Minggu, 24 Mei 2015

Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri: Lagi Sakit Jangan Sok-sokan, Berhenti Lari, Lalu Istirahat



          Berbincang dengan Budi Gunadi Sadikin soal situasi ekonomi terkini amat menarik. Direktur Utama Bank Mandiri itu sebenarnya amat sungkan berkomentar tentang ini, apalagi ditanyai tentang resep keluar dari krisis.
Merasa bukan dokter, dia menyebut ada resep sederhana. Ibarat orang sakit, saat ini baiknya istirahat, minum obat. “Dan jangan berantem, kalau ingin cepat sembuh,” katanya, tertawa. Berikut perbincangan lebih lengkap saat diwawancarai eksklusif oleh Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan M Aditya Nugroho.
 
Ekonomi Indonesia kini melambat. Sebagai bankir, bagaimana anda menyikapi situasi ini? Indonesia memang very unlucky. Sering krisis dan jaraknya pendek-pendek. Selama bekerja sebagai bankir, saya mengalami beberapa kali. Tahun 1998, krisis besar sekali. Lalu 2002-2005, lebih kecil. Tahun 2008, besar. Dan 2013-2014 kini krisis lagi. Tapi, ada juga lucky-nya. Indonesia punya banyak regulator, bankir dan pengusaha yang pengalaman menghadapi, menangani krisis. Mereka masih hidup, bahkan mungkin masih bekerja di tempat yang sama, saat dulu krisis sampai kini terjadi lagi. Di Amerika tidak begitu. Krisis mereka jaraknya panjang-panjang, sehingga bankir dan pengusahanya yang pernah mengalami krisis, mungkin sudah meninggal atau pensiun, saat negaranya krisis lagi.

Apa untungnya, punya bankir atau pengusaha yang mengalami krisis berkali-kali?Artinya, kita bisa mengambil keputusan berdasarkan pengalaman. Dulu, putusin begitu, salah. Lalu jadi tahu, bikin beginilah yang benar.
          Sebenarnya pemerintah, pengusaha dan bankir bukankah sudah tahu bakal terjadi krisis saat ini? Tahun 2013, sudah kelihatan dari sejumlah indikatornya kok. Ilmu ekonomi ya samalah seperti melihat kerja dokter. Dokter melakukan diagnosa. Sehingga dia prediksi, ke depan, pasien ini bakal begini atau begitu.
          Bagaimana kondisi perekonomian sekarang jika dibandingkan tahun 1998 dan 2008. Tahun 1998, kita belaga tidak sakit. Bahkan bilang kemana-mana kita nggak sakit. Padahal saat itu kondisi demam, tekanan darah tinggi. Eh malah nekat hujan-hujanan dan jatuh. Langsung koma. Digotonglah ke rumah sakit. GDP drop, bahkan kita sampai kehilangan waktu selama 6 tahun untuk memulihkan ke angka yang sama.

Tahun 2008 krisis lagi. Bunga naik, dolar naik, likuiditas jelek dan kredit macet naik. Tapi, masih bisa tumbuh. Kenapa? Itu karena kita belajar dari pengalaman. Bahwa saat sakit, jangan sok-sokan deh. Berhenti lari, ganti baju, minum obat, minum teh hangat dan tiduran. Istirahat.

Bagaimana kondisi saat ini? GDP dari 6,2 turun ke 4,5. Orang Indonesia ribut kemana-mana. Gegernya seperti ke seluruh dunia. Padahal dibanding sebelumnya, kondisi sekarang much better. Kita sudah pernah overcome, jadi sebaiknya jangan panik. Akui sakit, tapi belajar dari pengalaman, bagaimana cara menanganinya. Pemegang policy bersikaplah kompak. Bicara yang bijak. Demikian juga media. Media juga harus kompak. Ini penting sekali. Tidak kompak itu celaka. Mungkin melakukan ini paling susah.

Budi lantas cerita pengalamannya saat kerja di sebuah Bank di Jepang, tahun 1998. Bosnya, orang Atlanta, memberikan pencerahan tentang pentingnya kekompakan. Ada dua gelas. Yang masing-masing diisi dua ekor kalajengking. Gelas A kalajengking Amerika. Gelas B kalajengking India. Tak sampai dua menit, kalajengking di gelas A, keluar. Tapi di gelas B, tak kunjung keluar. Kenapa? Kalanjengking A kerjasama, saling naik ke punggung dan saat sampai di puncak, kawannya ditarik. Sehingga keduanya berhasil keluar dari gelas. Sedangkan dua Kalajengking B, malah saling pandang penuh curiga. Ketika salah satu berusaha naik, yang lain malah menarik kakinya hingga jatuh. Begitu seterusnya. “Sampai dua bulan pun, itu kalajengking B tak akan berhasil keluar dari gelas,” kata Budi, mengingat kembali cerita bos-nya. Ini kisah humor tapi sarat makna.
     Dia juga menceritakan efek sebuah berita terhadap kurs dan situasi pasar. Gara-gara ada berita ditulis tanpa rasa sensitif, rupiah drop. “Jadi, kalau sayang sama Indonesia, janganlah mengadu domba. Itu bisa membuat orang tidak percaya. Ekonomi dibangun dari trust and confident,” katanya.
     Budi mengaku sedih, dengan prilaku sebagian politisi Indonesia. “Kalau ada orang yang bagus, kesannya kok digergaji rame-rame. Jatuh, lalu ada yang tepuk tangan. Jangan SMS dong (Senang Melihat yang Susah, Red). Itu tidak bagus untuk negara kita. Pasar dengan cepat reaktif. Kalau mau ribut, ya tertutup saja. Dan begitu keluar harus kompak. Saya ngeri kalau kita tidak kompak,” ujarnya.

Bagaimana sebaiknya sikap pemerintah. Apakah boleh mengaku sakit kepada publik atau menutupinya? Yang penting, saat sakit ya jangan berantem sendiri. Kita sekarang sedang proses penyembuhan dan kalau lagi dirawat sama istri, ya jangan bertengkar dong. Nanti malah tambah sakit. Jadi, kita perbaiki diri kita ya. Apakah boleh mengaku sakit ke luar? Ya, ada bahayanya. Sebab, bisa dipandang orang kurang macho, kurang hebat. Tapi, jika yang bicara itu, orang mengerti ya nggak apa-apa. Asal jangan sampai semua orang belaga ngerti, atau ngerasa bisa jadi dokter.

Dokter yang pas menangani krisis ini, siapa dan harus bagaimana? Dokter yang pas, ya lihatlah orang ekonomi yang bener. Yang ngobatin harus ahlinya. Jangan ahli yang main klaim. Lalu, kasih obat yang pas. Kalau sakitnya mencret jangan dikasih obat batuk.

Resep menangani krisis saat ini dari para bankir bagaimana? Saya takut-takut kasih comment. Sehari-hari saya memang praktisi, tapi apakah saya ahli ekonomi makro? Kan nggak. I have to respect ke orang yang mengerti. Silakan para dokter ahli ini berdebat tertutup. Setelah itu beri tindakan ke pasien, tapi nggak perlu bilang ke pasiennya, misal, besok Bapak akan meninggal. Dokter harus bisa memberi optimisme. Cukup kasih tahu apa obatnya, treatmentnya. Mungkin bakal ada painfull process. Tapi dampaknya menyembuhkan.

Kondisi sakit sekarang apakah mematikan? Nggaklah. Indonesia nggak akan mati. Saya bukan ahli ekonomi, tapi saya lihat banyak indikator. Jika dibandingkan tahun 2008, lebih bagus sekarang. Kita masih tangguh. Dulu, ada sejumlah bank jatuh. Sekarang hopefully harusnya nggak ada karena perbankan jauh lebih kuat. Janganlah dibandingkan dengan 1998. Itu jauh banget bedanya. Membandingkan dengan 2008 saja, semua indikator sekarang lebih bagus. Lihat dari bunga, bond yield dan potensi NPL. Beda sekali kondisinya. Jadi nggak usah terlalu panik. Yang penting ada yang harus dilakukan. Obat segera diberikan.

 Obat yang pas diberikan untuk keadaan sakit sekarang, apa ya?Saya itu lulusan fisika nuklir. Saya juga bukan dokter by training dan nggak pernah kasih resep (tertawa). Tapi, kalau dokter melakukan diagnosa misalnya, mengukur suhu badan, tekanan darah. Maka, sekarang ini, saya lihat indikasi ya. Kolektabilitas naik, sales turun, otomotif turun, property turun, semen turun. Artinya jelas, ekonomi turun. Maka, bank mesti me-restructure, agar cashflow mereka terjaga dan jangan sampai mereka nggak bisa bayar utang. Tapi, di sisi lain, saya lihat yang retail seperti credit card, credit otomotif, masih bagus NPL-nya. Jadi, baiknya dorong consumer spending. Consumer confident index harus dijaga.
        
  Bagaimana caranya? Kalau semua orang bilang kondisi ekonomi susah, dampaknya, orang jadi berhemat dan nggak belanja. Di tahun 2008, yang dilakukan Pak JK itu menarik. Beliau bilang, ayo pakai batik jangan pakai jas, dan ayo pakai sepatu Cibaduyut. Akhirnya semua ikut. Itu hal bagus. Kalau kita pakai batik pasti lebih sering ganti daripada pakai jas. Jadi, kita banyak beli batik. Sedangkan jas cukup satu, bisa 5-6 tahun baru ganti. Beli batik pun ke Yogya, Pekalongan, sentra baik. Kalau beli jas ke luar negeri. Itu salah satu cara menjaga consumer confident. Contoh lain, acara pemeran mobil, mebel, perumahan sebaiknya tetap dilakukan, supaya orang-orang tetap spending.

Sikap pemerintah sekarang apakah sudah cukup kompak? Dan bagaimana penilaian bankir terhadap cara pemerintah menangani krisis, apakah sudah on the track? Menurut saya, mesti lebih terkoordinasi. Semua yang ada di jajaran pemerintah dan orang-orang news maker, baiknya memahami, ini porsi saya, dan ini bukan porsi saya. Tahu Indonesia sakit, sebaiknya bicara konstruktif. Kalau secara tertutup, ya silakan ngomong apa saja. Terbuka. Tapi, saat keluar, keep buying strategi. Kalau ngomong yang nadanya pesimis, masyarakat nggak akan spent uang.

Rakyatnya disuruh belanja. Kalau pemerintahnya bagaimana? Apakah perlu juga melakukan spending besar, padahal ekonomi lagi sulit? Pertama, Pemerintah juga perlu jaga consumer spending. Semua atuan, regulasi dan berita yang berkaitan consumer spending harus dipush. Kayak modelnya Pak JK itu. Batik atau sepatu cibaduyut. Kedua, goverment spending juga mesti keluar. Dulu 2008, pemerintah nggak punya bujet, sekarang ada fiskal room sekitar 200 triliun dari pengalihan subsidi BBM. Nah, itu mesti cepet dikeluarin. Jangan dihemat. Bagaimana mengeluarkannya? Pakai cara yang pinter.

Apa itu cara yang pintar?Kita tahu, kalau keluarnya dari birokrasi kementerian atau lembaga, bisa lama. Jadi, bisa melalui BUMN atau swasta. Menteri BUMN berkomitmen mempercepat proses-proses pembangunan. Di Mandiri, aplikasi loan yang sudah disetujui kwartal pertama ini mencapai Rp8,8 triliun untuk infrastruktur. Padahal tahun lalu hanya Rp1-2 triliun saja. Kami ikut di pembangunan Makasar Airport, jalan tol Semarang, dan proyek kereta api Bandara Soetta. Hopefully, ini semua lancar. Kalau itu segera bergerak, maka jualan semen laku, buruh kerja lagi, dan bisa belanja lagi.

 Belakangan ini pemerintah banyak melakukan grondbreaking. Persoalan yang tersisa mengenai pembebasan lahan, perizinan yang terhambat apakah jadi pertimbangan perbankan, mengingat dalam pembiayaan, perlu ada prinsip kehati-kehatian. Itu betul. Tapi bank nggak bisa bebasin tanah. Makanya, yang diberikan ke proyek jalan tol, disverse-nya per tahun, misalnya beda dengan ke pelabuhan. Kalau ke proyek yang sudah bersih, kita pede. Yang saya dengar, kini ada aturan berlaku yang memudahkan proses-proses itu. Persoalan pembebasan tanah atau izin, itu beyond bank. Bagusnya sekarang, pemerintah mau hands on. Pemerintah sekarang itu sifatnya lebih eksekusi. Jadi, harusnya semua proyek bisa lancar dibangun.

Bagaimana dukungan perbankan terhadap sektor maritim, yang jadi andalan Pemerintahan Jokowi? 
Mandiri keluarkan sekitar Rp17 triliun, atau 20 persen dari total kredit maritim di seluruh perbankan Indonesia. Paling banyak di sarana prasana maritim, misalnya coldstorage, pabrik. Kalau yang
tangkap ikan dan budidaya, kreditnya sekitar Rp1,7 triliun atau 18 persen dari total kredit maritim di perbankan nasional. Sistem kredit ke nelayan, kita memberi ke parent-nya. Seperti program inti plasma. Ada koordinator yang mengumpulkan nelayan-nelayan.
 
Tentang konsolidasi bank dan rencana merger. Setelah dulu gagal dengan BTN, apakah Mandiri masih berminat melakukan hal yang sama. Soal itu, saya puasa ngomong (tertawa). Ke depan, untuk bisa kompetisi di Asean, tentu dibutuhkan bank dengan modal besar. Kalau ada opportunity untuk melakukan transaksi non organik, kita terbuka.
  
Apakah bank-bank syariah juga perlu dikonsolidasi? Menurut saya, kita kerja mesti pakai prioritas. Suatu saat, bank Syariah pun harus modalnya gede. Kompetisi dengan Asean kini di depan mata. Kalau modal tidak besar, bank akan sulit mensupport pembangunan di negaranya sendiri. ***

Wawancara ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 25 Mei 2015



 
 
 

Rabu, 13 Mei 2015

Menteri ESDM Jungkir Balik Hadapi Mafia Migas: Perusak Tidak Pernah Tidur, Let’s Change The Games


        Biasanya, kursi Menteri ESDM diduduki orang dari partainya penguasa. Sudirman Said bukanlah politisi. Dia dikenal lurus dan track recordnya bersih. Salah seorang menteri sempat membisiki Rakyat Merdeka, “kalau sampai Sudirman diganti, itu artinya sponsor yang dimenangkan,” katanya. Berikut ini, wawancara Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan M Aditya Nugroho dengan Menteri ESDM di kantornya. Perbincangan sangat cair sambil minum teh sore hari, awal pekan lalu.
          Selama enam bulan ini, apa saja yang sudah Anda kerjakan.
Internal yaitu konsolidasi atau proses di dalam. Dan eksternal yaitu pelayanan kepada masyarakat.
          Sudirman lantas menceritakan proses internal, berupa penataan leadershidp, meluruskan cara pengambilan keputusan dan manajemen komunikasi stakeholder. Kami menata di lapisan eselon 1, 2 dan 3. Sesuai arahan Presiden Desember lalu, agar eselon 1 disegarkan dan diberi waktu enam bulan. Komposisinya kini di tiap eselon, ada 30 persen orang lama (stay), sepertiga dirotasi, sepertiga dari luar (dari promosi, PNS dan di luar kementerian). Beberapa titik yang jadi kunci penentu kelancaran pekerjaan di ESDM diperbaiki.
Kamis (7 Mei 2015), Sudirman Said melantik sejumlah pejabat baru di Kementerian ESDM. Sejumlah kalangan menilai, perombakan dan penyegaran jabatan tersebut termasuk besar-besaran.
Saat melakukan pergeseran atau pergantian jabatan, bagaimana caranya menghalau intervensi dari banyak pihak yang punya kepentingan tertentu. Saya mendengar rumor macam-macam. Seolah si ini jagoan anu atau jagoan itu. Tapi saya bisa bersaksi bahwa Panitia Seleksi itu isinya hanya dua orang dalem, dan lima dari luar. Mereka bukan orang sembarangan. Ada antara lain Prof Hikmahanto, Faisal Basri, Nico Canter. Mereka bukan orang-orang yang bisa diatur. Sampai 15 besar, saya tidak memberi pesanan apapun. Silakan dipilih yang terbaik.
          Mengapa tidak dikawal prosesnya agar orang-orang terbaik yang dipilih. Justru tak dikawal supaya saya bisa mengatakan kepada orang yang punya agenda atau menitip, bahwa saya menyerahkannya kepada Pansel. Kita hormati Pansel sehingga saya merasa ringan. Tidak ada beban.
 
Kembali ke penataan internal. Tentang tatacara pengambilan keputusan, kini dilakukan penataan agar ada relnya. Di masa lalu, banyak keputusan yang betul-betul tergantung pada tanda tangan menteri. Ke depan, diberi jalur supaya dengan sengaja memagari diskresi keleluasaan menteri dalam sistem. Menteri tetap tanda tangan, tapi jadwal menata keputusan lebih predictable.
          Kami juga mendorong komunikasi antarstakeholder terbuka dan intens. Kita punya leader forum baik itu oil gas, minerba dan energi baru. Setiap bulan kumpul. Menjembatani komunikasi yang terhambat. Banyak keputusan lintas sektoral bisa diselesaikan.
Pembenahan internal ini pesannya, saya membawa perubahan. Agar kawan-kawan berorientasi melayani masyarakat. Kita ini bukan penguasa, tapi pelayan publik. Sehingga, kita yang harus membuka diri dan datang kepada yang dilayani. Bukan menempatkan diri sebagai penguasa yang harus disowani.
          Yang eksternal, intinya kita ingin membuat proses proyek lebih sederhana dan memudahkan. Kita sekarang punya arah ABCD yang jelas, misalnya bagaimana mengakhiri blok yang selesai kontraknya. Masyarakat yang mau mengerjakan proyek, kini tahu tata cara, lokasi, pricing, siapa dapat berapa. Dulu tak ada pola, sekarang sudah dibuat.        Di Minerba, mulai ada penyederhanaan perizinan, dan ke depan akan dilimpahkan satu pintu di BKPM. Pelan-pelan kami mau membuat agar interaksi masyarakat dengan SDM terasa lebih bersahabat.
          Bulan ini Presiden melakukan ground breaking sejumlah proyek infrastruktur dan listrik. Bagaimana peran Kementerian ESDM menjaga kelangsungan proyek ini agar bisa selesai tepat pada waktunya.Banyak orang mempertanyakan itu. Menurut saya, kuncinya menjaga konsistensi. Ada lima hal. Pertama, Desain yang dibangun harus semata-mata melayani kepentingan rakyat bukan di-drive kekuatan apapun. Proyek harus milik rakyat. Kedua, perlu komunikasi atau penjelasan kepada masyarakat supaya didukung. Soal proyek listrik, misalnya, masalah terbesarnya pembebasan lahan. Kalau tidak dikomunikasikan kepada Pemda dan tokoh masyarakat dengan baik, akan muncul potensi hambatan yang besar sekali. Ketiga, efektifitas manajemen proyek. Dalam 10 tahun terakhir, listrik hanya tumbuh 10 ribu Megawatt. Sekarang, target kita 8 ribu Megawatt pertahun. Karena itu, di PLN sekarang ada Project Manajement Officer. Keempat, upaya agar tidak ada yang intervensi dengan hal-hal tidak masuk akal. Orang yang intervensi, biasanya punya interest tapi tak punya kemampuan. Karenanya, kita introducir melalui due dilligent. Sebelum ditunjuk jadi pelaksana, ada screening. Intinya, siapa kepengen proyek listrik, ya silakan. Tapi akan ada yang memeriksa keuangan, kemampuan, teknologi dan SDM-nya.
          Kelima, soal izin negosiasi. Dulu sulit setengah mati karena PLN tidak diberi batasan yang jelas. Sekarang, PLN dapat bekal dari Kementerian ESDM, misalnya patokan harganya. Atau aturan. Sebuah perusahaan yang sudah pernah membangun pembangkit dan jalan, jika ingin membangun lagi, isin langsung dikasih tak pakai tender. Atau perusahaan tambang mau membangun listrik, dan letaknya ada dalam rencana RUPL, akan diizinkan. Atau sebuah industri memiliki kelebihan listrik bisa dijual ke PLN. Aturan-aturan ini bisa mempersingkat waktu negosisasi dan penunjukan. Kalau ini terus dilakukan, maka masalah keterlambatan, pemilihan kontraktor tidak bonafid, developer tak melanjutkan proyek, bisa diatasi.
          Jadi, reformasi perizinan sudah dilakukan ya. Bagaimana pendekatan yang dilakukan ke daerah agar yang dikerjakan di Pusat juga lancar sampai ke bawah. Dulu, mengurus perizinan bisa sampai 3 tahun. Sekarang, sepanjang dalam domain kita, prosesnya tak sampai 200 hari. Untuk ke daerah, tim kami sedang berkeliling menceritakan bagaimana mekanisme di pusat, dan memberi contoh. Kini, banyak kepala daerah yang bagus, sehingga ketika dijelaskan, mereka mau menjalankan. Kami tak akan berhenti dan akan terus mengajak mereka (Pemda) menata perizinan.
          Apakah ada orang-orang tertentu yang memaksa dengan kekuatan atau membawa-bawa nama orang kuat demi mendapatkan perizinan. Bagaimana cara mengatasinya.Sekarang ini tak ada kesewenang-wenangan yang bisa bersembunyi. Bahwa secara elegan ada yang mengatakan, “Mas saya sedang mengajukan itu, tolong dibantu.” Itu sih biasa. Tapi yang maksa itu beresiko. Yang maksa akan ketahuan, yang dipaksa juga ketahuan. Kita lihat kasus-kasus yang terbongkar, selalu melibatkan dua pihak. Yang ditekan dan yang menekan. Kuncinya, kita menunjukkan diri bahwa kita mengerjakan tugas dan tak punya kepentingan pribadi.
          Menghadapi orang yang mencoba ambil manfaat atau berperan sebagai rent seeker, sikap Anda bagaimana? Kalau saya bilang tak ada tekanan dalam urusan itu, bohonglah. Keyakinan saya, ke depan, makin sulit kejahatan dan kemencongan bisa bertahan lama. Kita berpacu dengan waktu. Bahwa ada orang-orang itu yang mau menghalangi kepentingan negara dan memotong sana sini, silakan saja. Kita adu stamina, adu network dan adu kreatifitas. Masa iya Tuhan tidak menolong kita. Di sisi lain, kita juga harus menjaga betul-betul tak punya minat pada korupsi. Jangan berjuang untuk megangin kursi ini atau berjuang untuk mendapatkan jabatan, tapi berjuanglah ketika mengerjakan tugasnya. Pastilah orang-orang itu tidak diam. Mereka, perusak tidak pernah tidur, dan bekerja 24 jam. Tapi, kalau kita konsisten, masa mereka mau gangguin terus. Memang selalu ada pertarungan the bad melawan the good. Tapi Insya Allah, ini manageable. Bisa dikelola.
 
>>>>> 
Tentang Mafia Migas, Petral, Freeport & Petralite
Harga Rokok Naik Kenapa
Tak Pernah Ribut Ya
 
          Mengenai Petral, Menteri ESDM mengatakan, hal itu domain Pertamina dan Menteri BUMN. “Tugas saya menjaga supply seefisien mungkin. Kalau Petral dianggap tidak lagi bisa menjaga pasokan, ya memang baiknya bubarkan saja. Saya diskusi dengan Ibu Menteri BUMN, kelihatannya memang Petral akan dibubarkan,” katanya.
          Kabarnya akan dibentuk PES. Lalu apa bedanya dengan Petral. Ini seperti ganti baju saja.PES atau Petral itu memang bungkusnya. Yang disorot adalah praktek ekspor impor minyak yang tidak fair. Sekarang, sudahlah, institusi itu ditutup. Kalau Pertamina butuh instrumen, trading arm atau tangan untuk melakukan perdagangn internasional, ya bikin baru supaya tidak menggendong sejarah yang buruk.
          Tentang Freeport, Menteri Sudirman menceritakan kelanjutan proses negosiasi. Saat ini ada 17 item yang diusulkan oleh Pemda Papua kepada Freeport. Yang tersisa tinggal enam, sebagian sudah disepakati. 1) Pembatasan wilayah pertambangan supaya tidak seluas sekarang. 2) Privatisasi. Oktober ini, akan dilepas saham sampai 30 persen. Kesepakatannya, kalau dibeli pemerintah tak perlu melalui IPO. Tapi kalau dibeli swasta harus IPO. 3) Local content semakin ditingkatkan dan mesti audit. 4) Smelter. Mereka punya barang olahan, dan boleh ekspor sepanjang mulai membangun smelter. Di Gresik sudah jalan. Itu memang sudah ada sejak lama. Tapi perlu ekspansi untuk menambah kapasitas. Dan mereka menyiapkan underground smelter. Pemda Papua menyiapkan lahannya, dan jaminannya Freeport memberikan konsentrat. Rencananya disupply 950 ribu ton, supaya secara ekonomi, smelter bisa jalan. 5) Fiskal, yaitu terkait bagi hasil dan pajaknya. Dan 6) Keputusan Pemerintah tentang Perpanjangan Operasi.
Masalahnya dimana? Kontrak Freeport habis 2021. Peraturan mengatakan, perpanjangan diputuskan dua tahun sebelum kontrak habis. Dilemanya, kalau tak diputuskan sekarang, keputusan mereka berinvetasi 15 miliar USD membangun underground minning untuk smelter, sulit diambil. Siapapun perusahaan, kalau diminta menanam uang segitu besar, tapi tak ada kepastian perpanjangan, ya bagaimana ya. Makanya, sedang dipikirkan. Kita cari format. Semoga sebelum Juli ini ada keputusan.
Freeport menunjuk Dirutnya dari tokoh BIN. Apakah ini mempermudah lobi ke pemerintah? Itu penilaian spekulatif. Saham pemerintah di Freeport minoritas. Jadi, kalau mereka menunjuk Direktur, kita tak punya cukup suara untuk mengusulkan atau memveto. Terpenting pesan saya, harus mengindonesiakan Freeport, lakukan nasionalisasi dalam arti kultur, rencana kelola dan hubungan stake holder lebih meng-Indonesia.
          Ada yang bilang Freeport diambil alih saja, jangan teruskan kontraknya. Pertanyaannya, apakah kapasitas nasional kita sudah mampu melakukan operasi tambang sebesar itu di bawah tanah? Ini salah satu opsi yang sedang dikaji. Pada waktunya akan diambil keputusan. Dan kesadarannya penuh. Tidak ada keuputusan yang sempurna. Terpenting, kita telah melakukan kajian yang terbaik.
          Harga premium kini diserahkan kepada mekanisme pasar. Pemerintah dituduh tidak pro rakyat, tidak konstitusional.Kalau harga minyak diserahkan pasar, artinya kalau sore harga dunia naik, besok kita naik. Atau sebaliknya kalau turun. Tapi kenyataanya, harga BBM kita tidak begitu. Kita melakukan moderasi. Saya bersyukur dua bulan ini, harga BBM relatif stabil jadi tak perlu meng-adjust. Pemerintah sedang mempertimbangkan plus minusnya, membuat periode penyesuaian harga yang lebih lama. Kenaikan BBM memang selalu jadi isu seksi.
Rakyat belum terbiasa dengan harga berganti setiap bulan.
Ya, memang. Kita juga. Kita sama-sama belajar. Kalau harga rokok naik kenapa ya tidak ribut, sementara jika BBM naik, ributnya setengah mati. Kita perlu pembiasaan. Saya merasa, banyak orang bisa menerima bahwa subsidi itu harusnya dialihkan ke sektor produktif. Tapi kadang ada yang menjadikannya agenda politik.
Idealnya berapa lama sih penyesuaian harga kenaikan BBM?Ke depan akan dicari waktu yang lebih panjang untuk melakukan adjusment. Komisi 7 DPR pernah menyebut, baiknya 6 bulan sekali saja. Ini berarti ya setahun ributnya dua kali (tertawa).
Mengenai petralite. DPR dan Tim Pemberantasan Mafia Migas kelihatannya kurang setuju. Bagaimana pandangan Anda. Ituinovasi Pertamina untuk menambah pilihan produk. Pengusaha otomotif dan masyarakat menengah menyambut baik. Yang diperlukan sosialisasi agar masyarakat lebih paham. Memang muncul kekhawatiran, Petralite jadi alasan premiun kelak dihapuskan. Dalam jangka panjang, Premiun memang harus dicabut setelah Pertamina siap dengan segala perangkatnya. Saya yakin tak lama lagi, kilang kita modern dan bisa produksi BBM berkualitas, seperti pertamax.
          Ada kekhawatiran Petralite dijadikan tempat baru untuk sembunyi mafia migas. Apalagi tidak ada negara yang menggunakan Petralite sehingga tak ada patokan harga. Saya juga setuju bahwa kalau kita belanja barang harus ada benchmarknya. Tapi sebenarnya, kan kita bisa lihat apa komponen isinya. Untuk menghindari praktek mafia, kita harus hidupkan integrated supply chain dan proses lebih transparan.
          Bapak pernah mengatakan mafia itu ibarat kentut. Baunya saja yang tercium. Mafia tumbuhjika kita memberi banyak sinyal abu-abu. Tapi, saat Pertamina bekerja terang menderang, mereka akan mikir. Kata teman yang biasa main di kegelapan, kini keadaan sudah berubah.
          Jadi, mafia sekarang sudah tiarap atau belum? Saya berpesan, ubah deh pola permainannya. Lets change the game. Setiap pengusaha boleh hidup, tapi cara main diubah.
          Apa mempan mafia diberi imbau dengan lembut seperti itu.
Kita punya otoritas dan tidak harus dengan kekerasan. Kita jalankan aturan, dan konsisten. Berapa lama itu bisa bertahan, memang sangat ditentukan oleh cuaca politik. Pembenahan ini bisa survive jangka panjang kalau situasi politik juga mendukung. Tapi, kalau politik ini maunya rusuh, ya tidak bisa.
          Kunci menghentikan permainan ini adalah perbaikan atau membangun kilang. Apakah benar? Kalau melihat dokumen, semua kajian mengatakan kita harus bangun kilang. Tapi, dulu selalu ada pandangan bahwa membangun atau perbaikan kilang itu tidak ekonomis, karena banyak vested interest. Kini, penghalang tidak leluasa lagi. Di DPR, misalnya, meskipun ada yang gayanya meledak-ledak, tapi keputusan rapatnya selalu move on.
          Hubungan dengan Komisi 7 DPR bagaimana terkait program di Kementerian ini. Saya mengatakan kepada mereka, saya memulai pekerjaan ini dengan suasana yang kurang baik. Pendahulu saya bermasalah hukum, mantan sekjennya dipenjara dan sejumlah anggota DPR juga dipenjara. Saya tak ingin mengulang kesalahan itu. Mari kita ubah hal-hal yang lucu-lucu itu. Dunia kini makin terang menderang. Jadi kita bekerjalah dengan benar.
 
>>>> 
Sudirman Mengagumi Jenderal Sudirman
Kebenaran & Kebaikan
Terus Bertarung...
 
          Sudirman Said mengagumi sosok Panglima Besar Jenderal Sudirman. “Saya merenung-renung, kenapa ya dulu ayah saya memberi nama Sudirman. Lalu saya dalami sejarah dan aksi beliau, Panglima Besar Sudirman, dan saya kagum. Beliau asli, sementara saya ini Sudirman KW-nya,” katanya sambil tertawa.
          Apa yang dikagumi dari Jenderal Sudirman? Tokoh ini amat sederhana. Hidupnya simpel tapi kekuatan batinnya luar biasa. Suatu ketika, beliau ngomong begini: Robek-rebeklah badanku, potong jasaku tapi Merah Putih akan menjagaku. Dan saya akan hadapi, yang saya lawan.
          Sudirman Said lahir di Brebes, 16 April 1963. Usianya kini 52 tahun. Tapi kehidupannya cukup makan asam garam. Sudirman lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun 1990, lalu meneruskan Master Bidang Administrasi Bisnis di George Washington University, Amerika. Sudirman dikenal sebagai tokoh antikorupsi, pekerja rehabilitasi kawasan bencana, dan ekskekutif di industri migas. Sebelum ditunjuk jadi Menteri, Sudirman adalah Dirut PT Pindad, mengurus persenjataan nasional.
          Di waktu senggang, Sudirman Said kadang menonton film. Kesukaannya film action, membela kebenaran. Dia berkali-kali memutar God Father, karena senang dengan filosofi kepahlawanan.
          “Kebenaran dan kebaikan terus bertarung. Hidup ini pilihan, kadang pahit dan berat. Tapi kalau dijadikan jalan hidup, ya kita enjoy saja,” katanya. ***

Wawancara ini dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
edisi Senin, 11 April 2015


         
 
 
 
 
 
 

Minggu, 10 Mei 2015

Menteri ESDM: Gempurannya Besar, Yang Ingin Kisruh Banyak Sekali


          Karakter Sudirman Said tenang. Tapi, kalau bicara soal pemberantasan mafia migas, intervensi dan tekanan yang dihadapinya selama enam bulan duduk di kursi Menteri ESDM, boleh juga. Suaranya pelan, tapi hatinya teguh dan keras. Kebaikan dan kebenaran selalu bertempur dengan keburukan. “Tapi kebaikan pasti menang, meskipun tidak instan. Mungkin seperti di film, tiga kali mati dulu, baru menang,” katanya.
          Kepada Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan M Aditya Nugroho, Sudirman Said bicara tentang isu-isu terkini. Mulai dari target dan program di kementerian, sampai kondisi kerja dan interaksi di kabinet.
          Bagaimana suasana kerja Anda di kabinet sekarang ini? Saya merasa suasana sekarang jauh lebih baik daripada di awal-awal. Interaksi dengan kiri kanan, Presiden dan Wapres, tak ada yang berubah. Dulu, Presiden tidak kenal saya, karena memang betul-betul baru ketemu saat sebelum dilantik. Kini, makin hari makin kenal, komunikasi makin baik. Dengan Wapres juga demikian. Saya tidak merasakan gangguan suasana batin.
          Apakah Anda merasakan ada banyak tekanan? Bahkan, sekarang ini ada sejumlah pihak yang menginginkan Anda dicopot.Dulu, belum duduk (di kursi menteri) saja, sudah banyak yang menyuruh saya diganti. Saya tidak memikirkan isu reshuffle sebagai hal penting. Sejak sebelum dilantik pun, gempurannya besar. Tapi, waktu telah memberi ruang pada kita untuk menyelesaikan masalah-masalah. Sehingga kini lingkungan mulai melihat, oh ada yang kita kerjakan.
Soal pressure, sekarang makin manageble. Tapi, saya menyadari, yang menginginkan dan berkepentingan agar sektor ini kisruh banyak sekali. Makanya, tugas saya menata, agar bagaimana sebesar-besarnya energi dan mineral bisa memberi manfaat bagi bangsa. Mereka yang melawan itu, artinya musuh negara. Musuh rakyat. Saya tak mau terlibat menghadapi mereka. Fokus saya, bekerja semaksimal mungkin. Mengenai berhenti, diganti atau digeser, itu urusan pemimpin. Tugas saya mendeliver kewajiban dan tanggungjawab. Selebihnya biarkan rakyat menilai, biarkan atasan menilai.
          Seberapa lancar hubungan dan komunikasi Anda dengan Presiden. Misalnya, saat ada persoalan yang membutuhkan keputusan, bagaimana respon Presiden. Alhamdulillah tidak ada hambatan. Saya memandang Presiden sebagai orang yang bekerja. Setiap saya sampaikan agenda untuk dibahas, selalu direspon. Bisa di sidang kabinet terbatas, sidang paripurna, atau meeting one on one. Tidak pernah ada permintaan waktu yang tidak dipenuhi terkait pekerjaan. Itu artinya ada kepercayaan penuh dari beliau. 
          Saat ini Sudirman Said melakukan banyak penataan internal dan eksternal. Proses perizinan proyek, misalnya, ada screening. Tentu ada yang mengancam dan menekan dirinya.
          “Misalnya, kalau lu nggak begini, nanti dicopot. Itu memang paling ditakuti pejabat publik. Tapi saya di posisi ini bukan melamar, tapi ditugasi negara. Jadi, kenapa risau. Kalau pemberi tugas menganggap Saya tidak layak lagi, ya monggo. Tapi tidak boleh ada itikad untuk mempertahankan posisi, bahkan mempertukarkannya dengan sesuatu demi posisi. Kalau itu terjadi, maka disitulah mulainya kekeliruan,” kata Sudirman.
          Apakah musuh Anda banyak ya? Nggak ada musuh sebab kita ada di sini bukan mau perang, tapi mau melayani masyarakat, supaya kepentingan negara terjaga, terselamatkan. Siapapun yang menghalangi maksud itu, berarti musuhnya negara, bukan musuh saya.
          Apakah banyak yang tidak suka pada Anda? Ya, kita kan bukan pelawak (tertawa). Saya bukan enternainer yang membuat semua orang suka. Saya penanggungjawab sektor yang harus mengambil keputusan. Dan itu, tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Apalagi, ini sektor yang agak seru, jadi sangat mungkin ada keputusan yang membuat orang tertentu tidak suka.
          Apakah Anda yakin, pemerintahan ini membawa angin perubahan dan masyarakat dibawa ke arah lebih baik? Presiden kita ini hatinya lurus. Tak pernah ada sinyal beliau punya interest atau agenda tertentu, kecuali hanya memikirkan rakyatnya. Kini, tinggal bagaimana orang-orang yang mengelilingi beliau. Jika dominan dikelilingi orang-orang yang satu visi ya, akan membentuk suasana batin bangsa jadi baik. Tapi, kalau yang dominan yang bikin ribut, ya sulit. Tapi, saya punya harapan dan optimisme.

Wawancara ini dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 11 Mei 2015

Rabu, 29 April 2015

Pro Kontra Kereta Super-Cepat “Saya Tidak Menentang Tapi Jangan Paksa Saya Keluarkan Anggaran”


Sebulan terakhir ini, ada pro kontra soal pembangunan kereta super-cepat atau highspeed train. Menteri BUMN Rini Soemarno kelihatannya antusias dengan proyek ini. Kabarnya investor Jepang dan China tertarik menggarap proyek tersebut. Bagaimana pandangan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan? Berikut wawancaranya dengan Rakyat Merdeka.

            Menurut Anda, apakah Indonesia saat ini membutuhkan kereta super-cepat? Saya tidak menentang proyek ini sama sekali. Sangat mendukung kalau ada investor yang mau membangunnya. Rute Jakarta-Surabaya atau Jakarta-Bandung. Silakan. Tapi dengan satu syarat, pemerintah tidak memaksa saya mengeluarkan anggaran dari Kementerian Perhubungan.
            Mengapa? Kemenhub punya call centre di 151. Banyak yang tanya, kenapa kereta dibangun lagi di Jawa, di Ambon saja jalanan masih banyak yang hancur. Dan di Papua infrastruktur transportasi masih buruk. Mereka khawatir, apakah pemerintah hendak memperbesar ketimpangan? Jadi, Saya mohon tidak pakai APBN. Saudara-saudara kita di perbatasan dan pedalaman, infrasturkturnya masih jauh ketinggalan. Saya ingat pesan Presiden. Bahwa pembangunan hendaknya harus dimulai dari wilayah terluar, terpencil, perbatasan, atau wilayah rawan bencana. Kami di Kementerian menerapkan itu untuk tujuan pemerataan pembangunan. Mungkin kalau Menteri BUMN tugasnya memodernisasi infrastruktur dan komersial.
            Sudah pernah diajak bicara rencana ini baik oleh Presiden atau Menteri BUMN? Di rapat kabinet belum ada. Menteri BUMN juga belum pernah bincang secara resmi. Presiden kalaupun mendukung program ini mungkin karena yang membangun swasta.
            Berapa biaya membangun kereta super-cepat? Kira-kira all in cost 15-20 juta USD per kilometer. Jakarta-Surabaya sekitar 800 kilometer. Kalau keretanya jadi dibangun, harga tiketnya kemungkinan lebih mahal dari pesawat terbang.
            Jadi, kereta super-cepat ini bukan angkutan rakyat ya. Di dunia ini, hanya ada satu negara, yang pendapatan GDP-nya di bawah 10 ribu USD tapi punya kereta super-cepat, yaitu China. Mereka membangun itu untuk propaganda besar-besaran memodernisasi negara. Sisanya, di Jepang, Perancis, Jerman, Spanyol dan Korea. Dipakai untuk angkutan rakyat, tapi rakyat yang penghasilan GDP-nya 40 ribu USD. GDP kita sekarang kisaran 4 ribu USD. Amerika saja tidak punya kereta super-cepat. Itu luxury. Di Jepang dan China tidak semua orang bisa naik kereta itu. ***

Wawancara ini dimuat 
Rakyat Merdeka, 
edisi Senin 27 April 2015

Kuliner Enak Di Kota "Kuntilanak"

Pontinak artinya kuntilanak. Nggak percaya? Coba saja cek tulisan di alamat ini:http://unik.kompasiana.com/2010/10/20/kuntilanak-dan-sejarah-pontianak-296077.html 

Kisah tentang Kuntilanak ini mungkin bisa jadi tulisan terpisah. Bercerita tentang hebatnya Raja saat menaklukan kuntilanak-kuntilanak di kota itu. 

Pontianak, Ibukota Kalimantan Barat ini, meski maknanya kuntilanak, namun suasananya sama sekali tidak menyeramkan. Kotanya cukup indah dan nyaman. Kulinernya pun justru menyenangkan dan mengenyangkan. Dibanding wilayah lain di Kalimantan, di Pontianak banyak tinggal warga keturunan Tiongkok. Bahkan di Singkawang, kabarnya 70 persen penduduk adalah keturunan Tiongkok.

Rupanya, hal itu berpengaruh ke masakan. Di Pontianak dan sekitarnya, kuliner yang populer kebanyakan hidangan ala Mandarin. Semacam bakmi, mie tiaw, dimsum dan bubur. Pernah coba baso gepeng? Nah, itu jenis bakso yang amat khas dari Pontianak. Kini bakso gepeng sudah populer di Jakarta dan sejumlah kota lain di Indonesia.
Chai Kue Kukus. Isi kucai (hijau), isi kacang hijau (kekuningan), isi bengkuang (putih)

Chai Kue Goreng. Isi kucai (kiri) dan isi bengkuang (kanan)


Mie Pangsit Mangkok dengan taburan krupuk udang

Saya diajak mencicip bakmi di Bamboo. Ada menu bakmi ayam atau seafood dengan taburan krupuk udang yang digunting tipis-tipis memanjang. “Kerupuk udangnya endess bangetss,” kata Donny Prayudi, spesialis Kuliner Ponti, yang juga jurnalis di kota ini. Kata dia, kerupuk udangnya lumer di mulut. Aih, saya amat menyesal tak mencoba menu itu. Saat di Bamboo, saya kepincut menu bakmi pangsit yang tak kalah menggoda. Sajiannya, berupa bakmi kering dan kuahnya di mangkuk terpisah. Siram mie dengan lemon cui dan sambal pedas, aduk, baru dimakan. Rasanya bakal lebih nendang. Lemon cui termasuk asesoris wajib di meja makan, selain saus sambal dan kecap. Dengan siraman lemon cui, rasa bakmi jadi gurih, asam, pedas dan segar. Saking enaknya bakmie itu, porsi yang tadinya ingin berbagi dengan suami, malah habis sendiri.
          “Waduh, modusnya lemon cui nih. Jatah suami akhirnya Cuma 20 persen,” ledek Arie Parikesit, founder Kelana Rasa yang jadi leader perjalanan kami ke Pontianak.

Di Bamboo juga tersedia kue chai atau choi. Sejenis dimsum. Ada jenis dikukus dan digoreng. Isiannya macam-macam. Kucai (kehijauan), bengkuang (putih), kacang merah (kemerahan) dan talas (agak nuansa ungu).  

Jangan lupa mampir ke Apollo, dan Polo. Ini dua resto bakmi yang posisinya sebelahan. Kokinya saudaraan. Koki Polo, dulunya dari Apollo. Di pintu depan dua restoran itu ada tulisan yang lucu. Mie Tiau Apollo sejak 1968: Tidak pernah pindah. Sementara di pintu satunya: Mie Tiau Polo, Pindahan Dari Sebelah.




Mie Tiaw Pollo




Mie Tiau Apollo

Dua resto itu sama-sama penuh. Masing-masing rupanya punya pelanggan sendiri. Penasaran mana yang lebih enak, ya coba saja dua-duanya, dan pesan menu yang sama. Tampilan memang mirip, tapi rasa agak beda. Menurut saya, sama enaknya sih. Bedanya mie Apollo lebih kenyal, sedangkan racikan bumbu, Polo gurih manis.
Mie Kuah dari Resto Apollo

Di Pontianak, hidangan bakmi bisa dimakan pagi, siang dan malam. Untuk sarapan, ada bakmi yang enak. Di kawasan Gajah Mada, ada street food yang menjual bakmi pagi hari. Pakai gerobak motor, tulisannya bakmi Asiang. Ciri khasnya, bakmi kuah ikan dengan taburan kacang kedelai. Rasanya wow segar.
Mie Kuah dengan taburan kedelai 

Bakmi Pontianak yang paling enak ada di Singkawang. Jaraknya lumayan jauh karena perlu berkendara sejauh 140an kilometer untuk mencapai kota itu. Racikan yang enak dan halal dibuat oleh Haji Herman. Pria keturunan Tionghoa yang sudah mualaf 20 tahunan lamanya. Restorannya persis di jalan utama menuju Kota Singkawang, Bakmi Haji Aman. Sudah haji, bakmie-nya aman di makan pula. Pilihan lain, di Bakmi 68. Ini resto bakmi yang amat populer. Tempatnya cukup bersih, dan berada di kawasan pasar Singkawang. Ciri khasnya, cari saja resto yang di dinding ruang dalamnya dipenuhi foto-foto artis dan pejabat yang dipotret bersama pemiliknya. Rupanya, banyak sekali orang terkenal yang pernah singgah ke tempat bakmi ini.

Mie Kering Haji Aman, Singkawang

Makanan selain bakmi dan mie, banyak juga. Ada yang unik, misalnya pengkang yang dicocol di sambal kepah. Apa itu? Pengkang mirip lemper ketan, tapi ada isian udang ebi. Saat dibakar di perapian, bungkusan daunnya dilumuri minyak sehingga terasa makin gurih. Sambal kepah adalah sambal kerang. Mirip sambal bajak ala Jawa, yang diaduk dengan kerang remis. Rasanya pedas manis. Pengkang bisa didapat di Desa Peniti, pinggiran Pontianak. Kalau mau ke Singkawang, pasti lewat daerah itu.
Pengkang dengan sambal kepah

Ada lagi, kangkung sotong. Racikan sederhana, tapi rasanya lezat. Di Pasar Singkawang, ada satu pedagang yang khusus menjual kangkung sotong. Kangkung yang segar direbus sebentar, ditaburi kacang goreng tumbuk, lalu disiram kuah sotong yang dikentalkan dengan kanji dan asam jawa.
Kangkung Sotong

Kuliner Pontianak banyak sekali jenisnya. Masih ada racikan masakan yang dipengaruhi melayu-arab. Kari kambing dengan pacri (acar nanas) dan dolca (sayur kol dan terung). 


Sajian dari RM Sahara. Kari Kambing, Pacri (Acar Nanas) dengan Dolca (sayur kol dan terung)

Yang paling enak adalah masakan rumahan ala Dayak. Kami dijamu di kediaman Ibu Maemunah di Kawasan Jeruju, dekat Pelabuhan TPI. Tuan rumah memasak makanan yang enak sekali. Sayur kangkung malu (putri malu yang bisa dimakan) dan ubi merah dengan kuah santan kental. Dan tumisan buwas (mirip daun tangkil) diracik dengan udang. Sambalnya yang mantap, sambal calo (dari udang difermentasi) dan sambal buduk (dari teri yang ditumbuk). ***

Sajian Khas Dayak. Sayur Kangkung Malu, Ikan Kering, Sambal Buduk, Sambal Calo, Tumis Buwas


Tulisan ini catatan dari perjalanan #KelanaRasaPontianak, pada 24, 25 dan 26 April 2015.

Selasa, 28 April 2015

Arief Yahya Soal Target Pariwisata Ingin Datangkan 20 Juta Turis: Saya Dikritik Itu Mimpi...


          Enam bulan jadi menteri, gaya kerja Menteri Arief Yahya masih sama seperti saat dia jadi Dirut Telekom. Berangkat pagi, pulang menjelang tengah malam. Awalnya, ada saja yang protes. “Ada yang candain saya, kami sekarang kerja mirip seperti pegawai Telkom, tapi gajinya PNS,” kata Arief Yahya sambil tertawa, saat diwawancarai eksklusif oleh Rakyat Merdeka, antara lain Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Budi Rahman Hakim, Muhammad Fiki Azis dan Tim Redaksi, di kantornya, pertengahan pekan ini.
          Muka Arief Yahya kelihatan kelelahan. Tapi semangatnya tidak padam. Menggebu-gebu, Arief menceritakan program dan target dengan paparan sekitar satu jam melalui slide dan memperlihatkan contoh-contoh iklan untuk promosi wisata Indonesia. Sekarang iklan-iklan “Wonderful Indonesia” ada di Singapura dan China, pasar terbesar wisatawan Indonesia.
          Selain Bali, apa lagi potensi wisata Indonesia yang bisa masuk toplist dunia?Memang saat ini top destinasi masih Bali. Tapi kalau tujuan khusus sebenarnya banyak. Misalnya, Bunaken dan Raja Ampat masuk destinasi top dunia untuk diving, snorkling. Sejumlah pantai di Indonesia juga masuk yang terindah di dunia. Potensi kita amat besar. Ranking dunia secara umum, kita di nomor 70 dari 140 negara. Keindahan alam dinilai A, harga dianggap kompetitif. Tapi memang masih ada sejumlah kelemahan, antara lain infrastruktur dan health hygiene.
          Turis ke Indonesia, terbanyak datang ke mana? Ini ada data. Ternyata 90 persen orang datang ke tiga tempat, yaitu Bali, Jakarta dan Batam. Jadi, untuk marketing, sumber daya harus fokus di tiga tempat itu, dan sekitarnya. Misalnya, menjadi Greater Bali (termasuk Lombok, Banyuwangi, Bromo dan seterusnya). Lalu Greater Jakarta (termasuk Jabar bagian barat, Cianjur, Cipanas, Sukabumi), dan Greater Batam. Turis yang datang ke Jakarta ada 2,3 juta orang, tapi ke wilayah Banten, misalnya, baru 200-an ribu orang. Ini artinya daerah sekitar kurang memanfaatkan keberadaan orang yang datang ke Jakarta.
          Apakah tagline kita tetap Wonderful Indonesia atau akan diubah? Itu tetap. Sudah kita diskusikan dan debat, pilihannya tetap itu. Sebab, belum banyak juga yang tahu. Apapun bagi saya, sama saja. Yang tidak boleh, kita tidak mempromosikannya. Makanya, kita bisa kalah dengan Truly Asia (tagline pariwisata Malaysia).
          Bagaimana strategi Anda jualan pariwisata Indonesia? Strategi marketing simpelnya kita sebut DOT. Destinasi, Originasi (asal) dan Time (waktu). Terbanyak destinasi adalah Great Bali, Great Jakarta dan Great Batam. Dan originasi terbesar dari Singapura, Malaysia, Australia, Tiongkok dan Japan. Maka, promosi wisata harus menyesuaikan dengan waktunya mereka (Time). Jangan promosi di saat yang salah. Setiap negara itu ada kekhasan waktu libur. Misalnya Tiongkok. Mereka punya lima musim liburan. Tahun ini Februari saat Imlek, Mei saat liburan buruh, Juni-Juli liburan sekolah, lalu Oktober liburan nasional dan ada liburan akhir tahun sampai tahun baru. Jadi, saat menggarap pasar Tiongkok, promosi setidaknya lima kali di waktu-waktu itu. Kalau waktu promosinya tidak pas, target tidak akan tercapai.
          Anda punya target mendatangkan wisatawan 20 juta orang di tahun 2019. Bagaimana mencapainya? Turis dari Singapura, Malaysia dan China sekarang sudah mengalahkan jumlah turis yang datang dari Australia. Jadi, China adalah plan kita. Hipotesis saya, kalau promosi kita di China dilakukan dengan besar, maka meningkatkan 50 persen saja dengan cepat sangat mudah.
          Arief lantas menceritakan strategi promosi dengan fokus di Tiongkok. Beberapa bulan lalu, dia datang ke Beijing bersama Dirut Garuda Arif Wibowo. Mempromosikan Bali dengan timing yang pas, memasang iklan di koran dan televisi setempat, sekaligus ikut meluncurkan rute Beijing-Denpasar. Hasilnya, mengejutkan. Dari pintu Bali, turis asal Tiongkok naik sampai 60 persen. Tahun 2014, turis Tiongkok yang ke Indonesia tidak sampai 1 juta orang. Saat ini, orang Tiongkok yang ke Bali saja sudah mencapai 1 juta. Sehingga, kenaikan turis asal Tiongkok mencapai 42 persen. “Jadi, kalau kita promosi dengan benar, hasilnya pasti bagus,” kata Arief Yahya.
          Dia mengingatkan, target mendatangkan turis 20 juta adalah target Presiden. Bukan target menteri. “Untungnya, kalau target Presiden, maka semua menteri harus mendukung. Tapi, tetap saja banyak orang di luar kritik saya. Katanya, ini mimpi. Menurut saya, itu malah terlalu kecil. Harusnya kami dikritik, 20 juta itu kurang besar,” ujarnya, sambil membandingkan bahwa jumlah turis Malaysia saat ini mencapai 25 juta dan Thailand 26 jutaan.
          Bagaimana dengan anggaran promosi pariwisata Indonesia dibanding negara lain. Kalah biaya, bukan berarti kalah strategi kan? Tahun 2014 hanya Rp300 miliar, sekarang 2015 ditambah menjadi Rp 1 triliun. Untuk wilayah dengan potensi pariwisata Indonesia yang banyak sekali, anggaran ini ya sangat kecil. Bandingkan dengan Malaysia, anggaran promosinya mencapai 300 juta USD. Dan Singapura yang luas wilayahnya seuprit, mencapai 278 USD. Nominal kita kalah jauh.
          Menteri Arief lantas menceritakan strategi BAS atau Branding, Advertising dan Selling. Anggaran promosi Rp 1 triliun, dialokasikan untuk Branding 50 persen, Advertising 30 persen dan Selling 20 persen. Ke negara mana, promosi terbanyak? Sekitar 50 persen ke negara-negara ASEAN, pasar terbesar turis ke Indonesia.
          “Dulu, ada nggak iklan Wonderful Indonesia di Singapura, atau misalnya nempel di biskota Singapura? Ngga ada. Sekarang baru kita lakukan. Asean lebih dulu. Anggaran promosi jangan dibagi-bagi ke negara kecil, yang belum tentu turisnya datang ke Indonesia. Setelah ASEAN selesai, lalu ke Asia Pasific dan China, Jepang Korea. Sumber uang turis kita ada di situ. Baru ke tempat lainnya,” tutur Arief.
Apakah dulu promosi pariwisata kita ibarat jualan es di musim hujan ya? Kalau dulu, branding sendiri. Advertising sendiri. Setelah muncul di koran, misalnya, tidak dilanjutkan dengan action. Mestinya, setelah awarness, muncul interest, lanjutkan dengan desire dan action. Nah, actionnya ini selling. Jualan. Setelah orang tertarik, teruskan dengan penawaran, selling. Kalau mau ke tempat itu, biayanya sekian, sekian, dan seterusnya.
          Arief memaparkan strategi lainnya. Yaitu POS (Paid Media, Own Media dan Social Media). Tiga jenis strategi ini tak bisa dipisahkan. Beriklan di media, diikuti dengan penjelasan lebih detail di Own Media, atau portal milik Kementerian. Saat ini sudah dibuat dengan alamat www.Indonesia.Travel yang isinya rinci dan detail mengenai program dan penjelasan destinasi. “Kalau kita promosi tentang Lombok di media, misalnya, maka di own media harus dijelaskan ada apa di sana. Ada Gili. Lalu ke Gili naik apa, bagaimana mencapainya, ada penjelasan program, event dan seterusnya. Setelah itu mainkan di social media,” katanya. Arief menyebut, perlu kerjasama dengan pengguna medsos yang followernya banyak.
          Mau tidak mau, Kementerian Pariwisata sekarang harus melek teknologi. Hasil exit poll yang dilakukannya, sekitar 70 persen turis asal Tiongkok melakukan pencarian destinasi dan transaksi melalui digital media. ***
 
Wawancara ini telah dimuat di Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 20 April 2015