Minggu, 06 September 2015

Ngobrol Dengan Shamsi Ali, Imam Mesjid New York: Agama & Kebebasan Berpikir, Ibarat Ikan & Air

 


Shamsi Ali amat terkenal di Amerika. Beberapa hari terakhir ini,Imam masjid Al-Hikmah, di New York itu, adu argumen dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Shamsi mengkritik Fadli, Ketua DPR Setya Novanto dan rombongan Dewan yang menghadiri kegiatan capres Donald Trumph, saat kunjungan ke Amerika.
Perseteruan sepertinya akan berlanjut karena Fadli Zon berniat melakukan somasi. Siapakah Shamsi Ali? Anak bangsa yang berkiprah di dunia internasional ini dikenal sebagai tokoh dialog antar umat beragama. Banyak pemikiran-pemikirannya yang menarik saat diwawancarai Eksklusif oleh Kiki Iswara, Ratna Susilowati dan Mellani Eka Mahayana dari Rakyat Merdeka, 20 Agustus lalu. Selama di Indonesia, bulan lalu, Shamsi banjir undangan jadi pembicara dimana-mana. 
 
          Mengapa Anda berkelana hingga ke Amerika Serikat? 

Setelah menyelesaikan sekolah S1 dan S2 di Pakistan, saya mengajar di Jeddah, Arab Saudi. Saya mengajar non muslim dan para mualaf di sebuah institusi dakwah. Itulah saat-saat awal interaksi saya dengan orang-orang selain muslim. Dua tahun di sana, saya merasa resah. Jiwa saya ini pemberontak dan tidak bisa menerima pemikiran-pemikiran yang dipaksakan. Saya ingin ada kebebasan dalam berpikir. Namun kenyataannya saat itu di Saudi Arabia, cara paham diseragamkan. Bahkan, pemahaman non agama pun harus sama. Misalnya, kalau saya berceramah, materi dianggap agak beda, besoknya dipanggil. Rupanya ceramah saya dipantau, dimata-matai. Padahal, kebebasan dan agama itu seperti ikan dan air. Sebesar apapun ikannya, kalau tak ada air, akan mati pelan-pelan. Sehebat apapun simbol-simbol agama, tanpa kebebasan, tak akan langgeng. Hal lain, saya juga resah karena terkait nasib TKI TKW kita di sana. Ada pemerkosaan, penyiksaan dan sebagainya.
          
Karakter Anda menarik juga ya. Menginginkan ada kebebasan berpikir, padahal selama sekolah di Pakistan, mungkin mengalami kehidupan agama yang cukup keras. 

Dari luar, Pakistan dipersepsikan keras, karena ada konflik. Apalagi, tahun 1987-1988 (saat Shamsi Ali bersekolah di sana), saya mendapatkan angin perang. Itu mempengaruhi cara berpikir. Tapi guru-guru saya amat bagus dan pikirannya terbuka. Sebagian mereka tamatan dari Jerman dan Inggris. Kehidupan agama di Pakistan sebenarnya heterogen. Memang ada pertarungan terbuka, dan sama-sama membuat ketegangan.
         
 Islam dan kebebasan berpikir di Indonesia apakah sudah dalam kondisi ideal saat ini? 

Setelah tumbangnya Orde Baru, kita masuk era kebebasan berpikir. Mungkin ada yang menganggap kita sekarang berada di persimpangan jalan. Tergantung kita mau membawanya kemana. Saya diundang masuk di grup whatssaap yang isinya sejumlah orang dengan beragam pemikiran agama. Mulai dari keras, sampai lunak. Kalau bicara tentang sebuah masalah, berdebat kasus, semuanya datang dengan alur pemikiran masing-masing. Di grup itu semuanya blended, meskipun berbeda konsepnya. Masing-masing ingin menunjukkan diri sebagai sebuah solusi. Yang kita kuatirkan, kita terbawa emosi berlebihan, sehingga rasionalitas berpikir jadi berkurang.
 
          Banyak orang sangat sensitif saat tersinggung agamanya. Bahkan jadi mudah marah. Bagaimana agar umat Islam tidak mudah tersulut emosi. 

Saat muncul kasus kartun Nabi, kami demonstrasi dan mendatangi Konjen Denmark di Amerika. Kami mempertanyakan, mengapa Denmark melakukan penghinaan kepada Nabi, yang dihormati miliaran umat manusia. Mereka lalu memohon maaf. Mereka katakan, negaranya tidak mengurus agama. Mereka malah balik menantang pikiran kami. Katanya, tantangannya justru sekarang tergantung Anda. Bagaimana Anda mendidik kami, karena kami tidak tahu tentang agama Anda, tidak tahu tentang Nabi anda. Nah, itulah. Ternyata mereka tidak tahu. Tantangannya, kita harus memberi tahu, menyebarkan pengetahuan kepada mereka. Artinya, memaafkan di sini, mencari solusi. Buatlah marah menjadi positif.
        
  Bagaimana Anda merasakan kehidupan beragama di Amerika belakangan ini. Apakah menunjukkan tren yang semakin bersahabat untuk kehidupan kaum muslim. 

Di Eropa Barat, sekularisme agama berarti jangan sampai simbolisasi agama terlihat di muka publik. Sementara di Amerika malah sebaliknya. Negaranya sekuler, Pemerintah Amerika tidak mengurus agama, tapi justru menjamin dan melindungi kehidupan beragama. Di Amerika, ada polwan muslim dan berjilbab, itu biasa. Baru-baru ini ada seorang Pakistan yang bekerja di Airport dipecat karena janggutnya panjang. Dia mengadu dan di Pengadilan, hakim memenangkan orang Pakistan itu. Dia diberi uang kompensasi dan boleh kembali bekerja. Artinya apa? Amerika dianggap anti-Islam, tapi kenyataannya menghormati hak orang berjenggot karena alasan mengikuti agamanya.
         
 Mengapa kita gampang mencurigai orang di luar Islam, lalu dicap anti-Islam? 

Problemnya di penafsiran. Apa-apa dikaitkan dengan agama. Saya di Amerika, tinggal bertetangga dengan non muslim. Tiap hari bertemu dan saling menyapa. Tidak mungkin, kita hidup bertetangga, tapi kita tidak memberi senyum pada mereka. Agama mengajarkan pertemanan dan hati yang lembut. Itu dasarnya tolerasi. Ada contohnya. Saat Rasul membuat konstitusi berupa piagam Madinah, beliau melibatkan seluruh komponen masyarakat. Ini artinya, saat urusan negara, semua komponen dilibatkan. Juga saat ada sejumlah orang nonmuslim datang menemui dan ingin mendebat Rasulullah, mereka diterima dan boleh menginap di Mesjid-nya Nabi. Bahkan, mereka boleh istirahat di situ. Saat ini, kehidupan sudah global. Tetangga tidak lagi disebut 40 rumah ke kiri dan ke kanan, tapi seluruh dunia. Sebab, tak ada lagi barrier-nya.
        
  Selama 20 tahun tinggal di Amerika, pernahkah menerima perlakukan diskriminatif?

 Nama saya mengandung kata-kata “Muhammad” dan “Ali” sehingga, saat check in di airport, beberapa kali kena lack. Memang kadang cukup merepotkan. Di Amerika, dua kata itu, jika dimasukkan ke komputer, otomatis di-lack. Tapi biasanya, setelah di-interview sebentar, tidak masalah. Berulang kali saya katakan, kapan sistem itu diubah. Saya tidak sedih mengalami ini. Saya memahami, negara punya hak untuk melindungi warganya dari perasaan tidak aman. Menghadapinya, kita harus sabar. Selain hal itu, saya tidak pernah merasa diperlakukan diskriminatif. Saat diwawancara oleh CNN, saya ditanya, apakah menurut Anda, Amerika anti-Islam? Saya jawab, saya merasa lebih bebas mempraktekan ajaran agama Islam, dan bebas menyampaikan apa saja di Amerika. Kebebasan beragama di Amerika ternyata lebih terasa.
         
 Dalam beberapa ceramah, Anda sering bilang Islam itu indah, dan kita harus bisa menampilkan keindahannya. Bagaimana caranya? Apakah di Indonesia, Islam sudah cukup indah? 

Menurut saya, kita masih dalam proses. Umat Islam di Indonesia sedang mencari jati diri. Yang saya khawatir, kita mengedepankan emosi. Padahal, kalau kita meluapkan emosi, apakah hasilnya bisa lebih teratur? Lebih hebat dan berkuasa? Menurut saya, saat kita berjuang untuk agama, etika tetap harus digunakan. Jangan sampai memperjuangkan agama, tapi etikanya diinjak-injak. Contoh sederhana, menyebarkan berita yang dimanipulatif atas nama agama sehingga membuat orang marah dan emosi. Itu ketidakjujuran dalam memperjuangkan agama. Kita marah saat orang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, lalu mengapa kita melakukan itu. Janganlah memanipulasi berita atas nama memperjuangkan agama.
 
Bagaimana stigma Islam di mata barat pada umumnya?

 Saat diinterview televisi CBS (Columbia Broadcasting System), Saya bertemu seorang Rabi. Kami salaman, tapi dia membuang muka. Saya tanyakan, kenapa dia bersikap begitu. Dia bilang alasannya ada dua. Pertama, karena dia membenci Islam. Dan kedua, dia tidak yakin saya muslim. Kenapa dia membenci Islam? Karena stigma yang tertanam pada dirinya, bahwa Islam itu terbelakang, tidak kenal sains, tidak rasional, tidak menghormati HAM dan tidak menghormati wanita. Juga dianggap tidak bersahabat, kaku dan tidak demokratis. Inilah tantangan. Saat saya mengikuti konferensi Islam di PBB, saya ingin menampilkan bahwa Islam tidak seperti itu. Islam bukan hanya di Arab. Di dunia ini, orang Islam Arab hanya 15 persen. Sementara Islam di luar Arab, yaitu gabungan Asia Tenggara dan negara lainnya, mencapai 65 persen. Kita janganlah bersikap inferior. Di dunia usaha misalnya, kita jangan seolah cium tangan pada pekerja yang kulitnya putih (asing, Red). Atau, begitu Arab datang, janganlah selalu menganggap mereka yang paling benar. Jangan sampai semua keturunan Arab dianggap keturunan Nabi. Kan, di Arab juga ada Abu Lahab.
 
Mengapa ada pandangan Islam anti-demokrasi? 

Kita harusnya mencontoh cara yang dilakukan Nabi. Beliau tidak menunjuk penggantinya sebelum meninggal dunia. Itu artinya Islam tidak diktator. Nabi mungkin menginginkan masyarakat Islam mempraktekan cara musyawarah. Itulah contoh berdemokrasi.
 
Di Indonesia, sejumlah partai politik juga memperjuangkan agama. Apakah cara itu cukup efektif membesarkan dan menguatkan agama? 

Banyak kawan saya di sejumlah parpol Indonesia. Ada yang pernah satu pondok pesantren dengan saya saat di Bulukumba (Sulsel). Pergerakan mereka melalui pembinaan dikampus, sehingga banyak anggota partainya yang terpelajar. Agar partai agama besar, sifatnya harus terbuka, merangkul semua orang. Sebaiknya tidak membuat partai yang isinya kelompok dari kalangan sendiri, karena bisa mengundang kebencian. Partai tidak akan pernah besar, jika golongannya eksklusif. Silakan membuat partai agama, tapi perjuangkan ke-indonesiaan. Kalau hanya memakai agama, bisa tercerai. Islam agamanya, tapi ya pengikutnya tetap manusia. Dan manusia bisa salah dan diuji.


 
Hampir 20 Tahun Jadi New Yorker
 
Shamsi Ali menamatkan Sekolah Dasar di Kecamatan Kajang, Bulukumba. Lalu, SMP dan SMA di Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara, Makassar. Setahun setelah tamat pesantren 1987, Shamsi Ali sekolah di Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan. Mendapat beasiswa dari Rabithah Alam Islami. Jenjang S1 di bidang Tafsir selesai 1992. Dan S2 di tahun 1994, bidang Perbandingan Agama.
 
Sambil kuliah, Shamsi juga mengajar di sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari situlah, dia ditawari mengajar pada the Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi, tahun 1995. Saat musim haji 1996, Shamsi Ali berceramah di Konjen RI di Jeddah, dan bertemu sejumlah jamaah, termasuk Dubes RI untuk PBB Nugroho Wisnumurti, yang menawarinya datang ke New York. Maka, sejak 1997, Shamsi Ali menjadi New Yorker, sebutan untuk orang yang menetap di New York.
 
Saat ini, Shamsi Ali adalah Ketua Masjid Al-Hikmah di Astoria dan Direktur Jamaica Muslim Center di Queens. Beliau ulama tafsir yang fasih berbicara Indonesia, Inggris, Arab dan Urdu. Sering pidato di forum PBB dan kontributor tamu media untuk ABC, PBS, BBC World, CNN, Fox News, National Geographic, al-Jazeera dan Hallmark Channel.
Shamsi Ali dianugerahi sebagai satu dari 100 penerima the 2009 Ellis Island Medal of Honor Award. Medali emas bergengsi non militer sebagai pengakuan tertinggi untuk imigran yang berkontribusi luar biasa kepada masyarakat Amerika dan dunia. Shamsi dianggap telah membangun jembatan antara komunitas agama.
Shamsi Ali termasuk tujuh pemimpin agama yang paling berpengaruh di New York. Tahun 2009, 2010, 2011 dan 2012, terpilih sebagai salah satu 500 Muslim paling berpengaruh di dunia oleh Studi Islam Royal Center Strategis di Yordania dan Universitas Georgetown. Shamsi adalah tokoh penggagas dialog antaragama, membantu warga mempelajari Islam, mengubah bahasa kutbah dari Arab ke bahasa Inggris, berkeliling ceramah untuk menebar perdamaian. Bukanlah hal mudah melakukan itu di Amerika, karena dibutuhkan proses adu argumentasi yang apik, teologis, hakiki dan politis. Juga harus didukung tingkah tauladan sebagai muslim.
Kenapa dialog antar-agama itu penting? Menurut Shamsi Ali,dialog antar agama bukan berarti menyatukan agama-agama, tapi mencari sisi-sisi kesamaan yang bisa membuat keterhubungan. Kesamaan paling utama adalah kerjasama atau hidup harmoni. Islam harus lebih banyak disosialisasikan dan menghindari kontroversi. Yang terbaik adalah membangun pemahaman Islam yang berkarakter terbuka, inklusif dan berkeadilan universal, bersikap toleran dan bekerjasama.
Menurut Shamsi Ali, umat Islam harus ikut berperan di tengah kemajuan teknologi saat ini. Jika diam saja, akan tergerus globalisasi. Umat Islam juga harus bersikap terbuka, mengubah mindset, aktif dan berkontribusi di masyarakat. Harus berusaha melakukan sesuatu, bukan sekedar berusaha mendapatkan sesuatu. ***
 

 
Dijuluki Donald Trump “Smiling Muslim”
 
          Shamsi Ali pernah bertemu dengan Donald Trump. Saat itu, tahun 2014, Beberapa hari setelah dia mendengar pernyataan Donald Trump yang menyudutkan umat Islam. Shamsi menemui Trump ditemani Rabbi Yahudi Marc Scheneier dan Russel Simmons, seorang aktivis pembela kaum minoritas. Saat melihat Shamsi Ali, Donald Trump tertawa terpingkal-pingkal.
Rusell heran, lalu bertanya, kenapa? “I had never dreamt that I will meet a smiling Muslim” (Saya tidak pernah bermimpi untuk ketemu dengan seorang Muslim yang tersenyum). Begitulah jawab Trump. Shamsi saat itu agak tersinggung. “Saya yakin saya lebih sering tersenyum dari Donald Trump,” kata Shamsi Ali, seperti ditulis di Facebook pribadinya, Juni 2014.
          Shamsi Ali lalu menceritakan isi perjumpaan itu. Dia bertanya kepada Trump. “Dari mana gerangan Donald Trump berkesimpulan bahwa orang-orang Islam itu tidak tahu tersenyum?” Semua terdiam. Donald Trump serius menjawab: “Itulah yang selalu saya saksikan di televisi-televisi.”
          Kepada Trump, Shamsi mengatakan: “Mr Trump, sungguh sebelum saya datang ke kantor anda dan bertemu anda, saya ada kesimpulan negatif tentang anda. Sangkaan saya, Anda orang yang angkuh. Ternyata, Anda menyambut kami dengan senyuman dan bercanda, saya mendapati anda sebagai orang ramah. Kalau seandainya saya mengambil kesimpulan tentang orang besar seperti anda dari televisi atau media alangkah naifnya. Sungguh naifnya juga jika mengambil kesimpulan tentang 1,6 miliar manusia (Muslim) hanya dari televisi atau media.” Sejak saat itu, Trump tidak pernah lagi terdengar bicara yang menyudutkan Islam.
          Shamsi mengatakan, jumlah muslim di Amerika saat ini sekitar 9 juta orang. Pasca 11 September, justru makin banyak orang Amerika masuk Islam. “Estimasinya sebesar 4 kali lipat,” kata Shamsi Ali.
Orang Amerika bersifat terbuka dan rasa ingin tahunya amat tinggi. Karena itulah, pasca 11 September, banyak orang Amerika memburu dan membeli Al-Quran. “Mereka ingin tahu informasi sebenarnya tentang Islam. Dan saat membaca Al-Quran, mereka justru menemukan Islam merupakan agama yang agung dan jauh dari apa yang mereka pikirkan selama ini,” katanya. ***

Wawancara ini sudah dimuat di Harian Rakyat Merdeka
Edisi Senin, 7 September 2015.


 
 
 

Minggu, 05 Juli 2015

Jaket Kulit Politik Ala Presiden & Menteri Rini

 


Belakangan ini, Menteri Rini Soemarno kesamber isu-isu yang kurang enak, sehingga hubungannya dengan Presiden digambarkan seolah memanas. Tapi, komunikasi politik ala jaket kulit sepertinya bisa mengubah persepsi itu.

Presiden Jokowi mengisi hari minggunya dengan kegiatan kedinasan di Kamojang, Garut, Jawa Barat, menghadiri dua agenda cukup penting. Yaitu peresmian PLTP Kamojang Unit 5 sekaligus groundbreaking proyek pengembangan panas bumi di 4 lokasi (Ulubelu Tanggamus Lampung, Lahendong Sulut, Lumut Muara Enim Sumsel, Karaha Tasikmalaya). Dan satu lagi, kegiatan pasar murah untuk masyarakat di sekitaran Garut.

          Ada tiga menteri yang mendampingi Presiden. Tapi Menteri BUMN Rini Soemarno yang kelihatan paling aktif dan terus berada di sekitaran Presiden. Saat seremonial peresmian proyek di PLTP, Rini duduk persis di samping Presiden, sedangkan dua menteri lainnya, yaitu Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo dan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel berada di barisan kursi lain, di sayap kanan Presiden.

          Rini juga terlihat cukup sibuk. Dia datang duluan ke lokasi, sekitar satu jam sebelum acara, untuk mengecek kesiapan. Air muka Rini kelihatan agak lelah. Maklum saja berangkat dari Jakarta pagi hari, dan melalui jalan darat sekitar 4-5 jam menuju Kamojang. Meskipun begitu, Rini tetap lincah dan enerjik. Cukup detail Rini sempat memberikan semacam arahan kepada Dirut Pertamina Dwi Soetjipto dan beberapa manajer regional yang menjadi tuan rumah kegiatan. Rini juga sempat berkeliling menyambangi stand-stand pengusaha kecil yang menjadi binaan Pertamina.

Di salah satu stand, ada yang menjual jaket kulit. Rini rupanya tertarik membeli, karena udara Kamojang saat itu cukup dingin. Rini memilih warna coklat dan langsung dipakai, melapisi kemeja putihnya. Tak lama kemudian,

Rombongan Presiden datang. Acara pun di mulai.

Selama berlangsungnya seremoni, Rini sering sekali berbicara sambil berbisik kepada Presiden. Kelihatannya obrolan serius. Presiden juga menanggapi. Keakraban mereka juga terlihat saat mengunjungi stand-stand binaan Pertamina. Di stand jaket kulit, Jokowi kelihatan tergoda. “Ini Pak, saya beli di sini juga. Harganya Rp1,3 juta,” kata Rini sambil menunjukkan jaket yang dipakainya. Jokowi lantas meminta yang warna biru tua. Dibeli, lalu langsung dipakai. Keduanya pun kompak berjaket kulit. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar sempat tertarik ingin membeli, sayang ukurannya tak ada yang cocok. Sementara Menteri Rachmat Gobel dan Menko Indroyono Soesilo hanya senyum-senyum saja menyaksikan Presiden dan Menteri Rini, ditawari barang-barang yang dijual.

          “Sepatu Bapak, ada yang ukuran 43?" tanya Rini di stand sepatu dari kulit bambu. Presiden saat itu cukup antusias melihat-lihat sepatu khas hasil kerajinan pengusaha lokal. Berlanjut ke stand makanan ringan, Rini juga kelihatan sigap. “Bapak ingin beli rengginang ya,” kata Rini. Ajudan Presiden pun langsung sibuk menyiapkan pesanan itu dengan penjualnya.

          Kompakan berjaket kulit, Presiden dan Menteri Rini masuk ke areal Geothermal Information Centre. Di lokasi ini, rombongan diberi penjelasan mengenai proses pengambilan energi panas bumi dan melihat maket pengembangan PLTP di Kamojang.

          Presiden Jokowi melepas jaketnya saat mengunjungi site proyek di unit 5. Berganti rompi Pertamina, warna merah biru dan mengenakan helm proyek putih. Di lokasi ini, kepada wartawan, Presiden menegaskan pentingnya Indonesia mengembangkan proyek energi alternatif.

          Diucapkan saat pidato, Presiden bicara pentingnya mengembangkan energi alternatif selain batubara. Setelah geothermal atau panas bumi, pemerintah mendorong pengembangan energi baru lainnya, seperti angin, matahari dan ombak. Gaya presiden berpidato sangat cair. Meskipun dibawakan seberkas naskah pidato, tapi Jokowi tidak membacanya. Dia pidato dengan gayanya sendiri. Natural dan apa adanya.

          Proyek PLTP Kamojang yang diresmikan ini, kapasitas dayanya sebesar 35 Megawatt. Atau total daya Unit 1, 2, 3, 4 dan 5 kini mencapai 235 Megawatt. Ini adalah jumlah yang kecil dibandingkan potensi panas bumi yang dimiliki Jawa Barat. Menurut Wagub Deddy Mizwar, potensi geothermal di wilayahnya bisa mencapai 6 ribu Megawatt, atau sekitar 22,4 persen potensi nasional.

          Sedangkan menurut Dirut Pertamina Dwi Soetjipto, Indonesia memiliki potensi geothermal sebesar 28 ribu Megawatt, namun baru 5 persen saja yang dimanfaatkan. Geothermal di Kamojang kualitasnya termasuk nomor 1 di dunia, karena 99 persen berisi uap. Potensi panas bumi di Indonesia adalah yang ketiga terbesar di dunia.

Proyek panas bumi Kamojang rupanya bisa “menghangatkan” hubungan politik Presiden dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Sepekan terakhir, Rini dikaitkan dengan isu rekaman penghinaan Presiden. Tapi, apakah keakraban ini, jadi jaminan aman dari reshuffle kabinet? Kita lihat nanti. /Ratna Susilowati/

Berikut ini beberapa foto keakraban Presiden dan Menteri BUMN di Kamojang

 

 



Artikel ini sudah dimuat di
Harian Rakyat Merdeka
edisi Senin, 6 Juli 2015


Selasa, 30 Juni 2015

Menjejakkan Kaki Di Perut Bumi Papua: Freeport Membangun Tambang Bawah Tanah Terbesar Di Dunia




 
Freeport bekerja dalam diam. Tak banyak bicara, mereka ternyata sudah membuat terowongan sepanjang 500-an kilometer menembus perut bumi Papua. Ini akan jadi akses areal pertambangan bawah tanah terbesar di dunia.
 
“Di Jakarta, bangun terowongan untuk transportasi massal sulit dan lama. Ini di Papua tau-tau sudah buat terowongan ratusan kilometer,” kata Arif Budisusilo, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, berkelakar. Padahal kondisi alam di Papua amat ekstrim. Daerahnya berbatu sehingga jalanan sangat terjal, berliku dengan turunan dan tanjakan yang tajam. Di areal heatroad, kemiringan jalan mencapai 68 derajat. Posisi kawasan pertambangan, diapit sejumlah pegunungan dan bukit-bukit. Cuaca lembab setiap saat.
“Musim di sini hanya dua. Musim hujan, dan hujan deras,” kata salah seorang karyawan, yang mengantar saya berkeliling. Di permukaan tanah, pemandangan alam Papua memang luar biasa indahnya. Sekeliling mata dimanjakan oleh birunya langit dengan awan yang berarak seperti kapas, melintasi hijaunya gunung dan hutan lebat. Tapi, begitu menerobos bawah tanah, suasananya berubah drastis.
Bersama 13 pemimpin media massa, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menjejakkan kaki di bawah tanah. Melintasi jalur selebar 5 meteran, tinggi 10-an meteran yang kondisinya gelap, lembab dan berlumpur. Kami menggunakan kendaraan 4 gardan. Terowongan itu dibangun oleh ribuan pekerja Freeport. Siang malam, tanpa henti. Menembus gunung, melubangi bukit, membuat akses penambangan baru.
Lokasi yang lama yaitu wilayah penambangan terbuka (open pit) di grasberg akan habis tahun 2017. Hasil survey dan penelitian, ditemukan potensi mineral di bawah tanah, sehingga Freeport harus melakukan ekpansi ke lokasi itu. Kalau pemerintah memberi lampu hijau perpanjangan operasi, maka proyek tersebut bakal jadi penambangan bawah tanah terbesar di dunia.
Senior Vice President Geoservice Wahyu Sunyoto menceritakan, di bawah tanah ada empat lokasi penambangan baru, yaitu Grasberg Block Cave, Kucing Liar, Big Gossan, DMLZ (Deep Mining Level Zone). Sedangkan areal DOZ (Deep Ore Zone) yang juga di bawah tanah, telah duluan berproduksi. Cadangan mineral di lokasi-lokasi baru itu mencapai 2,3 miliar ton, dan mampu produksi sampai tahun 2041.
Freeport telah menanamkan investasi awal sebesar 4 miliar USD, dari total 17 miliar USD, untuk membangun infrastruktur penambangan bawah tanah, meliputi akses jalan, teknologi pembersih udara, air dan listrik serta sistem pemadaman api dan keselamatan pekerja.
Diluar itu, total investasi yang telah dikeluarkan Freeport sampai tahun 2013 mencapai 10 miliar USD (atau sekitar Rp130 triliun) untuk membangun pabrik, pelabuhan, bandara, infrastruktur jalan, pembangkit listrik hingga pengolahan limbah.
Di kedalaman 1-2 kilometer, sepanjang terowongan bawah tanah, terlihat pipa-pipa besar, instalasi listrik, air dan sebagainya. Mereka telah membuat semacam sumur besar untuk penampungan bahan mineral dan dialirkan ke atas permukaan tanah dengan mesin sejenis conveyor belt sepanjang 8 kilometer. Melihat apa yang telah dikerjakan, sungguh menakjubkan. Para pekerja seperti membangun “kehidupan” di perut bumi. Tidak hanya tempat ibadah, mereka juga membangun kantor dan segala kelengkapannya di sana. Termasuk portable chamber untuk evakuasi pekerja. Bahkan, Freeport membangun chamber permanent terbesar di dunia, bisa menampung 300 pekerja, dalam keadaan darurat.
Tahun 2013 pernah terjadi kecelakaan kerja di tambang bawah tanah DOZ. Saat itu 28 pekerja terjebak reruntuhan. Tak ingin insiden fatal itu terulang, kini, Freeport menggunakan teknologi baru untuk pekerja bawah tanah. Vice President Underground Mine Operations Hengky Rumbino, putra Papua lulusan Teknik Pertambangan ITB, mengajak kami ke ruang kontrol kendali otomatis. Terlihat beberapa pekerja duduk di depan layar komputer besar. Tangan kirinya seperti mengendalikan pedal kopling dan tangan kanannya mengetik tuts-tuts keyboard. Seperti bermain game, padahal mereka sedang mengendalikan eskavator di bawah tanah. Di layar komputer terlihat
suasana terowongan bawah tanah. Eskavator yang dikendalikan itu tampak bergerak mengangkut material, dan menjatuhkan isinya ke truk-truk tanpa awak. Truk lalu bergerak menuju terminal-terminal untuk menjatuhkan material yang lalu digerakan ke atas permukaan tanah.
Pekerjaan luar biasa dan penuh risiko di tambang Freeport ini dilakukan oleh anak-anak muda tangguh lulusan berbagai universitas di Indonesia. Total karyawan Freeport mencapai 30 ribu orang. Mayoritas orang Indonesia, sedangkan jumlah pekerja asing tak sampai 2 persen. Sebanyak 8 ribu diantaranya putra-putri Papua. Bahkan, hebatnya, 7 diantara mereka, duduk di top level manajemen sebagai vice president. Ratna Susilowati

Berikut ini foto-foto kesibukan karyawan Freeport



Artikel ini telah dimuat di 
Harian Rakyat Merdeka
edisi Selasa, 30 Juni 2015


30 Ribu Karyawan Bekerja Dalam Ketidakpastian: Meski Maut Menghampiri, Freeport Tetap Semangat




Said Didu menyebut, malaikatul maut saat ini sedang menghampiri Freeport. Pilihannya, kata Staf Khusus Menteri ESDM itu, memang berat, mau mati pelan atau mati cepat. Kontrak Karya berakhir tahun 2021. Dan pada 25 Juli ini akan ada keputusan mengenai perpanjangan operasi. Kepastian ini dibutuhkan, mengingat Freeport akan menanamkan investasinya sebesar 17 miliar USD (sekitar Rp200 triliun) untuk penambangan bawah tanah. “Investor manapun, yang mau menanamkan uang sebesar ini, tentu butuh kepastian operasi,” kata Said Didu, yang juga Ketua Tim Penelahaan Smelter Nasional.
Meskipun bekerja di tengah ketidakpastian, tapi menurut Presiden Direktur PT Freeport Maroef Sjamsoeddin, ribuan karyawan tetap semangat bekerja.
Saat diskusi di Tembagapura, Maroef Sjamsoeddin menyadari selama ini isu-isu terkait Freeport kerap kali kental muatan politik. Sering jadi bahan pertanyaan, misalnya, kenapa Freeport dianggap gagal membangun Papua? Padahal, sekedar perbandingan, luas wilayah kerja Freeport hanya sekitar 90 ribu hektar atau 0,02 persen saja dari seluruh luas Papua yang 42 juta hektar. Melakukan pembangunan Papua seutuhnya adalah tugas negara, sedangkan Freeport sama dengan investor lainnya.
          Lalu, tentang penerimaan negara. Terus dilakukan peningkatan royalti dan divestasi saham untuk pemerintah Indonesia sebanyak 30 persen bertahap sampai 2019, dan terbuka melakukan penawaran saham melalui bursa (IPO).
          Mengenai smelter. Saat ini, sebanyak 40 persen konsentrat dari Tembagapura, dikirim via jalur laut menuju Gresik. Di smelter Gresik, dilakukan pemilahan mineral. Bahan limbahnya, berupa asam sulfat dan gypsum diolah langsung oleh Petrokimia sebagai bahan pupuk dan bahan semen. Karena itulah, posisi smelter di Gresik yang berdampingan dengan Pabrik Petrokimia, dianggap ideal.
          Mengapa tidak membangun smelter di Papua? “Aspek teknis dan bisnis yang membuat kami tidak bisa membangun smelter di Papua. Saya pernah sampaikan secara terbuka kepada Menteri ESDM, setelah melihat lokasi yang direkomendasikan Pemda Papua. Saat itu ada Gubernur, Bupati dan Ketua DPRP serta sejumlah anggota Komisi 7 DPR. Kondisi infrastruktur tidak mendukung. Pelabuhan tidak siap. Jalan darat dan listrik belum ada. Juga belum ada instalasi air. Karena itu, kita memutuskan, wilayah yang paling siap, tetap di Gresik,” kata Maroef.
          Jika izin perpanjangan operasi tidak diberikan, apa yang terjadi? Maroef menceritakan, ini berarti rencana ekspansi membuka pertambangan bawah tanah batal. Produksi hanya mengandalkan yang sudah ada, yaitu penambangan terbuka yang cadangan mineralnya hanya sampai 2017. Kapasitas produksi artinya turun dan tinggal 40 persen. Dan itu berati, smelter yang existing di Gresik sudah cukup menampung produksi.
          Kapasitas produksi Freeport saat ini mencapai 240 ribu ton sehari. Tiap tonnya menghasilkan kira-kira 20-30 kilogram tembaga, 2 gram emas dan 4 gram perak. Ratna Susilowati

Artikel ini dimuat di Rakyat Merdeka
edisi Selasa, 30 Juni 2015



Pengalaman Batin Menakjubkan: Buka Puasa Di Mesjid Perut Bumi


 




Berbuka puasa dan shalat berjamaah di perut bumi adalah pengalaman batin yang menakjubkan. “Ini luar biasa,” kata Nurjaman Mochtar, Pemimpin Redaksi SCTV-Indosiar, yang juga Ketua Forum Pemimpin Redaksi.  
Tak pernah terbayangkan, ada masjid dan gereja di perut bumi. Jauh di kedalaman 1,7 kilometer. Freeport membangun itu untuk keperluan karyawan mereka, yang bekerja di areal tambang bawah tanah, di kawasan Tembagapura, Timika, Papua. Kapasitas mesjid yang bernama Baabul Munawar itu, menampung 250 jemaah. Persis di sampingnya, berdiri Gereja Oikumene Soteria.
Di hari ketiga Ramadhan, kami bersama ratusan karyawan PT Freeport, berkumpul di Masjid itu. Melepas rompi yang basah oleh keringat, mencopot helm dengan senter yang berat di kepala, dan membuka sepatu boot yang dipenuhi lumpur, kami lalu berwudhu dan berkumpul di dalam masjid.
Kepala terasa cukup pening. Itu akibat tipisnya kadar oksigen. “Tapi lama-lama juga biasa,” kata seorang karyawan yang sudah bekerja belasan tahun di perusahaan ini, kepada saya, sambil senyum. Kondisi oksigen terbatas bukan hanya di bawah tanah, tapi juga di open pit, tambang terbuka grasberg, yang ketinggiannya mendekati puncak Jaya Wijaya yang bersalju. Meski mereka terbiasa, tapi saya liat, semua karyawan dibekali tabung oksigen yang dililitkan ke pinggang.
Menunggu adzan maghrib, kami duduk mendengarkan tausiah Prof Nasaruddin Umar. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, beserta istri dan anaknya juga berada di tengah-tengah kami.
Masjid dan gereja ini belum lama dibangun. Diresmikan pada awal Juni lalu. Arsiteknya, Alexander Mone, adalah lulusan Bina Nusantara. Dan strukturnya dikerjakan Andrew Parhusip, lulusan ITB. Tempat ibadah ini dibuat berdampingan atas prakarsa para pekerja. Toleransi ternyata bisa terasa sampai ke perut bumi.
Masjid dan gereja ini berada di salah satu sudut terowongan, yang digali oleh ribuan pekerja tambang. Kami masuk terowongan melalui pintu Ali Boediardjo, diambil dari nama Presdir PT Freeport yang pertama. Nafas sedikit tersengal, tapi udara cukup adem. Rupanya ada teknologi canggih untuk memurnikan udara di bawah tanah. Di sepanjang terowongan dipasang banyak sekali exhaust untuk menyedot udara kotor keluar, sehingga pekerja bisa menghirup udara bersih.
Dinding dan atap mesjid dari batu disemprot oleh semacam semen, dan diratakan. Konstruksi tak sesederhana seperti yang terlihat. Sebab, di tiap meter, tampak ada bautan penahan di dinding. Lantainya ditutup karpet kehijauan. Prof Nasaruddin Umar merasakan suasana itu seperti dalam gua.
Saat tiba waktunya berbuka, salah seorang karyawan mengumandangkan adzan yang syahdu. Kami menikmati tajil sederhana yang disiapkan para pekerja. Teh manis hangat, kurma dan gorengan siomay. Malam itu kami menutup kebersamaan dengan shalat maghrib berjamaah. Dinginnya lantai mesjid dan damainya hati pekerja, rasanya seperti meredam isu-isu politik panas yang tak berkesudahan. Ratna Susilowati

Artikel ini telah dimuat di 
Harian Rakyat Merdeka
edisi Selasa, 30 Juni 2015


Kamis, 11 Juni 2015

Kopi Duren Racikan Pak Menteri Gobel: “Ini Mau Saya Ekspor Ke Afrika & Mesir...”


           Rachmat Gobel sedang mencoba meracik minuman baru untuk pasar ekspor. Kopi dicampur ekstrak durian. Tim Rakyat Merdeka mencicipi kopi ini saat berkunjung ke kantor Menteri Perdagangan, awal pekan lalu. Saat kopi disuguhkan di meja, wangi durennya merebak kemana-mana.

          Kopi ini wangi dan enak sekali. Bagaimana ceritanya, kepikiran bikin racikan kopi duren? Tadinya, saya mau ekspor duren. Tapi usia duren tidak lama. Karena itu, timbul ide lain. Kopi duren yang ini sebenarnya belum boleh dijual, karena racikannya masih harus disempurnakan.

          Sudah enak kok rasanya. Ini terlalu manis, dan bagusnya menggunakan gula merah. Saya juga kasih ide ke produsen permen kopi untuk men-develop produk mereka.

          Mau diekspor kemana?Rencananya ke afrika dan mesir. Saya sudah bicara ke mereka, ada yang berminat.

          Kami lantas dibekali dua kotak kopi duren untuk dibawa pulang. Di dus warna coklat itu, tercantum merknya RG. Jadi merknya RG, Rachmat Gobel? Itu ide lucu-lucuan. Jangan RG-lah, malu (tertawa). Belum disempurnakan (tertawa). Seluruh kopi Indonesia harusnya dipromosikan di sini. Saya juga ingin promosi jamu. Saya mau membuat cafe jamu di bawah sini (di kantor).

          Sebelum pulang, kami diajak mampir masuk ke ruang kerjanya. Bagus dan tertata rapi sekali. Ada meja kursi untuk rapat, yang salah satu sudutnya dihijaukan dengan pepohonan. Yang unik, persis di meja kerja ada hiasan batu. Berbentuk kelereng-kelereng. Beragam jenis dan warna-warni, ditaruh di nampan kayu. “Batu kita mestinya bisa lebih cantik dari ini,” katanya. “Untuk meningkatkan nilai batu, mestinya dibuat perhiasan. Tak hanya jadi cincin saja,” kata Pak Menteri. ***

Artikel ini dimuat di Rakyat Merdeka

edisi Senin, 8 Juni 2015




Menteri Perdagangan Rachmat Gobel Soal Mafia Impor: “Saya Nggak Bisa Diatur Mereka, Bos!”



          Kebijakan impor sejumlah kebutuhan pokok sering jadi pro kontra di masyarakat. Posisi pemerintah memang dilematis. Kalau keran impor ditutup, pasokan kadang rentan terganggu. Sementara jika dibuka lebar, kecaman bermunculan. Pemerintah bisa dianggap tidak pro swasembada.

          Kepada Kiki Iswara, Budi Rahman Hakim, Ratna Susilowati, Kartika Sari, Sarif Hidayat dan Aditya Nugroho dari Rakyat Merdeka, Menteri Rachmat Gobel bercerita panjang lebar soal ini.

          Sebentar lagi bulan Ramadhan, lalu Lebaran. Bagaimana sistem monitoring di Kementerian Perdagangan agar harga-harga kebutuhan pokok tidak bergejolak? Pemerintah sangat concern pada stok kebutuhan bahan pokok. Pemerintah tidak main-main soal itu. Jelas. Bahkan Presiden pernah mengatakan, masa iya sih, tiap Lebaran, Natal, kok harga-harga naik. Kenapa tidak seperti di luar negeri, harga-harga justru turun saat hari-hari besar. Tentu ini bagian dari pekerjaan rumah Kemendag untuk mengaturnya. Tapi, kami tak bisa kerja sendirian, karena terkait dengan kementerian lain. Pengendalian harga sebenarnya bukan hanya pekerjaan di pemerintah pusat. Pemda juga memiliki peran. Nanti menjelang puasa dan lebaran, saya akan sidak lagi.

          Tentang pengadaan beras, Menteri Rachmat Gobel panjang lebar bercerita. Pernyataannya banyak yang off the record. Tentang ulah spekulan di tingkat tengkulak dan pedagang. Sampai dugaan sepak terjang mafia. Menurut dia, kultur lama harus diubah.

Kalau akhirnya harus impor, keputusan di tangan Presiden. Impor adalah alternatif terakhir. Perlu mendengar dulu pertimbangan Bulog. Kenapa harus impor? Karena beras kurang, nggak ada. Dan kenapa beras sampai tidak ada? Saya pernah masuk ke gudang pedagang beras di sebuah pasar. Ternyata diantaranya ditemukan, beras bulog dioplos dan diberi merk dagang. Bagaimana bisa, padahal itu beras pemerintah? Saya minta Bareskirm dan BIN menyelidiki. Soal beras, saya tidak main-main.

 Pak Menteri termasuk yang rajin blusukan. Bagaimana efektifitas hal itu terhadap penyediaan barang dan pengendalian harga?Ada yang bilang, setelah Menterinya pulang, harga naik lagi. Nggak mungkinlah begitu. Harga tetap stabil kok. Kalau ada pedagang mau ambil untung ya, sah. Tapi kan harga di satu pedagang, tak mewakili seluruhnya. Saat ini, barang-barang kebutuhan pokok cukup tersedia.

 Kapan blusukan lagi? Mulai Juni ini turun lagi. Ke daerah-daerah. Bisa bareng dengan menteri lainnya, atau paling tidak dengan kepala dinas dan aparat keamanan. Ini kesempatan untuk mengecek sampai di tingkat bawah.

Bagaimana cara Anda menekan aksi spekulan? Peran Bulog harus diperkuat. Tugasnya jadi penyangga. Bulog saat ini masih terus melakukan pembenahan dan memperbagus sistem gudang. Bulog tidak boleh jadi lembaga profit. Kembalikan ke fungsinya, sebagai penyangga.

 Gampangnya, kalau mau ketersediaan beras terjamin, kan tinggal buka keran impor. Kalau nggak mau repot, memang tinggal buka tutup keran impor. Itu instrumen mudah. Begitu barangnya nggak ada, buka keran impor, maka barangnya langsung tersedia, dan harga turun. Tapi pertanyaannya, mau sampai kapan kita impor terus? Kita harus dorong swasembada pangan. Memang berat dan butuh proses lama. Karena itu, kita harus sama-sama berusaha. Memperhatikan kebutuhan konsumen memang penting, tapi di sisi lain, sistem perdagangan harus dibenahi dan diatur.

 Pakaian bekas impor dulu sempat heboh. Belakangan juga batik asal China mulai masuk ke pasar Indonesia? Bayangkan, kalau keran impor pakaian ilegal dibuka, konsekwensinya industri garmen kita bisa mati. Makanya, saya stop. Soal batik. Kita punya banyak industri batik printing. Kalau batik impor dari China dibuka, harga batik bisa murah, tapi dampaknya lama-lama industri tekstil batik kita mati. Cucu cicit kita nanti nggak tahu kalau batik itu dari Indonesia. Industri ini harus dilindungi. Kita harus jadi bangsa yang membangun. Jangan jadi bangsa konsumtif.

 Soal aturan pembatasan berjualan alkohol. Bagaimana pendapat Kemendag melihat pro kontra tentang ini di masyarakat? Kunci menghadapi globalisiasi adalah sumber daya manusia yang berkualitas dan kompetitif. Kenapa jualan alkohol dibatasi? Ini menyangkut upaya kita menyiapkan daya juang generasi muda. Kalau jualan di restoran atau cafe ngga masalah. Tapi, jualan alkohol di minimart dilarang. Kenapa? Karena minimart sekarang banyak buka di dekat sekolah, dekat tempat ibadah. Jadi produsen jangan hanya ambil untung, tapi mesti memikirkan dampaknya.

 Di era sekarang bagaimana agar pengusaha terdorong membangun industri yang kompetitif melawan barang-barang impor? Sejumlah Kementrian terkait mesti terlibat mengurusi ini. Misalnya Kemenkop UKM, mengupayakan bunga kredit murah untuk pengusaha kecil. Di Kemendag, impor harus dikelola. Kebijakan impor diarahkan untuk membuat nilai tambah bagi industri. Jangan sampai ada aturan dibuat untuk melemahkan atau mematikan industri nasional.

 Bagaimana Kementerian Perdagangan mengelola importir-importir yang selama ini menangguk untung dari impor barang-barang ke Indonesia. Jadi pedagang mengambil untung ya boleh saja. Tapi perlu dilakukan harmonisasi dan regulasi tarif. Pasar Indonesia harus dilindungi. Salah satu caranya, dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). Trend sekarang, masyarakat mementingkan kualitas. Bukan lagi soal harga murah. Dengan SNI, barang-barang produk Indonesia akan makin berkualitas.

 Hubungan politik yang panas dengan beberapa negara, apakah berpengaruh ke urusan perdagangan? Misalnya, dengan Australia, negara pengimpor daging terbesar ke Indonesia.Impor itu mesti dipandang sebagai secondary card. Dalam lima tahun mendatang, kita harus bangun peternakan terintegrasi. Mulai dari pembibitan sampai menjadi daging. Kita nggak bisa begini (impor) terus. Coba, masa jerohan impor? Di Australia jadi makanan binatang, di sini mewah. Nggak bisa sistem perdagangan begini terus. Malu dong. Sama seperti cabe. Masa tiap tahun tren harganya naik terus. Harusnya bisa pakai teknologi, 24 jam 360 hari nggak bergantung musim. Kita harus jadikan cabe ini industri. Bikin cabe kering, olahan. Dampaknya di desa-desa tumbuh industri cabe dengan resep berbagai macam sambal. Bagus, kalau terjadi pertarungan sambal. Saya sudah telpon Rektor ITB, dalam waktu dekat kita mau buat action plan, pilot project.

 Distribusi sejumlah barang sembako kabarnya dikuasai kartel. Misalnya ada istilah sembilan naga menguasai garam, ada mafia gula, dan seterusnya. Apakah memang benar ada mafia-mafia yang memainkan ini. Kita petakan persoalannya. Kalau mafia garam, misalnya, harus dipisahkan dulu, apakah itu garam konsumsi atau industri. Garam keperluan industri (misalnya untuk kaca, kertas dan pengeboran minyak) tidak dibuat di dalam negeri. Soal gula, ada memang yang menguasai 40 persen. Tapi saya katakan, mereka jangan sampai bisa mengatur negara ini.

 Jadi, ada benar ya mafia itu? Kita tidak melihat mereka sebagai mafia. Mereka kan pengusaha juga. Saya pernah ajak bicara, dan saya katakan, “Saya nggak bisa diatur, Bos!” Dampaknya, ada yang kirim demonstrasi ke sini (kantor Kemendag). Tapi, saya kasih tahu ya, saya nggak bisa diatur. Pengusaha butuh pemerintah dan pemerintah butuh pengusaha. Pengusaha jangan sekedar cari untung, tapi kita sama-sama harus melindungi konsumen kita.

 Siapkah kita menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)?Siap ngga siap ya, kita harus jalani. Menghadapinya? Ya, infrastruktur harus dibangun karena selama ini logistic cost kita mahal. Pelabuhan dan jalan. Daya listrik. Menurunkan bunga bank. Saat ini, inflasi kita masih tinggi dibanding sejumlah negara lain di Asean. Program Presiden Jokowi untuk di Kementerian Perdagangan, jelas. Misalnya, harus membangun 5 ribu pasar, merevitalisasi dan membangun sistem informasinya, cold storage, manajemen yang bagus dan menjaga stabilitas serta terjaminnya supply. Pasar juga harus mendorong promosi produk lokal.

 Kabarnya, Kemendag sedang memproses peraturan tentang pengendalian harga kebutuhan pokok. Kapan akan diumumkan?Ini pasti ada yang setuju, ada yang nggak. Yang nggak suka, akan protes dan bilang kita ini masuk lagi ke zaman Orde Lama, Orde Baru, harga barang-barang dikendalikan. Pedagang pasti menyerang (tertawa). Padahal maksud aturan ini baik. Agar harga kebutuhan pokok tidak membebani masyarakat. Selama ini, harga yang mahal, bisa menciptakan inflasi.

 

Wawancara ini telah dimuat di 

Harian Rakyat Merdeka

Edisi Senin, 8 Juni 2015