wanita itu, saat terakhir bertemu, dua tahun yang lalu. 

Menurut Dr Chuenrong Tong, Prof Lu sangat genius. Sifatnya selalu penasaran dan senang berpikir. Dia tak mudah mempercayai sesuatu, sebelum membuktikan sendiri. Di usia 40 tahun, Prof Lu dan putranya membedah kodok sawah, lalu diambil racunnya dan diteliti. Dia ingin tahu, apakah benar anggapan orang bahwa jika kodok mengenai mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan. 

Prof Lu juga ahli mengkombinasikan obat, antara resep modern dengan herbal, pengobatan tradisional khas China. Kakek dan buyut Prof Lu adalah ahli-ahli TCM (Tradisional China Medicine) yang sangat diakui di China. Kini, keluarga Lu dan lima generasinya, termasyur di China, sebagai ahli-ahli medis yang hebat.

Ada jenis kanker darah yang bisa diobati tanpa cangkok sumsum tulang belakang. Yaitu Acute Promyelocytic Leukemia (APL) dengan pengobatan sejenis arsenik. Menurut Prof Lu, sejak 2.000 tahun lalu, arsenik dalam jenis dan dosis tertentu telah digunakan oleh orang-orang China sebagai obat. Arsenik sulfida dikombinasikan dengan obat-obat tertentu, hasilnya sangat baik untuk kanker darah. Dia mengambil sendiri arsenik dari sebuah pertambangan di China, dan menelitinya. 

Di masa lalu, tidak mudah melakukan prosedur medis yang baru. “Political pressure dan beban tanggungjawab medis sangat tinggi, saat itu,” kata Prof Lu. Karenanya, sebelum diterapkan pada pasien, sebuah prosedur medis harus diteliti berulang-ulang. Selain itu, dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa meyakinkan pasien akan keberhasilannya.

Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti yang rusak karena kanker. Sumsum bisa diambil dari tulang pasien yang sehat, atau dari orang lain, yang masih ada hubungan kekerabatan. Tim yang dipimpin Prof Lu Daopei, saat ini menduduki peringkat ketiga di dunia, dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 persen.

          Putri Prof Lu, yaitu Dr Peihua Lu, saat ini menjabat sebagai Director and Specialist in Lymphoma and Myeloma, menjadi penerus jejaknya. Peihua atau disapa Peggy, adalah dokter ahli lulusan Stanford University, USA. Dia menyebut ada tiga pasien Indonesia yang ditangani rumah sakitnya baru-baru ini. Dua diantaranya sudah pulang, dan seorang lagi masih dalam perawatan. 

          Menurut Peggy, Lu Daopei adalah pelopor imunoterapi untuk kanker darah, dan tempat berkumpulnya banyak ahli dalam dan luar negeri dalam bidang hematologi. Setiap tahunnya, melakukan hampir 400 kasus transplantasi, dan 70 persennya dengan tingkat kesulitan tinggi. 

Resepsionis di RS Lu Daopei, Beijing (foto by: norgenhealth)

          Di Indonesia, untuk penderita leukemia atau kanker darah lainnya, dan membutuhkan pengobatan lebih serius di China, bisa dibantu melalui NorgenHealth. Ini adalah platform layanan pertama dan terbaik di China. Bisa diakses melalui websitenya di www.norgenhealth.com, dan menyediakan berbagai jenis layanan. Mulai dari jasa konsultasi, pemilihan rumah sakit, sampai penjemputan dan pendampingan selama pengobatan di China. (Bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline. Silakan klik

http://dunia.rmol.co/read/2016/03/24/240690/Operasi-Cangkok-400-Kali-Setahun-Di-Lu-Daopei-Hospital-


Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Senin, 28 Maret 2016, Halaman 13




Sabtu, 26 Maret 2016

Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (4): Operasi Kanker Dengan Luka Selubang Jarum

China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya

          Kanker adalah pembunuh nomor satu di dunia. Data WHO menunjukkan, lebih 20 juta orang terkena kanker setiap tahun, dan 13 juta diantaranya berakhir kematian. Di Beijing, kami mengunjungi dua rumah sakit kelas high-end yang memberikan layanan international, spesialis pengobatan kanker. Mirip priority banking di urusan perbankan. Yaitu di Beijing Yuho Rehabilitation Hospital dan Henghe Hospital. Dua rumah sakit ini menggabungkan metoda pengobatan barat yang modern, dengan tradisional khas China. 

Presiden Yuho, Li Ning, lulusan kedokteran di Amerika menceritakan, di rumah sakitnya, bergabung banyak ahli senior pengobatan kanker dengan penghargaan tertinggi di China. Prof Qinjia Zhang, Prof Qiang Sun, Prof Hanyuan Huang dan Prof Xiang Wang. Mereka kerjasama dengan berbagai ahli kanker lain di Amerika, mengembangan pengobatan sebisa mungkin tanpa operasi. Atau luka yang kecil, minimal invasif.

Tahun lalu ada pasien kanker payudara. Telah dikemoterapi selama enam bulan di Amerika, sampai rambutnya rontok habis. Dan divonis usianya tidak lama. “Orang-orang yang mengelilinginya hanya bisa menghibur dia. Itu pun ada batasnya,” kata Li Ning. Lalu ditangani di Yuho dan diberi pengobatan gabungan barat-timur. Hasilnya, kini pasien itu menemukan kembali kehidupannya.  

Yuho juga pernah menangani kanker ovarium pada wanita 25 tahun, yang sangat ingin punya anak. Dengan pengobatan khusus, alat reproduksi pasien bisa diobati. “Ini amat sulit, tapi kami berkomitmen menjaga kehidupan generasi berikutnya untuk pasien tersebut,” katanya. 

Berkeliling di Yuho, tidak seperti masuk rumah sakit. Tamannya cukup luas dan hijau, dan kamar-kamar perawatan mirip hotel. Tak terasa kesibukan rumah sakit layaknya di Indonesia. Nyaman, asri dan tenang. 

Selain pusat pengobatan kanker, Yuho juga dikenal sebagai rumah sakit rehabilitasi. Ada areal khusus hydroterapy dengan kolam air yang ketinggiannya bisa distel, juga suhu dan efek bubble untuk terapi pasien dengan penanganan khusus.

Yuho juga punya sejumlah teknik terapi yang unik. Misalnya, terapi garam mineral Ukraina. Fungsinya untuk pengobatan asma dan penyakit saluran nafas. Sekali terapi, biayanya sekitar 400 Yuan atau Rp800 ribu. Ruangannya didesain khusus. Garam mineral itu menempel di seluruh dinding, plafon hingga lantainya. Warna hijau keunguan efek cahaya buatan. Menggantung dan tumbuh, seperti stalakmit stalaktit di gua-gua. 

Tiga wartawan Indonesia sempat diberi perawatan terapi selama hampir satu jam di Yuho. Taufiqurohman dari Tempo diberi terapi kerikan menggunakan batu tipis. Apa mirip dengan kerokan masuk angin di Indonesia? Kata Taufiq, hampir sama. Badan dibalur dengan minyak aroma terapi, lalu kerikan dimulai dari leher, punggung, sampai kepala. Kulit memang kemerahan. Tapi badan, kata Taufiq, terasa lebih enteng. 

Sedangkan Tejo Asmoro dari TVOne, dapat terapi bekam ala China. Dengan tusukan jarum dan mengeluarkan darahnya yang kotor di bagian punggung. “Sakit nggak?” Tejo bilang tidak. Selama ini, dia sudah biasa dibekam. Seorang lagi, Adi Murtoyo dari Koran Jakarta, mendapat pengobatan akupunktur di tangannya. 

Di Henghe Hospital, beda lagi. Ini adalah rumah sakit swasta terbesar di Beijing, tempat merawat pimpinan dan pejabat-pejabat tinggi di China. Henghe bekerjasama dengan dokter-dokter kelas dunia di Royal Free Hospital, Cancer Center of Oxford University dan Harvard Medical School. Semua dokter-dokter terbaik di negara itu, bisa dipanggil ke rumah sakit ini. Jam terbang dokternya ratusan ribu, atau rata-rata 10 ribu pasien diobati pertahun oleh tiap dokternya. 

          Ini rumah sakit dengan luas mencapai 70 ribu meter persegi. Spesialisasinya pengobatan kanker dengan imunoterapi, dan teknik stem cell (sel punca). Di Indonesia belum populer, tapi China kini dianggap sebagai negara yang pengembangan sel punca-nya paling maju di Asia Tenggara. 

          Di Henghe Hospital, kita berkeliling menyaksikan kecanggihan alat-alat kedokteran modern. Banyak kamar khusus disiapkan untuk pasien internasional. Menurut mereka, biaya pengobatan di situ, lebih murah dari biaya yang ditawarkan oleh negeri tetangga dekat Indonesia. 

          Dua rumah sakit ini masuk katagori 3A, level tertinggi kelas rumah sakit di China. Selain Yuho dan Henghe, masih ada puluhan rumah sakit lain yang direkomendasi oleh NorgenHealth, platform layanan medis yang ternama di China. NorgenHealth bisa diakses melalui websitenya di www.norgenhealth.com dan ada pilihan menggunakan bahasa Indonesia, agar lebih mudah dipahami oleh orang-orang Indonesia yang ingin berobat ke China. 

Prof Liu Chen, Kepala Interventional Imaging Center dari The international medical center of Beijing Cancer Hospital, tiap tahun melakukan ribuan operasi kanker. Diantaranya dengan biopsi jarum pada bagian sulit, di modul mikro paru-paru, kelenjar bening, organ dalam jauh di perut dan lainnya.  Metode ini sangat singkat, luka dan komplikasinya kecil, sehingga pemulihan cepat. Bahkan lukanya hanya selubang jarum saja. Teknik biopsi jarum juga digunakan untuk memastikan apakah itu kanker atau bukan. Lalu, penggunaan transplantasi partikel dan ablasi radiofrekuensi (microwave thermal ablation) yang minimal invasif, untuk pengobatan. Bukan lagi sekedar kemoterapi. Tapi, obat diinjeksikan langsung ke kanker, sehingga hasilnya lebih maksimal, dan organ lain terlindungi. (Bersambung)

a.     Petugas laboratorium di Henghe Hospital (Foto by Ratnasusilo)

b.     Yuho Hospital di Beijing (Foto by Norgenhealth.com)

c.      Henghe Hospital di Beijing (Foto by HengheHospital)

Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline  23 Maret 2016. Silakan klik: http://ekbis.rmol.co/read/2016/03/23/240532/Operasi-Kanker-Dengan-Luka-Selubang-Jarum-


Artikel ini juga sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Minggu, 27 Maret 2016