Minggu, 21 Agustus 2016

Pernak-pernik Pasca Reshuffle (1) Tersisihnya Pejuang Nawacita dari Kabinet


Kawan saya, seorang pemimpin redaksi majalah nasional berkomentar pendek, tentang reshuffle kabinet kedua. “Pak Jonan diganti, itu tidak masuk di akal saya. Sama sekali nggak masuk akal. Kalau yang lain sih, agak dipahami,” katanya, tepok jidat. Berulang-ulang dia ngomong begitu sambil geleng-geleng kepala. Malam itu, sekitar tiga jam setelah pelantikan kabinet baru di Istana, sejumlah pemimpin redaksi media massa, halal bihalal di Wisma Penta, Jakarta. Acara ini sudah lama diagendakan. Tapi, kok ya kebetulan, samaan dengan hari pengumuman reshuffle. 
            Sejumlah menteri datang. Saya lihat ada Rini Soemarno. Menteri BUMN istimewa. Disebut begitu, karena tak ada yang ragu kedekatannya dengan Presiden. Bahkan, ada media asing yang menyebutnya sebagai RI 1 ½. Sebutan yang menunjukkan kekuatan posisinya diatas RI-2 (baca: Wapres). “Selamat ya, Bu,” ucap saya. Rini tertawa. “Kok banyak orang malah selamatin saya ya,” katanya, renyah. 
Tapi yang menarik perhatian malam itu, kedatangan Puan Maharani. Orang-orang seperti ingin “membaca” apa sikap Megawati terhadap reshuffle kabinet melalui air mukanya. Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan yang juga putri kesayangan Mega sempat disodori mic dan bicara 10 menitan. Saya perhatikan, sekitar dua menit setelah Puan mengakhiri sambutan, Rini pergi.
            Presiden melantik kabinet baru, Rabu 27 Juli, sekitar pukul 14.00 WIB. Megawati tidak hadir. Kemana? Tak banyak yang tahu, di jam bersamaan, Mega sedang ngobrol dengan Ignasius Jonan. Salah satu menteri yang dicopot Presiden. Jonan ke Teuku Umar untuk pamitan dan mengucapkan terimakasih atas dukungan kepadanya selama ini. 
            Jonan lahir 21 Juni 1963, di bulan kelahiran Bung Karno. Tanggalnya, bahkan sama dengan Presiden Jokowi. Tapi, orang tidak mengenal Jonan sebagai pencinta Bung Karno. Orang juga tak pernah mendengar Jonan teriak-teriak memuji Bung Karno. Tapi, sebetulnya, Jonan memahami jalur politik dan jalan pikiran Bung Karno. Dia paham benar Nawacita, slogan yang sering digembar-gemborkan Jokowi saat kampanye pilpres. Di kursi Menhub, mantan Dirut KAI itu mendahulukan pembangunan kawasan terpencil, pedalaman, hingga ujung timur Indonesia. Garis merah programnya jelas: Merangkai, Menyatukan Indonesia. Sejumlah wilayah, pulau terluar diperbaiki pelabuhan dan bandaranya. Hingga di Sorong, Wamena dan Merauke, kini ada pelabuhan dan bandara megah. Di sisi lain, Jonan terlihat kurang sreg dengan rencana pembangunan kereta cepat. Proyek prestigious luxury, yang dianggap banyak orang tak sejalan dengan cita-cita Nawacita. Jonan tak datang saat groundbreaking KA Cepat, dan dia terima risiko, dicap melawan Presiden. 
            Sehari setelah reshuffle, saya bertemu Ignasius Jonan. Hari itu, dia mengenakan batik dengan tampilan formal. “Rapi benar, Pak. Masih ada acara resmi?” canda saya. Jonan cuma senyum. Informasi dari Hadi Djuraid, orang dekatnya, saat itu Jonan baru bertemu Yasuo Fukuda, mantan perdana menteri Jepang. Pertemuan itu, sebenarnya sudah lama diagendakan. Fukuda, sebagai Presiden Asosiasi Jepang-Indonesia, datang ke Indonesia bersama sejumlah pengusaha, antara lain Mitsubishi Corp, untuk menjajaki kerjasama bisnis. Mereka tak menyangka angin politik berubah begitu cepat. 
“Atas nama pribadi, pemerintah dan rakyat Jepang, saya terkejut dan tak menyangka mendengar Anda di-reshuffle dari kabinet,” katanya kepada Jonan, seperti diceritakan Hadi Djuraid. Selama di Indonesia, Fukuda juga menjadi tamu Jokowi. Saat 27 Juli lalu, dua jam sebelum pengumuman reshuffle kabinet, Fukuda diterima Presiden di Istana.
            Bertemu siang itu, Jonan terlihat santai saja. Kami minum teh di sebuah sudut kedai kopi kawasan Thamrin. Humornya tak habis-habis. Kami ngakak-ngakak menanggapi celetukannya yang lucu. Dia seperti biasanya, ngomong apa adanya. Terus terang.
“Saya dipanggil Presiden, sekitar lima menit. Presiden mengucapkan terimakasih, lalu memberitahu kalau besok saya diganti,” ucapnya, saat saya tanya menit-menit jelang pencopotan. Jonan pun meresponnya dengan mengucapkan terimakasih kepada Presiden karena telah dipercaya ikut mengabdi untuk bangsa dan negara di kabinet. Saat pamitan, Presiden mengantar dia sampai ke depan pintu. 
            Rencana berikutnya apa? Tanya saya. Jonan merespons, “Selama 8 tahun terakhir, saya tidak pernah cuti. Dan nyaris tak memperhatikan anak-anak saya. Saya belum pernah....” Jonan tak meneruskan kalimat. Suaranya tercekat, lalu terdiam. Dia tertunduk. Matanya agak basah. Saya yang duduk di sampingnya, tertegun. Tak menyangka, orang sekeras dan setegas Jonan, bisa menangis saat bicara tentang anak. 
Jonan tidak menangisi pencopotannya. Tapi, pertanyaan saya itu rupanya seperti alarm, ini waktunya Jonan untuk keluarga. Sudah sangat lama, dia tidak berkumpul atau liburan, bersama istri dan kedua putrinya. Jonan memang dikenal workaholic. Terbiasa bekerja dan terima tamu sampai jelang pagi.
Di ruang media sosial, penggantian Jonan dianggap mengejutkan. Apalagi, sehari sebelum reshuffle kabinet, portal online memberitakan hanya enam menteri yang dipanggil Jokowi ke Istana. Dan tak ada nama Ignasius Jonan. Jokowi sepertinya menyediakan jalur pintu khusus untuk Jonan, sampai-sampai kedatangannya, tak terendus wartawan. 
Mengapa Jonan dicopot? Muncul banyak sekali opini. Dari yang sederhana, sampai kontroversial. Dari insiden gojek, kereta cepat, sampai tragedi tol Brexit. Dari dugaan transaksi politik, hingga kepentingan pilpres 2019.
Di Facebook Ignasius Jonan, foto-fotonya saat berpelukan dengan Budi Karya Sumadi, Menhub baru, mendapat lima ribuan komentar. Dan statusnya saat pamitan dikomentari 12 ribuan. “Dia menteri yang berani berbeda, walau dengan Presiden sekalipun, karena dia memegang teguh regulasi. Bukan pada arahan kebijakan sesaat atau tekanan politik,” kata Fary Francis, anggota Komisi 5 DPR RI. Di Facebook, Fary menyebut Jonan, konsisten, punya prinsip, tegas, bertindak cepat, bersih, profesional dan memahami bidang tugasnya secara baik. Kemitraan di Komisi V terjalin baik karena Jonan dianggap bersahabat, saling mengingatkan bila lupa dan menegur saat keliru.
Bukan cuma Dewan. Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, di depan Forum Pemimpin Redaksi, dua bulan lalu, menyebut Jonan salah satu menteri terbaik. Berhasil melakukan efisiensi. “Bandara yang dibangun bagus-bagus dengan biaya cukup murah,” kata Agus Marto.
            Juga Bambang Brodjonegoro. Diwawancarai Rakyat Merdeka saat masih di pos Menkeu, Bambang menyebut, kerja Kementerian Perhubungan di tangan Jonan bagus, dan termasuk paling agresif menaikkan PNBP atau Pendapatan Negara Bukan Pajak. 
Soal etos kerja, tak banyak yang meragukan Jonan. Tapi, bagi sebagian orang, mungkin pribadinya bikin tak tahan. Dia unik. Ceplas ceplosnya pedas, khas Suroboyoan. Bicaranya berani, lantang dan apa adanya. Argumennya seringkali benar. Tapi dalam politik, kadang kebenaran perlu diucapkan tanpa terang-terangan.
Kini, palu keputusan politik telah dijatuhkan. Bagi Jonan, lepas dari kabinet bukanlah sesuatu yang merisaukan. Saya pernah mendengar dia menjawab pertanyaan, tentang mengapa dia mau jadi menteri, padahal gajinya sebagai bankir internasional tentu berkali-kali lipat lebih tinggi. 
“Kerja jadi menteri pasti nombok, kan Pak?” tanya seorang wartawan.
Jonan tertawa, lalu bilang, “Bukan nombok, tapi menguras....” 
Lalu, apa yang anda cari dengan jabatan menteri? Jonan diam agak lama. Dia kemudian bilang, “Misalkan Tuhan memberi kita usia 75 tahun. Maka, 25 tahun pertama, hidup kita lebih banyak menerima. Dan 25 tahun berikutnya, hidup haruslah berimbang, menerima dan memberi. Nah, saya sudah di 25 tahun ketiga. Maka, harus lebih banyak memberi daripada menerima,” kata Jonan, yang dua bulan lalu baru berulang tahun ke-53. 
Ya inilah akhirnya. Dalam politik, kerja keras dan kerja cerdas saja rupanya tak cukup. Jonan disisihkan dari kabinet, saat perjalanan membangun Nawacita Perhubungan, baru ditempuh sepertiganya. Hak Jokowi mencopot menteri yang bicara apa adanya. Tapi jangan sampai yang dipertahankan adalah menteri-menteri yang “ada apanya”. || Ratna Susilowati ||

Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka dan di-share di FB Ignasius Jonan
 

Kamis, 07 Juli 2016

Nebeng Menteri Ikut Pantau Arus Mudik Lebaran: Tak Ada Lagi, Penumpang Nginap Di Emper Pelabuhan



Makin dekat lebaran, intensitas kerja Menteri Perhubungan Ignasius Jonan makin padat. Tiada hari libur. Aturan dilarang cuti untuk semua pegawai Kemenhub, juga berlaku untuk dirinya. Hampir setiap hari Jonan berada di lapangan. 

Akhir pekan kemarin, Jonan mengecek Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, lalu berlanjut ke Makasar. Agenda kerjanya berkejaran dengan waktu, dan lokasi yang dituju cukup terpencil. Karenanya, Jonan menggunakan pesawat kapasitas 7-8 orang jenis Hawker 900XP milik Kementerian Perhubungan. Wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, ikut dalam rombongan. 

Berangkat dari Halim Perdanakusumah Jakarta. Di samping kiri Menteri, duduk Bambang Tjahjono (Dirut AirNav Indonesia), di depannya ada Yudhi Sari Sitompul (Direktur Bandara) dan Atok Urrahman (Staf Khusus Menteri). Sedangkan Adolf R Tambunan (Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut), duduk persis di belakang Jonan. Pejabat Humas Sindu Rahayu dan Ajudan Lettu Marinir Andik Kristiawan, di deretan lain. 

Perjalanan agak terlambat karena saat mau berangkat, ban pesawat gembos. Butuh sejam perbaikan, tapi akhirnya semua lancar. Sampai di Pangkalan Bun, matahari mulai redup. Langsung bergerak ke Pelabuhan Kumai, sekitar 15 menit jalur darat. Jalanan ternyata amat mulus, meski ini tergolong kawasan marjinal. Di Pelabuhan, Jonan memuji. Bersih dan tertib. Ruang tunggu juga rapi.

Dia bercerita. Dulu, kondisinya nggak karu-karuan. Ribuan penumpang yang tinggal di pedalaman, menyerbu pelabuhan jelang Lebaran, cari tiket. “Misal, ada yang dapat tiket, jadwal kapalnya minggu depan, masa mau pulang lagi? Mereka susah payah sampai Pelabuhan, dan untuk menunggu keberangkatan, akhirnya nginap berhari-hari di emperan terminal, toko,” kata Jonan. Petugas pelabuhan menimpali, “Benar Pak. Dulu kerja aparat keamanan di sini berminggu-minggu karena kuatir rusuh dan sering ada keributan.”

Kini, sistem pembelian tiket online. “Jadi, mereka datang, sesuai jadwal keberangkatan,” kata Jonan lagi. Di Pelabuhan Kumai, penumpang tujuan Jawa, mencapai 33 ribu orang sepanjang liburan Lebaran. Jonan sempat dialog dengan Syahbandarnya, Junaidi. “Tiket untuk penumpang nggak dijual melebihi batas kan?” tanyanya. Junaidi menjawab tegas. “Tidak Pak.”

Junaidi lalu melapor ke Menteri Jonan, per 1 Juli akan mengakhiri tugas. Menteri pun memberinya hadiah. Yaitu foto khusus berdua. Wah, Junaidi sangat senang. Seumur-umur bekerja, berpuluh-puluh tahun jadi pegawai Kemenhub, baru kali itu, tepat sehari sebelum mengakhiri tugas, dia bisa berfoto dengan Menteri Perhubungan. 

Beranjak ke Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Jonan menyisir areal terminal kedatangan dan keberangkatan. Tidak luas, tapi cukup bersih. Kursi-kursi di ruang tunggu dan counter check in, tertata baik. Sebelum pamitan, dia sempat menyantap sop singkong, menemani rombongan yang berbuka puasa. Setelahnya, Jonan pun terbang menuju Makasar. 

Dua jam di udara, Jonan sempat ngobrol. Saya duduk di deretan belakang, bersama ajudan. “Saat kecelakaan Air Asia, kita datang (ke Pangkalan Bun), sampai 3-4 kali ya,” papar Jonan. Lokasi jatuhnya Air Asia, pada Desember 2015, adalah di perairan Selat Karimata, sekitar 200 km dari Pangkalan Bun. 

Di atas pesawat, Jonan minta buku kecil, lalu menulis sendiri pengaturan jadwal kegiatannya, termasuk siapa saja pejabat yang harus ikut, disertai berbagai catatan. Kebiasaan Jonan memang seperti itu, nanti protokol menyesuaikan. Jadwal final lalu di-share di grup khusus personil Kemenhub, yaitu petugas yang terkait kegiatan Menteri.

Jonan termasuk menteri yang melek teknologi. Di telinganya, nyaris selalu menempel bluetooth headset, sehingga bisa menerima dan menelpon dengan cepat saat dibutuhkan. Dia juga aktif merespon dan men-share laporan via Whatsapp. Mungkin sekaligus mengecek anak buah. “Kadang, saya terima pesan dari Bapak jam tiga dini hari,” kata Ajudan, Andik Kristiawan. Prajurit Marinir ini, perawakannya tegap dan selalu sigap. 

Selama arus mudik ini, handphone Jonan tak pernah sepi dari informasi lapangan. Bahkan, sampai lewat tengah malam, masih bunyi. “Saya baca laporan,” katanya, saat saya tanya, keesokan harinya, mengapa sering tidur amat larut. Jonan lalu memperlihatkan deretan pesan di handphonenya. Ada laporan kondisi terminal di wilayah Jawa Barat, ada juga kondisi rel menggantung akibat banjir di Pasuruan. “Rel tak bisa dilewati. Jalur Jember-Banyuwangi, terputus. Mungkin cuma semut yang bisa lewat,” candanya. Apa laporan yang paling jadi atensi? Jonan bilang jalur darat, dan jalan raya. “Karena potensi kecelakaannya besar,” kata dia.

Di Makassar, Jonan mengunjungi posko mudik di Bandara Sultan Hasanuddin. Dia bilang, penerangan bandara sebaiknya ditambah. “Saya jarang mendarat di sini malam. Kalau (penerangan seperti ini), coba anda baca koran. Fotonya kelihatan, tapi mungkin tulisannya tidak kelihatan,” katanya. Dirut Angkasa Pura 1 Sulityo Wimbo yang mendengarkan Jonan, terlihat manggut-manggut.

Dari bandara, Jonan mengunjungi menara Air Traffic Control. Kondisi ATC-nya lebih bersih dan lebih bagus dari ATC Soekarno-Hatta, Jakarta. Salah satu petugasnya, Angel, sedang hamil empat bulan, tampak senang sekali bisa bertemu dan salaman dengan Jonan. Angel ingin anaknya diberi nama. Menteri  pun menulis di secarik kertas; Gabriel. “Wah berarti nama anak saya nanti, Gabriel Siburian,” teriak Angel, kegirangan. Jonan bilang, tiap kali melihat wanita hamil, dia terharu. “Hamil itu satu-satunya pekerjaan yang tidak bisa dilakukan lelaki. Karenanya, itu adalah tugas paling mulia,” katanya.


Dari tower, Jonan turun ke lantai bawah, menuju ruangan serupa di film Star Trek. Tempat pemandu lalu lintas udara. Semua pergerakan pesawat dipantau dan diikuti hingga keluar wilayah udara Indonesia. Jika ada informasi traffic, petugas bisa langsung komunikasi dengan pilot pesawat yang dituju. Ada sekitar 10 petugas memelototi monitor yang bergambar titik-titik kecil. Tiap titik berarti satu pesawat. “Satu orang maksimal memantau 12 pergerakan pesawat,” kata seorang petugas. Dan tiap dua jam, diberi istirahat, agar tidak kelelahan. 

Fungsi pemantauan ini, kalau di darat, mungkin mirip tugas polisi lalu lintas. Di Kepolisian ada TMC (Traffic Management Center) Polda Metro Jaya, yang terkenal itu. Atau kalau di laut, namanya VTS (Vessel Traffic Service). 

Menurut Jonan, navigasi adalah kegiatan yang seringkali dilupakan. “Padahal, ini adalah pekerjaan yang banyak, investasinya besar, dan mendidik personilnya pun susah. Tapi, sayang, kurang mendapat perhatian,” katanya. Jonan mengatakan itu, saat meresmikan VTS Distrik 1 di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makasar, keesokan harinya.

Kemenhub saat ini serius membenahi navigasi, karena menyangkut aspek keselamatan. Semua distrik navigasi harus dimodernisasi. Tantangan terbesarnya, bukanlah mensosialisasikan kepada user. “Tapi, para pimpinan direktorat masih banyak yang gaptek,” ujar Jonan, spontan. Gaptek adalah istilah gaul, singkatan dari gagap teknologi. “Jadi, tolonglah, jangan gaptek. Saya ini generasi yang saat skripsinya masih pakai mesin ketik. Tapi, saya tidak gaptek. Setidaknya, semangat saya, tidak gaptek,” kata Jonan, disambut tawa hadirin. 

Jonan tegas. Soal navigasi terkait keselamatan, tidak boleh ditawar. Itu dia ucapkan lagi saat berkunjung ke terminal penumpang Pelabuhan Soekarno-Hatta Makasar. Beberapa pekan lalu ada insiden penjualan 900-an tiket palsu di sana. Kalau dipaksakan berlayar, kapal kelebihan penumpang, dan berpotensi tenggelam. “Tiket palsu itu pidana. Dan kalau ini sering terjadi, Manajemen Pelni diganti aja,” kata Jonan.

Di Pelabuhan penumpang, hari itu tidak ada kapal yang sandar. Tapi Menteri cukup senang melihat penataan terminal yang bersih dan terang. Juga tersedia garbarata menuju pintu masuk kapal. Bukan hanya bisa maju mundur, tapi garbaratanya bisa dinaikkan dan diturunkan, menyesuaikan ketinggian kapal. Menurut Jonan, salah satu tolok ukur kesejahteraan masyarakat dilihat dari ketertiban transportasinya. “Di negara manapun, kalau mau naik ke kelas menengah, tak ada yang transportasinya tidak tertib,” tambahnya. 

Kembali ke Jakarta, Jonan sempat tertidur di pesawat. Jadwal yang padat, wajarlah dia beristirahat. Saya bisikin Ajudan. “Tu, Pak Menteri tidur. Ajudan boleh tidur sedikit.” Lettu Andik senyum-senyum saja. Tak lama, kepalanya mulai tertunduk. Hebatnya, dia tidur ala marinir. Badan dan bahunya tetap tegak, meskipun matanya tertutup. Tapi cuma lima menit, dia sudah terjaga lagi. Semua personil di Kementerian Perhubungan memang harus selalu siaga. Boro-boro mikirin pulang kampung, beli baju baru pun belum tentu sempat. 

Ada meme yang dikirim diantara mereka. Lucu. Gambar Menteri Jonan, gelantungan di gerbong kereta api, dengan baju dinas Kemenhub. Lalu ada tulisan: “Lebaran nggak usah beli baju baru, karena yang kalian pakai baju dinas.” 

Ya, itulah pilihan hidup. Mereka sering diingatkan Jonan. “Kita harus percaya bahwa insan transportasi juga patriot.” ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka, edisi Senin 4 Juli 2016


 


Senin, 27 Juni 2016

Ikut Menhub Lihat Kesiapan Mudik: Jonan Manjat Menara, Ubek-ubek Stasiun, Terminal & Pelabuhan...



Melihat Ignasius Jonan di lapangan itu ternyata seru-seru lucu. Menteri Perhubungan ini bisa galak, tegas sekaligus humoris dan ceplas ceplos di depan anak buahnya. Kalau ada yang ngga beres, dia tidak ragu meninggikan suara. Tapi kalau ada yang bagus, Jonan juga tak pelit memberi pujian. 

Akhir pekan kemarin, Jonan mengunjungi terminal bis, stasiun kereta api, bandara dan pelabuhan di wilayah Jakarta, Surabaya dan Bali. Pergerakannya amat lincah dan jalannya cepat. Energinya seperti tak habis-habis. Naik turun tangga, masuk ke dalam kapal laut, kereta api, bis Akap sampai naik mobil pemadam kebakaran di bandara. Jonan bicara dengan semua orang yang ditemui. Mulai dari ibu-ibu penumpang bis dan kereta, sopir, nahkoda, dokter, dan semua yang terkait dengan urusan keamanan, kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Pernyataannya kadang tajam. Misalnya, di Kampung Rambutan. Jonan naik bis dan duduk di kursi sopir. Dia membunyikan mesin, menyalakan lampu sampai suara klakson. Juga mengecek rem dan seatbelt pengemudi. Ternyata item terakhir tak berfungsi. “Ini sabuknya ada tapi ngga bisa dikait di penguncinya. Kalau tidak diperbaiki, ngga boleh jalan,” katanya, pedas. Sopir bis jurusan Sumedang-Jakarta manggut-manggut mendengarkan. Soal kebijakan tarif, Jonan ngomong gini: “Ini ada batas atas, batas bawah. Kalau tarifnya melewati batas atas, cabut saja trayek. Saya ngga main komisi-komisian. Tegas ini.”

Kadishub DKI Andri Yansyah ikut datang di Kampung Rambutan. Jonan berpesan padanya, agar terminal dibenahi. “Masak kalah sama stasiun. Ini diberesin. Jangan yang ada ini nggak bisa diberesin, terus malah bikin baru,” kata Jonan. Kampung Rambutan adalah terminal type A yang pengelolaannya di bawah Pemprov DKI. 

Ada juga yang lucu tapi makjleb. Misalnya, saat di Bandara Juanda, Surabaya. Sejumlah pimpinan memaparkan kesiapan sarana dan fasilitas bandara sampai kondisi tower ATC yang tingginya 48 meter. Semua area apron, taxi way dan runway terlihat dengan sangat jelas. Kelihatannya, inilah tower ATC tertinggi di Indonesia. Jonan spontan komentar, “Nah, mungkin ini tower yang paling waras di Indonesia,” katanya, sambil tertawa. Dia bercanda. Tapi Jonan memuji, Bandara Juanda termasuk amat baik desainnya. Runwaynya hanya satu, tapi area apron dan taxiway-nya ada dua. Dan menyambung kiri kanan, sehingga alur pergerakan pesawat bisa diatur dengan baik. 

Sehari sebelumnya, wartawan sempat diajak naik ke tower ATC di Soekarno-Hatta, Jakarta. Memang terasa benar, pemadangannya berbeda. Dari tower ini, area apron dan taxiway Terminal 3 Ultimate, tak terlihat karena ketutup bangunan bandara. Padahal berdasarkan CASR atau Civil Aviation Safety Regulations, semua pengaturan navigasi bandara sipil harus terlihat dengan mata, atau menggunakan radar.


Sebelum ke Bali dan lanjut Surabaya, Jonan memang sempat berkeliling di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Pelayanan dan kebersihan dipuji. Tapi tentang extra flight, atau slot tambahan yang diminta airline menjelang lebaran, Jonan memberikan pesan tegas.
“Extraflight jangan dikasih kalau mintanya mepet-mepet. Kebiasaan mikir jangan komersial saja, tapi juga keselamatan penumpang,” katanya. Misal, ujar Jonan, penerbangan jam 7-8 pagi, kalau runway cuma dua, mana mungkin ada lebih dari 50 penerbangan? “Itu tidak masuk akal. Jangan jadi tukang bohong sama penumpang. Tidak boleh bohong soal slot,” kata Jonan, keras. Saat ini, di Soekarno-Hatta, sudah mencapai 72 pergerakan pesawat tiap jam. Atau ada 1-2 flight yang take off landing, setiap menitnya. 

Menjelang terbang ke Ngurah Rai, Denpasar, Jonan tak sengaja bertemu dengan Irjen Tito Karnavian, Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang baru saja terpilih menjadi Kapolri. Keduanya salaman dan ngobrol akrab di salah satu sudut ruang tunggu bandara. Isi obrolan mereka, sempat disampaikan Jonan saat tiba di Bali.
            “Tadi ngobrol dengan Kepala BNPT tentang ancaman terorisme. Bali ini berpotensi jadi target. Ini isu yang agak sensitif. Sehingga, mohon menjadi perhatian,” kata Jonan di depan semua stakeholder bandara Ngurah Rai, saat berbuka puasa. Pihak Bandara memaparkan kesiapan menghadapi lebaran dan antisipasi ancaman terorisme. Ada patroli rutin penjinak bom dan mobil xray yang ditempatkan di pintu. Sehingga, semua kendaraan yang lewat di situ, akan terdeteksi apakah ada bomnya. 

Ngurah Rai adalah salah satu airport terbaik di Indonesia. Jonan memuji kenyaman, keamanan, maupun fasilitas pendukungnya. Bahkan, untuk anak-anak pun disediakan kidzone, arena bermain. “Dulu ada mandi bolanya. Tapi, kami tiadakan, karena kesulitan membereskan bola yang berhamburan,” kata GM Bandara Ngurah Rai, Trikora Harjo sambil tertawa. Hal lain, Jonan meminta agar runway diperiksa. “Jangan sampai ada yang mengelupas. Retak rambut jangan sampai jadi retak buaya, harus diperbaiki,” katanya.

Ditanya wartawan, Jonan menanggapi wacana penambahan runway melalui reklamasi perairan. Dengan tegas dia menolaknya. Menurutnya, reklamasi membutuhkan biaya perawatan luar biasa, serta perlu waktu setidaknya 20 tahun menunggu daratan siap digunakan. “Tidak usah penambahan runway, taxiway kiri kanan dipakai. Apron kiri kanan dipakai. Selesai,” ucapnya. 
Pernyataan ini diulang lagi saat di Surabaya. Menurut Jonan, dengan pengaturan yang baik, maka Bandara Juanda belum perlu membangun double runway, apalagi kalau rencana itu dilakukan dengan mengurug laut.

Jonan tahu detail. Sehingga, anak buah yang bertanya kepadanya, akan malu kalau ilmunya cuma sepotong-sepotong. Soal bandara dan runway, misalnya, dia paham sampai urusan teknis seperti PCN dan ACN, sistem untuk mengukur kekuatan permukaan landasan pesawat. PCN yaitu Pavement Classification Number dan ACN adalah Aircraft Classification Number.


Yang seru di Pelabuhan Penumpang Tanjung Perak, Surabaya. Jonan naik ke Kapal Sinabung, yang sedang sandar. Mengecek ketersediaan baju pelampung sampai sekoci dan kapal karet. Jonan minta mesin dijalankan agar sekoci bisa diturunkan. “Ini kalau mesinnya nggak nyala, sekoci tetap bisa diturunkan, tapi ngga bisa jalan ya buat apa,” kata Jonan. “Pakai dayung bisa Pak,” jawab personil dari KM Sinabung. Jonan langsung memotong, “Dayung? Orang biasa nggak akan kuat mendayung dengan ombak misalnya sampai dua meter. Itu cuma hercules yang bisa mendayung,” kata Jonan. Kelakar yang serius. Itulah kenapa, mesin sekoci harus berfungsi.
Jonan sempat bicara dengan sejumlah pimpinan dari Direktorat Hubungan Laut, pimpinan pelabuhan Tanjung Perak dan Syahbandar-nya. Sambil berdiri, Jonan mengingatkan jangan sampai ada tiket dipalsukan. “Tiket palsu itu pasti ada kerjasama dengan orang dalam. Orang dalamnya siapa, ya saya nggak tahu. Wis pokoke disikat,” tegas Jonan. Menteri juga sempat menyinggung tentang surat-surat izin usaha perkapalan. Kalau ada pelanggaran, jangan ragu untuk mencabutnya. “Pokoknya sikap saya ini kalau merah ya merah, biru ya biru. Nggak ada abu-abu,” ujarnya, keras. 

Sebelum mengakhiri kunjungan di Surabaya, Jonan mengecek Stasiun Gubeng.Jonan memuji Stasiun yang bersih. Toilet dan ruang kerja pegawai terlihat kinclong. Dia sempat naik melihat kondisi Kereta Api Sri Tanjung tujuan Purwoadi-Banyuwangi, dan menyapa salah seorang penumpang. “Umurnya berapa Bu? Oh Ibu menggunakan tiket lansia ya. Kelihatannya kok kayak umur 40 tahun,” guraunya. Di Stasiun Gubeng, Jonan menyapa banyak sekali pegawai PT KAI. Rupanya, empat tahun menjadi Dirut PT KAI, Jonan masih dianggap sebagai orang kereta api. Sampai-sampai ada penumpang yang minta foto menyebut Jonan sebagai Pak Menteri Kereta Api. Lucu. 

Secara umum, Menteri Jonan terlihat puas dengan kesiapan transportasi mudik lebaran. Arus puncak diperkirakan, terjadi H-3 dan arus balik diperkirakan sampai H+10 lebaran. “Nanti saya balik lagi. Kan ini belum arus puncaknya,” kata Jonan, di tiap tempat yang dia kunjungi. Seluruh pegawai Kemenhub dan petugas operasional di lapangan dilarang cuti. “Termasuk saya juga, supaya bisa melayani pemudik lebih baik,” katanya. Menurut Jonan, pekerjaan ini harus dianggap sebagai pilihan hidup, dan harus percaya bahwa insan transportasi adalah juga patriot. NAN

Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 27 Juni 2016




 

Ngobrol Angkutan Lebaran dengan Menhub Ignasius Jonan: “Stasiun Kereta Bisa Bagus, Kenapa Terminal Nggak.."


 


Ini salah satu menteri yang amat sibuk menjelang lebaran. Tidak pernah ikut mudik tapi ditunjuk sebagai Koordinator Penyelenggara Angkutan Lebaran. Sejak awal Ramadhan, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, turun ke berbagai wilayah di Jawa, Bali, Sumatera. Kepada Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Fotografer Patra Rizky Syahputra, Jonan menceritakan aktivitas dan programnya melakukan pengecekan secara nasional ribuan moda angkutan lebaran di terminal, pelabuhan dan bandara. Obrolan berlangsung di kediaman dinas, Jalan Widya Chandra, Jakarta Pusat, (19/6).

Bagian tersulit dari mempersiapkan angkutan mudik lebaran, apa ya?
Bagian tersulit adalah memberikan pemahaman, awarness, kepada semua pihak termasuk regulator, tentang pentingnya keselamatan. Bahwa mudik adalah suatu kegiatan extraordinary, karena memindahkan manusia dari tempat satu ke tempat lain, dengan jumlah minimal dua kali lipat dari akhir pekan atau bisa tiga kali lipatnya. Sehingga, aspek keselamatannya harus betul-betul diperhatikan. 
 
Yang sulit juga, menghadapi, yang memaksakan pemahaman. Kendaraan tidak laik jalan, tapi, memaksa diberangkatkan. Kalau diberangkatkan, lalu ada kecelakaan? Ya dianggap nasib. Lha, nggak bisa seperti itu. Kendaraan tidak layak ya, tidak boleh diberangkatkan. Ini contoh. Ada kapal Pelni kelebihan muatan, dicegat di Makasar. Syahbandar tidak memberi surat perintah berlayar. Ribut. Tapi, tetap tak boleh berangkat. Kenapa? Karena kalau terjadi kecelakaan, Syahbandar-nya yang akan dihukum, kalau perlu dipidanakan. Begitu semua penumpang diturunkan, ternyata ratusan tiketnya palsu. Nah, kalau ada tiket palsu, masa orang Pelni nuduh oknumnya orang luar? Pastilah ada kerjasama dengan orang dalam. Wong bikin tiket palsu kok bisa naik ke kapalnya, bagaimana?
 
Contoh lagi. Dulu kereta api jarak jauh dan menengah, pelayanannya hancur, sering kecelakaan saat lebaran, dan sebagainya. Sekarang tertib. Satu orang, satu seat. Hasilnya, lebih aman. Bahkan media massa tak perlu lagi datang ke Senen (Stasiun Senen, Red). Media pasang tivi di sana, mau liat apa? Liat ikan? Hehehe...
 
Dulu mudik naik kereta api sampai gelantungan, masuk lewat jendela...
Ya itu. Yang paling sulit adalah penyadaran tentang keselamatan transportasi. Saat, saya mengurus kereta api, prinsipnya, semua penumpang yang datang ke stasiun harus terangkut. Dan syarat penumpang yang terangkut, yang punya karcis. Kalau jumlah karcis melebihi tempat duduk ya, berarti operatornya goblok.

Bagaimana kondisi umum terminal-terminal tipe A di daerah? Menurut saya, sangat amat tidak layak, dibandingkan stasiun kereta. Yang paling mendingan ya, Terminal Bungur Asih, Surabaya. Sisanya, minta ampun. Nanti, kalau sudah dikembalikan ke Kementerian Perhubungan, akan saya benahi. Kemungkinan akhir tahun ini. 
 
Apakah Kemenhub sudah meminta kepada kepala-kepala daerah, agar terminal-terminal bis di wilayahnya dibenahi? Sudah disurati. Kadishubnya sudah diberi tahu, agar mengontrol setiap bis yang berangkat, memperhatikan aspek safety dan sebagainya. Seyogyanya, kepala daerah masing-masing bertanggungjawab atas terminal yang dikelola. Sudah saya kirimi surat. Tapi, sepanjang tujuh tahun lebih memimpin transportasi, saya yakin awarness kepala daerah soal ini tidak tinggi. Mereka aware, kalau ada kemacetan, karena takut diprotes. Atau, kalau ada masyarakat di pelabuhan yang tidak terangkut. Tapi, apakah mereka berhitung, misalnya, jumlah angkutannya cukup atau tidak. 
 
Secara umum pengelolaan terminal bis di daerah bagaimana sih?
Terminal bis yang di Jakarta, coba bandingkan dengan Stasiun Kereta Api Senen deh. Kalau ada terminal yang lebih bagus dari Stasiun Senen, maka mestinya mereka bisa mengelola sendiri. Asal tahu saja ya, di seluruh Indonesia itu, ada 700 stasiun kereta api dan hanya ada 140 terminal bis tipe A. Di Jabodetabek, ada 101 stasiun kereta api, bandingkan dengan jumlah terminal tipe A-nya nggak sampai 10. Kalau Stasiun Senen bisa bagus, masa terminal nggak bisa? Ini pesan bukan hanya untuk DKI ya. Sebaiknya jangan membangun moda transportasi lain, tanpa memperbaiki yang ada. Yang lama ditertibkan dulu, itu sudah luar biasa membawa perubahan di masyarakat.
 
Mengapa ada Kepala Daerah yang menginginkan agar terminal tipe A tidak dikelola Kementerian Perhubungan? Bagi Kementerian Perhubungan, mengelola terminal itu justru menambah biaya. Memang, biaya operasional dari Pemda akan dialihkan ke Pemerintah Pusat. Tapi yang terpenting, mau pelayanan lebih baik atau tidak? Nah ada yang mempertanyakan, Kemenhub apa mampu mengelola terminal bis? Jawaban saya, kalau saya menterinya, yakin bisa. Dulu kereta api saja bisa dikelola, padahal waktu itu saya bukan menteri, tapi bisa. 
 
Bandara, stasiun, terminal dan pelabuhan mana saja yang sudah dicek dan siap menerima arus mudik? Begini ya. Yang menjadi fokus saat ini, 52 pelabuhan umum, 14 pelabuhan penyeberangan, 27 bandara, dan sekitar 80-an terminal tipe A di Jawa Bali Sumatera. Semua sudah dicek, dan proses perbaikan sampai tanggal 24 Juni. Tantangan terbesar ada di darat, karena bisnya banyak. Kita lihat, apakah personil di Kementerian Perhubungan ini bisa menyelesaikan pengecekan? Jangan hanya ngomong saja. Ini anggaplah sebagai satu ujian besar bagi kita regulator keselamatan. Bisa nggak mengecek ini semua? Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Perkeretaapian, sanggup nggak mengeceknya? Mestinya mampu, bukan hanya teori, tulis menulis, lalu sekolah, dapat doktor transportasi, tapi nggak mengerti, ini barangnya apa. Kalau nggak bisa, ya saya buang semua, saya cari orang lain. Ini saya bicara nggak pernah ngancam, tapi kalau ngomong, saya jalanin. 
 
Bagaimana prediksi arus mudik tahun ini. Perlambatan kondisi ekonomi, apakah berpengaruh ke arus mudik? Tetap terjadi penambahan sekitar 3-4 persen dibandingkan tahun lalu. Rinciannya, penumpang pesawat terbang naik minimal 7 persen, penumpang kapal laut turun 5-6 persen, dan bis turun 1-2 persen. Sedangkan penumpang kereta api naik 2-3 persen. Sehingga secara keseluruhan, peningkatan arus mudik kisaran 3-4 persen. Ini untuk transportasi umum ya. Yang non umum, kemungkinan akan naik juga. Yang saya takutkan, sepeda motor akan lebih banyak lagi dibanding tahun lalu. Yang bawa mobil sendiri juga. Kenapa? Karena makin bertambah jalan raya, mobil pribadi tidak akan berkurang. Di seluruh dunia, kalau jalan raya-nya bertambah, ya pasti kendaraan pribadi juga bertambah. 
 
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, arus mudik 2015 angkutan bus turun sekitar 8,2 persen dibanding 2014. Dan angkutan laut, turun sekitar 3,93 persen. Sedangkan penumpang di angkutan penyeberangan (naik 5,45 persen), kereta api (naik 0,98 persen) dan pesawat (naik 9,19 persen). Rinciannya sampai H+3 sebagai berikut:
Penumpang angkutan bis dari 3.836.259 (2014) menjadi 3.521.559 (2015)

Penumpang kapal laut dari 662.599 (2014) menjadi 636.546 (2015).

Penumpang Angkutan penyebrangan dari 2.587.376 (2014) menjadi 2.728.510 (2015)

Penumpang kereta api 2.864.167 (2014) menjadi 2.892.349 (2015)

Penumpang Pesawat domestik 2.490.088 (2014) menjadi 2.719.017 (2015)
 
Mengapa penumpang kapal laut dan bis turun? Kapal laut makin tidak populer untuk penumpang yang menempuh jarak jauh. Apalagi kalau daya tampung bandara makin besar. Makin banyak orang pilih pesawat karena menghemat waktu. Misal, dari Banjarmasin ke Surabaya. Menggunakan kapal laut bisa 18-20 jam. Bandingkan dengan pesawat, tak lebih dari 90 menit. Karcis pesawat 700-an ribu, naik kapal 200-300 ribu. Kalau orang punya uang lebih, akan pilih pesawat. Ke depan, kapal laut akan lebih banyak melayani angkutan barang. Kapal laut penumpang, sistemnya cluster. Satu kapal berputar di area tertentu. Misal, Kepulauan Aru, ada satu kapal memutari kepulauan, karena tidak semua titik di wilayah itu dibangun bandara. Begitu juga di Kepulauan Riau, Kepulauan Sangihe dan seterusnya.

Menteri sudah ngecek wilayah mana saja menjelang arus mudik? Kabarnya sudah ke Yogya, Malang, Banyuwangi, Batam, Balikpapan dan Lampung. Ada temuan menarik saat blusukan? Lho, ini bukan blusukan, tapi jalan-jalan hehehe... Yang paling menarik itu mengecek Pelabuhan Pelni di Sekupang (Batam). Itu bekas gudang, dan kondisinya sangat tidak layak. Lampu penerangan tidak cukup, toilet terbatas. Saya perintahkan, pindah ke Pelabuhan Batuampar, mulai Senin (20 Juni 2016, Red). Tapi, tadi saya cek, belum pindah. Kalau tak kunjung pindah, nanti saya cabut izin penyelenggara pelabuhannya. Kalau Syahbandarnya tak mau pindah, berarti ada apa-apanya. 
 
Tentang pengoperasian Terminal 3 Ultimate yang ditunda. Bagaimana tanggapan dari Presiden? Nggak ada. Menelpon saya juga tidak. Presiden biasa saja.
 
Bukankah Angkasa Pura 2 bercita-cita, Terminal 3 Ultimate jadi hadiah lebaran untuk masyarakat? Ya, cita-cita boleh saja.
 
Yang kurang di Terminal 3 Ultimate itu apa sih? Mungkin kalau hanya dari sisi layanan, tambah waktu satu dua minggu, bisa. Ini layanan saja ya, termasuk sistem pasokan bahan bakar, sebetulnya tidak bisa pakai truk tangki untuk airport sebesar itu. Lalu, kondisi listrik. Ya, saat ini satu demi satu diperbaiki. Tapi yang utama, airside, perlu pengaturan. Apron, taxi way dan sebagian ujung landasan, saat ini tidak kelihatan di tower, karena ketutupan bangunan bandara. Padahal, tower itu harus bisa melihat seluruh airside. Atau kalau tidak bisa, ya dibuat static radar untuk mengatur seluruh pergerakan yang ada di airside. Oleh tower sekarang ini hanya diberi CCTV. Padahal, untuk safety harus zero tolerance. Bisa menggunakan subtower atau AMC, Apron Management Control. Ini belum dibuat. Sekarang ini, mau menyewa moveable tower, miliknya Kemenhub. Katanya mau dicoba, sambil membangun. Ya, silakan saja, sambil kita lihat. 
 
Moveble tower atau mobile tower milik Kemenhub sudah diujicoba beberapa hari di Terminal 3 Ultimate. Namun hasilnya tidak efektif. Menurut Direktur Navigasi Ditjen Hubungan Udara, Novie Rianto, mobile tower tingginya hanya 7 meter saja. Padahal, tinggi garbarata (pintu belalai) mencapai 12 meter, tinggi ekor pesawat 737-800 sekitar 12 meter dan ekor pesawat Boeing 777 ada yang mencapai 15 meter. “Eyelevel mobil tower hanya sekitar 7 meter. Dan saat kena angin kencang langsung goyang,” katanya.
 
Jadi, dengan banyak kekurangan seperti itu, diperkirakan kapan Terminal 3 Ultimate bisa beroperasi? Apakah ada deadline dari Kemenhub? Kami menunggu kesiapan operator. Kalau merasa sudah siap, ya nanti kami uji lagi. Mengujinya cepat kok. Trial hanya 2-3 hari, lalu seminggu bisa jalan. Ini bukan kita bermaksud menghambat lho. Nggak ada untungnya kita menghambat. Justru kita ingin, makin cepat beroperasi makin baik. Tapi, harus memenuhi standar keselamatan penerbangan. ***

Artikel ini dimuat di 
Harian RakyatMerdeka
Edisi Jumat, 24 Juni 2016


 

Menteri Ignasius Jonan tentang Pengecekan Angkutan Lebaran: “Kendaraan Tak Layak Jalan, Tak Boleh Berangkat”




 
            Menjelang lebaran, tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman menjadi aktivitas yang paling seru. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyebutnya sebagai kegiatan extraordinary atau luar biasa. Mengapa? Karena jumlah manusia yang berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya, mencapai 2 atau 3 kali lipat dari hari libur biasanya. Kepada Tim Rakyat Merdeka, Menteri Ignasius Jonan bicara tentang persiapan angkutan mudik lebaran, dan perhatian pentingnya pada faktor keselamatan dan keamanan penumpang. Wawancara ini berlangsung di kediaman dinas, (19/6).
 
Bagaimana kesiapan transportasi umum untuk perjalanan arus mudik lebaran? Bagaimana cara Kementerian Perhubungan mengurangi angka kecelakaan? Target utamanya adalah perbaikan keselamatan dan layanan. Sesuai arahan Presiden, termasuk tidak boleh ada kemacetan di jalan raya. Ini merupakan tantangan besar. Bukan hanya saya yang ditugasi di Koordinasi Nasional (Arus Mudik), tapi yang paling berat adalah pihak Polri karena bertugas mengatur lalu lintas perjalanan. Untuk memenuhi target peningkatan keselamatan dan mengurangi kecelakaan, maka, semua sarana harus dicek. 
 
Berapa banyak kendaraan umum yang diperiksa? Jumlah bis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) sekitar 46 ribu di Jawa, Bali dan Sumatera. Lalu 529 pesawat udara, 447 lokomotif dan 1600 gerbong penumpang. Selain itu, 1400-an kapal laut. Semuanya diperiksa sampai tanggal 24 Juni. Senin (20 Juni 2016) sudah ada laporan interimnya. Kita memberikan catatan, apa saja yang harus dipenuhi. Ada syarat no go item. Artinya, kalau ada item yang rusak, ya nggak boleh jalan. 
 
Mengapa proses pengecekan transportasi umum yang mendetail, baru dilakukan tahun ini? Dari dulu memang tidak pernah dilakukan pengecekan secara nasional.Inilah yang membedakan dengan operasi lebaran tahun lalu. Tahun 2015, ada pengecekan, tapi sifatnya sampling. Itu pun sudah menurunkan tingkat kecelakaan. Tahun ini, jika semua pengecekan berjalan baik, maka potensi lainnya, yaitu di kelalaian operator. Lalu, ada transportasi non umum. Misalnya sepeda motor, mobil pribadi. Nah, makanya, polisi mati-matian menyiapkan tempat-tempat istirahat untuk pemudik, dan sebagainya. Juga himbauan dimana-mana. 
 
Data Korps Lalu Lintas Polri menunjukkan, angka kecelakaan mudik 2015 menurun 21,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selisihnya, mencapai 3.888 kasus. Kepala Korlantas Polri Irjen Condro Kirono, (26/7/2015), menyebut, penurunan angka kecelakaan berdampak pada menurunnya jumlah korban kecelakaan. Korban meninggal dunia, tahun 2014 mencapai 714 orang, sementara 2015, 657 orang, atau turun 8 persen. Juga angka korban luka berat turun 45 persen. Pada 2014, luka berat 1.939 orang, dan 2015, mencapai 1.068 orang. 

Banyak sekali jumlah moda angkutan yang dicek. Apakah jumlah aparat yang mengeceknya cukup? Seluruh personil (Kemenhub) jalan semua. Jumlahnya cukup. Dan ini sudah dilakukan sejak awal Juni sampai tanggal 24 Juni nanti. Hasilnya di-scrap. Kalau tidak memenuhi no go item, ya nggak boleh jalan. 
 
Bagaimana hasilnya? Banyakkah yang tidak memenuhi syarat?
Banyak yang kena, dan harus diperbaiki dulu. Yang terbanyak kena, bis. Itu hampir 80 persen bis tidak laik jalan. 
 
Wow hampir 80 persen? Lalu bagaimana tindaklanjutnya? Saya sudah panggil 130 perusahaan bis AKAP. Untuk bisa laik jalan, harus memenuhi lima hal. Pertama, speedometer harus berfungsi. Banyak bis punya speedometer, tapi nggak berfungsi. Kedua, kaca depan tidak boleh pecah. Ketiga, ban tidak boleh gundul. Vulkanisir ban belakang, boleh. Tapi ban depan dilarang. Dan keempat, seat belt untuk pengemudi harus ada. Ini memberi dampak beda secara psikologis, saat pakai seatbelt atau tidak. Dan lima, rem tangan harus berfungsi. Bis yang tidak memenuhi item ini, harus diperbaiki sampai tanggal 24 Juni. 
 
Apabila banyak bis AKAP yang tidak peduli no go item, masyarakat harus bagaimana?
Apakah masyarakat mau naik bis tapi, misalnya, speedometer nggak berfungsi? Masih ada moda lain. Kapal laut masih kosong. Atau naik kereta api. Penuh, ya cari tanggal yang kosong. Gitu aja. 
 
Mengapa pengecekan semua transportasi umum ini dilakukan hanya sebulan sebelum mudik lebaran? Apakah waktunya mencukupi? Lho, ada pengamat yang komentar. Ya, namanya pengamat kan memang bisanya berkomentar tapi belum tentu bisa menjalankan. Katanya, kenapa tidak dilakukan sejak awal tahun? Saya jawab, lho kalau dicek awal tahun, misalnya, speedometer putus lagi di bulan Mei, bagaimana?
 
Mekanisme pengecekan dimana?  Itu dilakukan di setiap terminal. Aparat Dinas Perhubungan semuanya harus jalan, dan mengecek.



Artikel ini sudah dimuat di halaman 1
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Jumat 24 Juni 2016