Kamis, 16 April 2015

Menteri Perindustrian Saleh Husin: Yang Penting Kerja, Nggak Mikirin Reshuffle


            Saleh Husin mungkin termasuk menteri yang tahan banting dan tabah. Tak pernah marah kepada orang yang sinis dan kerap mengkritiknya. Dianggap tak mampu atau kurang pengalaman mengurus industri, Saleh senyum saja.   
            “Kritik itu bagus dan menjadi pemicu saya agar bekerja lebih baik dan lebih keras lagi,” katanya, saat diwawancarai Tim Rakyat Merdeka, yaitu Kiki Iswara, Ratna Susilowati, Kartika Sari dan Sarif Hidayat, Rabu malam. Malah, kini Saleh Husin berteman baik dengan para pengkritiknya. “Saya dekati, lalu kita berkawan. Dan kini, yang mengkritik sering ketemu dan ngobrol akrab dengan saya,” tambah Saleh Husin, sambil senyum.
            Menteri asal Rote, Nusatenggara Timur itu pun tak peduli dengan isu-isu reshuffle kabinet. “Nggak memikirkan soal itu. Yang penting saya bekerja,” ujarnya. Jabatan atau amanah, dia percayai sebagai bagian dari garis tangan. “Saya dulu jualan kue, mana pernah berpikir bisa sampai ke sini (jadi menteri). Jadi, mau dicopot ya tidak memikirkan,” katanya.
            Sebagai menteri asal parpol, bagaimana mengatur hubungan kerja dengan dua bos, yaitu bos Anda di partai dan bos di pemerintahan (Presiden). Sejak saya dilantik jadi menteri, Presiden meminta agar kita menanggalkan jabatan di partai. Pak Wiranto (Ketum Hanura) juga menugaskan saya bekerja total di kementerian.
            Apakah ada kawan-kawan parpol yang coba-coba main-main dengan Anda? Saya tetap menjagahubungan dengan kawan-kawan di parpol. Jangan sampai setelah jadi menteri, mereka sulit bertemu saya. Saya sering tekankan, ini kementerian yang urusannya kerja. Kalau mereka datang untuk bicara bagaimana industri maju, ya ayo. Tapi kalau ada yang coba-coba ganggu, ngga akan saya ladeni. Marah? Ya ngga apa-apa. Sebab kalau kerjaan saya diganggu, lalu performa jelek, nanti partai saya juga yang malu.
            Saleh Husin juga banyak bicara tentang program-program prioritasnya di Kabinet. ***


Saleh Husin
Kerja 7-11, Sering Lupa Kalau Sudah Jadi Menteri
            Membangun industri tidak bisa seperti sulap, tapi butuh waktu bertahun-tahun. Menurut Menteri Perindustrian Saleh Husin, setidaknya 2-3 tahun, pembangunan industri baru bisa kelihatan. “Target saya, investasi ke Indonesia bisa masuk sebanyak mungkin,” katanya saat diwawacara oleh Tim Rakyat Merdeka, Rabu malam.
            Begitu masuk ke Kementerian Perindustrian, bagaimana resepnya agar langsung tune in dengan dunia birokrasi? Alhamdulillah, tidak ada kesulitan. Saya bisa langsung bergaul dengan mereka. Suasana cair karena saya terbiasa berteman. Jadi tidak ada jarak. Kadang saking cairnya, sering lupa kalau saya ini menteri. Kawan saya sering ingatkan, Eh kamu sudah jadi menteri. (Saleh Husin masuk kerja mulai pukul 7 pagi, dan biasa pulang ke rumahnya sekitar pukul 23 malam. Dia menyebutnya seven-eleven). Saya terbiasa kerja keras dan selalu ada keinginan untuk mempelajari hal baru.
            Program quick win anda apa? Utamanya kawasan industri dan hilirisasi. Terutama tambang. Prinsipnya, sesuai UU harus diolah dulu, sebelum diekspor supaya ada nilai tambah. Ini hasilnya mulai kelihatan. Tidak lama lagi, akan diresmikan smelter di Morowali, untuk pengolahan bijih nikel. Investasi total sekitar 4,2 miliar USD.
            Buruh-buruh di Indonesia dikenal banyak menuntut. Bagaimana me-manaj hal ini agar tuntutan buruh terpenuhi, tapi industri juga tetap lancar dan investor nyaman berinvestasi. Upah buruh memang salah satu masalah yang sering mengemuka. Di sejumlah wilayah, misalnya ada kepala daerah yang memutuskan menaikkan UMR hanya demi popularitas, terkait pilkada. Tanpa melihat akibatnya pada dunia industri. Mengantisipasi tuntutan seperti ini, telah dibahas di pemerintah agar UMR ditetapkan lima tahunan, tapi kenaikannya dibuat berkala setiap tahun. Bagi buruh, ini memberikan kepastian kenaikan UMR. Bagi pengusaha juga memberikan kepastian untuk membuat rancangan anggaran yang pasti. Sudah dibicarakan di Rapat Kabinet, sedang dibuat aturan dengan Kemenaker dan beberapa kali, ada pertemuan dengan perwakilan asosiasi buruh. Semoga, dengan program itu, UMR prosesnya menjadi lebih baik.
            Bagaimana dengan industri automotif. Apakah pemerintah saat ini mendorong program mobil listrik, motor listrik atau angkutan umum listrik, untuk mendorong penggunaan energi alternatif. Apa benar ada hambatan dari sejumlah pengusaha automotif? Saat ini ada investor dari China yang mau masuk untuk memproduksi mobil listrik. Saya lagi coba mobil listrik, bajaj listrik dan motor listrik. Rencananya, investor akan membangun di Cirebon. Sekarang baru tahap pembebasan lahan. Kita akan mendorong investor buat pabrik, jangan hanya meramaikan atau mendorong program bikin 1-2 buah saja, sebab Indonesia harus jadi pasar potensial. Kalau rencana ini dihalangi, investor bisa saja lari ke negara lain, lalu Indonesia akhirnya hanya jadi pasar mereka. Rugi kita. Apalagi pasar bebas ASEAN segera dibuka Desember ini.
            Bagaimana kesiapan industri kita menghadapi pasar bebas ASEAN. Tidak ada masalah. Lalu lintas perdagangan barang antar negara, sebenarnya sudah lama berjalan. Pengaruh negatif pasar bebas ASEAN mungkin ada, tapi kecil. Concern saya yang utama, pasar ASEAN yang jumlahnya sekitar 600-an juta ini, 240 jutanya penduduk Indonesia dan 70 juta diantaranya kelas menengah. Ini artinya, 45 persen pasar ASEAN ada di Indonesia. Ini harus dikuasai dulu. Ngapain bicara ekspor, kalau kemampuan serapnya sedikit. Ekspor otomotif kita, misalnya, baru 200 ribu. Bandingkan dengan Thailand. Produksi otomotif Thailand mencapai 2,5 juta dan 50 persennya diekspor. Padahal jumlah penduduk Thailand hanya 67 juta.
            Mengapa pembangunan industri smelter terasa ribut yaPembangunan smelter nikel di Morowali lancar. Pembangunan smelter bauksit di Kalimantan Barat juga ngga ribut. Yang Freeport, ya mudah-mudahan. Mungkin ribut karena ada kaitan politik. Soal itu tanyakan pada Menteri ESDM saja.
            Bagaimana stretagi untuk membuat Industri terus tumbuh. Saat ini, investasi naik terus. Paling besar investor dari Singapura, Jepang dan China. Kalau industri mau tumbuh, harusnya memang ada subsidi energi ke industri seperti di negara-negara lain. Di sini, energi masih mahal. Di Indonesia, biaya listrik dan gas, kisaran 9-10 USD untuk industri. Bandingkan di negara tetangga, hanya sekitar 3-5 USD.
            Pengaruh gejolak kurs ini kelihatannya menyeramkan bagi dunia usaha. Ada yang takut bangkrut. Bagaimana anda melihatnya. Saya kira buat pengusaha, nilai tukar itu yang penting stabil. ***
Kisah Hidup Warna Warni
Numpang Di Rumah Jenderal, Tiap Hari Ngepel
            Kisah hidup Saleh Husin yang berwarna warni tak banyak terekspos. Lahir di Rote, Nusatenggara Timur, 16 September 1963, dia menjalani kehidupan penuh tangis dan air mata. Sejak kelas 5 SD sampai SMP, dia keliling kampung jualan kue-kue basah yang dibuat ibunya, Ma Aket. “Setiap sore, sampai jelang maghrib jualan,” kenang Saleh. Selain kue, kadang jualan ikan hasil tangkapan ayahnya, Husin, seorang nelayan.
            Lulus SMP, dia keluar dari Rote dan meneruskan SMA di Kupang. Saat di sekolah, mulailah dia terinspirasi sejumlah tokoh hebat asal NTT yang kerap didengarnya melalui media massa dan buku-buku. Antara lain, Letjen Julius Henuhili, Adrianus Mooy dan Prof Herman Johannes.
Julius Henuhili adalah perwira tinggi TNI AD, mantan Danjen Akabri dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Dikenal sebagai salah satu jenderal pemikir dan melahirkan berbagai konsep strategis. Sedangkan Adrianus Mooy adalah ahli ekonomi,mantan Gubernur Bank Indonesia masa jabatan 1988-1993. Dan Prof Herman Johannes adalah cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah Rektor UGM yang pertama (1961-1966).
            “Dalam hati kecil, saya ingin jadi orang seperti mereka itu,” ujar Saleh Husin. Tekadnya ingin kuliah. Tapi terbentur biaya, dia lalu mencoba tes masuk Akabri, supaya bisa sekolah tinggi dengan gratis. Dari puluhan orang yang disaring, dia lolos ke Magelang. Tapi saat tes kesehatan mata, dia dinyatakan gagal karena katarak. “Saya anak pesisir, biasa terjun ke laut tanpa masker, akhirnya kena katarak.” Gagal, Saleh malah nekat ke Jakarta. “Mau pulang kampung malu,” katanya, terkekeh. Di Ibukota, tekadnya menemui Henuhili. “Kenal pun tidak, tapi pokoknya harus ketemu idola,” kisahnya.
            Di rumah Jenderal Henuhili, akhirnya dia dibolehkan numpang. “Saya bilang, disuruh apa saja atau dipekerjakan jadi pembantu pun tidak apa.” Maka tiap hari, tanpa disuruh, Saleh mengepel, mencuci toilet, cuci piring, cuci pakaian, bersihkan kolam. “Saya bersyukur bisa tinggal di sana.” Lalu akhirnya bisa bergaul dengan kawan-kawan sebaya, di lingkungannya saat itu. Bahkan berkawan akrab dengan putra putri jenderal, di kawasan Menteng. Saleh sangat dekat dengan putra-putra Jenderal Try Soetrisno. Try, yang mantan wapres, ketika itu menjabat Pangdam Jaya.
            Perkenalan dengan anak-anak orang hebat inilah yang mengubah perjalanan hidupnya. Dibantu mereka, Saleh mulai usaha jualan banner, kaos dan bahan-bahan cetakan. Hingga akhirnya, usaha merambah ke bidang lain dan memiliki perkebunan terbesar di Sumatera Barat, hingga pabrik air mineral Ades. Anak ke-3 dari tujuh bersaudara ini pun akhirnya menjadi pengusaha.        Saleh Husin tertarik masuk politik, saat masa reformasi. Waktu itu, dia akrab dengan Amien Rais dan kerap mendampinginya. Tidak pernah masuk struktur di Partai Amanat Nasional, tapi dia malah diajak seorang kawannya, bergabung dengan Hanura.
            Kisah masa kecilnya yang sulit sempat dia ceritakan kepada Presiden, saat mengundangnya ke Istana, sebelum ditunjuk jadi menteri. Presiden pun bercerita balik. “Dan ternyata masa kecil beliau lebih sulit dari saya,” kata Saleh, mengenang.
            Bagaimana pola komunikasi menteri-menteri dengan Presiden. Apakah ada hambatan? Tidak. Komunikasi Presiden dengan menteri sangat cair. Komunikasi antar menteri juga amat baik. Kami mudah menghubungi Presiden. Dan Presiden menerima siapapun dengan terbuka. Suasana sidang kabinet pun tidak terlalu formal. Dialog lancar, dua arah. Gaya rapat juga bagus, seperti memimpin perusahaan. Bagus dan hidup.
            Apa benar jadi menteri di pemerintahan sekarang cape? Yaaa, tapi happy-lah. Kadang Sabtu Minggu juga kami kerja, kordinasi dengan teman menteri lain. Tapi, ini konsekwensi berbakti untuk masyarakat. Saya dari dulu terbiasa kerja keras. Keluarga sudah biasa menerima keadaan begini.
            Untuk menjaga kondisi, Saleh Husin menyempatkan olahraga. Karena waktu terbatas, dia mengayuh sepeda statis tiap hari, dan menjaga makanan. “Tidak ada pantang makanan, tapi porsinya dijaga tidak berlebihan,” katanya. ***

Wawancara ini telah dimuat di Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 13 April 2015

Rabu, 01 April 2015

Mimpi Mewujudkan Bandara Kelas Dunia: Ini Bukan Bisnis Ketawa-Ketiwi Yang Brengsek, Ya Dipecat...




          Bandara Soekarno-Hatta sedang bebenah. Memang belum banyak, tapi perubahannya mulai terasa. Motor pembenahan adalah Budi Karya Sumadi, yang sejak 15 Januari 2015 ditunjuk Pemerintah menjadi Direktur Utama Angkasa Pura 2, pengelola 13 bandara Indonesia, termasuk Soekarno Hatta.
          Selama dua bulan memoles bandara, apa yang sudah dilakukan Budi Karya? Kapan kita punya bandara bagus seperti di negara lain? Kepada Tim Rakyat Merdeka yaitu Kiki Iswara, Ratna Susilowati dan Kartika Sari, Budi Karya membeberkan rencananya.

          Apakah pengalaman Anda mengelola bisnis properti dan rekreasi cukup memberi manfaat untuk posisi baru saat ini, yaitu mengelola airport. Dan bagaimana meningkatkan speed kerja di tempat baru, agar bisa melaju cepat. Properti dan rekreasi sebenarnya sangat relevan dengan pengembangan bandara. Menjalankan bisnis airport ya kalau diurut-urut, ada kaitan dengan properti juga. Untuk mempercepat kerja, saya yakin bisa karena ada etos kerja di antara kawan-kawan AP 2. Kita punya kemampuan membuat airport jadi jauh lebih baik. Dalam dua bulan, hubungan kerja diantara kami sudah tune in. Direksi melakukan pendekatan, dan sudah bisa telpon-telpon antar bagian, bahkan tengah malam sekalipun. Kami tidak maulah bilang, yang dulu baik atau yang dulu jelek. Apa yang dilakukan di masa lalu pun, tetap ada manfaatnya untuk saat ini. Kawan-kawan AP 2 mendukung program yang kami lakukan.
          Apa masalah terbesar yang ditemui dalam dua bulan pertama duduk di posisi ini. Jujur saja, masalah terbesarnya, manusia. Mengelola bandara yang organisasinya sudah besar, manusianya memiliki karakter khas. Sebagian terjebak dalam comfort zone. Ini keywordnya: comfort zone. Karakter ini terbentuk karena jenis bisnis ini “given” seolah datang dan untung dengan sendirinya. Padahal kalau kita bisa keluar dari wilayah comfort zone, jayalah kita.
          Berarti program revolusi mental amat dibutuhkan di sini ya. Benar. Namun masih ada yang menginginkan suasana tidak dibuat seperti seharusnya. Kita kerja karena butuh uang, untuk penghidupan. Tapi, seharusnya tak sekedar itu. Dalam hidup, kita harus punya legacy. Harga diri lebih dari sekedar uang. Ini guyonan orang Jawa, jika kita jadi eyang dan berhasil membangun bandara hebat. Kita bisa ngomong sama cucu: “Le, ini bandara kuwi, embahmu sing gawe.” Nah, itu namanya kebanggaan. Kebanggaan tak pernah habis. Ada identitas dan kredibilitas yang jadi bekal untuk anak cucu kita.
          Untuk melakukan revolusi mental, apakah sudah jatuh “korban” atau sudah memecat berapa orang? Saya ini lebih senang persuasif mengajak orang keluar dari comfort zone. Tapi menerapkan gaya ini bukan berarti tak jatuh korban. Yang brengsek ya dipecat, tapi mengikuti prosedur. Yang jadi korban tidak banyak. Tindakan pemecatan sebenarnya bukan tipikal gaya saya. Saya memecat bukan karena tidak senang. Kalau ada yang brengsek, ya mestinya orang jenis ini jadi musuh bersama. Saya dasarnya meyakini, semua manusia itu punya potensi dan kemampuan.
          Anda memiliki target menjadikan bandara sebagai smile airport. Apa itu, dan bagaimana mewujudkannya? Smile yang saya maksud itu senyum bahagia, senang. Bukan senyum meledek ya. Mereka yang datang ke bandara, senyum karena merasakan pengalaman, menemukan something different, dan sesuai dengan harapan. Smile airport hanya bisa diwujudkan oleh pengelola yang juga selalu smile. Tersenyum bibirnya, juga senyum jiwanya. Kita ingin menciptakan bandara sebagai beranda Indonesia yang ramah.
          Menurut Anda, kondisi bandara Indonesia, terutama Soekarno-Hatta sekarang bagaimana ya. Saat ini bandara kita ya jadi beranda, tapi belum ramah. Masih banyak gangguan. Soekarno-Hatta ini bench-mark bandara-bandara Indonesia, jadi harus diperbaiki dengan cepat. Kesan-kesan kriminal perlu segera dihilangkan. Sekarang masih banyak orang atau turis yang takut datang malam ke Soekarno-Hatta. Target saya, dalam waktu 6 bulan, tiga persoalan besarnya selesai. Porter teratur, calo tiket diberantas dan taksi liar ditertibkan.
          Menyelesaikan tiga persoalan besar itu cukup berat. Bagaimana menghadapi perlawanan dari pihak yang merasa dirugikan oleh penertiban tersebut. Misalnya porter, nggak boleh langsung bertemu penumpang, tapi melalui counter dengan tarif sama. Petugas porter kini diseleksi ulang. Yang gemuk misalnya, dihentikan, karena porter harus lincah. Lalu taksi liar. Ditertibkan. Taksi harus plat kuning, sopirnya berseragam, ada counter. Lalu, calo tiket. Salah satu upayanya, menghilangkan counter tiket. Calo adalah profesi kuno sehingga tidak mudah diberantas, apalagi ada kongkalikong dengan orang dalam.
          Penutupan counter memang tidak disukai penumpang yang go show dan calo. Padahal tujuannya mulia, demi good governance. Sehingga perlu all out melakukannya. Menurut kami, semua transaksi harus terdaftar. Kami menertibkan mereka dengan menciptakan sistem.
          Apakah Bandara perlu bekerjasama dengan aparat keamanan untuk mengoptimalkan penertiban. Kami memang akan membangun kerjasama dengan Kepolisian, TNI, Marinir dan Paskhas. Kita minta bantuan mereka karena tidak sanggup menyelesaikan ini sendirian. Memang saat pembenahan, ada perlawanan. Kalau semua persoalan itu dihilangkan sekaligus, ada kekhawatiran timbul masalah sosial yang besar. Bayangkan, 1000 orang tiba-tiba kehilangan kerjaan. Jumlah taksi liar saja mencapai 1500. Lalu saya diskusi berulang-ulang. Cara terbaik saat bukan dihilangkan sama sekali, tapi ditertibkan, dibenahi.
          Apakah benar ada maskapai asing yang protes dengan penutupan counter tiket? Sepertinya tidak. Kalau maskapai asing protes, mudah menjawabnya. Di negara lain bisa, kenapa di sini tidak bisa. Yang agak sulit (menerima) justru LCC (low cost carrier), karena berkaitan dengan kelas menengah ke bawah. Kini, di permukaan kelihatan sudah tertib. Tidak bisa langsung hilang, tapi pelan-pelan tertib. Sebagian calo masih ada. Tidak di depan counter, tapi mungkin di parkiran. Kami ingin membuat sistem, membeli tiket semudah membayarnya. Jumlah penumpang go show tidak banyak. Hanya 7-10 persen dan kebanyakan penerbangan LCC.
Mayoritas bandara yang dikelola AP2 dilaporkan merugi. Mengapa bisa terjadi? Pertama, terlambat berinvestasi. Kedua, pengelola belum memiliki jiwa entrepreuner. Misalnya, ada bandara yang pendapatannya 30 miliar, tapi biaya SDM-nya 20 miliar. Itu persoalan besar. Kalau bisnis ini bukan layanan ke masyarakat, bisa-bisa tutup. Menangani itu, ya caranya dua. Naikan sales, atau cost-nya diturunkan. Atau lakukan dua-duanya. Kerugian harus dijadikan stimulasi bahwa bisnis ini bukan untuk ketawa-ketiwi. Bisnis ini pelayanan, bukan langsung untung, lalu memberi kesenangan begitu saja pada orang-orang tertentu. Bandara Soekarno-Hatta saat ini untungnya cukup signifikan.
Anda ingin mewujudkan Bandara Soekarno-Hatta seperti apa di masa depan? Apakah ada bench-mark yang ingin ditiru? Target saya, Bandara Soekarno-Hatta lebih bagus dari Kuala Lumpur (Malaysia) atau Swarnabhumi, Bangkok (Thailand). Biaya untuk itu sekitar Rp6 triliun. Dan, April 2016 ini, saya yakin mulai terwujud. Di (terminal 3 Soekarno-Hatta) yang baru kapasitasnya 25 juta penumpang. Lalu terminal 2 akan direnovasi untuk kapasitas 22 juta penumpang. Target total 50 juta penumpang. Selama 2-3 tahun, kemungkinan ada selisih sekitar 20 persenan tapi masih oke.
Direksi Angkasa Pura berinduk ke dua menteri. Yaitu Menteri BUMN dan Menteri Perhubungan. Memiliki dua bos seperti ini, bagaimana koordinasi kerjanya. Sejauh ini tidak ada masalah. Menhub domainnya operasional, pelayanan. Sedangkan BUMN urusannya keuangan. Dengan Menteri BUMN mungkin hanya bertemu saat RUPS. Sedangkan hari-hari, lebih sering berhubungan dengan Menhub.
Apakah benar di zaman Pemerintahan Jokowi, para CEO bekerja lebih keras dan capek. Yang terasa, saat ini kami bekerja lebih egaliter. Memang lebih capek, tapi juga lebih puas.

Suasana saat wawancara (foto: Rakyat Merdeka)

Tentang Gaya Kepemimpinan 
“Saya Tidak Mau
Terlalu Textbook”

          Baru satu bulan kerja, Angkasa Pura 2 kena sorotan tajam. Pada Februari lalu, AP 2 menalangi refund tiket ratusan penumpang Lion Air yang penerbangannya mengalami delay parah. Saat itu, ribuan penumpang menumpuk di bandara, dan mengamuk meminta pengembalian dana tiket. Sejumlah pihak menilai AP 2 tak etis menalangi refund tiket yang jadi tanggungjawab maskapai.
          “Di hari ketiga, ada yang mulai memecahkan kaca. Itu anarkis. Risikonya terlalu besar jika dibiarkan. Bandara adalah beranda kehormatan negara. Karena itulah diputuskan menalangi pembayaran tiket. Itu bukan keputusan saya sendiri. Kami sudah bicara dengan pihak kemenhub dan otoritas bandara. Orang yang ribut adalah yang tidak mendapat kepastian pengembalian tiket, kondisi uang di kantongnya pas-pasan dan terlantar. Kami perkirakan saat itu 4 ribuan orang, ternyata yang me-refund hanya sekitar 500-an orang. Yang kalap ternyata tidak banyak. Setelah ditalangi, kemarahan dengan cepat mereda,” kata Budi Karya, mengomentari lagi insiden itu. Kini dana talangan sudah diganti oleh Lion Air.
Kelihatannya Anda termasuk cepat mengambil keputusan. Bagaimana Anda menilai gaya bekerja. Berdasarkan text book, feeling atau pengalaman? Kombinasi ketiganya. Saya orang sekolahan, jadi masih suka membaca. Tapi saya juga orang lapangan, sehingga tidak mau terlalu textbook. Bagi saya, pengalaman dan studi banding itu sangat berarti. Yang baik, ditiru.
Misalnya? Contoh, saat ke Singapura, saya lihat ada rangkaian anggrek di entrance Changi Airport. Saya potret, lalu share ke teman-teman. Saya ajak mereka diskusi. Masa kita nggak bisa membuat begini? Bagi saya, pengalaman keseharian sangat memberi warna. Kalau kerja selalu text book, kita bisa ketinggalan terus. Kita berpikir mencari solusi sebuah masalah, padahal masalah baru terus bermunculan.
Budi Karya mengagumi dua orang senior yang dianggap sebagai guru perjalanan karirnya. Yaitu Ciputra dan Eric Samola. “Pak Ciputra saat bicara angka, amat detail. Saya berguru secara tidak langsung pada beliau selama 30 tahun. Sedangkan Pak Eric Samola, feeling bisnisnya luar biasa.  Dengan Pak Eric, saya berguru langsung selama 15 tahunan.”
Agar tetap fit setiap saat, Budi Karya mengatakan, kuncinya adalah menyenangi pekerjaan, dan jatuh cinta padanya. “Saya jatuh cinta pada bandara. Orang jatuh cinta ya akan smile terus. Senyum. Dan dengan senang hati berkorban demi rasa cinta itu. Saat ini, pengorbanannya ya misal Sabtu-Minggu, saya tidak selalu dengan keluarga, tapi bekerja. Di Bandara, kami menerapkan kerja piket Sabtu-Minggu.
Untuk menjaga kesehatan, Budi punya kebiasaan bagus. Tiap pagi, minum air hangat dan madu. Selain itu, dia senang mendengarkan musik. “Apa saja didengarkan. Dangdut juga oke.”
          Apakah Anda saat ini sudah merasa memberikan kontribusi terbaik dan menjadi orang hebat? Saya sudah memberi kontribusi, tapi belum hebat. Hebat itu kalau semua orang yang datang ke bandara tersenyum.


Lahir Di Palembang, Kuliah Di Yogyakarta
Saya Dekat Sekali Dengan Ibu...

Budi Karya lahir di Palembang, 18 Desember 1956. Anak ke-enam dari delapan bersaudara. Ayahnya pejuang di Sumatera Selatan bernama Abdul Somad Sumadi. Pernah berprofesi sebagai guru sekaligus utusan pemerintah Bung Karno. Sampai tahun 1962, Abdul Somad Sumadi bekerja di Kanwil Deppen Sumsel.
Ibunya, Kusmiati, orang Jawa di Palembang. Seorang guru taman kanak-kanak yang kemudian jadi anggota DPRD Sumsel tahun 1956-1959. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi Obor Rakjat, terbit tahun 1962. Kusmiati dan Abdul Somad bertemu dan menikah di Palembang.
Budi menghabiskan masa kecil dan remaja di Palembang. Masuk TK Persit di Bukit Besar (1960), lalu SD Muhammadyah Bukit Kecil (1963). Melanjutkan ke SMPN I Talang Semut Lama (1969), dan SMA Xaverius I Palembang (1972). Budi lalu hijrah ke Yogyakarta saat kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1976).
Masa kecilnya prihatin. Saat usia 10 tahun, dia membantu orang tuanya berjualan. Yang dijual sabun, lilin, makanan kering sampai selai pisang. Barang itu didatangkan dari daerah, dia masukkan ke plastik dan ditaruh di warung-warung atau dijajakan keliling. 
“Dalam bekerja, ada pattern dari ayah dan ibu saya. Mereka mengingatkan, pentingnya selalu berbagi. Gaya saya persuasif dan tidak suka memecat orang, mungkin itu warna dari orangtua saya,” katanya.
Dari ayahnya, Budi mendapat ilmu berinteraksi dengan orang lain. bersosialisasi. Ayahnya Ketua RW, sering berkirim surat ke banyak orang, ke pemuda masjid, pemuda kampung, masyarakat sekitar. “Itu pengalaman berharga saya, dan mewarnai hubungan saya saat berinteraksi dan sosialisasi,” ujar dia.
Apakah memiliki hubungan sangat dekat dengan Ibu? Saya dekat sekali dengan ibu saya. Sekedar untuk diketahui ya, nomor di bank saya itu ada kaitan dengan Ibu saya.
Karir Budi diawali di Grup Pembangunan Jaya (1982), lalu sejumlah proyek ditangani di Bintaro Jaya, Slipi, Semarang, Surabaya, Tangerang. Tahun 2002 mulai berkiprah di Ancol sebagai Direktur Keuangan. Sukses membawa Ancol go public, Budi menjadi Presdir PT Pembangunan Jaya Ancol. Tahun 2013, sebagai Presdir PT Jakpro, Budi menggarap sejumlah proyek besar Ibukota. Revitalisasi Waduk Pluit, waduk Ria-Rio, penyelesaian rusunawa di Marunda, Pusat Distribusi, Electronic Road Pricing (ERP) dan sejumlah proyek besar lainnya. “Pengalaman terbaik saat membangun Ancol menjadi ecopark. Bagi saya, itu menjadi legacy. Kebanggaan,” katanya.
Pernah memiliki pengalaman terburuk? Wah, ada. Saat berada di BUMD. Proses yang tidak mudah, tapi tidak perlulah diceritakan.
Saat ini, selain Bandara Soetta, AP 2 mengelola 12 bandara lainnya, yaitu Halim Perdanakusumah (Jakarta), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Supadio (Pontianak), Minangkabau (Padang), Sultan Syarif Kasim (Pekan Baru), Husein Sastranegara (Bandung), Sultan Iskandar Muda (Aceh), Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Dipati Amir (Pangkal Pinang), Sultan Thaha Ijambi), Kualanamu (Deli Serdang) dan Silangit (Tapanuli Utara).

Wawancara ini sudah dimuat di Rakyat Merdeka, edisi Senin, 30 Maret 2015. Juga ada di link  Rakyat Merdeka Online di: 

http://www.rmol.co/read/2015/03/31/197443/Budi-Karya,-Mimpi-Mewujudkan-Bandara-Kelas-Dunia-









Minggu, 22 Maret 2015

Erwin Aksa Gandeng Investor 300 Juta Dolar: Mimpi Jokowi Bangun Listrik 35 Ribu MW Mulai Terwujud


          Target Pemerintahan Jokowi membangun listrik 35 ribu Megawatt selama lima tahun, mulai diwujudkan. Bosowa, Grup perusahaan milik Aksa Mahmud, membangun PLTU di Jeneponto, Sulawesi Selatan, dengan menggandeng investor dari China. Proyek pertama yang terealisasi di era Pemerintahan Jokowi ini, nilainya mencapai 300 juta Dolar (atau sekitar Rp3,9 triliun).
          CEO Bosowa, Erwin Aksa menceritakan sedikit tentang ekspansi bisnisnya ini, Kamis (19/3) usai peletakan batu pertama dan pemancangan tiang proyek di Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
PLTU Jeneponto Unit 1 & 2, Desa Punagaya, Bangkala
(Foto: Ratnasusilo)
          Mengapa Anda memilih Jeneponto untuk membangun PLTU? Di wilayah ini, lautnya tenang, dan memiliki teluk. Saat survei lahan, rupanya kondisi alam seperti ini paling ideal. Selain itu, beban listrik di daerah selatan tidak ada. Sehingga perlu suplai dari wilayah ini agar imbang.
          Bosowa menggandeng ZTP Corporation dari China untuk membangun PLTU. Berapa nilai investasinya dan bagaimana bentuk kerjasamanya? Investasi proyek ini 300 juta Dolar untuk membangun Unit 3 dan 4. Kerjasama menggunakan skema modal perbankan. China berani memberi kredit jangka panjang sampai 10 tahun. Bahkan, proyek sebelumnya bisa 12 tahun. Bagi kami, ini bisa membuat lebih ringan pembayaran. Kerjasama dengan investor China meliputi teknologi, pendanaan dan kontraktornya sekaligus.  
Kenapa Anda memilih investor China? Saat proyek Tahap 1 dulu, mereka membangun dan kualitasnya bagus. Saya tak mau kalau kualitas mesinnya banyak ngadat dan nggak normal. Ini mesin yang dipilih levelnya, first class.
 
Sermoni Pemancangan tiang proyek dan peletakan batu pertama PLTU Jeneponto Unit 3 & 4.
 (Foto istimewa by Bosowa/ Andi Suruji)
Erwin Aksa di ruang pengoperasian PLTU
(Foto by Ratnasusilo)
          Proyek PLTU ini adalah Tahap 2, membangun boiler Unit 3 dan 4. Adapun proyek Tahap 1 PLTU Jeneponto sudah diresmikan Desember 2012, dengan investasi saat itu senilai 250 juta Dolar. Proyeknya dibangun selama 18 bulan, dari target 30 bulan. Untuk Tahap 2, Erwin Aksa menargetkan selesai maksimal 26 bulan. Dengan ekspansi ini, kapasitas listrik yang dihasilkan bisa 500 MW. Menteri Koordinator Kemaritiman Prof Indroyono Soesilo yang hadir bersama Menteri ESDM mengatakan, pembangunan PLTU ini diharapkan jadi bagian pemenuhan target pemerintah, yaitu membangun pembangkit listrik 35 ribu MW dalam lima tahun. Khusus tahun ini, targetnya 7.400 MW.
          Mengapa Anda berinvestasi di pembangunan listrik? Kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan cukup besar. Setiap tahun butuh pertambahan 80-100 MW. Kalau tak dibangun hari ini, bisa-bisa Sulawesi Selatan kena krisis listrik di tahun 2017-2018. Prinsipnya, kami harus membangun sebelum terjadi krisis listrik. Daerah lain mungkin krisis dulu baru dibangun. Untuk pasokan listrik di Sulawesi Selatan, PLN mengandalkan swasta. Sehingga idealnya, setiap 3 tahun dibuat konstruksi pembangkit baru. Kalau kita tidak membangun ini, proyek Bosowa lain pun, pasokan listriknya bisa terganggu.
          Bagaimana proses izin membangun pembangkit listrik. Apakah pengusaha menemui kesulitan? Pemerintahan baru ini mengeluarkan Permen (Peraturan Menteri), sehingga tarif listrik ditentukan sejak awal. Lain dengan dulu, ada negosiasi, proses permintaan proposal, lalu tender. Prosedurnya sekarang cukup cepat. Apalagi ini ekspansi dan lahannya sudah ada. Proses persetujuan hanya dua bulan, sejak diajukan.
Apakah bisnis ini marginnya cukup menguntungkan pengusaha? Lumayanlah. Lebih baik (keuntungannya) dari tarif sebelumnya. Kami menjual ke PLN levelize. Rata-rata 3,8 sen USD perKWH, selama 30 tahun. Atau sekitar 8 sen USD termasuk batubara dan maintenance.
          Setelah PLTU di Jeneponto, rencana berikutnya mau membangun apa lagi? Tunggu dulu. Lihat hasilnya ini. Luas lahan kami di sini sekitar 500 hektar, dan yang dipakai untuk membangun PLTU baru 80 hektar. Ke depan, mungkin bisa jadi kawasan industri. Apalagi daerah di sini tandus dan tertinggal, sehingga perlu dibangun. Bosowa saat ini sudah diminta membangun pembangkit di beberapa daerah. Tapi, itu nanti. Tunggu kejelasan aturannya dulu.
          Berapa tenaga kerja bisa diserap proyek ini? Pekerja bisa menyerap 3 ribuan orang, saat peak. Atau saat operasional bisa sekitar 200-an orang.
         
          Selain pembangkit dengan tenaga uap, Erwin juga punya cita-cita membangun pembangkit tenaga angin. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo bahkan ingin menjadikan wilayahnya seperti Belanda, punya kincir angin yang menghasilkan listrik. Indroyono Soesilo langsung menyambutnya. Dia janji menggerakan tenaga BPPT untuk melakukan penelitiannya. Saat Erwin Aksa ditanya soal ini, dia menjawab. “Di daerah ini bisa dikembangkan. Di sini anginnya cukup kencang. Kita ingin coba kembangkan tapi mungkin untuk kebutuhan internal dulu,” katanya.
          Bosowa, konglomerasi bisnis nasional yang berbasis di Sulawesi Selatan menyadari, tanpa listrik memadai, pertumbuhan ekonomi dan industri di wilayah ini akan terhambat. Kelompok usaha Bosowa didirikan dan dibangun 44 tahun lalu, dan kini telah menjadi salah satu pemain utama ekonomi nasional. Memiliki enam kelompok usaha utama yakni semen, otomotif, energy & resources, properti, jasa keuangan, pendidikan, serta satu grup portofolio investasi dengan bisnis infrastruktur, media dan agrobisnis. NAN (Telah dimuat di Rakyat Merdeka, edisi Senin 23 Maret 2015)

Kamis, 12 Maret 2015

Apakah Sudah Waktunya Membenci Jokowi?

Apakah sudah waktunya membenci Jokowi? Pertanyaan yang kerap dilontarkan sejumlah Jokowi Lovers. Beberapa kelihatan mulai kecewa, hari-hari terakhir ini.

          Perkembangan ekonomi belakangan ini memang kurang menyenangkan. Ditandai dengan rupiah yang terus loyo. Hari ini bahkan menyentuh ke Rp13.200-an. Ada analis yang memprediksi Rupiah bakal makin letoy. Bisa Rp15.000-an sampai ke penghujung tahun. Ini artinya pengusaha yang punya utang dalam Dolar, menjerit makin keras. Kalau di-rupiahkan, mungkin hitungannya, utang dia naik 30-an persen, hanya dalam waktu 3-4 bulan terakhir.          


ilustrasi by liputan6.com

Pemerintah sendiri “nggak bunyi” alias banyak diamnya. Wapres dan beberapa menteri kalau ditanya, jawabannya santai betul. Pokoknya, kondisi ekonomi Indonesia aman, stabil, terkendali. Pelemahan rupiah karena faktor eksternal, karena ekonomi Amerika lagi membaik. Intinya, Indonesia tak perlu khawatir. Kamis ini, Jokowi komentarnya begini: Gubernur BI tenang, saya juga tenang. Kenyataannya? Bener nggak sih kita tenang. Apa goyangan rupiah ini terasa ke rakyat?

Awal pekan kemarin, sempat ke pasar. Eh, harga beras belum turun beneran. Dan cabe kok makin mahalita. “Ini cabe mahal, karena musim hujan, Bu. Jadi susah panen dan transportasinya,” kata Ibu penjual. Sepertinya, itu jawaban asal bunyi saja. Sayuran impor juga harganya goyang. Wortel Rp3.000 sebiji, jagung Rp4.000 sebuah. Busyet, Tempe kesukaannku juga mihil. Maklum, kedele-nya impor. Lebih tragis lagi, kopi starbuck sudah naik pula harganya.

Pagi ke pasar, siangnya ketemu Diplomat Malaysia. Sambil makan siang di kawasan Senayan, tema perbincangan agak serius. Isu-isu politik Indonesia-Malaysia memang kerap menarik. TKI, mobnas, nasib Jokowi sampai pertanyaan tentang reshuffle kabinet. Hah? Baru 4 bulan, masa sudah ada gosip reshuffle kabinet.

“Kalau itu benar terjadi, saya....,” kata Diplomat ini, sambil tangan kiri mengibas di dahinya. Seperti tanda memberi hormat. Mungkin maksudnya, dia salut pada Jokowi, jika benar-benar berani mengganti sejumlah menteri, di saat pemerintahan baru seumur jagung. Saya dan sahabat yang menemani dia ngobrol pun tertawa liat reaksinya. 

“Kenapa tidak berani? Jokowi sepertinya tipikal pemimpin yang bisa mengambil keputusan ekstrim kalau diperlukan,” jawab saya. Karakter Jokowi khas. Sepertinya, tidak mudah terkesan pada seseorang, tidak mudah memberi pujian dan tidak mudah percaya, bahkan pada orang yang kerap bekerja di sampingnya. “Jadi reshuffle itu sebuah kemungkinan. Saya bakal tidak heran, andaikan menteri yang selama ini dikenal amat dekat dengan Presiden pun bisa saja di-reshuffle,” tambah saya.

Dia makin heran. Tapi, sambil senyum, lalu dia bilang. “Makin ke sini, Saya mulai belong to Jokowi,” ucapnya, campur-campur Bahasa Inggris khas Melayu. Tiap kali ada kawan di negara saya yang mengkritik Jokowi, saya spontan balas. “Saya bilang, tak begitu, tapi... bla.. bla,” katanya sambil tertawa. Dia memuji Jokowi. Tenang tapi menghayutkan. Seperti ketakutan, padahal aksinya bisa mematikan.          

Isu reshuffle memang sempat bergulir sebulan kemarin. Sumbernya tak jelas, tapi cukup ramai. Ada yang bilang, Teuku Umar kurang sreg dengan performa sejumlah menteri, bahkan beberapa ada di lingkaran utama Presiden. Tapi, soal ini tak pernah terkonfirmasi. Puan Maharani malah pernah bilang, “Itu terserah Presiden, nyamannya bagaimana,” kata dia saat suatu kali ditanya reshuffle.          

Selesai ketemu Diplomat Malaysia, obrolan pindah tempat. Tapi, topik pembicaraan rupanya sama saja. Wartawan senior, kawan ngopi paling setia mancing-mancing lagi soal politik. Dia ini termasuk Jokowi Lover. Lawan diskusinya, bos saya, yang kadang jadi SBY Lover. Nah, hari itu, dua-duanya ada di hadapan saya. Seru dah.          

Soal manuver yang terjadi di KPK, Polri, lalu sejumlah partai, terasa bahwa pertarungan memang keras. Musuh politik kekuasaan kini mulai berjatuhan. Satu demi satu. Katagorinya bukan lagi pelan tapi pasti, atau alon-alon asal kelakon. Tapi ini, lari sambil melibas. PPP, PAN, lalu terakhir Golkar, sudah takluk. Prabowo dan Gerindra sudah beberapa kali ketemu Jokowi atau JK. Kini, kejayaan SDA, Hatta dan Ical tinggal sisanya saja. Yang belum merapat ke kubu kekuasaan, hanya SBY dan Demokrat. Hilmi dan PKS.         

“Kawan saya mau melaporkan kasus korupsi, tapi beberapa orang menganjurkan baiknya ke Polisi atau Kejaksaan Agung saja,” kata Bos saya. Soalnya, KPK sekarang sedang landai. Tidak ada pergerakan. “Kalau mau langsung di-follow up, energi besar sedang ada di kepolisian dan kejaksaan,” tambah dia. “Apalagi, kalau kasus itu melibatkan orang musuh kekuasaan, sepertinya Polisi dan Kejaksaan tambah semangat,” celetuk saya. “Benerrrr,” jawab mereka hampir barengan, sambil ngakak.          


Foto by Tribunnews
“Jadi, Mega the real president itu fakta. SBY kini yaaa nothing,” itu kenyataan yang harus diterima, ujar Bosku, miris.      

“Power itu ya kotor. Meskipun pelaksananya bersih, tapi mau tak mau pelaksana harus menggunakan power untuk menghabisi lawan politik. Itu wajar saja,” spontan kawanku mereaksi.          

Jadi, apakah sudah waktunya membenci Jokowi sekarang? Biarpun rupiahnya lagi jungkir balik, ekonomi landai, penegakan hukum kontroversial, tapi pemerintahan ini memperlihatkan satu hal paling penting. Bekerja dan menumbuhkan harapan, optimisme. Berita miring ditimpa dengan planning. Ada pembangunan infrastruktur yang digenjot, pelabuhan, jalur kereta hingga Papua, swasembada pangan dan seterusnya.          

“Selama menteri-menteri di posisi strategis bekerja profesional, itu cukup melegakan dan memberi harapan,” kata kawan saya.Jadi, belum waktunya membenci pemerintahan ini? Tentu terserah Anda, bagaimana menilainya. ***

Selasa, 10 Maret 2015

Terkenang Lemang & Dessert yang Bikin Ngebet


          Minang, Padang dan sekitarnya, bolehlah disebut surganya dessert yang berbahan lemang dan ketan. Lemang juga bahan dasarnya beras ketan, dimasak dengan santan kelapa di dalam bambu. Bisa ditambahkan pisang di bagian tengahnya, sehingga jadilah lemang pisang.
          Pembuat lemang pisang yang paling terkenal ada di kawasan Limo Kaum, Batusangkar, Sumatera Barat. Yang original rasanya legit. Lemang pisang lebih gurih dan enak.
Lemang & Lemang Pisang

          Sesuai jenisnya, makanan berbahan ketan ini pasnya disajikan sebagai penutup, setelah hidangan utama yang berat. Yakni setelah makan nasi ditemani lauk yang pedas dan berminyak (rendang, gulai, kalio dan sejenisnya). Makanan utama sebenarnya sudah cukup mengenyangkan. Tapi, begitu dessert disajikan, air liur pun bisa menetes lagi.

          Grup kuliner Kelana Rasa, pertengahan Februari lalu mengunjungi Padang, Padangpanjang, Bukittinggi, Batusangkar, Payakumbuh dan Pariaman. Icip-icip dessert minang berbahan ketan, nyaris ada setiap jam. Selain lemang yang terkenal, juga ada ketan sarikayo juara dunia di Situjuah, Payakumbuh. Sarikaya dan ketan dibungkus masing-masing dalam daun pisang yang terpisah. Sarikaya yang warnanya kecoklatan, rasanya manis lezat dan harum gula aren. Sedangkan ketannya, sekepal lengket dengan campuran santan kental nan gurih.


Ketan Sarikayo Juara Dunia

Apiang Dadiah seperti yoghurt. Di bawahnya ada ketan yang lezat. Disiram dengan gula aren cair

Warna kehijauan adalah saus dari alpukat. Dicampur dengan ketan legit dan segaris coklat susu

Di Pasar Padangpanjang, ada ampiang dadiah yang disajikan dengan ketan dan gula aren cair. Dadiah rasanya mirip yoghurt. Ini adalah susu kerbau yang difermentasi dalam buluh bambu. Bisa dimakan dengan beragam cara. Biasanya untuk sarapan, dengan menambah ampiang, sejenis kerupuk dari beras ketan. Atau dimakan sebagai dessert mirip agar-agar. Yang unik, ada yang ditambah cabai, dan dipakai jadi sambal. Entah bagaimana rasanya.

Selain ini, ada lagi es cindua ampiang ketan nan legit. Tak ketinggalan, ketan bersaus alpukat yang gurih dan lezat. Tidak lupa, satu jenis lagi yang cukup populer. Bubur kampiun. Ini santapan biasanya untuk sarapan, atau makanan saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Bubur terdiri enam bahan. Ketan putih dan ketan hitam yang direbus, bubur candil dari tepung ketan, kolak ubi jalar, bubur sum-sum, dan bubur kacang hijau.

Selasa, 03 Maret 2015

Kopi Kawa Daun, Pahit Tapi Berkhasiat


Catatan dari Perjalanan #KelanaRasaMinang
Padang, Padangpanjang, Bukittinggi, Batusangkar, Payakumbuh dan Pariaman
(19 sd 22 Februari 2015)

Sajian agak unik ini lahir dari Ranah Minang. Namanya kopi, tapi sebenarnya obat herbal. Kopi Kawa Daun dan Kopi Daun Murbei. Dua-duanya, dibuat bukan dari sebenar-benarnya biji kopi. Sebab, yang diseduh dan diminum adalah daun. Kopi kawa daun, menggunakan daun kopi. Kopi daun murbei, menggunakan daun murbei. Tapi, karena warnanya hitam pekat, jadilah orang menyebut itu “kopi” meskipun yang pas adalah “mirip kopi”

Kuali Tempat Memasak Kawa Daun

Lemang Tapai & Lemang Tapai Pisang menemani kopi kawa
Kuali Tanah Liat untuk menyeduh Kopi Kawa & Daun Murbei. Di sini ditulis "teh"
tapi orang mengenalnya sebagai kopi, karena warnanya hitam pekat seperti kopi
Rasanya pahit. Kalau dicampur madu, pahitnya berkurang sedikit. Kopi kawa daun mengandung antioksidan tinggi (asam klorogenat dan guinides). Kata Arie Parikesit, founder Kelana Rasa, yang pertengahan Februari 2015 mengajak tur kuliner di Minangkabau, kadar antioksidan dalam kopi kawa daun lebih tinggi daripada teh hijau atau teh hitam. Sehingga, kawa daun baik untuk mengurangi penyakit hipertensi, kanker, jantung koroner, kolesterol dan diabetes. Penyumbatan pembuluh darah. Menarik, karena kopi ini kandungan kafeinnya rendah. Bahkan lebih rendah dari teh.
Silakan cek kehebatan kopi kawa daun ini di :

http://kopikawadaun.com/?p=850#sthash.g0cTfnWY.dpuf

Kenapa yang dipakai daunnya, bukan kopinya? Menurut situs tersebut, konon di zaman Jepang, hasil panen kopi dari Ranah Minang diekspor keluar negeri oleh penjajah. Akibatnya, pribumi tidak dapat kesempatan untuk mencicipi nikmatnya seduhan biji kopi. Minum kopi di masa itu, dianggap kemewahan. Rakyat biasa akhirnya, hanya kebagian daunnya saja. Bukan kopinya. Tak ada kopi, daunnya pun jadi.

Untuk mengolah kawa daun, amat mudah. Daun kopi yang telah dikeringkan, lalu diseduh air panas mendidih. Saya sempat mencicipinya di Cafe Kiniko, kawasan Tabek Patah. Daun kopi dijerang dalam kuali tanah liat yang besar. Orang yang mau cicip, tinggal ambil menggunakan sendok kayu kelapa. Minumnya pun menggunakan gelas dari batok kelapa dan adukan dari tangkai kayu manis. Paling enak mencicipi kopi ini dengan lemang tapai pisang, atau lemang yang original.

Selain kopi kawa daun, ada lagi kopi daun murbei. Penampilannya mirip. Warna gelap mirip kopi, dan cara menyajikannya juga sama. Rasa? Kurang bisa dibedakan dengan kopi kawa daun, karena sama-sama pahit. Kopi daun murbei juga penuh khasiat. Terutama bisa mengatasi penyakit ginjal. ***


Minggu, 01 Maret 2015

Berebut Jadi Mata & Telinga Presiden



Catatan Ratna Susilowati

Dimuat di Rakyat Merdeka
Edisi Senin 2 Maret 2015
 
Kursi Kepala Badan Intelijen Negara sangat seksi untuk diperebutkan. Beberapa hari terakhir ini, tercium aroma persaingan yang seru untuk meraih posisi itu. Kalau pertarungannya makin panas, ada kemungkinan nasib kursi ini mirip Kapolri. Pejabat lamanya, tak perlu diganti.
Kursi Kepala BIN amat strategis. Dia adalah mata dan telinga Presiden. Merujuk Undang-Undang Intelijen Negara, Kepala BIN memberikan masukan dan informasi akurat ihwal ancaman yang bisa mengganggu pemerintahan. Kepala BIN adalah orang yang mahir berdiplomasi, mengelola, serta mengolah data untuk disajikan kepada presiden sebelum mengambil keputusan.
          Ada sejumlah nama yang belakangan disebut jadi kandidat Kepala BIN. Dari muka lama yang familiar, sampai muka yang jarang kelihatan di publik. Dari sipil, militer asli, sampai militer politisi. Semua nama yang muncul ada nilai plusnya. Ada yang memiliki kedekatan historis, kawan sekampung, kawan se-koalisi, ada juga yang disokong orang dalam kekuasaan, atau se-chemistry dengan Teuku Umar.
Yang paling sering disebut adalah As’ad Ali. Dia bukan tentara. Mantan Wakil Kepala BIN di zaman Presiden Gus Dur itu, dikabarkan dekat dengan Hendropriyono, purnawirawan jenderal paling top dalam urusan intelijen di negara ini. Di lingkungan BIN, As’ad amat dikenal. Seorang kawan sampai memberi perumpamaan begini: “Di kantor BIN, Pak As’ad berhubungan akrab bahkan sampai level tukang sapu sekalipun,” katanya, sambil tertawa. Entah, itu benar atau tidak.

As'ad Ali (Foto: Antara)
Lelaki asal Kudus itu, 19 Desember lalu berusia 65 tahun. Melihat track recordnya, figur As’ad memang cukup paripurna. Saat kuliah di Fisipol UGM, dia juga mesantren di Al-Munawwir Krapyak, Yogya. Di BIN, dia bertugas lama di Arab Saudi, Syuriah, Lebanon, dan pernah di Amerika Serikat. Selain paham politik, dia juga diterima baik oleh kalangan Nahdliyin. Di PBNU, posisinya cukup bergengsi, sebagai Wakil Ketua Umum, mendampingi Said Aqil Siradj. As’ad pernah bertemu Osama Bin Laden. Di media onlinehttp://www.rmol.co/read/2012/02/18/55180/Empat-Kali-Bertemu-Osama-Bin-Laden-As’ad mengaku bertemu tak sengaja dengan Laden di sebuah restoran di Jeddah, Arab Saudi, tahun 1984. Melihat jejaringnya yang seperti itu, banyak yang menilai As’ad mumpuni dalam urusan terorisme dan paham-paham radikal. Dia akan mampu menghalau ISIS.
          Nama lain, Fachrul Razi. Pensiunan jenderal bintang empat, kawan seangkatan Luhut Panjaitan, di Akmil 1970. Luhut adalah Kepala Staf Kepresidenan, salah satu orang kepercayaan Presiden Jokowi, sekarang. Figur Fachrul Razi juga menarik karena dia sekampung dengan Surya Paloh. Sama-sama orang Aceh.

Fachrul berusia 67 tahun. Selepas pensiun dari militer, dia aktif di Partai Hanura, besutan Wiranto. Partai ini termasuk loyalis Koalisi Indonesia Hebat, yang menyokong kemenangan Jokowi-JK. Sepanjang karirnya di militer, Fachrul belum pernah mengurusi intelijen. Namun, sebagai mantan Wakil Panglima TNI di tahun 1999-2000, pasti dia memahami cara kerja intelijen, dan mampu mengkoordinasi kegiatan intelijen di lembaganya.

Sutiyoso (Foto: PKPI)
Figur menarik lain adalah Sutiyoso. Lebih populer sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta. Gayanya lucu dan nyeleneh, meskipun usianya tidak muda lagi. Tahun ini, lelaki kelahiran Semarang itu sudah 70 tahun. Seorang politisi yang akrab dengannya, menyebut Sutiyoso sebagai ahli intelijen tempur, karena pengalamannya sebagai Wakil Komandan Jenderal Kopassus di tahun 1992. Di politik, dia dan partainya, PKPI, termasuk ikut berkeringat memperjuangkan kemenangan Jokowi-JK bersama Koalisi Indonesia Hebat.
          Di luar itu, ada sejumlah nama lainnya. Misalnya, Ian Santoso. Angkatan udara dengan pangkat terakhir Marsekal Madya. Namanya disorongkan untuk mengakomodir posisi TNI AU yang belum mendapat tempat strategis di pemerintahan Jokowi. Ian adalah putra Halim Perdanakusuma. Pernah menjadi Kepala BAIS (Badan Intelijen Strategis) di masa pemerintahan Gus Dur. Kabarnya, chemistry Ian nyambung dengan Megawati.
          Yang lain, ada Erwin Syafitri. Ini nama jarang terdengar. Maklum saja, sebagai Kepala BAIS, dia tak bebas bicara kemana-mana. Militer aktif ini pangkatnya jenderal bintang dua, dan termasuk kandidat termuda. Usianya baru 55 tahun. Putra sunda kelahiran Cimahi ini peraih Adhi Makayasa, penghargaan siswa Akabri terbaik tahun 1982.
          Terakhir, Sjafrie Sjamsoeddin. Ini jenderal cerdas. Jika Jokowi menempatkannya sebagai Kepala BIN, itu berarti ada pertimbangan politik yang amat strategis, mengingat Sjafrie cukup dekat dengan Prabowo Subianto, sama-sama seangkatan di Akmil 1974. Sjafrie adalah putra Makasar, sekampungnya Jusuf Kalla. Pengalaman teritori dan birokrasinya mumpuni. Penampilannya juga meyakinkan dan enak dipandang. Di luar, Sjafrie tidak kelihatan cari-cari jabatan. Dia tak sibuk bermanuver demi sebuah posisi. Selepas dari jabatan Wamenham, hidupnya santai saja. “Dia tak mau ikut rebutan. Tapi amat pantas kalau dipinang,” kata seorang sahabatnya.
          Peta perebutan posisi Kepala BIN rupanya adem di luar, tapi panas di dalam. Presiden sepertinya menyadari hal ini, sehingga itulah kenapa, Kepala BIN yang sekarang, Marciano Norman belum diganti.

Marciano Norman (Foto: Tribunnews)
          Kalau aroma persaingan menajam, ada yang menduga masa kerja Marciano Norman akan diperpanjang. Indikasinya ada. Kabarnya, belakangan ini chemstry Jokowi sudah nyambung dengan Norman. Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdjiatno, beberapa waktu lalu diwawancarai Tempo, mengeluarkan pernyataan begini, “Kalau belum diganti-ganti, berarti cocok dong.” Kata Tedjo, tidak ada keharusan mengganti posisi Kepala BIN saat ini, bahkan ada kemungkinan Norman diperpanjang selama beberapa tahun ke depan. “Boleh Terus (menjabat). Tidak melanggar secara peraturan undang-undang. Pokoknya terserah presiden mau digunakan hingga kapan,” ujarnya.
          Seorang politisi, orang kepercayaan ketua umum di Partai Koalisi Indonesia Hebat juga menyatakan hal serupa. Dia membaca, tak akan ada perubahan Kepala BIN dalam waktu dekat ini.
          Ini baru spekulasi. Jika benar dipertahankan, Marciano Norman akan jadi sosok yang menarik di kabinet. Tokoh yang memiliki hubungan sangat baik dengan SBY, tapi diterima dengan lapang dada oleh Jokowi.
          Siapapun yang jadi Kepala BIN, terpenting sosoknya berintegritas dan berkualitas. Mata dan telinga Presiden, jangan sampai dipakai oleh pihak lain, diluar kepentingan negara. ***