Sabtu, 12 November 2016

Menteri ESDM Ignasius Jonan (2)

Soal Tugas Baru: Saya Kerjasama, Supaya Terbang Bagus & Mendarat dengan Selamat...


            Ignasius Jonan masuk ke kabinet lagi. Setelah tiga bulan istirahat, Jonan kini diberi tugas di Kementerian ESDM. Sektor yang jauh berbeda dengan tugas sebelumnya di Kementerian Perhubungan. Bagaimana proses adaptasinya? Bagaimana membagi tugas dengan wakilnya, Archandra Tahar? Berikut ini, petikan wawancara Ignasius Jonan dengan Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Randy Tri Kurniawan dari Rakyat Merdeka, akhir pekan lalu (22/10) di kediaman Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

 Ada yang meragukan kompetensi Anda di bidang ESDM. Bagian mana yang dipelajari duluan? Sekarang belajar organisasi dulu. Mudah-mudahan bisa secepat saat saya belajar Kementerian Perhubungan.

 Perlu penyesuaian berapa lama?

Ini beda sektor ya, dengan tugas sebelumnya. Tapi, amanah Bapak Presiden dan Wapres intinya sama, yaitu bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sektor dan caranya berbeda, tapi fokus tujuan sama.

 Selama ini Anda dikenal suka blusukan, tidak hanya duduk di belakang meja. Kapan mulai blusukan lagi? Ya, nantilah.  Sebulan setelah saya bertugas di Kementerian ESDM. Itu (blusukan) perlu. Tapi, sebulan ini saya seattle down di dalam, untuk melihat hal-hal besar, pemetaan persoalan dan melihat bagaimana tata kerjanya. Saya nanti mau lihat semua. Bahkan, sampai pertambangan, tembaga, timah, nikel, bauksit, dan sebagainya. Termasuk ilegal mining itu bagaimana.

 Tantangan terberatnya apa? Menurut saya bagaimana mewujudkan energi dan sumber daya menineral untuk kemakmuran sebesar-besar masyarakat.

 Presiden menyebut Menteri ESDM dan wakilnya sebagai figur yang keras kepala. Bagaimana sinergi pekerjaan diantara dua orang yang keras kepala ya.

Ini jawaban saya. Sektor ESDM itu, yang ditangani sangat luas sehingga dua kekuatan akan lebih baik jika dibandingkan satu kekuatan. Sehingga pembagian dengan prinsip, satu tim, satu tujuan, akan lebih baik hasilnya. Ibaratnya, pilot dan copilot. Lebih pas ibarat di pesawat udara ya, karena setirnya dua. Kalau sopir dan kenek, setir mobil kan cuma satu. Jadi, saya ini pilot in command, beliau first officer-nya atau FO. Saling kerjasama, supaya terbangnya bisa bagus mulus, dan mendarat dengan selamat

 Hari-hari pertama menjadi Menteri ESDM, Anda melakukan pemangkasan anggaran. Kenapa? Itu, ada surat dari Kementerian Keuangan. Harus ada pemotongan lagi sekitar 200-an miliar. Ya, sudah saya jalankan, dan saya ajukan ke Komisi 7 DPR. Alhamdulillah disetujui. Sepanjang tidak mengganggu kinerja.

 Bagaimana agar pemotongan anggaran sampai Rp200 miliar, tidak mengganggu program di Kementerian ESDM? Kami potong untuk efisiensi. Yaitu biaya kerja Rp52 miliar, dan Rp147 miliar belanja modal yang diperkirakan belum tentu diselesaikan, atau belanja modal yang kegiatannya multiyear sehingga pembayarannya bisa digeser ke tahun berikutnya.

 Bagaimana hubungan dengan DPR? Karena saat ini sektor kerja baru, dan kemitraan dengan komisi yang berbeda dari sebelumnya? Hubungan dengan DPR baik. Saya terimakasih sekali. Beliau melakukan fungsi legislasi, dan kami di eksekutif, bermitra baik dan sehat. Saat Raker pertama, beberapa hari lalu pun, DPR sangat welcome. Kami dua jam rapat, mulai 11.30 dan bubarnya 13.30. Tapi saya pulangnya 14.30 karena diajak makan siang dulu di sana. Hahahaa (tertawa).

 Cakupan kerja Kementerian ESDM amat luas. Mulai dari energi, mineral, kelistrikan sampai gunung api (vulkanologi). Mana yang prioritas? Apakah ada pesan khusus dari Presiden? Yang utama, ya menyelesaikan harga gas industri. Lalu program BBM satu harga. Juga Blok Marsela, Blok Mahakam, Freeport, aturan minerba, dan East Natuna.

 Tentang gas industri. Banyak trader gas bermodalkan kertas alias calo, sehingga jadi salah satu penyebab harga gas industri menjadi mahal. Bagaimana memotongnya?

Arahan Presiden jelas. Beliau minta sampai akhir tahun ini harus selesai tentang harga gas industri. Bagi pengusaha, tentunya, karena ini bisnis, juga harus ada keuntungan yang wajar. Tapi tata niaganya harus diatur. Harus seefisien mungkin, agar harga gas menjadi kompetitif.

 Tata niaga gas sekarang bagaimana, Pak? Apakah amburadul?

Aku nggak berani ngomong itu. Aku belum tahu. 

 Apakah sudah memanggil semua perusahaan gas?

Belum. Satu demi satulah. Yang sudah dipanggil PLN, Pertamina. Mereka presentasi. Posisi seperti ini, seperti itu.

 Proyek kelistrikan 35 ribu Megawatt sudah sampai di mana? Apakah proyek itu possible diselesaikan? Ya, we do our best. Kita lihat dulu ya, posisinya sekarang sampai di mana. Ini data Kementerian ESDM, dari total rencana pembangunan pembangkit tenaga listrik sebesar 35.627 MW, sampai September 2016 telah tercapai operasi secara komersil (COD) 164 MW (1 %), konstruksi 8.688 MW (24 %), kontrak PPA namun belum konstruksi 8.641 MW (24 %), pengadaan 10.481 MW (29 %), dan perencanaan 7.654 MW (22 %). 

 Menteri ESDM yang lama menyebut Dirut PLN membangkang padanya. Bagaimana agar hal ini tidak terjadi pada Anda?

Lho, saya kenal Pak Sofyan Basir (Dirut PLN) lebih 13 tahun. Kalau tidak salah sejak tahun 2003, saat beliau masih Dirut Bukopin. Saat datang, ketemu saya, kami berteman, friendly. Juga dengan Dirut Pertamina (Dwi Sutjipto). Saya juga berteman lebih lama lagi. Mungkin sekitar 15-an tahun, sejak beliau direktur di Semen Padang.

Sepekan sebelum dicopot oleh Presiden Jokowi, Menteri ESDM Sudirman Said melontarkan pernyataan terbuka mengenai Dirut PLN Sofyan Basir. Sudirman menyebut Sofyan sering tak hadir dalam rapat terkait pembahasan listrik, dan membuat kebijakan yang sering tak sejalan dengan kebijakan di kementeriannya.

 Ada arahan dari Wapres tentang proyek kelistrikan? Sebab, sehari setelah dilantik, Menteri ESDM dan Wakil Menteri ESDM diberitakan dipanggil Wapres.

Oh, itu nggak bicara soal 35 ribu MW. Saya courtessy saja. Kan saat kami dilantik, beliau tidak hadir.

 Wapres Jusuf Kalla tidak hadir saat pelantikan Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM, dan Archandra Tahar sebagai Wakil Menteri ESDM, pada 14 Oktober lalu, karena sedang kunjungan kerja di Makassar. Wapres sudah berangkat sejak pukul 06.00WIB, sedangkan pelantikan berlangsung pukul 14.00 WIB. Wapres tidak menyoalkan penunjukkan itu. Dia bahkan memuji, Jonan sebagai orang yang tegas.

 Apa benar ada mafia migas? 

Saya bukan berasal dari sektor ini. Saya sekarang belum berani ngomong, ada mafia atau nggak ada mafia.

 Sudah jadi rahasia umum bahwa rencana membangun kilang, kabarnya sering dihambat oleh mereka, mafia, yang menginginkan agar kita terus melakukan impor minyak. Nggak tahu. Saya belum belajar sampai di situ.

 Mengenai minyak. Lifting minyak kita dikisaran 840-an ribu barel perhari. Sedangkan kebutuhannya mencapai 1,6 juta barel perhari. Apakah ada peluang produksi minyak kita didongkrak? Bisa. Tergantung insentifnya kepada KPS (Kemitraan Pemerintah-Swasta atau Public Private Partnership dalam proyek kilang). Ini lagi dibuat draft Peraturan Pemerintahnya. Mestinya sih, bisa selesai dengan cepat. Di dalam negeri, investor banyak. Kalau kontrak karya habis, ya diteruskan untuk mereka. Kalau investor luar, mungkin bisnis mereka sedang konsolidasi di seluruh dunia.

 Tentang BBM satu harga. Laba Pertamina bisa turun banyak ya, untuk subdisi program ini. Oh, program itu harus jalan di awal 2017. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, BBM harus satu harga. Pertamina kan bagian dari negara, yang tujuannya meningkatkan kesejahteraan. Selama ini, untungnya Pertamina sekitar Rp30 T, dikurangi Rp800-an miliar, ya nggak sampai 3 persen.

 Tentang Freeport. Apakah ada pesan khusus dari Presiden? Keinginan Presiden terhadap Freeport apa sih?Pesannya, persoalan harus diselesaikan dengan baik. Keberadaan Freeport penting. Arahan Presiden, kita harus bisa yakinkan, bahwa partnership dengan pemerintah Indonesia itu, untuk Freeport McMoran, baik dalam jangka panjang. Secara bisnis ya, kita hitung saja. Ini kan ini bisnis yang besar sekali. Bisnis patungan. Misalnya, anda punya keahlian masak soto, saya punya tanahnya, gedungnya, ruangannya. Maka, boleh dong, anda yang masak, lalu saya jaga di depan. Boleh kan? 

 Jadi, ada peluang kontraknya diperpanjang?

Yang terbaik adalah memperhatikan kepentingan nasional

 Seberapa penting, perlunya pembentukan holding company di sektor energi?

Saya belum tahu. Saya belum sampai ke situ. Saya kira, domainnya Kementerian BUMN. Itu salah satu cara aksi korporasi. ***

Artikel ini sudah dimuat di Rakyat Merdeka edisi Jumat, 28 Oktober 2016


 

Eksklusif Dengan Menteri ESDM Ignasius Jonan (1)

Soal Kerjasama dengan Wakil Menteri: Saya & Archandra Ibarat Pilot-Copilot

            

 Kementerian ESDM rupanya amat istimewa, sampai-sampai Presiden mengirim dua figur menarik untuk memimpin lembaga ini. Menterinya, Ignasius Jonan dan Archandra Tahar, wakilnya. Presiden Jokowi menyebut keduanya, keras kepala. 

            Kepada Rakyat Merdeka, Jonan menyebut duet bersama Archandra Tahar lebih pas diibaratkan sebagai pilot dan co-pilot di pesawat terbang. “Jadi, ibaratnya, saya ini pilot in command, beliau first officer-nya atau FO. Saling kerjasama, supaya terbangnya bisa bagus mulus, dan mendarat dengan selamat,” katanya. 

            Saat wawancara ini dilakukan, Jonan baru sepekan duduk di kursi Menteri ESDM. Dia bilang, sebulan ke depan akan belajar internal Kementerian ESDM dulu, karena sektor ini amat berbeda dengan tugas sebelumnya. Setelah itu, Jonan akan blusukan, melihat ke berbagai tempat, seperti kebiasaannya selama ini. Lebih lengkap wawancara dengan Ignasius Jonan 2 (bersambung)

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka edisi Jumat 28 Oktober 2016




Minggu, 23 Oktober 2016

Kepala Badan Restorasi Gambut Dr Nazir Foead : Berani Bakar Lahan Gambut, Izin Usaha Bisa Dicabut

 

Presiden Jokowi membentuk lembaga baru bernama Badan Restorasi Gambut, pada awal tahun ini. Awam banyak yang belum tahu, apa itu lahan gambut, dan mengapa gambut perlu direstorasi? Rakyat Merdeka bersilaturahmi dengan Kepala BRG Dr Nazir Foead, pekan lalu. Obrolannya menarik. Rupanya, bencana kebakaran hutan Indonesia, kebanyakan terjadi di lahan gambut. Berikut ini kutipannya, saat wawancara dengan Kiki Iswara Darmayana, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Muhammad Rusmadi dan Wahyu Dwi Nugroho, dari Rakyat Merdeka.

 Apa itu lahan gambut, dan bagaimana kondisi gambut di Indonesia? 

Luas lahan gambut kita sekitar 14,9 juta hektar. Terluas ada di Papua. Ada juga di Sumatera Selatan. Yang Kalimantan, terluas di Kalteng. Di Kaltim dan Kalsel ada sedikit. Secara umum, kondisi gambut Indonesia, setengahnya masih bagus. Sisanya sudah terbuka dan berkanal. 

 Yang terbuka dan berkanal, sebagian dikelola perusahaan. Ada yang bertanggungjawab, ada yang berantakan. Bahkan, perusahaan yang paling top pun, ada yang buka kanalnya sembarangan. Lahan gambut itu rawa, berair sekitar 30-40 cm. Maka, mereka membikin kanal yang lebar-lebar, agar lahan cepat kering dan bisa ditanami, sehingga bisa segera panen. Padahal, gambut itu sumber air cadangan. Kalau bangun kanal sampai sedalam 3-4 meter, dan lebar 10 meteran, tanpa pengelolaan, dan tanpa penutup, air keluar dari lahan gambut tanpa diatur. Akibatnya buruk untuk lingkungan. Belakangan ini, banyak perusahaan mulai bertanggungjawab. Mereka mulai menjaga muka air dalam kondisi optimal.

 Lahan gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan, karenanya mengandung kadar organik tinggi. Gambut biasanya di rawa dan kadar keasamannya tinggi. Fungsi gambut penting untuk menjaga kestabilan lingkungan, cadangan air dan menyimpan karbon. Semakin tebal gambut, semakin penting fungsinya dalam memberikan perlindungan terhadap lingkungan. Terutama memitigasi perubahan iklim dan mengurangi pemanasan global. 

Bagaimana caranya merestorasi lahan gambut?

Tugas kami merestorasi itu, antara lainmenyelamatkan kubah gambut, tempat berkumpulnya cadangan air. Di lahan gambut yang amat luas, kubah tidak terlihat oleh mata telanjang. Tampak flat saja. Padahal, di beberapa titik ada bagian yang cembung seperti mangkok terbalik. Ketinggian kubah, yaitu di bagian mangkok yang cembung sekitar 3-4 meter. Di situlah tempat terbanyak air berkumpul. Saat kemarau, air di kubah akan turun sehingga mengairi sungai di sekelilingnya. Dan kampung sekitar Sungai tidak kekeringan. Tapi, kalau kubah gambut dikeringkan, dampaknya terasa di musim kemarau. Kubah gambut kering, sungai kering, kampung kehabisan air. Lahan gambut pun mudah terbakar. Saat kebakaran, pasukan pemadam kesulitan melakukan pemadaman api, karena stok air tidak ada. 

 Idealnya, seminggu sebelum musim hujan berakhir, kanal-kanal lahan gambut ditutup. Sehingga, muka air tidak turun hingga di zona merah. Ciloko kalau sebelum kemarau, kanal gambut dibuka, airnya habis. Maunya kita sih, kanal ditutup, supaya lahan gambut bisa terus menyimpan air. Tapi, kan dampaknya lahan bisa kebanjiran, saat curah hujan tinggi. 

Bagaimana caranya merestorasi lahan gambut yang sudah ada tanaman industrinya?

Di lahan gambut, jarak antar kubah itu bisa berkilo-kilometer. Kubah gambut yang bagus harus dikonservasi, dijaga seperti kawasan lindung oleh pengusaha yang memegang izin, karena kubah-kubah itu berada di tengah lahan. Untuk kubah yang sudah ada tanamannya, minimal ya dijaga muka airnya, seoptimal mungkin.

Bagaimana cara memantaunya?

Ada alat pemantauan tinggi muka air yang cukup canggih, dan nyambung dengan sinyal handphone. Alatnya dari Jepang, kerjasama dengan BPPT. Statis ditanam ke tanah. Bisa disetel, mengukur ketinggian muka air tiap 30 menit atau 1 jam, lalu disambung ke data logger. Saat dikombinasi dengan data curah hujan, maka kita bisa memberi warning. Misal, muka air di lahan gambut terlihat turun sekali, sementara 10 hari ke depan, diperkirakan tak ada curah hujan, maka otomatis rawan kebakaran hutan, sehingga areal perlu dijaga. Ini warning terkirim text ke para gubenur dan pejabat terkait, sehingga harus stand by.

Apakah pemerintah menyampaikan warning kepada pengusaha, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di lahan gambut?
Awalnya, kita kan banyak membutuhkan lahan untuk pembangunan. Hutan, tanah, mineral diberi izin pengelolaan kepada pengusaha. Lama kelamaan lahannya habis. Nah, yang tersisa tinggal gambut. Daripada nggak produktif, dan ada pengusaha yang mau, ya izin akhirnya dikeluarkan. Saat itu mungkin belum terpikirkan tentang ekosistem.
 

Bagaimana target kerja dari Presiden?
Merestorasi dua juta hektar lahan gambut selama lima tahun. Dan tahun ini sekitar 600 ribu hektar. Prioritas di Meranti (Riau), Pulang Pisau (Kalimantan Tengah), Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan).

Bagaimana strateginya agar program restorasi ini tidak berbenturan dengan kepentingan pengusaha?

Saat ini sudah banyak perusahaan besar yang sangat mengerti. Kalau mereka tidak peduli, kan mereka kuatir juga efeknya bisa kebakaran hutan. Jika kebakaran, mereka juga rugi. Pemerintah pun marah, izin penguasaan lahan bisa dicabut, dan diperdata-kan hingga miliaran. 

Bagaimana menghindari benturan politiknya?
Begini. Di Indonesia, sebanyak 6 juta hektar lahan gambut sudah dikeringkan. Misalnya, sebagian izin lahan, pengusahanya ada yang dekat dengan orang partai. Saya tetap bekerja sesuai mandat visi misi Presiden. Masalah apapun, pasti ada jalan keluarnya. Kan tinggal diajak bicara. Kalau lalai, apa mereka benar-benar siap jika dicabut izinnya. Sudahlah, daripada dicabut, kita restorasi saja. Kita sesuaikan tanamannya, tapi tetap pilih yang ada nilai ekonominya.

Gambut idealnya ditanami apa?
Sifat tanah gambut itu asam. Ada beberapa jenis pohon bisa tumbuh ideal seperti sagu, jelutung, glam, meranti dan ramin. 
 

Apakah banyak perusahaan besar yang melakukan kelalaian?

Yang dulunya melakukan kelalaian, sekarang sudah melakukan banyak perbaikan. Mereka membangun sumur bor. Sekarang disadari, ternyata lebih besar biaya memadamkan api, daripada mencegah. Saat kebakaran, misalnya, menyewa helikopter untuk pemadaman itu mahal. Padahal, kalau membuat sumur, biayanya sekitar 2,5 juta. Lalu tambah nozzel dan selang serta pompa. Total sekitar 10 jutaan. Satu pompa bisa untuk 10 sumur bor. Cerita pengalaman ya. Saat ditemukan titik api, lalu dipadamkan melalui sumur bor, hanya butuh 1,5 jam api langsung padam. Areal kebakar tak sampai sehektar. Bandingkan dengan kejadian lain. Ada spot api, petugas memanggil pemadam kebakaran. Setelah dua jam disemprot, api tak makin kecil. Sementara air habis. Lalu, membangun sumur bor, butuh waktu 3 jam. Semprot, besoknya api bisa mati. Tapi lahan yang habis mencapai 4 hektar. Jadi, kesimpulannya, tanpa sumur bor, kebakaran bisa berhari-hari. 

 

Tentang kebakaran hutan. Sejak kapan terjadi di Indonesia?

Kemungkinan sejak tahun 1980-an. Dan mulai tahun 1997, kebakaran terjadi di lahan gambut. Bencana asap dan kebakaran selama ini, sekitar 40 persennya terjadi di lahan gambut. Tapi, kebakaran di gambut itu apinya sulit mati. 

Penyebab terbesarnya apa? Disengaja?
Saya sering berdebat dengan kawan-kawan di lapangan soal ini. Katanya kebakaran terjadi akibat puntung rokok. Itu excuse yang paling mudah. Saya debat. Pernah saya ajak kawan-kawan di lapangan, ayo cari gambut yang kering. Dan nyalakan rokok, lalu buang. Saya tungguin, sampai 10 menit, gambutnya tidak terbakar. Jadi, penyebab utamanya, menurut saya, ya masyarakat atau pengusaha yang sengaja membakarnya. Mungkin ada juga karena keteledoran. Misalnya, saat kemping, api dimatikan tapi tidak tuntas. Saat gambut kering, lalu sisa api terkena angin. Tapi yang terbanyak, kebakaran gambut ya karena sengaja dibakar. Atau masyarakat yang disuruh pengusaha membakar. Membakar gambut juga dianggap mengurangi keasaman tanah. 

Apakah BRG memiliki wewenang penegakan hukum? 
Tidak. Kewenangan itu ada di Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan. Jadi, kalau ada kejadian, kami melapor ke Kemenhut, ke Dirjen Gakkum. Kewenangan terbesar saya merestorasi gambut, kordinasi ke pengusaha, Pemda dan Kementerian lain. Kami tidak dibentuk dengan banyak orang lapangan. Saya tidak punya banyak staf untuk merestorasi. Jadi, saya banyak kerja bersama dengan kementerian lain. Misalnya, dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Yang bisa kita sepakat kerjakan bersama, dan menggunakan anggaran PU. Anggaran BRG keluar untuk biaya fasilitator, para ahli. Saya memberikan arahan teknis, supervisi dan ke kampus-kampus.

Bentuk kerjasama dengan Kementerian lain, bagaimana contohnya?
Misalnya, kami hanya sanggup bangun penutup kanal yang lebarnya sekitaran 10 meter. Dengan biaya 5 jutaan, atau teknologi yang tepat guna, melibatkan masyarakat. Kalau sampai puluhan meter, dengan enjinering tingkat tinggi, itu biaya mahal sekali. Nah, Kementerian PU yang bisa membangun.

 Latar belakang Presiden adalah bidang kehutanan. Bagaimana intensitas komunikasi dengan Presiden mengenai tugas-tugas restorasi gambut?

Saya berkomunikasi dengan Presiden, melalui Pak Teten (Teten Masduki, Kepala Staf Kepresidenan). Komunikasi cukup intens dengan Pak JK (Wapres). Beliau ternyata amat memahami restorasi gambut. Sudah berdiskusi beberapa kali dengan beliau. Pak JK percaya bahwa kegiatan BRG itu tak perlu menggunakan APBN atau minimal. Karena akan banyak hibah atau investasi di bidang ini. Potensi penurunan karbon yang tinggi, dan pasar karbon besar. Seorang peneliti di Bank Dunia mengukur potensi penurunan karbon di Indonesia, dengan luas lahan gambut yang ada, itu mencapai 1 gigaton pertahun. 

Apa artinya?

Saya membaca sebuah artikel di jurnal ilmiah. Swedia memiliki lahan gambut sebanyak 1,2 juta hektar yang sudah dikeringkan. Lalu mereka membuat kajian di 400 ribu hektar. Disimpulkan, jika direstorasi dengan baik, maka bisa mengeluarkan emisi karbon sampai 12 persen kebutuhan Swedia, di luar sektor lahan. Sektor industri mereka itu tinggi.

Kalau satu negara bisa mengurangi emisi karbonnya, sesuai kewajiban ratifikasi, maka yang paling murah dan efektif adalah melalui restorasi gambut. 

Sehingga potensi 1 gigaton itu, akan jadi komoditi.

 

Untuk pencegahan kebakaran hutan, ada lembaga Masyarakat Peduli Api, bagaimana sinerginya? Dan darimana pembiayaannya?

Misalnya di Kabupaten Siak, ada programnya dengan pemberian yang base in performace. Kita pakai dana donor untuk pengganti bensin. Kan saat kemarau, mereka melakukan patroli. Lihat titik api, mereka datang, memasang pompa. Bukan honor ya, tapi mengganti bensin. Mereka mengusulkan agar kita membantu mereka di bidang pertanian, dengan budidaya tanaman. Nanti saat ada keuntungan, masuk ke kasnya MPA.

 

Apakah sudah melakukan sharing dengan sejumlah pengusaha di lahan gambut untuk mensosialisasikan program?
Kami sudah melakukan diskusi dengan asosiasi dan beberapa perusahaan. Kami punya peta lahan gambut, yang harus direstorasi. Kami bicara, dan tolong, plotkan areal mereka ke areal peta kerja kami. Kami membuka diri untuk dikoreksi, karena peta pemerintah kan sifatnya skala nasional. Mereka biasanya juga melakukan pemetaan sendiri. Dicocokan dengan data kita. Lalu kita verifikasi sama-sama.

 

Kekuatiraan terbesar pengusaha terkait restorasi gambut apa ya?
Yang mereka takutkan, tanamannya harus ditebang dan dikembalikan ke lahan gambut seperti semula. Padahal tidak seperti itu. Kami hanya minta agar menjaga muka air. Lalu, bantu masyarakat di sekitarnya. Dengan cara ini, dampaknya, titik api banyak berkurang bahkan ada yang sampai 80 persen. Sehingga, anggaran pemadaman kebakarannya utuh, atau dipakai sedikit. 

 

Saat ini, kami mau bikin pilot project, di lahan sawit, Kalimantan Barat dan Riau. Mencari berapa tinggi muka air yang ideal yang harus dijaga, supaya tidak berpengaruh ke hasil produksi. Apa benar, makin tinggi muka air, hasil sawit katanya makin buruk. Kalau pilot project ini bagus, hasilnya jadi acuan bagi pengusaha sawit.***

 

Adik Kelas Jokowi Di UGM

Sempat Bingung, Pilih Pulang 

ke Indonesia Atau Sekolah Lagi

Nazir Foead adalah adik kelas Presiden Jokowi di Universitas Gajah Mada. Jokowi masuk Fakultas Kehutanan tahun 1980, dan lulus 1985. Sedangkan Nazir masuk 1985 dan lulus 1992. Nazir kuliah Strata 1, di bidang konservasi sumber daya alam. Sejak masih kuliah, Nazir sudah aktif di WWF-Indonesia. Setelah lulus sarjana di UGM, Nazir aktif di The Netherlands Forestry Ministry, sambil menimba ilmu di University of Gottingen Jerman. Juga belajar di Durrel Institute of Conservation and Ecology di University of Kent United Kingdom sampai 1996. Tahun 1997, melanjutkan kuliah di Indiana University, USA. Dan tahun 1998 belajar di Smithsonian Institute, juga di USA. Lepas itu, dia tawari pekerjaan di Indonesia.

“Saat itu sempat bimbang, antara melanjutkan sekolah S3, atau pulang. Oleh WWF ditawari mengurus konservasi Badak Jawa. Bagi orang yang bekerja di konservasi, mengurus Badak Jawa itu termasuk pekerjaan yang prestisius,” kata Nazir. 

Dia memang pakar konservasi. Selain Badak Jawa, Nazir juga memahami tentang harimau Jawa yang sudah punah. Nazir akhirnya memilih berkarir di tanah air, sebagai Direktur Konservasi di WWF di tahun 2011. Tiga tahun kemudian, dia bergabung di Climate and Land Use Alliance (CLUA) sebagai pimpinan program Indonesia. Sampai akhirnya pada Januari 2016, ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Kepala Badan Restorasi Gambut Indonesia.

 
Artikel ini sudah dimuat di 
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Kamis, 20 Oktober 2016

Foto-foto Rakyat Merdeka
By WahyuDwiNugroho

 

Minggu, 21 Agustus 2016

Pernak-pernik Pasca Reshuffle (2) Keluar Dari Sangkar Kabinet, Hinggap Dimana Rajawali Ngepret...


            Kawan saya, pimpinan media online yang juga seorang pembantu rektor di sebuah universitas swasta, mengupload foto menarik di facebooknya, persis di hari pengumuman reshuffle kabinet. Menu sarapan di kediaman Rizal Ramli, pada 27 Juli lalu. Dia upload fotonya, pukul 11.45siang, dengan caption: “Tadi sarapan di kediaman Rizal Ramli,” tulisnya. Ada tempe goreng, telur dadar, tumis sayuran dan sejenis ikan berbumbu, mendampingi semangkuk nasi. Sederhana tapi cukup menggugah selera. Hanya ada tiga piring di meja itu. Sebuah tanda, peserta makan jumlahnya amat terbatas, dan hanya orang tertentu saja. Kawan saya ini, salah satunya.
            Awal pekan kemarin, saya kebetulan bertemu dengannya. Maka, rasa penasaran saya terpuaskan. “Apakah masih enak, rasa sarapan yang diiringi pergantian jabatan?” tanya saya. Maka mengalirlah cerita menarik seputar detik-detik jelang pencopotan Rizal Ramli. Tak jauh berbeda dengan yang dialami Anies Baswedan atau Ignasius Jonan. Rizal dipanggil Presiden Jokowi, dan diterima di ruang kerja Istana. Tak sampai 10 menit. 
            “Paling lama tujuh menit,” katanya. Saat itu, Rizal sama sekali tidak menduga bakal diganti. Sehingga, ketika diberitahu dia dicopot, reaksinya amat kaget. “Presiden mengatakan, saat ini pemerintah menghadapi banyak masalah pelik, dan seterusnya. Lalu, Presiden menyebut banyak yang ingin terlibat di pemerintahan, sehingga perlu diakomodir, dan seterusnya, dan seterusnya,” ucapnya. Kawan saya ini berusaha keras mengingat, tak yakin betul, apa persisnya kalimat Presiden, seperti dituturkan Rizal Ramli kepadanya. Lalu, ada lanjutan, ucapan terimakasih atas bantuan Rizal selama menjadi menteri. Seterusnya, Presiden menyampaikan pesan bahwa dia diganti, esok hari. 
            Di ruang facebook kawan saya, bertebaran komentar menarik. Bukan tentang menu sarapan Rizal Ramli pagi itu, tapi tentang pencopotannya. “Perjuangan menolak reklamasi kian berat.” Atau “Pak Rizal bukan kalah, tapi pahlawan bagi kesewenang-wenangan,” komentar lain.
            Bagi Rizal, keluar masuk kabinet sebetulnya tidak istimewa. Dia pernah dua kali jadi menteri di era Presiden Gus Dur. Menteri Keuangan lalu Menko Perekonomian. Saat itu, kondisi fisik Rizal sedang bagus-bagusnya. Agak beda dengan suasana sekarang. Ketika diajak Jokowi masuk kabinet, Agustus 2015, usia Rizal sudah 60 tahun. Performanya sebagai Menko Kemaritiman dianggap sebagian orang cukup bagus, tapi ocehannya sering bikin kuping kementerian atau institusi lain panas. Bahkan, dia tidak ragu melakukan serangan politik kepada Wapres JK. Tentang jurusnya itu, Rizal menyebut dirinya sedang berperan sebagai Rajawali Ngepret.
            Banyak yang sepakat dengan penilaian Prof Syamsuddin Haris, tentang kinerja Rizal Ramli. Pakar dari LIPI itu menyebut, ocehan Rizal bisa membebani Jokowi, dan membuat gaduh kabinet. “Menteri direkrut presiden untuk bekerja, bukan untuk ngomong terus seperti anggota DPR,” katanya, Januari lalu. Waktu itu sedang seru-serunya polemik terkait Menteri BUMN Rini Soemarno. Menyangkut pembelian pesawat Garuda dengan utang China, kasus Freeport sampai Pelindo. 
            Selain soal ini, Rizal juga didera isu kesehatan. Ada menteri yang mengabari saya, Rizal beberapa kali tertidur di tengah sidang kabinet. Mungkin karena kelelahan. Tapi bisa  juga karena sakit. “Soal itu saya tidak tahu. Tapi yang jelas, berat badannya turun amat drastis selama dia jadi menteri,” kata kawan saya itu. Dia menggambarkan kurusnya. Kalau pakai celana pendek, pahanya terlihat kecil sekali. “Saya sampai tidak tega melihat,” ujarnya. 
            Saya jadi ingat pertemuan Rizal Ramli dengan Forum Pemimpin Redaksi, di kediaman dinas, Oktober tahun lalu. Bahasan diskusi ketika itu cukup seru. Soal kontrak karya Freeport. Dia sebenarnya cukup bersemangat. Tapi, aura kelelahan tak bisa disembunyikan. Saat itu Rizal tampak kuyu, rambutnya kusut. Padahal, baru dua bulan duduk di kabinet. 
            Mengapa bisa begitu? “Masalah yang dia hadapi di dalam pemerintahan, ternyata jauh lebih besar dari yang dia perkirakan. Itulah yang menyebabkan Rizal begitu all out bekerja, sampai lupa pada kesehatan dirinya,” kata kawan saya itu.
Hanya setahun di kabinet, tapi jurus ngepretnya, terlontar kemana-mana. Yang terakhir, tentang Reklamasi. Dia mengatai Ahok, Gubernur DKI, sebagai karyawan pengembang, karena dianggap terlalu ngotot mempertahankan pembangunan reklamasi Pulau G di utara Jakarta. Sungguh sebuah julukan yang amat pedas dari Rizal untuk Ahok. Bisa jadi, gara-gara serangan ini, lalu ada yang mengusulkan agar Rajawali, ngepret saja di Ibukota. Langsung berhadapan dengan Ahok, di pertarungan Gubernur DKI. Tentu ini belum ditanggapi serius oleh Rizal Ramli. Tapi sebagai keisengan politik, tetaplah menarik perhatian publik. 
Kini, Rizal jadi orang bebas. Rajawali sudah keluar dari sangkar kabinet. Ketika serahterima jabatan, Rizal mengutip puisinya Rendra. “Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa,” ucapnya. 
Rizal adalah orang pergerakan. Sehingga berjuang di luar pemerintahan, bukanlah hal baru untuk dia. Tak akan patah sayap Rajawali, meskipun dia terbang dan hinggap sesuka hatinya. Rajawali yang terbang mengangkasa sendiri, kini lebih leluasa memainkan jurus. Di luar sangkar, dari langit yang tinggi, kepretannya bisa makin lepas kemana-mana. || Ratna Susilowati ||
 
 Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka

Pernak-pernik Pasca Reshuffle (1) Tersisihnya Pejuang Nawacita dari Kabinet


Kawan saya, seorang pemimpin redaksi majalah nasional berkomentar pendek, tentang reshuffle kabinet kedua. “Pak Jonan diganti, itu tidak masuk di akal saya. Sama sekali nggak masuk akal. Kalau yang lain sih, agak dipahami,” katanya, tepok jidat. Berulang-ulang dia ngomong begitu sambil geleng-geleng kepala. Malam itu, sekitar tiga jam setelah pelantikan kabinet baru di Istana, sejumlah pemimpin redaksi media massa, halal bihalal di Wisma Penta, Jakarta. Acara ini sudah lama diagendakan. Tapi, kok ya kebetulan, samaan dengan hari pengumuman reshuffle. 
            Sejumlah menteri datang. Saya lihat ada Rini Soemarno. Menteri BUMN istimewa. Disebut begitu, karena tak ada yang ragu kedekatannya dengan Presiden. Bahkan, ada media asing yang menyebutnya sebagai RI 1 ½. Sebutan yang menunjukkan kekuatan posisinya diatas RI-2 (baca: Wapres). “Selamat ya, Bu,” ucap saya. Rini tertawa. “Kok banyak orang malah selamatin saya ya,” katanya, renyah. 
Tapi yang menarik perhatian malam itu, kedatangan Puan Maharani. Orang-orang seperti ingin “membaca” apa sikap Megawati terhadap reshuffle kabinet melalui air mukanya. Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan yang juga putri kesayangan Mega sempat disodori mic dan bicara 10 menitan. Saya perhatikan, sekitar dua menit setelah Puan mengakhiri sambutan, Rini pergi.
            Presiden melantik kabinet baru, Rabu 27 Juli, sekitar pukul 14.00 WIB. Megawati tidak hadir. Kemana? Tak banyak yang tahu, di jam bersamaan, Mega sedang ngobrol dengan Ignasius Jonan. Salah satu menteri yang dicopot Presiden. Jonan ke Teuku Umar untuk pamitan dan mengucapkan terimakasih atas dukungan kepadanya selama ini. 
            Jonan lahir 21 Juni 1963, di bulan kelahiran Bung Karno. Tanggalnya, bahkan sama dengan Presiden Jokowi. Tapi, orang tidak mengenal Jonan sebagai pencinta Bung Karno. Orang juga tak pernah mendengar Jonan teriak-teriak memuji Bung Karno. Tapi, sebetulnya, Jonan memahami jalur politik dan jalan pikiran Bung Karno. Dia paham benar Nawacita, slogan yang sering digembar-gemborkan Jokowi saat kampanye pilpres. Di kursi Menhub, mantan Dirut KAI itu mendahulukan pembangunan kawasan terpencil, pedalaman, hingga ujung timur Indonesia. Garis merah programnya jelas: Merangkai, Menyatukan Indonesia. Sejumlah wilayah, pulau terluar diperbaiki pelabuhan dan bandaranya. Hingga di Sorong, Wamena dan Merauke, kini ada pelabuhan dan bandara megah. Di sisi lain, Jonan terlihat kurang sreg dengan rencana pembangunan kereta cepat. Proyek prestigious luxury, yang dianggap banyak orang tak sejalan dengan cita-cita Nawacita. Jonan tak datang saat groundbreaking KA Cepat, dan dia terima risiko, dicap melawan Presiden. 
            Sehari setelah reshuffle, saya bertemu Ignasius Jonan. Hari itu, dia mengenakan batik dengan tampilan formal. “Rapi benar, Pak. Masih ada acara resmi?” canda saya. Jonan cuma senyum. Informasi dari Hadi Djuraid, orang dekatnya, saat itu Jonan baru bertemu Yasuo Fukuda, mantan perdana menteri Jepang. Pertemuan itu, sebenarnya sudah lama diagendakan. Fukuda, sebagai Presiden Asosiasi Jepang-Indonesia, datang ke Indonesia bersama sejumlah pengusaha, antara lain Mitsubishi Corp, untuk menjajaki kerjasama bisnis. Mereka tak menyangka angin politik berubah begitu cepat. 
“Atas nama pribadi, pemerintah dan rakyat Jepang, saya terkejut dan tak menyangka mendengar Anda di-reshuffle dari kabinet,” katanya kepada Jonan, seperti diceritakan Hadi Djuraid. Selama di Indonesia, Fukuda juga menjadi tamu Jokowi. Saat 27 Juli lalu, dua jam sebelum pengumuman reshuffle kabinet, Fukuda diterima Presiden di Istana.
            Bertemu siang itu, Jonan terlihat santai saja. Kami minum teh di sebuah sudut kedai kopi kawasan Thamrin. Humornya tak habis-habis. Kami ngakak-ngakak menanggapi celetukannya yang lucu. Dia seperti biasanya, ngomong apa adanya. Terus terang.
“Saya dipanggil Presiden, sekitar lima menit. Presiden mengucapkan terimakasih, lalu memberitahu kalau besok saya diganti,” ucapnya, saat saya tanya menit-menit jelang pencopotan. Jonan pun meresponnya dengan mengucapkan terimakasih kepada Presiden karena telah dipercaya ikut mengabdi untuk bangsa dan negara di kabinet. Saat pamitan, Presiden mengantar dia sampai ke depan pintu. 
            Rencana berikutnya apa? Tanya saya. Jonan merespons, “Selama 8 tahun terakhir, saya tidak pernah cuti. Dan nyaris tak memperhatikan anak-anak saya. Saya belum pernah....” Jonan tak meneruskan kalimat. Suaranya tercekat, lalu terdiam. Dia tertunduk. Matanya agak basah. Saya yang duduk di sampingnya, tertegun. Tak menyangka, orang sekeras dan setegas Jonan, bisa menangis saat bicara tentang anak. 
Jonan tidak menangisi pencopotannya. Tapi, pertanyaan saya itu rupanya seperti alarm, ini waktunya Jonan untuk keluarga. Sudah sangat lama, dia tidak berkumpul atau liburan, bersama istri dan kedua putrinya. Jonan memang dikenal workaholic. Terbiasa bekerja dan terima tamu sampai jelang pagi.
Di ruang media sosial, penggantian Jonan dianggap mengejutkan. Apalagi, sehari sebelum reshuffle kabinet, portal online memberitakan hanya enam menteri yang dipanggil Jokowi ke Istana. Dan tak ada nama Ignasius Jonan. Jokowi sepertinya menyediakan jalur pintu khusus untuk Jonan, sampai-sampai kedatangannya, tak terendus wartawan. 
Mengapa Jonan dicopot? Muncul banyak sekali opini. Dari yang sederhana, sampai kontroversial. Dari insiden gojek, kereta cepat, sampai tragedi tol Brexit. Dari dugaan transaksi politik, hingga kepentingan pilpres 2019.
Di Facebook Ignasius Jonan, foto-fotonya saat berpelukan dengan Budi Karya Sumadi, Menhub baru, mendapat lima ribuan komentar. Dan statusnya saat pamitan dikomentari 12 ribuan. “Dia menteri yang berani berbeda, walau dengan Presiden sekalipun, karena dia memegang teguh regulasi. Bukan pada arahan kebijakan sesaat atau tekanan politik,” kata Fary Francis, anggota Komisi 5 DPR RI. Di Facebook, Fary menyebut Jonan, konsisten, punya prinsip, tegas, bertindak cepat, bersih, profesional dan memahami bidang tugasnya secara baik. Kemitraan di Komisi V terjalin baik karena Jonan dianggap bersahabat, saling mengingatkan bila lupa dan menegur saat keliru.
Bukan cuma Dewan. Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, di depan Forum Pemimpin Redaksi, dua bulan lalu, menyebut Jonan salah satu menteri terbaik. Berhasil melakukan efisiensi. “Bandara yang dibangun bagus-bagus dengan biaya cukup murah,” kata Agus Marto.
            Juga Bambang Brodjonegoro. Diwawancarai Rakyat Merdeka saat masih di pos Menkeu, Bambang menyebut, kerja Kementerian Perhubungan di tangan Jonan bagus, dan termasuk paling agresif menaikkan PNBP atau Pendapatan Negara Bukan Pajak. 
Soal etos kerja, tak banyak yang meragukan Jonan. Tapi, bagi sebagian orang, mungkin pribadinya bikin tak tahan. Dia unik. Ceplas ceplosnya pedas, khas Suroboyoan. Bicaranya berani, lantang dan apa adanya. Argumennya seringkali benar. Tapi dalam politik, kadang kebenaran perlu diucapkan tanpa terang-terangan.
Kini, palu keputusan politik telah dijatuhkan. Bagi Jonan, lepas dari kabinet bukanlah sesuatu yang merisaukan. Saya pernah mendengar dia menjawab pertanyaan, tentang mengapa dia mau jadi menteri, padahal gajinya sebagai bankir internasional tentu berkali-kali lipat lebih tinggi. 
“Kerja jadi menteri pasti nombok, kan Pak?” tanya seorang wartawan.
Jonan tertawa, lalu bilang, “Bukan nombok, tapi menguras....” 
Lalu, apa yang anda cari dengan jabatan menteri? Jonan diam agak lama. Dia kemudian bilang, “Misalkan Tuhan memberi kita usia 75 tahun. Maka, 25 tahun pertama, hidup kita lebih banyak menerima. Dan 25 tahun berikutnya, hidup haruslah berimbang, menerima dan memberi. Nah, saya sudah di 25 tahun ketiga. Maka, harus lebih banyak memberi daripada menerima,” kata Jonan, yang dua bulan lalu baru berulang tahun ke-53. 
Ya inilah akhirnya. Dalam politik, kerja keras dan kerja cerdas saja rupanya tak cukup. Jonan disisihkan dari kabinet, saat perjalanan membangun Nawacita Perhubungan, baru ditempuh sepertiganya. Hak Jokowi mencopot menteri yang bicara apa adanya. Tapi jangan sampai yang dipertahankan adalah menteri-menteri yang “ada apanya”. || Ratna Susilowati ||

Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka dan di-share di FB Ignasius Jonan
 

Kamis, 07 Juli 2016

Nebeng Menteri Ikut Pantau Arus Mudik Lebaran: Tak Ada Lagi, Penumpang Nginap Di Emper Pelabuhan



Makin dekat lebaran, intensitas kerja Menteri Perhubungan Ignasius Jonan makin padat. Tiada hari libur. Aturan dilarang cuti untuk semua pegawai Kemenhub, juga berlaku untuk dirinya. Hampir setiap hari Jonan berada di lapangan. 

Akhir pekan kemarin, Jonan mengecek Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, lalu berlanjut ke Makasar. Agenda kerjanya berkejaran dengan waktu, dan lokasi yang dituju cukup terpencil. Karenanya, Jonan menggunakan pesawat kapasitas 7-8 orang jenis Hawker 900XP milik Kementerian Perhubungan. Wartawan Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati, ikut dalam rombongan. 

Berangkat dari Halim Perdanakusumah Jakarta. Di samping kiri Menteri, duduk Bambang Tjahjono (Dirut AirNav Indonesia), di depannya ada Yudhi Sari Sitompul (Direktur Bandara) dan Atok Urrahman (Staf Khusus Menteri). Sedangkan Adolf R Tambunan (Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut), duduk persis di belakang Jonan. Pejabat Humas Sindu Rahayu dan Ajudan Lettu Marinir Andik Kristiawan, di deretan lain. 

Perjalanan agak terlambat karena saat mau berangkat, ban pesawat gembos. Butuh sejam perbaikan, tapi akhirnya semua lancar. Sampai di Pangkalan Bun, matahari mulai redup. Langsung bergerak ke Pelabuhan Kumai, sekitar 15 menit jalur darat. Jalanan ternyata amat mulus, meski ini tergolong kawasan marjinal. Di Pelabuhan, Jonan memuji. Bersih dan tertib. Ruang tunggu juga rapi.

Dia bercerita. Dulu, kondisinya nggak karu-karuan. Ribuan penumpang yang tinggal di pedalaman, menyerbu pelabuhan jelang Lebaran, cari tiket. “Misal, ada yang dapat tiket, jadwal kapalnya minggu depan, masa mau pulang lagi? Mereka susah payah sampai Pelabuhan, dan untuk menunggu keberangkatan, akhirnya nginap berhari-hari di emperan terminal, toko,” kata Jonan. Petugas pelabuhan menimpali, “Benar Pak. Dulu kerja aparat keamanan di sini berminggu-minggu karena kuatir rusuh dan sering ada keributan.”

Kini, sistem pembelian tiket online. “Jadi, mereka datang, sesuai jadwal keberangkatan,” kata Jonan lagi. Di Pelabuhan Kumai, penumpang tujuan Jawa, mencapai 33 ribu orang sepanjang liburan Lebaran. Jonan sempat dialog dengan Syahbandarnya, Junaidi. “Tiket untuk penumpang nggak dijual melebihi batas kan?” tanyanya. Junaidi menjawab tegas. “Tidak Pak.”

Junaidi lalu melapor ke Menteri Jonan, per 1 Juli akan mengakhiri tugas. Menteri pun memberinya hadiah. Yaitu foto khusus berdua. Wah, Junaidi sangat senang. Seumur-umur bekerja, berpuluh-puluh tahun jadi pegawai Kemenhub, baru kali itu, tepat sehari sebelum mengakhiri tugas, dia bisa berfoto dengan Menteri Perhubungan. 

Beranjak ke Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Jonan menyisir areal terminal kedatangan dan keberangkatan. Tidak luas, tapi cukup bersih. Kursi-kursi di ruang tunggu dan counter check in, tertata baik. Sebelum pamitan, dia sempat menyantap sop singkong, menemani rombongan yang berbuka puasa. Setelahnya, Jonan pun terbang menuju Makasar. 

Dua jam di udara, Jonan sempat ngobrol. Saya duduk di deretan belakang, bersama ajudan. “Saat kecelakaan Air Asia, kita datang (ke Pangkalan Bun), sampai 3-4 kali ya,” papar Jonan. Lokasi jatuhnya Air Asia, pada Desember 2015, adalah di perairan Selat Karimata, sekitar 200 km dari Pangkalan Bun. 

Di atas pesawat, Jonan minta buku kecil, lalu menulis sendiri pengaturan jadwal kegiatannya, termasuk siapa saja pejabat yang harus ikut, disertai berbagai catatan. Kebiasaan Jonan memang seperti itu, nanti protokol menyesuaikan. Jadwal final lalu di-share di grup khusus personil Kemenhub, yaitu petugas yang terkait kegiatan Menteri.

Jonan termasuk menteri yang melek teknologi. Di telinganya, nyaris selalu menempel bluetooth headset, sehingga bisa menerima dan menelpon dengan cepat saat dibutuhkan. Dia juga aktif merespon dan men-share laporan via Whatsapp. Mungkin sekaligus mengecek anak buah. “Kadang, saya terima pesan dari Bapak jam tiga dini hari,” kata Ajudan, Andik Kristiawan. Prajurit Marinir ini, perawakannya tegap dan selalu sigap. 

Selama arus mudik ini, handphone Jonan tak pernah sepi dari informasi lapangan. Bahkan, sampai lewat tengah malam, masih bunyi. “Saya baca laporan,” katanya, saat saya tanya, keesokan harinya, mengapa sering tidur amat larut. Jonan lalu memperlihatkan deretan pesan di handphonenya. Ada laporan kondisi terminal di wilayah Jawa Barat, ada juga kondisi rel menggantung akibat banjir di Pasuruan. “Rel tak bisa dilewati. Jalur Jember-Banyuwangi, terputus. Mungkin cuma semut yang bisa lewat,” candanya. Apa laporan yang paling jadi atensi? Jonan bilang jalur darat, dan jalan raya. “Karena potensi kecelakaannya besar,” kata dia.

Di Makassar, Jonan mengunjungi posko mudik di Bandara Sultan Hasanuddin. Dia bilang, penerangan bandara sebaiknya ditambah. “Saya jarang mendarat di sini malam. Kalau (penerangan seperti ini), coba anda baca koran. Fotonya kelihatan, tapi mungkin tulisannya tidak kelihatan,” katanya. Dirut Angkasa Pura 1 Sulityo Wimbo yang mendengarkan Jonan, terlihat manggut-manggut.

Dari bandara, Jonan mengunjungi menara Air Traffic Control. Kondisi ATC-nya lebih bersih dan lebih bagus dari ATC Soekarno-Hatta, Jakarta. Salah satu petugasnya, Angel, sedang hamil empat bulan, tampak senang sekali bisa bertemu dan salaman dengan Jonan. Angel ingin anaknya diberi nama. Menteri  pun menulis di secarik kertas; Gabriel. “Wah berarti nama anak saya nanti, Gabriel Siburian,” teriak Angel, kegirangan. Jonan bilang, tiap kali melihat wanita hamil, dia terharu. “Hamil itu satu-satunya pekerjaan yang tidak bisa dilakukan lelaki. Karenanya, itu adalah tugas paling mulia,” katanya.


Dari tower, Jonan turun ke lantai bawah, menuju ruangan serupa di film Star Trek. Tempat pemandu lalu lintas udara. Semua pergerakan pesawat dipantau dan diikuti hingga keluar wilayah udara Indonesia. Jika ada informasi traffic, petugas bisa langsung komunikasi dengan pilot pesawat yang dituju. Ada sekitar 10 petugas memelototi monitor yang bergambar titik-titik kecil. Tiap titik berarti satu pesawat. “Satu orang maksimal memantau 12 pergerakan pesawat,” kata seorang petugas. Dan tiap dua jam, diberi istirahat, agar tidak kelelahan. 

Fungsi pemantauan ini, kalau di darat, mungkin mirip tugas polisi lalu lintas. Di Kepolisian ada TMC (Traffic Management Center) Polda Metro Jaya, yang terkenal itu. Atau kalau di laut, namanya VTS (Vessel Traffic Service). 

Menurut Jonan, navigasi adalah kegiatan yang seringkali dilupakan. “Padahal, ini adalah pekerjaan yang banyak, investasinya besar, dan mendidik personilnya pun susah. Tapi, sayang, kurang mendapat perhatian,” katanya. Jonan mengatakan itu, saat meresmikan VTS Distrik 1 di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makasar, keesokan harinya.

Kemenhub saat ini serius membenahi navigasi, karena menyangkut aspek keselamatan. Semua distrik navigasi harus dimodernisasi. Tantangan terbesarnya, bukanlah mensosialisasikan kepada user. “Tapi, para pimpinan direktorat masih banyak yang gaptek,” ujar Jonan, spontan. Gaptek adalah istilah gaul, singkatan dari gagap teknologi. “Jadi, tolonglah, jangan gaptek. Saya ini generasi yang saat skripsinya masih pakai mesin ketik. Tapi, saya tidak gaptek. Setidaknya, semangat saya, tidak gaptek,” kata Jonan, disambut tawa hadirin. 

Jonan tegas. Soal navigasi terkait keselamatan, tidak boleh ditawar. Itu dia ucapkan lagi saat berkunjung ke terminal penumpang Pelabuhan Soekarno-Hatta Makasar. Beberapa pekan lalu ada insiden penjualan 900-an tiket palsu di sana. Kalau dipaksakan berlayar, kapal kelebihan penumpang, dan berpotensi tenggelam. “Tiket palsu itu pidana. Dan kalau ini sering terjadi, Manajemen Pelni diganti aja,” kata Jonan.

Di Pelabuhan penumpang, hari itu tidak ada kapal yang sandar. Tapi Menteri cukup senang melihat penataan terminal yang bersih dan terang. Juga tersedia garbarata menuju pintu masuk kapal. Bukan hanya bisa maju mundur, tapi garbaratanya bisa dinaikkan dan diturunkan, menyesuaikan ketinggian kapal. Menurut Jonan, salah satu tolok ukur kesejahteraan masyarakat dilihat dari ketertiban transportasinya. “Di negara manapun, kalau mau naik ke kelas menengah, tak ada yang transportasinya tidak tertib,” tambahnya. 

Kembali ke Jakarta, Jonan sempat tertidur di pesawat. Jadwal yang padat, wajarlah dia beristirahat. Saya bisikin Ajudan. “Tu, Pak Menteri tidur. Ajudan boleh tidur sedikit.” Lettu Andik senyum-senyum saja. Tak lama, kepalanya mulai tertunduk. Hebatnya, dia tidur ala marinir. Badan dan bahunya tetap tegak, meskipun matanya tertutup. Tapi cuma lima menit, dia sudah terjaga lagi. Semua personil di Kementerian Perhubungan memang harus selalu siaga. Boro-boro mikirin pulang kampung, beli baju baru pun belum tentu sempat. 

Ada meme yang dikirim diantara mereka. Lucu. Gambar Menteri Jonan, gelantungan di gerbong kereta api, dengan baju dinas Kemenhub. Lalu ada tulisan: “Lebaran nggak usah beli baju baru, karena yang kalian pakai baju dinas.” 

Ya, itulah pilihan hidup. Mereka sering diingatkan Jonan. “Kita harus percaya bahwa insan transportasi juga patriot.” ***

Artikel ini sudah dimuat di Harian RakyatMerdeka, edisi Senin 4 Juli 2016