Jumat, 20 Mei 2016
Ngopi Dengan Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan: Kebetulan Presiden & Wapres Pengusaha, Nggak Suka Birokrasi Yang Membebani
Rabu, 27 April 2016
Eksklusif dengan Dirjen Pajak Ke Dwijugiasteadi (2)
Soal Perolehan Pajak: Kalau Semua Gotong-Royong, Insya Allah Target Tercapai
Dirjen Pajak dan Tim RakyatMerdeka di ruang kerjanya. (Foto by WahyuDwi)
Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi memastikan target pajak tahun ini realisitis. Untuk mencapainya diperlukan kesadaran para wajib pajak. Dia menyampaikan hitung-hitungannya.
Bapak optimis target pajak tercapai? Insya Allah mencapai target kalau kita semua bergotong royong. Saat ini jumlah kelas menengah ada ada 129 juta, sedangkan yang terdaftar memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) baru 27 juta orang.
Apa saja kesulitannya menambah jumlah wajib pajak? Kesulitan menarik pajak itu tergantung tingkat kepatuhan. Menarik pajak tergantung pada enam variable. Pertama, masyarakat percaya terhadap undang-undang pajak. Kedua, masyarakat percaya terhadap pegawai pajak.
Ketiga, ada beberapa masyarakat mencoba tidak bayar pajak. Dalam pikiran mereka buat apa bayar pajak. Nanti saja (bayarnya) kalau sudah diperiksa. Keempat, norma sosial masyarakat belum malu jika tidak bayar pajak. Kalau di luar negeri masyarakat yang menunggak pajak merasa malu. Kalau disini emang gue pikirin hehe... Pemahaman seperti ini yang mesti diubah.
Kelima, kemudahan dalam membayar pajak dan terakhir adalah memberikan penjelasan kemana saja uang pajak digunakan. Misalnya untuk pembangunan jalan dan pembangunan sekolah, maka yang harus menjelaskan adalah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Ken memberi contoh di Amerika Serikat. Menurut dia, para guru di sana memberikan sanksi kepada anak sekolah yang mencoret-coret tembok dan trotoar dengan cara meminta maaf kepada pembayar pajak melalui media Youtube. Pasalnya, pembangunan jalan dan trotoar itu dibangun menggunakan uang pajak.
“Semakin besar pajak, semakin besar infrastruktur yang bisa dibangun,” katanya.
Apakah jumlah aparat pajak saat ini sudah cukup? Jumlah pemeriksa pajak hanya 4.700-an orang. Jumlah wajib pajak yang diperiksa baru 0,01 persen dari yang terdaftar, yaitu 27 juta wajib pajak. Jadi sekitar 270 ribu orang. Apakah cukup? Tentu kurang.
Idealnya berapa jumlahnya...
Seharusnya saya bisa memeriksa 25 persen wajib pajak dari yang terdaftar. Bukan 0,01 persen. Jauh banget. Tapi Ditjen Pajak tidak bisa komplain karena kami eksekutor policy.
Bagaimana dengan tunggakan pajak 2.000 perusahaan? Terkait dengan 2.000 Perusahaan Modal Asing (PMA) saya sudah bentuk tim untuk memeriksanya.
Mengenai peristiwa pembunuhan pegawai pajak. Menurut Anda, mengapa hal itu bisa terjadi? Anak buah saya membawa surat paksa membayar pajak karena Wajib Pajaknya ada tunggakan. Kenapa ada tunggakan? Karena ada pemeriksaan. Saat banding dia kalah, maka kita kasih surat paksa pajak. Ini bukan paksa badan dan disita. Dengan kejadian ini, kita langsung melakukan penagihan, semua kita sita termasuk rumahnya. Rumahnya akan dilelang untuk membayar tagihan pajak.
Untuk diketahui, dua petugas Ditjen Pajak tewas ditusuk oleh seorang wajib pajak di Kepulauan Nias, Agusman Lahagu (45). Mereka adalah adalah Juru Sita Penagihan Pajak Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sibolga Parado Toga Fransriano Siahaan dan Tenaga Honorer di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Gunungsitoli Sozanolo Lase. Keduanya ditusuk karena menagih tunggakan pajak Agusman yang mencapai Rp 14,7 Miliar. ***
Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi 22 April 2016
Eksklusif Dengan Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi (1): "Kami Tidak Berburu Di Kebun Binatang..."
Ken menerima tim Rakyat Merdeka di ruang rapat lantai 5 Kantor Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jalan Jenderal Gatot Soebroto, JakartaSelatan.
Lelaki kelahiran Malang 8 November 1957 ini menjelaskan berbagai isu-isu aktual dengan slide power point di layar proyektornya. Sebagian informasi yang disampaikan sifatnya off the record. Suasana wawancara sangat cair, gaya bicara Ken yang ceplas-ceplos mengundang tawa. Kami cukup terkejut, karena informasi yang dimiliki Ditjen Pajak tentang WNI yang diduga menyimpan uangnya di luar negeri, begitu lengkap.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ingin sekali tax amnesty segera berjalan. Bisa diterangkan maksud dan tujuannya? Pertama, tujuan tax amnesty itu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kedua, untuk memasukan uang dari luar dan diinvestasikan di Indonesia. Sehingga bisa menyerap tenaga kerja. Dan, bila lapangan kerja bertambah, tentu meningkatkan daya beli masyarakat. Saat daya beli meningkat, maka produksi tumbuh dan akhirnya masyarakat sejahtera. Ketiga, selain dapat uang tebusan, tax amnesty digunakan untuk menciptakan objek pajak baru.
Dengan tax amnesty, maka otomatis terjadi ekstensifikasi pajak. Artinya, akan muncul perusahaan-perusahaan baru yang berinvestasi. Jadi, kalau ada orang bilang kita berburu di kebun binatang, itu sebenarnya nggak. Nggak ada itu. Ngapain kita berburu di kebun binatang. Ya mungkin jika sesekali. Binatangnya, misalnya, sapi 50 kilo, ngakunya satu kilo, ya kita kejar.
Sebenarnya bagaimana cara menghitung kewajiban wajib pajak….
Ini informasi penting yang perlu diketahui. Sistem pajak kita self assessmentartinya hitung sendiri, lapor sendiri dan bayar sendiri. Ini diatur dalam Udang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (KUP) pasal 12 yang isinya menyebutkan Ditjen Pajak tidak berkewajiban mengeluarkan surat ketetapan pajak. Itu sangat jelas. Jadi, jangan menganggap, seolah-olah orang pajak menghitung pajaknya orang. Nggak. Mereka (wajib pajak) ya menghitung sendiri. Kecuali, Ditjen Pajak mendapatkan bukti, dapat laporan, saya bisa melakukan koreksi. Bukan berarti saya kerja sendiri. Saya delegasikan ke pejabat yang berwenang. Kerja sendiri cape. Bisa gempor hehe...
Jadi, bila selama lima tahun para wajib pajak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)-nya dengan benar, ya nggak usah diperiksa lagi. Dalam konteks ini, Saya nggak bisa paksa. Misal, eh kamu punya potensi sekian, laporin dong. Nggak bisa. Kecuali ada data. Data itu dari mana? Bisa dari semua pihak.
Dalam pasal 35 UU KUP setiap instansi pemerintah, lembaga dan asosiasi
wajib memberikan data dan informasi kepada Ditjen Pajak. Makanya asosiasi kartu kredit juga kita minta. Sudah ada Peraturan Pemerintah (PP)-nya. Bahkan data lalu lintas devisa juga harus diberikan.
Kapan tax amnesty bisa diterapkan? Saya berharap regulasi tax amnesty bisa selesai sebelum akhir bulan ini. Tax amnesty itu penting untuk perekonomian. Dari uang tebusan, pemerintah bisa menciptakan investasi baru, dapat wajib pajak baru, menyerap tenaga kerja, meningkatkan daya beli, hingga menjaga produksi terus berjalan dan meningkat.
Berapa potensi pemasukan yang bisa didapatkan dari tax amnesty? Saya berharap ya potensi sebesar-besarnya. Berapa targetnya tergantung tarif yang diberikan oleh Undang-Undang nanti.
Bukankah pemerintah sudah menetapkan targetnya sebesar Rp 60 triliun? Saya tidak pernah bilang target. Saya masih menunggu (undang-undang). Saya punya catatan, tapi saya belum bisa sampaikan.
Apakah Dirjen Pajak menetapkan target, berapa orang yang akan mengakses tax amnesty?Saya sih berharap sebanyak-banyak. Berapa angka pastinya? Saja jawab lagi, ya sebanyak-banyaknya, hahaha...
Belum lama ini Ketua DPR Ade Komarudin bilang DJP sudah memiliki data lengkap orang-orang Indonesia di luar negeri yang berpotensi mengakses tax amnesty…. Oh, soal itu, data saya lengkap. Saya punya data, bukan (bersumber) dari pers, tapi dari tukar menukar informasi dengan beberapa lembaga internasional. Banyak orang bicara hanya tentang nama di Panama Papers. Padahal itu hanya salah satu dari 18 negara tax haven.
Dirjen Pajak memperlihatkan sejumlah slide tentang program institusinya. (Foto by WahyuDwiNugroho)
Ken menunjukkan data lewat slide. Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang namanya tercantum di Panama Papers hanya sekitar 800-an orang. Sementara total orang Indonesia yang berinvestasi di negara tax haven mencapai 2.580 orang. Bahkan, Ditjen Pajak memiliki informasi lengkap. Mulai dari nama, alamat, email dan nomor paspornya. “Kalau nomor paspor tidak mungkin bisa dikibuli, karena orang keluar negeri pakai paspor,” kata Ken.
Apakah dokumen Panama Papers mendukung kebijakan tax amnesty? Itu mengkonfirmasi kalau data DJP benar. Dulu kalau kita ngomong tax amnesty, banyak orang bilang DJP bohong.
Bagaimana cara memungut pajak dari potensi itu? Saya harus tahu subjek dan objeknya. Kalau nggak tahu bagaimana meyakinkan subjek untuk bayar pajak. Subjek itu orangnya. Misalnya di data itu, ada nama Ali. Kami harus tahu dulu, itu Ali siapa? Ali Topan atau Alibaba? Alamatnya di mana? Kemudian objeknya. Apakah pajak penghasilan atau dividen atau yang lainnya. Kemudian pengenaan tarif? Apakah tarif tax amnesty atau tarif umum.
Siapa yang menentukan tarif tax amnesty, pemerintah atau DPR? Bersama-sama. Pemerintah menyampaikan usulan, nanti ditanyakan DPR setuju atau nggak.
Dalam dokumen Panama Papers disebutkan ada tiga pejabat negara masuk. Bagaimana tanggapan Anda?Saya belum menemukan. Pak Harry (Harry Azhar Azis, Ketua BPK) saya panggil klarifikasi karena di media sudah ribut. Dan, klarifikasi itu biasa-biasa saja. Bapak Harry saya panggil sebagai wajib pajak untuk memberikan klarifikasi.
Apakah Menteri BUMN Rini Soemarno dan Wantimpres Rusdi Kirana juga akan dipanggil, sebab namanya juga disebut ada di list Panama Papers... Itu Rini yang mana? subjek harus jelas. Saya harus cek dahulu. Apakah sesuai dengan dengan data saya. Soal nama, kami sehari ngecek 200-an orang.
WNI atau perusahaan yang disebutkan masuk dalam dokumen Panama Papers belum tentu bersalah… Betul. Anda lihat saja, Bank Mandiri masuk, apakah mereka salah? Hampir semua perusahan go public memiliki SVP (Special Purpose Vehicle). Itu boleh-boleh saja. Pertanyaannya apakah mereka menyembunyikan pajak? Ya harus dicek. Jangan WNI yang masuk dalam dokumen Panama Papers disebut koruptor. ***
Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Jumat, 22 April 2016.
Minggu, 24 April 2016
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan: Merangkai Indonesia, Butuh Ketabahan Hati....
Rabu, 30 Maret 2016
Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (7): Obat Tradisional Tapi Diracik Alat Canggih
China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.
Semua rumah sakit yang dikunjungi di Guangzhou dan Beijing ada departemen pengobatan tradisionalnya. Henghe Hospital di Beijing menyediakan layanan konsultasi eksklusif. Ruangannya khusus dan diset bagus sekali. Bukan seperti ruangan dokter, tapi mirip layanan priority banking. Bagian pemeriksaan dan farmasinya terpisah dari pengobatan medis modern.
Saya dan beberapa jurnalis Indonesia masuk ke ruang pemeriksaan dokter pengobatan tradisional, sampai ke bagian farmasinya. Di Jinshazhou Hospital of Guangzhou University of Chinese Medicine, misalnya, area ini amat menarik karena tercium aroma herba yang khas. Di bagian farmasi, ada lemari kayu yang besar sekali dengan ratusan laci. Di tiap laci, tertulis nama herbal tertentu. Selain itu, ada areal racikan resep dan pencampuran obat. Alat-alatnya sangat canggih.
Pencampuran sudah komputerisasi. Penentuan dosis hingga pengepakan dilakukan otomatis. Meski pun ini pengobatan tradisional, namun pimpinan departemennya tetap seorang dokter, dan farmasinya dipimpin apoteker. Di sini, ahli medis harus punya kemampuannya ganda. Selain jago di bidang ilmu kedokteran modern, juga pintar di bidang pengobatan tradisional.
Kepala farmasi obat tradisional di rumah sakit tersebut, Dr Luo Yuan Sheng mengatakan, obat yang sudah diolah disesuaikan takarannya dengan obat medis. Dia mengelola lebih dari 300-an jenis obat tradisional. Ada yang dikonsumsi dengan cara direbus, lalu diminum. Atau dalam bentuk bubukan. Ada juga yang dimasukkan melalui selang infus. Obat-obatan ini tak bisa dibeli sembarangan. “Tetap harus pakai resep dokter untuk menentukan dosisnya,” kata Dr Luo.
Ratusan laci berisi herbal dan bahan obat tradisional di Guangzhou Hospital
Yuho Hospital dan Henghe Hospital di Beijing juga memisahkan bagian pengobatan modern dan tradisional. Suasananya hampir sama. Ada ruang-ruang konsultasi khusus. Dan di bagian farmasinya, terdapat lemari besar yang berisi ratusan laci untuk menyimpan ratusan jenis obat-obat alami. Bukan hanya herbal, tapi juga batu mineral sampai binatang tertentu.
Masuk ke ruangan ini, ada meja panjang ukuran sekitar 10 meter, tempat meletakan 40-an nampan berisi berbagai obat tradisional. Areanya juga cukup steril. Ahli obatnya mengenakan pakaian khusus dan penutup kepala. Di bagian peracikan obat, lebih bersih lagi.
Petugas di ruangan itu sempat menawari kami untuk cicip salah satu jenis herba. Yaitu daun teratai. Rasanya manis. “Ini biasanya digunakan untuk campuran penetralisir rasa pahit. Obat untuk anak-anak biasanya menggunakan ini,” katanya. Ada juga jenis obat dari bebatuan mineral yang bisa digunakan untuk penyakit batu ginjal. Dan kulit ular yang dikeringkan, untuk menyembuhkan masuk angin.
Beragam jenis herba dan mineral untuk pengobatan tradisional China di Henghe Hospital, Beijing. (Foto ratnasusilo)
Untuk meracik obat jadi bubuk, alatnya canggih terkomputerisasi. Begitu dokter menulis resep berisi berbagai bahan, datanya terintegrasi dan masuk ke bagian peracikan obat. Resep dokter dibaca komputer, lalu terhubung ke botol-botol bahan obat yang diminta. Botol itu memiliki chip. Saat di-request, lampunya menyala dan berbunyi. Di ruangan itu, terlihat ada ratusan botol putih berderet-deret.
Banyak botol menyala, untuk meracik satu resep. Di mesin khusus, botol itu akan berputar dan jadilah bubuk obat yang halus. Prosesnya sekitar 10 menit. Keluar dari ruang peracikan, obat sudah dipacking rapi. Berbentuk mangkuk-mangkuk kecil dan disegel, ada dosis dan labelnya.
Kita juga diajak melihat ruangan konsultasi. Suasananya nyaman. Terasa rileks dengan wangi aroma terapi. Banyak lukisan istimewa ditempel di dindingnya. Satu lukisan kuda atau pemandangan, misalnya, disusun dari ratusan jenis obat herba dan mineral.
Bagaimana standarisasi obat-obatan tradisional di China? Apakah ada badan yang mengawasinya? Vice President Henghe Hospital Beijing, John Zhang menceritakan, Pemerintah China sangat mendukung pengembangan obat-obatan tradisional. Karena itu, pengobatan tradisional juga masuk dalam asuransi kesehatan. Pemerintah juga punya lembaga khusus, semacam BPOM di Indonesia, yang tugasnya mengawasi dan mengontrol penggunaan obat tradisional di semua klinik dan rumah sakit di China.
“Pengobatan tradisional amat banyak jenisnya. Penelitian ilmiah mengenai hal ini, terus dilakukan di semua universitas di China,” katanya. (Bersambung)
Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline, edisi 26 Maret 2016. Silakan klik ini:
http://dunia.rmol.co/read/2016/03/26/240931/Obat-Tradisional-Tapi-Diracik-Alat-Canggih-
Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Rabu, 30 Maret 2016.
Senin, 28 Maret 2016
Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (6): Berkenalan Dengan Dokter Militer & Dokter Xray
China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.
Rumah sakit baru terus bermunculan di Beijing dan kota-kota besar di China. Mereka menawarkan spesialiasi pengobatan dengan kelas beragam. Untuk pasien internasional, rumah-rumah sakit menyiapkan layanan khusus, sampai tingkatan sangat eksklusif.
Rumah sakit besar di dataran China jumlahnya mencapai ribuan. Ini diluar rumah sakit umum yang dibangun pemerintah. Di Guangzhou, orang menyebut, “ratusan” jumlahnya. Dan di Beijing, diperkirakan 200-an rumah sakit telah dibangun.
Jumat, 12 Maret 2016, rombongan jurnalis Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam pertemuan dengan sekitar 30 rumah sakit terbaik di China, sejumlah pakar dan akademisi kesehatan. Satu demi satu, pimpinan rumah sakit itu memperkenalkan diri dan menceritakan layanan unggulan, serta prestasi terbaik medisnya. Tema besar dari pertemuan itu adalah: Membawa Ilmu Medis China yang Maju kepada Dunia. Fasilitator pada konferensi tersebut adalah NorgenHealth. Sebuah platform layanan medis yang terbesar di China. NorgenHealth sudah puluhan tahun melayani pasien internasional, termasuk dari Indonesia.
Dua hal yang paling menarik adalah teknologi pengobatan dengan sel punca dari kedokteran militer China, dan pakar terapi melalui sentuhan tangan, yang dikenal sebagai Dokter X-ray.
Dr Xiaodong Wang (kanan), terlihat serius saat bicara dengan staf dari NorgenHealth.
Di depan audiens, Dr Wang memutarkan sejumlah video. Ada pasien anak kecil yang menjadi korban peluru nyasar. Lumpuh, tapi setelah ditangani, akhirnya bisa berjalan. Ada lagi, pasien pria 51 tahun mengalami sumbatan total di otak sehingga sebagian tubuh tak bisa respon. Setelah terapi stem cell, perlahan tangannya bisa membuka, berjalan, dan jongkok. “Setelah terapi stem cell, ada perbaikan di saraf perasanya. Pasien akhirnya bisa mengontrol gerakan duduk dan memegang tumpuan untuk berjalan,” kata Dr Wang.
Rumah sakit militer di Beijing, kini terbuka untuk pasien internasional. Siapapun, boleh berobat di rumah sakit tersebut. “Soal biaya, dibanding rumah sakit swasta, di tempat kami lebih murah,” kata Dr Wang.
Dr He Shuhua (Dokter Xray) (berhadapan dengan jilbab biru) dikelilingi jurnalis Indonesia, saat observasi pemijatan tangan.
Figur lain yang menarik yakni, Dokter Xray. Namanya Dr He Shuhua, bisa mendiagnosis penyakit tanpa tes medis. Usianya hampir setengah abad, tapi penampilannya cantik dan segar. Dr He Shuhua hanya memijat telapak tangan, mengamati urat nadi dan menyentuh telinga, dan lima menit kemudian, dia tahu, pasiennya kemungkinan mengalami gangguan apa. Di tengah konferensi, Dr He Shuhua sempat mengobservasi beberapa jurnalis Indonesia.
Telapak Adi Murtoyo dari Koran Jakarta dipijat-pijat di bagian jarinya. “Anda sering sakit leher dan mengalami gangguan perut,” kata Dr He Shuhua. Adi mengiyakan. Lalu, Amri Husniati, wartawan Jawapos. Beberapa menit dipijat tangan, Dr He Shuhua menebak, pernah sakit punggung. Amri pun heran. Setahun lalu, Amri memang pernah terjatuh, dan tulang punggungnya patah. Wartawan Kompas Atika Walujani penasaran. Dia pun ikutan. Telapaknya ditekan di titik-titik tertentu. Ada bagian yang terasa sakit saat ditekan, tapi ada juga yang tidak. Dr He bilang, kesehatan Atika bagus. “Tapi saya disarankan mengecek kandung kemih,” kata Atika, menirukan Dr He. Sedangkan wartawan Tempo, Mohammad Taufiqurahman, dengan mudah didiagnosa oleh Dr He Shuhua pernah terkena stroke. “Itu memang benar. Beberapa tahu lalu, saya stroke, tapi sekarang sudah pulih,” ujar Taufiq.
Dr He Shuhua belajar dari keluarganya yang ahli terapi pengobatan khas China. Lalu, dia kombinasikan dengan ilmu kedokteran modern, sehingga keahliannya lengkap. Sehari-hari Dr He Shuhua praktek di Relife International Medical Centre, Beijing.
Bagaimana caranya mengetahui penyakit tanpa pemeriksaan medis? Menurutnya, ada beberapa katagori dasar observasi, yaitu melihat, mendengar, mencium, bertanya dan menyentuh. Pemijatan tangan untuk merasakan sumbatan darah dan nyeri. Sedangkan kesehatan organ dalam, bisa dilihat dari ketidakseimbangan fisik dan emosional pasiennya.
Observasi juga berguna untuk menentukan jenis terapi tradisional yang akan diberikan. Apakah cocok akupuntur, bekam atau aijui (pengasapan). Juga untuk menentukan ramuan herbal yang tepat dan pengaturan pola makan. Dr He Shuhua juga dikenal sebagai ahli akupuntur, pengobatan infertilitas serta gangguan tulang.
Selain dua rumah sakit ini, masih banyak rumah sakit bagus lainnya. Misal, Beijing Puhua International Hospital and Clinic, pusat neurosurgery terbesar di Beijing. Stem cell dilakukan di rumah sakit tersebut untuk pengobatan masalah di lutut atau pinggul.
Manajer International Department-nya, Susan Jiang menjelaskan, stem cell dilakukan dengan 'memanen' jaringan lemak dari area perut. Setelah diekstrak, lalu disuntikan ke area yang cidera. Sepanjang tahun 2015, pihaknya sudah menolong 1.200-an pasien yang menderita sakit ini. “Kami pernah menangani bintang Hollywood Chuck Norris, stem cell untuk gangguan di lututnya,” kata Susan. (Bersambung)
Artikel Ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline. Silakan klik di
http://dunia.rmol.co/read/2016/03/25/240838/Berkenalan-Dengan-Dokter-Militer-&-Dokter-Xray-
Artikel ini juga sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka, edisi Selasa 29 Maret 2016.
Wisata Medis Ke Negeri Tirai Bambu (5): Operasi Cangkok 400 Kali Setahun Di Lu Daopei Hospital
China sudah jadi destinasi medis yang mendunia. Selama enam hari (8 sd 14 Maret 2016) wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, menuju Guangzhou dan Beijing, mengunjungi beberapa rumah sakit untuk melihat kecanggihan pengobatan, perpaduan barat-timur. Teknologi kedokteran modern dipadu metode tradisional khas China. Berikut ini laporannya.
Di sini, kita masih jarang mendengar operasi transplantasi atau cangkok sumsum tulang belakang. Selain butuh teknologi yang amat modern dan biaya mahal, belum banyak dokter ahlinya. Di China, operasi ini tergolong biasa. Lu Daopei Hematology Oncology Center melakukan cangkok sumsum tulang belakang 40 kali sebulan. Itu baru satu rumah sakit. Belum yang lainnya. “Pasien antri sampai 3 bulan untuk melakukan ini,” kata Dr Chuenrong Tong, Director of General Hematology and Immunotherapy. Dia mengajak kita berkeliling melihat seluruh bagian rumah sakit. Mulai dari areal resepsionis sampai ke ruang-ruang perawatan, dan kamar khusus operasi yang amat steril atau laminar room. Suasananya amat tenang, dan sama sekali tak ada kesibukan layaknya rumah sakit di Indonesia. “Apakah ada pasien yang dirawat di sini?” tanya saya, penasaran. Sebab rumah sakit kelihatan sepi. “Tentu saja. Semua kamar perawatannya penuh,” jawab Dr Chuenrong.
Prof Lu Daopei (Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia) bersama putrinya, Dr Peihua Lu (foto by: ratnasusilo)
Pendiri Lu Daopei Hospital, yaitu Prof Lu Daopei, dikenal sebagai Bapak Transplantasi Sumsum Tulang di Asia. Masih hidup, dan kini berusia 85 tahun. Bahkan, Prof Lu terlihat segar saat menemui rombongan wartawan Indonesia.
Prof Lu melakukan transplantasi ini sudah ribuan kali, sejak 52 tahun yang lalu. Pasien pertamanya, wanita 22 tahun, menderita anemia aplastik, yaitu kondisi sumsum tulang belakang berhenti memproduksi darah baru. Tahun 1964 wanita itu menjalani cangkok dari sumsum tulang belakang saudara kembarnya. Sampai saat ini masih hidup, telah berusia 74 tahun, dan sehat. Ini termasuk salah satu operasi cangkok sumsum tulang belakang paling sukses di dunia. Prof Lu bahkan menunjukkan fotonya bersama wanita itu, saat terakhir bertemu, dua tahun yang lalu.
Menurut Dr Chuenrong Tong, Prof Lu sangat genius. Sifatnya selalu penasaran dan senang berpikir. Dia tak mudah mempercayai sesuatu, sebelum membuktikan sendiri. Di usia 40 tahun, Prof Lu dan putranya membedah kodok sawah, lalu diambil racunnya dan diteliti. Dia ingin tahu, apakah benar anggapan orang bahwa jika kodok mengenai mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan.
Prof Lu juga ahli mengkombinasikan obat, antara resep modern dengan herbal, pengobatan tradisional khas China. Kakek dan buyut Prof Lu adalah ahli-ahli TCM (Tradisional China Medicine) yang sangat diakui di China. Kini, keluarga Lu dan lima generasinya, termasyur di China, sebagai ahli-ahli medis yang hebat.
Ada jenis kanker darah yang bisa diobati tanpa cangkok sumsum tulang belakang. Yaitu Acute Promyelocytic Leukemia (APL) dengan pengobatan sejenis arsenik. Menurut Prof Lu, sejak 2.000 tahun lalu, arsenik dalam jenis dan dosis tertentu telah digunakan oleh orang-orang China sebagai obat. Arsenik sulfida dikombinasikan dengan obat-obat tertentu, hasilnya sangat baik untuk kanker darah. Dia mengambil sendiri arsenik dari sebuah pertambangan di China, dan menelitinya.
Di masa lalu, tidak mudah melakukan prosedur medis yang baru. “Political pressure dan beban tanggungjawab medis sangat tinggi, saat itu,” kata Prof Lu. Karenanya, sebelum diterapkan pada pasien, sebuah prosedur medis harus diteliti berulang-ulang. Selain itu, dibutuhkan kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa meyakinkan pasien akan keberhasilannya.
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti yang rusak karena kanker. Sumsum bisa diambil dari tulang pasien yang sehat, atau dari orang lain, yang masih ada hubungan kekerabatan. Tim yang dipimpin Prof Lu Daopei, saat ini menduduki peringkat ketiga di dunia, dengan tingkat keberhasilan mencapai 80 persen.
Putri Prof Lu, yaitu Dr Peihua Lu, saat ini menjabat sebagai Director and Specialist in Lymphoma and Myeloma, menjadi penerus jejaknya. Peihua atau disapa Peggy, adalah dokter ahli lulusan Stanford University, USA. Dia menyebut ada tiga pasien Indonesia yang ditangani rumah sakitnya baru-baru ini. Dua diantaranya sudah pulang, dan seorang lagi masih dalam perawatan.
Menurut Peggy, Lu Daopei adalah pelopor imunoterapi untuk kanker darah, dan tempat berkumpulnya banyak ahli dalam dan luar negeri dalam bidang hematologi. Setiap tahunnya, melakukan hampir 400 kasus transplantasi, dan 70 persennya dengan tingkat kesulitan tinggi.
Resepsionis di RS Lu Daopei, Beijing (foto by: norgenhealth)
Di Indonesia, untuk penderita leukemia atau kanker darah lainnya, dan membutuhkan pengobatan lebih serius di China, bisa dibantu melalui NorgenHealth. Ini adalah platform layanan pertama dan terbaik di China. Bisa diakses melalui websitenya di www.norgenhealth.com, dan menyediakan berbagai jenis layanan. Mulai dari jasa konsultasi, pemilihan rumah sakit, sampai penjemputan dan pendampingan selama pengobatan di China. (Bersambung)
Artikel ini sudah dimuat di RakyatMerdekaOnline. Silakan klik
http://dunia.rmol.co/read/2016/03/24/240690/Operasi-Cangkok-400-Kali-Setahun-Di-Lu-Daopei-Hospital-
Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Senin, 28 Maret 2016, Halaman 13


















