Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

Pro Kontra Kereta Super-Cepat “Saya Tidak Menentang Tapi Jangan Paksa Saya Keluarkan Anggaran”


Sebulan terakhir ini, ada pro kontra soal pembangunan kereta super-cepat atau highspeed train. Menteri BUMN Rini Soemarno kelihatannya antusias dengan proyek ini. Kabarnya investor Jepang dan China tertarik menggarap proyek tersebut. Bagaimana pandangan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan? Berikut wawancaranya dengan Rakyat Merdeka.

            Menurut Anda, apakah Indonesia saat ini membutuhkan kereta super-cepat? Saya tidak menentang proyek ini sama sekali. Sangat mendukung kalau ada investor yang mau membangunnya. Rute Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Bandung. Silakan. Tapi dengan satu syarat, pemerintah tidak memaksa saya mengeluarkan anggaran dari Kementerian Perhubungan.
            Mengapa? Kemenhub punya call centre di 151. Banyak yang tanya, kenapa kereta dibangun lagi di Jawa, di Ambon saja jalanan masih banyak yang hancur. Dan di Papua infrastruktur transportasi masih buruk. Mereka khawatir, apakah pemerintah hendak memperbesar ketimpangan? Jadi, Saya mohon tidak pakai APBN. Saudara-saudara kita di perbatasan dan pedalaman, infrasturkturnya masih jauh ketinggalan. Saya ingat pesan Presiden. Bahwa pembangunan hendaknya harus dimulai dari wilayah terluar, terpencil, perbatasan, atau wilayah rawan bencana. Kami di Kementerian menerapkan itu untuk tujuan pemerataan pembangunan. Mungkin kalau Menteri BUMN tugasnya memodernisasi infrastruktur dan komersial.
            Sudah pernah diajak bicara rencana ini baik oleh Presiden atau Menteri BUMN? Di rapat kabinet belum ada. Menteri BUMN juga belum pernah bincang secara resmi. Presiden kalaupun mendukung program ini mungkin karena yang membangun swasta.
            Berapa biaya membangun kereta super-cepat? Kira-kira all in cost 15-20 juta USD per kilometer. Jakarta-Surabaya sekitar 800 kilometer. Kalau keretanya jadi dibangun, harga tiketnya kemungkinan lebih mahal dari pesawat terbang.
            Jadi, kereta super-cepat ini bukan angkutan rakyat ya. Di dunia ini, hanya ada satu negara, yang pendapatan GDP-nya di bawah 10 ribu USD tapi punya kereta super-cepat, yaitu China. Mereka membangun itu untuk propaganda besar-besaran memodernisasi negara. Sisanya, di Jepang, Perancis, Jerman, Spanyol dan Korea. Dipakai untuk angkutan rakyat, tapi rakyat yang penghasilan GDP-nya 40 ribu USD. GDP kita sekarang kisaran 4 ribu USD. Amerika saja tidak punya kereta super-cepat. Itu luxury. Di Jepang dan China tidak semua orang bisa naik kereta itu. ***

Wawancara ini dimuat 
Rakyat Merdeka, 
edisi Senin 27 April 2015

Kamis, 16 April 2015

Menteri Perindustrian Saleh Husin: Yang Penting Kerja, Nggak Mikirin Reshuffle


            Saleh Husin mungkin termasuk menteri yang tahan banting dan tabah. Tak pernah marah kepada orang yang sinis dan kerap mengkritiknya. Dianggap tak mampu atau kurang pengalaman mengurus industri, Saleh senyum saja.   
            “Kritik itu bagus dan menjadi pemicu saya agar bekerja lebih baik dan lebih keras lagi,” katanya, saat diwawancarai Tim Rakyat Merdeka, yaitu Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Sarif Hidayat, Rabu malam. Malah, kini Saleh Husin berteman baik dengan para pengkritiknya. “Saya dekati, lalu kita berkawan. Dan kini, yang mengkritik sering ketemu dan ngobrol akrab dengan saya,” tambah Saleh Husin, sambil senyum.
            Menteri asal Rote, Nusatenggara Timur itu pun tak peduli dengan isu-isu reshuffle kabinet. “Nggak memikirkan soal itu. Yang penting saya bekerja,” ujarnya. Jabatan atau amanah, dia percayai sebagai bagian dari garis tangan. “Saya dulu jualan kue, mana pernah berpikir bisa sampai ke sini (jadi menteri). Jadi, mau dicopot ya tidak memikirkan,” katanya.
            Sebagai menteri asal parpol, bagaimana mengatur hubungan kerja dengan dua bos, yaitu bos Anda di partai dan bos di pemerintahan (Presiden). Sejak saya dilantik jadi menteri, Presiden meminta agar kita menanggalkan jabatan di partai. Pak Wiranto (Ketum Hanura) juga menugaskan saya bekerja total di kementerian.
            Apakah ada kawan-kawan parpol yang coba-coba main-main dengan Anda? Saya tetap menjagahubungan dengan kawan-kawan di parpol. Jangan sampai setelah jadi menteri, mereka sulit bertemu saya. Saya sering tekankan, ini kementerian yang urusannya kerja. Kalau mereka datang untuk bicara bagaimana industri maju, ya ayo. Tapi kalau ada yang coba-coba ganggu, ngga akan saya ladeni. Marah? Ya ngga apa-apa. Sebab kalau kerjaan saya diganggu, lalu performa jelek, nanti partai saya juga yang malu.
            Saleh Husin juga banyak bicara tentang program-program prioritasnya di Kabinet. ***


Saleh Husin
Kerja 7-11, Sering Lupa Kalau Sudah Jadi Menteri
            Membangun industri tidak bisa seperti sulap, tapi butuh waktu bertahun-tahun. Menurut Menteri Perindustrian Saleh Husin, setidaknya 2-3 tahun, pembangunan industri baru bisa kelihatan. “Target saya, investasi ke Indonesia bisa masuk sebanyak mungkin,” katanya saat diwawacara oleh Tim Rakyat Merdeka, Rabu malam.
            Begitu masuk ke Kementerian Perindustrian, bagaimana resepnya agar langsung tune in dengan dunia birokrasi? Alhamdulillah, tidak ada kesulitan. Saya bisa langsung bergaul dengan mereka. Suasana cair karena saya terbiasa berteman. Jadi tidak ada jarak. Kadang saking cairnya, sering lupa kalau saya ini menteri. Kawan saya sering ingatkan, Eh kamu sudah jadi menteri. (Saleh Husin masuk kerja mulai pukul 7 pagi, dan biasa pulang ke rumahnya sekitar pukul 23 malam. Dia menyebutnya seven-eleven). Saya terbiasa kerja keras dan selalu ada keinginan untuk mempelajari hal baru.
            Program quick win anda apa? Utamanya kawasan industri dan hilirisasi. Terutama tambang. Prinsipnya, sesuai UU harus diolah dulu, sebelum diekspor supaya ada nilai tambah. Ini hasilnya mulai kelihatan. Tidak lama lagi, akan diresmikan smelter di Morowali, untuk pengolahan bijih nikel. Investasi total sekitar 4,2 miliar USD.
            Buruh-buruh di Indonesia dikenal banyak menuntut. Bagaimana me-manaj hal ini agar tuntutan buruh terpenuhi, tapi industri juga tetap lancar dan investor nyaman berinvestasi. Upah buruh memang salah satu masalah yang sering mengemuka. Di sejumlah wilayah, misalnya ada kepala daerah yang memutuskan menaikkan UMR hanya demi popularitas, terkait pilkada. Tanpa melihat akibatnya pada dunia industri. Mengantisipasi tuntutan seperti ini, telah dibahas di pemerintah agar UMR ditetapkan lima tahunan, tapi kenaikannya dibuat berkala setiap tahun. Bagi buruh, ini memberikan kepastian kenaikan UMR. Bagi pengusaha juga memberikan kepastian untuk membuat rancangan anggaran yang pasti. Sudah dibicarakan di Rapat Kabinet, sedang dibuat aturan dengan Kemenaker dan beberapa kali, ada pertemuan dengan perwakilan asosiasi buruh. Semoga, dengan program itu, UMR prosesnya menjadi lebih baik.
            Bagaimana dengan industri automotif. Apakah pemerintah saat ini mendorong program mobil listrik, motor listrik atau angkutan umum listrik, untuk mendorong penggunaan energi alternatif. Apa benar ada hambatan dari sejumlah pengusaha automotif? Saat ini ada investor dari China yang mau masuk untuk memproduksi mobil listrik. Saya lagi coba mobil listrik, bajaj listrik dan motor listrik. Rencananya, investor akan membangun di Cirebon. Sekarang baru tahap pembebasan lahan. Kita akan mendorong investor buat pabrik, jangan hanya meramaikan atau mendorong program bikin 1-2 buah saja, sebab Indonesia harus jadi pasar potensial. Kalau rencana ini dihalangi, investor bisa saja lari ke negara lain, lalu Indonesia akhirnya hanya jadi pasar mereka. Rugi kita. Apalagi pasar bebas ASEAN segera dibuka Desember ini.
            Bagaimana kesiapan industri kita menghadapi pasar bebas ASEAN. Tidak ada masalah. Lalu lintas perdagangan barang antar negara, sebenarnya sudah lama berjalan. Pengaruh negatif pasar bebas ASEAN mungkin ada, tapi kecil. Concern saya yang utama, pasar ASEAN yang jumlahnya sekitar 600-an juta ini, 240 jutanya penduduk Indonesia dan 70 juta diantaranya kelas menengah. Ini artinya, 45 persen pasar ASEAN ada di Indonesia. Ini harus dikuasai dulu. Ngapain bicara ekspor, kalau kemampuan serapnya sedikit. Ekspor otomotif kita, misalnya, baru 200 ribu. Bandingkan dengan Thailand. Produksi otomotif Thailand mencapai 2,5 juta dan 50 persennya diekspor. Padahal jumlah penduduk Thailand hanya 67 juta.
            Mengapa pembangunan industri smelter terasa ribut ya. Pembangunan smelter nikel di Morowali lancar. Pembangunan smelter bauksit di Kalimantan Barat juga ngga ribut. Yang Freeport, ya mudah-mudahan. Mungkin ribut karena ada kaitan politik. Soal itu tanyakan pada Menteri ESDM saja.
            Bagaimana stretagi untuk membuat Industri terus tumbuh. Saat ini, investasi naik terus. Paling besar investor dari Singapura, Jepang dan China. Kalau industri mau tumbuh, harusnya memang ada subsidi energi ke industri seperti di negara-negara lain. Di sini, energi masih mahal. Di Indonesia, biaya listrik dan gas, kisaran 9-10 USD untuk industri. Bandingkan di negara tetangga, hanya sekitar 3-5 USD.
            Pengaruh gejolak kurs ini kelihatannya menyeramkan bagi dunia usaha. Ada yang takut bangkrut. Bagaimana anda melihatnya. Saya kira buat pengusaha, nilai tukar itu yang penting stabil. ***
Kisah Hidup Warna Warni
Numpang Di Rumah Jenderal, Tiap Hari Ngepel
            Kisah hidup Saleh Husin yang berwarna warni tak banyak terekspos. Lahir di Rote, Nusatenggara Timur, 16 September 1963, dia menjalani kehidupan penuh tangis dan air mata. Sejak kelas 5 SD sampai SMP, dia keliling kampung jualan kue-kue basah yang dibuat ibunya, Ma Aket. “Setiap sore, sampai jelang maghrib jualan,” kenang Saleh. Selain kue, kadang jualan ikan hasil tangkapan ayahnya, Husin, seorang nelayan.
            Lulus SMP, dia keluar dari Rote dan meneruskan SMA di Kupang. Saat di sekolah, mulailah dia terinspirasi sejumlah tokoh hebat asal NTT yang kerap didengarnya melalui media massa dan buku-buku. Antara lain, Letjen Julius Henuhili, Adrianus Mooy dan Prof Herman Johannes.
Julius Henuhili adalah perwira tinggi TNI AD, mantan Danjen Akabri dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Dikenal sebagai salah satu jenderal pemikir dan melahirkan berbagai konsep strategis. Sedangkan Adrianus Mooy adalah ahli ekonomi,mantan Gubernur Bank Indonesia masa jabatan 1988-1993. Dan Prof Herman Johannes adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Rektor UGM yang pertama (1961-1966).
            “Dalam hati kecil, saya ingin jadi orang seperti mereka itu,” ujar Saleh Husin. Tekadnya ingin kuliah. Tapi terbentur biaya, dia lalu mencoba tes masuk Akabri, supaya bisa sekolah tinggi dengan gratis. Dari puluhan orang yang disaring, dia lolos ke Magelang. Tapi saat tes kesehatan mata, dia dinyatakan gagal karena katarak. “Saya anak pesisir, biasa terjun ke laut tanpa masker, akhirnya kena katarak.” Gagal, Saleh malah nekat ke Jakarta. “Mau pulang kampung malu,” katanya, terkekeh. Di Ibukota, tekadnya menemui Henuhili. “Kenal pun tidak, tapi pokoknya harus ketemu idola,” kisahnya.
            Di rumah Jenderal Henuhili, akhirnya dia dibolehkan numpang. “Saya bilang, disuruh apa saja atau dipekerjakan jadi pembantu pun tidak apa.” Maka tiap hari, tanpa disuruh, Saleh mengepel, mencuci toilet, cuci piring, cuci pakaian, bersihkan kolam. “Saya bersyukur bisa tinggal di sana.” Lalu akhirnya bisa bergaul dengan kawan-kawan sebaya, di lingkungannya saat itu. Bahkan berkawan akrab dengan putra putri jenderal, di kawasan Menteng. Saleh sangat dekat dengan putra-putra Jenderal Try Soetrisno. Try, yang mantan wapres, ketika itu menjabat Pangdam Jaya.
            Perkenalan dengan anak-anak orang hebat inilah yang mengubah perjalanan hidupnya. Dibantu mereka, Saleh mulai usaha jualan banner, kaos dan bahan-bahan cetakan. Hingga akhirnya, usaha merambah ke bidang lain dan memiliki perkebunan terbesar di Sumatera Barat, hingga pabrik air mineral Ades. Anak ke-3 dari tujuh bersaudara ini pun akhirnya menjadi pengusaha.        Saleh Husin tertarik masuk politik, saat masa reformasi. Waktu itu, dia akrab dengan Amien Rais dan kerap mendampinginya. Tidak pernah masuk struktur di Partai Amanat Nasional, tapi dia malah diajak seorang kawannya, bergabung dengan Hanura.
            Kisah masa kecilnya yang sulit sempat dia ceritakan kepada Presiden, saat mengundangnya ke Istana, sebelum ditunjuk jadi menteri. Presiden pun bercerita balik. “Dan ternyata masa kecil beliau lebih sulit dari saya,” kata Saleh, mengenang.
            Bagaimana pola komunikasi menteri-menteri dengan Presiden. Apakah ada hambatan? Tidak. Komunikasi Presiden dengan menteri sangat cair. Komunikasi antar menteri juga amat baik. Kami mudah menghubungi Presiden. Dan Presiden menerima siapapun dengan terbuka. Suasana sidang kabinet pun tidak terlalu formal. Dialog lancar, dua arah. Gaya rapat juga bagus, seperti memimpin perusahaan. Bagus dan hidup.
            Apa benar jadi menteri di pemerintahan sekarang cape? Yaaa, tapi happy-lah. Kadang Sabtu Minggu juga kami kerja, kordinasi dengan teman menteri lain. Tapi, ini konsekwensi berbakti untuk masyarakat. Saya dari dulu terbiasa kerja keras. Keluarga sudah biasa menerima keadaan begini.
            Untuk menjaga kondisi, Saleh Husin menyempatkan olahraga. Karena waktu terbatas, dia mengayuh sepeda statis tiap hari, dan menjaga makanan. “Tidak ada pantang makanan, tapi porsinya dijaga tidak berlebihan,” katanya. ***

Wawancara ini telah dimuat di Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 13 April 2015

Kamis, 12 Maret 2015

Apakah Sudah Waktunya Membenci Jokowi?

Apakah sudah waktunya membenci Jokowi? Pertanyaan yang kerap dilontarkan sejumlah Jokowi Lovers. Beberapa kelihatan mulai kecewa, hari-hari terakhir ini.

          Perkembangan ekonomi belakangan ini memang kurang menyenangkan. Ditandai dengan rupiah yang terus loyo. Hari ini bahkan menyentuh ke Rp13.200-an. Ada analis yang memprediksi Rupiah bakal makin letoy. Bisa Rp15.000-an sampai ke penghujung tahun. Ini artinya pengusaha yang punya utang dalam Dolar, menjerit makin keras. Kalau di-rupiahkan, mungkin hitungannya, utang dia naik 30-an persen, hanya dalam waktu 3-4 bulan terakhir.          


ilustrasi by liputan6.com

Pemerintah sendiri “nggak bunyi” alias banyak diamnya. Wapres dan beberapa menteri kalau ditanya, jawabannya santai betul. Pokoknya, kondisi ekonomi Indonesia aman, stabil, terkendali. Pelemahan rupiah karena faktor eksternal, karena ekonomi Amerika lagi membaik. Intinya, Indonesia tak perlu khawatir. Kamis ini, Jokowi komentarnya begini: Gubernur BI tenang, saya juga tenang. Kenyataannya? Bener nggak sih kita tenang. Apa goyangan rupiah ini terasa ke rakyat?

Awal pekan kemarin, sempat ke pasar. Eh, harga beras belum turun beneran. Dan cabe kok makin mahalita. “Ini cabe mahal, karena musim hujan, Bu. Jadi susah panen dan transportasinya,” kata Ibu penjual. Sepertinya, itu jawaban asal bunyi saja. Sayuran impor juga harganya goyang. Wortel Rp3.000 sebiji, jagung Rp4.000 sebuah. Busyet, Tempe kesukaannku juga mihil. Maklum, kedele-nya impor. Lebih tragis lagi, kopi starbuck sudah naik pula harganya.

Pagi ke pasar, siangnya ketemu Diplomat Malaysia. Sambil makan siang di kawasan Senayan, tema perbincangan agak serius. Isu-isu politik Indonesia-Malaysia memang kerap menarik. TKI, mobnas, nasib Jokowi sampai pertanyaan tentang reshuffle kabinet. Hah? Baru 4 bulan, masa sudah ada gosip reshuffle kabinet.

“Kalau itu benar terjadi, saya....,” kata Diplomat ini, sambil tangan kiri mengibas di dahinya. Seperti tanda memberi hormat. Mungkin maksudnya, dia salut pada Jokowi, jika benar-benar berani mengganti sejumlah menteri, di saat pemerintahan baru seumur jagung. Saya dan sahabat yang menemani dia ngobrol pun tertawa liat reaksinya. 

“Kenapa tidak berani? Jokowi sepertinya tipikal pemimpin yang bisa mengambil keputusan ekstrim kalau diperlukan,” jawab saya. Karakter Jokowi khas. Sepertinya, tidak mudah terkesan pada seseorang, tidak mudah memberi pujian dan tidak mudah percaya, bahkan pada orang yang kerap bekerja di sampingnya. “Jadi reshuffle itu sebuah kemungkinan. Saya bakal tidak heran, andaikan menteri yang selama ini dikenal amat dekat dengan Presiden pun bisa saja di-reshuffle,” tambah saya.

Dia makin heran. Tapi, sambil senyum, lalu dia bilang. “Makin ke sini, Saya mulai belong to Jokowi,” ucapnya, campur-campur Bahasa Inggris khas Melayu. Tiap kali ada kawan di negara saya yang mengkritik Jokowi, saya spontan balas. “Saya bilang, tak begitu, tapi... bla.. bla,” katanya sambil tertawa. Dia memuji Jokowi. Tenang tapi menghayutkan. Seperti ketakutan, padahal aksinya bisa mematikan.          

Isu reshuffle memang sempat bergulir sebulan kemarin. Sumbernya tak jelas, tapi cukup ramai. Ada yang bilang, Teuku Umar kurang sreg dengan performa sejumlah menteri, bahkan beberapa ada di lingkaran utama Presiden. Tapi, soal ini tak pernah terkonfirmasi. Puan Maharani malah pernah bilang, “Itu terserah Presiden, nyamannya bagaimana,” kata dia saat suatu kali ditanya reshuffle.          

Selesai ketemu Diplomat Malaysia, obrolan pindah tempat. Tapi, topik pembicaraan rupanya sama saja. Wartawan senior, kawan ngopi paling setia mancing-mancing lagi soal politik. Dia ini termasuk Jokowi Lover. Lawan diskusinya, bos saya, yang kadang jadi SBY Lover. Nah, hari itu, dua-duanya ada di hadapan saya. Seru dah.          

Soal manuver yang terjadi di KPK, Polri, lalu sejumlah partai, terasa bahwa pertarungan memang keras. Musuh politik kekuasaan kini mulai berjatuhan. Satu demi satu. Katagorinya bukan lagi pelan tapi pasti, atau alon-alon asal kelakon. Tapi ini, lari sambil melibas. PPP, PAN, lalu terakhir Golkar, sudah takluk. Prabowo dan Gerindra sudah beberapa kali ketemu Jokowi atau JK. Kini, kejayaan SDA, Hatta dan Ical tinggal sisanya saja. Yang belum merapat ke kubu kekuasaan, hanya SBY dan Demokrat. Hilmi dan PKS.         

“Kawan saya mau melaporkan kasus korupsi, tapi beberapa orang menganjurkan baiknya ke Polisi atau Kejaksaan Agung saja,” kata Bos saya. Soalnya, KPK sekarang sedang landai. Tidak ada pergerakan. “Kalau mau langsung di-follow up, energi besar sedang ada di kepolisian dan kejaksaan,” tambah dia. “Apalagi, kalau kasus itu melibatkan orang musuh kekuasaan, sepertinya Polisi dan Kejaksaan tambah semangat,” celetuk saya. “Benerrrr,” jawab mereka hampir barengan, sambil ngakak.          


Foto by Tribunnews
“Jadi, Mega the real president itu fakta. SBY kini yaaa nothing,” itu kenyataan yang harus diterima, ujar Bosku, miris.      

“Power itu ya kotor. Meskipun pelaksananya bersih, tapi mau tak mau pelaksana harus menggunakan power untuk menghabisi lawan politik. Itu wajar saja,” spontan kawanku mereaksi.          

Jadi, apakah sudah waktunya membenci Jokowi sekarang? Biarpun rupiahnya lagi jungkir balik, ekonomi landai, penegakan hukum kontroversial, tapi pemerintahan ini memperlihatkan satu hal paling penting. Bekerja dan menumbuhkan harapan, optimisme. Berita miring ditimpa dengan planning. Ada pembangunan infrastruktur yang digenjot, pelabuhan, jalur kereta hingga Papua, swasembada pangan dan seterusnya.          

“Selama menteri-menteri di posisi strategis bekerja profesional, itu cukup melegakan dan memberi harapan,” kata kawan saya.Jadi, belum waktunya membenci pemerintahan ini? Tentu terserah Anda, bagaimana menilainya. ***

Minggu, 01 Maret 2015

Berebut Jadi Mata & Telinga Presiden



Catatan Ratna Susilowati

Dimuat di Rakyat Merdeka
Edisi Senin 2 Maret 2015
 
Kursi Kepala Badan Intelijen Negara sangat seksi untuk diperebutkan. Beberapa hari terakhir ini, tercium aroma persaingan yang seru untuk meraih posisi itu. Kalau pertarungannya makin panas, ada kemungkinan nasib kursi ini mirip Kapolri. Pejabat lamanya, tak perlu diganti.
Kursi Kepala BIN amat strategis. Dia adalah mata dan telinga Presiden. Merujuk Undang-Undang Intelijen Negara, Kepala BIN memberikan masukan dan informasi akurat ihwal ancaman yang bisa mengganggu pemerintahan. Kepala BIN adalah orang yang mahir berdiplomasi, mengelola, serta mengolah data untuk disajikan kepada presiden sebelum mengambil keputusan.
          Ada sejumlah nama yang belakangan disebut jadi kandidat Kepala BIN. Dari muka lama yang familiar, sampai muka yang jarang kelihatan di publik. Dari sipil, militer asli, sampai militer politisi. Semua nama yang muncul ada nilai plusnya. Ada yang memiliki kedekatan historis, kawan sekampung, kawan se-koalisi, ada juga yang disokong orang dalam kekuasaan, atau se-chemistry dengan Teuku Umar.
Yang paling sering disebut adalah As’ad Ali. Dia bukan tentara. Mantan Wakil Kepala BIN di zaman Presiden Gus Dur itu, dikabarkan dekat dengan Hendropriyono, purnawirawan jenderal paling top dalam urusan intelijen di negara ini. Di lingkungan BIN, As’ad amat dikenal. Seorang kawan sampai memberi perumpamaan begini: “Di kantor BIN, Pak As’ad berhubungan akrab bahkan sampai level tukang sapu sekalipun,” katanya, sambil tertawa. Entah, itu benar atau tidak.

As'ad Ali (Foto: Antara)
Lelaki asal Kudus itu, 19 Desember lalu berusia 65 tahun. Melihat track recordnya, figur As’ad memang cukup paripurna. Saat kuliah di Fisipol UGM, dia juga mesantren di Al-Munawwir Krapyak, Yogya. Di BIN, dia bertugas lama di Arab Saudi, Syuriah, Lebanon, dan pernah di Amerika Serikat. Selain paham politik, dia juga diterima baik oleh kalangan Nahdliyin. Di PBNU, posisinya cukup bergengsi, sebagai Wakil Ketua Umum, mendampingi Said Aqil Siradj. As’ad pernah bertemu Osama Bin Laden. Di media onlinehttp://www.rmol.co/read/2012/02/18/55180/Empat-Kali-Bertemu-Osama-Bin-Laden-As’ad mengaku bertemu tak sengaja dengan Laden di sebuah restoran di Jeddah, Arab Saudi, tahun 1984. Melihat jejaringnya yang seperti itu, banyak yang menilai As’ad mumpuni dalam urusan terorisme dan paham-paham radikal. Dia akan mampu menghalau ISIS.
          Nama lain, Fachrul Razi. Pensiunan jenderal bintang empat, kawan seangkatan Luhut Panjaitan, di Akmil 1970. Luhut adalah Kepala Staf Kepresidenan, salah satu orang kepercayaan Presiden Jokowi, sekarang. Figur Fachrul Razi juga menarik karena dia sekampung dengan Surya Paloh. Sama-sama orang Aceh.

Fachrul berusia 67 tahun. Selepas pensiun dari militer, dia aktif di Partai Hanura, besutan Wiranto. Partai ini termasuk loyalis Koalisi Indonesia Hebat, yang menyokong kemenangan Jokowi-JK. Sepanjang karirnya di militer, Fachrul belum pernah mengurusi intelijen. Namun, sebagai mantan Wakil Panglima TNI di tahun 1999-2000, pasti dia memahami cara kerja intelijen, dan mampu mengkoordinasi kegiatan intelijen di lembaganya.

Sutiyoso (Foto: PKPI)
Figur menarik lain adalah Sutiyoso. Lebih populer sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta. Gayanya lucu dan nyeleneh, meskipun usianya tidak muda lagi. Tahun ini, lelaki kelahiran Semarang itu sudah 70 tahun. Seorang politisi yang akrab dengannya, menyebut Sutiyoso sebagai ahli intelijen tempur, karena pengalamannya sebagai Wakil Komandan Jenderal Kopassus di tahun 1992. Di politik, dia dan partainya, PKPI, termasuk ikut berkeringat memperjuangkan kemenangan Jokowi-JK bersama Koalisi Indonesia Hebat.
          Di luar itu, ada sejumlah nama lainnya. Misalnya, Ian Santoso. Angkatan udara dengan pangkat terakhir Marsekal Madya. Namanya disorongkan untuk mengakomodir posisi TNI AU yang belum mendapat tempat strategis di pemerintahan Jokowi. Ian adalah putra Halim Perdanakusuma. Pernah menjadi Kepala BAIS (Badan Intelijen Strategis) di masa pemerintahan Gus Dur. Kabarnya, chemistry Ian nyambung dengan Megawati.
          Yang lain, ada Erwin Syafitri. Ini nama jarang terdengar. Maklum saja, sebagai Kepala BAIS, dia tak bebas bicara kemana-mana. Militer aktif ini pangkatnya jenderal bintang dua, dan termasuk kandidat termuda. Usianya baru 55 tahun. Putra sunda kelahiran Cimahi ini peraih Adhi Makayasa, penghargaan siswa Akabri terbaik tahun 1982.
          Terakhir, Sjafrie Sjamsoeddin. Ini jenderal cerdas. Jika Jokowi menempatkannya sebagai Kepala BIN, itu berarti ada pertimbangan politik yang amat strategis, mengingat Sjafrie cukup dekat dengan Prabowo Subianto, sama-sama seangkatan di Akmil 1974. Sjafrie adalah putra Makasar, sekampungnya Jusuf Kalla. Pengalaman teritori dan birokrasinya mumpuni. Penampilannya juga meyakinkan dan enak dipandang. Di luar, Sjafrie tidak kelihatan cari-cari jabatan. Dia tak sibuk bermanuver demi sebuah posisi. Selepas dari jabatan Wamenham, hidupnya santai saja. “Dia tak mau ikut rebutan. Tapi amat pantas kalau dipinang,” kata seorang sahabatnya.
          Peta perebutan posisi Kepala BIN rupanya adem di luar, tapi panas di dalam. Presiden sepertinya menyadari hal ini, sehingga itulah kenapa, Kepala BIN yang sekarang, Marciano Norman belum diganti.

Marciano Norman (Foto: Tribunnews)
          Kalau aroma persaingan menajam, ada yang menduga masa kerja Marciano Norman akan diperpanjang. Indikasinya ada. Kabarnya, belakangan ini chemstry Jokowi sudah nyambung dengan Norman. Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdjiatno, beberapa waktu lalu diwawancarai Tempo, mengeluarkan pernyataan begini, “Kalau belum diganti-ganti, berarti cocok dong.” Kata Tedjo, tidak ada keharusan mengganti posisi Kepala BIN saat ini, bahkan ada kemungkinan Norman diperpanjang selama beberapa tahun ke depan. “Boleh Terus (menjabat). Tidak melanggar secara peraturan undang-undang. Pokoknya terserah presiden mau digunakan hingga kapan,” ujarnya.
          Seorang politisi, orang kepercayaan ketua umum di Partai Koalisi Indonesia Hebat juga menyatakan hal serupa. Dia membaca, tak akan ada perubahan Kepala BIN dalam waktu dekat ini.
          Ini baru spekulasi. Jika benar dipertahankan, Marciano Norman akan jadi sosok yang menarik di kabinet. Tokoh yang memiliki hubungan sangat baik dengan SBY, tapi diterima dengan lapang dada oleh Jokowi.
          Siapapun yang jadi Kepala BIN, terpenting sosoknya berintegritas dan berkualitas. Mata dan telinga Presiden, jangan sampai dipakai oleh pihak lain, diluar kepentingan negara. ***
 

Kamis, 26 Februari 2015

Aroma Klenik Di Kehidupan Presiden



Presiden Jokowi belakangan ini lebih sering tinggal di Istana Bogor. Ada yang mengkaitkan itu dengan urusan klenik.



Sejak zaman Bung Karno sampai presiden saat ini, Jokowi, klenik kerap diopinikan di sejumlah peristiwa. Mungkin hanya Habibie saja yang tidak lekat dengan urusan jenis itu.

Sejumlah wartawan senior pernah ngobrol dengan seorang tokoh partai. Saat itu dia dengan bangga bercerita, ada paranormal menerawang kediamannya. Rumah yang dia tempati diklaim, dulunya gerbang kerajaan Padjajaran. Karena terawangan itulah dia serasa dapat "wangsit" bakal jadi presiden berikutnya. Belakangan, saat jadi presiden beneran, dia membantah percaya klenik.

Peristiwa mistis di seputaran kekuasaan pernah terekam dan jadi berita cukup ramai di media. Presiden Gus Dur, misalnya, pernah diberitakan berkunjung ke Parangtritis, Yogyakarta dan melakukan ritual khusus. Sedangkan Mega kerap diberitakan ke Batu tulis atau Istana Tampak Siring saat menghadapi situasi politik yang sulit. Bisa saja Mega sekedar istirahat di sana, tapi ada juga yang mengkaitkan itu dengan urusan klenik.

Zaman SBY juga ada. Otak atik angka 9, misalnya. Meskipun itu kaitannya dengan tanggal, bulan dan tahun kelahiran dia, tapi, banyak kejadian di era kepemimpinan SBY, dicocok-cocokkan dengan angka 9.

Di bukunya: Selalu Ada Pilihan, di halaman 262, SBY menceritakan kisah menarik, menjelang pilpres 2009. Ibu Ani berteriak dan memanggil-manggilnya. “Ternyata ada asap hitam tebal dan berputar-putar di langit-langit dan di tengah ruangan itu. Asap hitam itu bergerak ke timur, seperti ingin menerobos ke kamar saya,” tulis SBY. Mengutip kisah ini, The Washington Post mencap SBY sebagai presiden yang percaya klenik. Judul artikelnya pada 22 Januari 2014: “Indonesia President Says He Believes in Witchcraft.”

Bagaimana dengan Jokowi? Presiden kelahiran Solo ini, karakternya unik. Sejumlah peristiwa dikaitkan dengan klenik. Misalnya, saat ada ular masuk ke dalam rumahnya, di Loji Gandrung. Waktu itu, dia masih jadi Walikota Solo. Dia bilang begini: “Lho, itu artinya rumah saya nyaman. Ular saja mau masuk,” katanya, santai. Makna ular dalam mistik Jawa, pertanda baik. Penghuni akan mendapat posisi yang dihormati di masyaranat (Kitab Primbon Jawa Serbaguna, R Gunasasmita).

Lain kesempatan, Jokowi bilang gini: “Rumah dinas kemasukan ular panjang dan besar. Banyak orang bilang ini pertanda mau naik (ke jabatan lebih tinggi). Tapi saya berpikir rasional saja. Tidak berapa lama ternyata ada perintah dari partai (maju Pilgub DKI). Hidup itu misteri, tak bisa diduga-duga,” kata Jokowi saat pidato di Refleksi Periode II tahun kedua Jokowi-Rudy di halaman Balai Kota Solo, Jawa Tengah. Waktu itu, 5 Oktober 2012, beberapa bulan sebelum akhirnya resmi jadi calon gubernur DKI.

Unik lainnya, soal kesukaan Jokowi memelihara kodok. Ada yang mengkaitkan ini dengan klenik. Atau tentang Istana kebanjiran. Kebanjiran dalam primbon mimpi Jawa, identik dengan suasana hati, akan capai atau kesal berkepanjangan. Dua hari sebelum Jokowi pindah ke Istana Bogor, Istananya di Jalan Merdeka Selatan, sempat kebanjiran. Di saat yang sama, konflik KPK-Polri sedang panas-panasnya. Dan Presiden memilih pindah sementara ke kota hujan, mungkin karena ingin mendapat suasana kerja (termasuk suasana hati) yang lebih adem.




Apakah Jokowi akan kerasan di Istana Bogor? Tak pernah ada keterangan apapun dari Jokowi atau keluarganya soal itu. Putrinya, Kahyang Ayu kelihatan enjoy saja di sana. Di instagramnya, sepekan lalu, anak wanita satu-satunya di keluarga Jokowi itu memasang foto sedang memberi makan rusa-rusa Istana.

Padahal menurut Rachmawati Soekarnoputri, Istana Bogor termasuk agak angker. Dia tak pernah betah lama-lama di sana. Selama bapaknya jadi presiden, Rachma tak lebih 10 kali menginap di situ. Dia bilang, justru lebih nyaman Istana Merdeka, dibanding Istana Bogor (Rakyat Merdeka, edisi 28 Februari)



Saat Jokowi di sana, makam Ratu Galuh dan Mbah Jepra yang berada di lingkungan Istana Bogor, sempat rusak, tertimpa pohon yang roboh. Di media online, rupanya ada juga yang memberitakan. Link-nya ini: 


“Ini tanda-tanda apa ya? Bertahun-tahun tak pernah makam keramat ini rusak, kok sekarang begini,” tanya seorang politisi yang sempat ngobrol dengan saya, Jumat malam. Dia ini paham hal-hal Kejawen dan mengerti banyak tentang klenik.
“Apa makna dibalik makam yang rusak itu, Mbak? Tanya saya. Dia menggeleng. Tak berani spekulasi. “Ya intinya, selama ini, siapapun Presiden dan para pemimpin menghormati keberadaan makam itu,” katanya.

 Tentu saja tidak akan mungkin pernah ada pernyataan resmi soal klenik dari Istana negara. Tapi kata kawan saya, yang kemarin menemani ngopi, “orang Jawa paling paham dan peka dengan urusan klenik. Dan mungkin saja Presiden punya perasaan khusus terhadap suasana Istananya belakangan ini."  Sebenarnya, dimanapun dia bekerja, mau di Istana Negara, Istana Merdeka atau Istana Bogor, silakan saja. Yang penting, urusan rakyat tidak penah dilupa.

Selasa, 17 Februari 2015

BG Menang, BG Yang Menentukan

Catatan Ratna Susilowati
Dimuat di Rakyat Merdeka, Selasa 17 Februari 2015

Publik tidak banyak tahu karakter Budi Gunawan. Selama ini, jenderal bintang tiga itu banyak bekerja di belakang layar. Dia dikenal sebagai jenderal pemikir. Pandai mengonsep, sering terlibat dalam penyusunan rancangan peraturan dan mekanisme kerja di internal kepolisian.

Budi bukan jenderal banyak omong. Malah seringkali menolak diwawancara. Dia lebih sering tersenyum kalau ditanya apa saja. Karakternya khas orang Jawa  yang halus dan sopan. Tutur bahasa dia, mungkin mirip dengan Setya Novanto, Ketua DPR itu.

BG diumumkan menjadi tersangka oleh Ketua KPK Abraham Samad pada 13 Januari 2015, atau sehari sebelum fit and propertest sebagai calon Kapolri di DPR. Dan “buah” dari penetapan status itu, selama sebulan tiga hari, kita lelah menyaksikan konflik KPK-Polri.

Lika-likunya, seperti pertandingan proses hukum. Kasus dibalas kasus. Tersangka dibalas tersangka. Nyaris saja ada penangkapan dibalas penangkapan. Skor terakhir 1 berbanding 4. Sebab, kasus rekening gendut dibalas empat kasus terkait 4 pimpinan KPK sekaligus. Bahkan, panggung konflik terasa makin ramai, karena ada nama wanita ikut disebut.

Kemarin, perseteruan mencapai puncaknya. BG (sapaan Budi Gunawan) menang. Hakim Sarpin Rizaldi mengabulkan gugatannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kemenangan itu berarti memulihkan nama baik BG.

Putusan pengadilan ini menimbulkan pro dan kontra. Ada yang merasa, pemberantasan korupsi seolah-olah runtuh karena menganggap putusan itu kontroversial. Mereka khawatir, para tersangka akan berduyun-duyun menggugat KPK melalui praperadilan, dan berharap nasibnya bisa “dipulihkan” seperti BG.

Namun, ada juga yang tetap optimis. Penetapan status tersangka Budi Gunawan, yang dianggap tidak sah, adalah prosedurnya. Bukan berarti menihilkan kasusnya. Prof Jimly Asshiddiqie bilang, KPK bisa melakukan perbaikan prosedur hukum dan kembali menyelidiki kasus Budi Gunawan.

Orang boleh berpendapat apa saja soal putusan hakim. Namun, itulah realitas hukum yang harus dipatuhi siapa saja. Pertanyaannya sekarang, apakah Budi Gunawan akan dilantik menjadi Kapolri? Ini tergantung keputusan Presiden.

Jika tidak dilantik, para pendukung BG dan orang-orang di Dewan akan ribut dan terus mendesak Presiden. Mereka akan “mengganggu” Presiden dengan suara-suara pedas, melalui ancaman hak interpelasi dan semacamnya.

Sebaliknya, jika Presiden melantik, orang-orang penggiat anti korupsi yang pasti mengecam. Apabila pelantikan terjadi, status BG memang bukan tersangka. Tapi, sampai kapan? Jika KPK mempersoalkan putusan ini ke MA, lalu melakukan perbaikan prosedur hukum, maka status tersangka bisa tersemat lagi. Kalaupun kasusnya tak diutak-atik, publik kelak tetap mengenang Kapolri-nya sebagai pejabat yang pernah di-tersangkakan.

Jalan tengah yang paling baik adalah membiarkan Budi Gunawan menentukan pilihan. Apakah dia siap dilantik dan menerima segala risiko politik dan hukum itu, atau dia mundur dari proses pemilihan Kapolri. Mundur dari proses pemilihan Kapolri, dan KPK pun melupakannya. Mungkinkah?

Kita belum tahu apa keputusan Jokowi. Juga belum tahu, bagaimana pilihan BG. Sampai tadi malam, belum ada sinyal apapun dari Istana. Meskipun, dua lelaki kelahiran Solo itu, sudah bertemu empat mata.

BG, bisa saja berjiwa besar, berhati lebar dan bersikap legowo. Seperti yang dia nyatakan sendiri: jalan praperadilan yang dia tempuh, bukanlah untuk mengejar jabatan Kapolri, tapi menegakan keadilan.

Apabila dia memilih tidak duduk di kursi Kapolri, maka publik akan mengenang dia sebagai jenderal yang tidak ambisius. Untuk menang, pemimpin kadang tak harus selalu berada di depan. R